
Jauh dari kekacauan perang di ujung benua sana, Kota Gata yang berada di bagian paling selatan Drakon Kingdom selalu dalam keadaan damai nan tenteram.
Para warganya senantiasa tersenyum setiap kali menyambut hari yang baru. Bahkan baru-baru ini Kota Gata mendapatkan banyak penduduk baru yang walau awalnya terasa asing, tapi kini mereka juga bisa ikut tersenyum
bahagia.
Semua itu berkat usaha keras dari Walikota mereka, Lambert Von Gata.
Berkat kerja keras dan kegigihannya sebuah Kota baru didirikan demi menyambut para pengungsi dari Kerajaan lain yang kini sudah secara resmi menjadi penduduk Drakon Kingdom.
Dan kini, duduk di ruang kerjanya, Walikota Lambert memandangi dokumen yang sudah menggunung di atas mejanya.
"Jadi hari ini akhirnya tiba..."
Memegangi kepalanya, kedua Ajudannya hanya bisa berdiri dalam diam memandangi tuan mereka yang sedang banyak pikiran. Terlebih ketika mereka berdua tahu benar akan apa yang membuat tuan mereka menjadi seperti ini.
"Bagaimana dengan pembangunan dinding kota yang baru?"
Atas pertanyaan ini, Ajudan yang pertama menjawab.
"Dinding kota sudah selesai sesuai dengan jadwal. Tapi untuk gerbang kota masih butuh sedikit waktu"
"Apakah gerbang itu sudah diperkuat sesuai dengan yang aku perintahkan?"
"Tuan tenang saja, gerbang kota yang baru telah di rancang dengan pertahanan tiga lapis. Gerbang Kayu sebagai pintu utama, serta dua gerbang besi di sisi dalam dan luar gerbang"
Puas akan jawaban yang Ajudannya berikan, Walikota Lambert kini menoleh ke arah Ajudannya yang lain.
"Lalu, bagaimana dengan konstruksi kediaman untuk para pengungsi?"
"Lapor, semua berjalan dengan sangat lancar. Sudah lebih dari 90% bangunan telah selesai dengan hanya beberapa rumah kecil saja yang masih belum selesai untuk dibangun"
"Lalu... Bagaimana dengan distrik bisnis?"
Untuk pertanyaan yang satu ini, Walikota Lambert tampak enggan untuk menanyakannya. Tahu akan hal ini, Ajudan itu pun memilih kata-katanya dengan baik.
Menarik nafasnya dalam-dalam, dia pun mulai berkata...
"Seluruh distrik bisnis telah jadi dan beberapa bahkan sudah terbuka untuk bisnis. Dan malam ini, sponsor terbesar untuk distrik bisnis akan menyelenggarakan acara pembukaan mereka"
Mendengar ini, Walikota Lambert menjadi tambah pusing.
Di saat seperti ini dia biasanya akan mengundang sahabatnya, Headmaster Alfred untuk minum sambil mengutarakan semua yang ada di benaknya. Dan kalau bisa dia akan meminta saran darinya.
Sayang, untuk masalah yang satu ini Headmaster Alfred juga tidak tahu harus melakukan apa.
Dan yang membuat situasi menjadi lebih parah adalah keberadaan kartu undangan yang kini tergeletak begitu saja di atas meja tamu yang berada di ruang kerjanya. Menggunakan kertas yang berwarna merah jambu, isi undangan itu ditulis menggunakan tinta emas dengan gaya penulisan yang rapi dan indah.
Bersama dengan undangan itu juga beberapa lembar kertas lainnya yang berisikan ilustrasi gadis-gadis muda yang cantik jelita yang mengenakan pakaian tipis sambil berpose seduktif yang mengundang gairah setiap pria yang
melihatnya.
Seolah Walikota Lambert sedang bernasib sial, Istrinya sedang lewat dan mendapatinya sedang memandangi ilustrasi itu. Mengingat ekspresi yang dibuat Istrinya pada saat itu, Walikota Lambert segera berkata kalau dia
tidak memiliki maksud apa-apa dan hanya membaca isi undangan itu karena undangan itu berasal dari orang penting yang tidak bisa dia abaikan.
Sayang, Istrinya itu tidak mau menerima penjelasan darinya dan kini sedang merajuk di dalam kamarnya.
"Apakah perlu bagiku untuk datang?"
Walau dia sudah tahu apa jawabannya, dia tetap harus menanyakannya.
Tahu benar kalau berbohong bukanlah hal yang baik untuk situasi ini, kedua Ajudannya pun menjawab dengan jujur.
"Sebagai Walikota dari Kota ini, Tuan tidak punya pilihan lain selain datang"
Mendengar ini, Walikota Lambert menjadi tambah pusing.
...
Di saat yang hampir bersamaan, Headmaster dari Guild Petualang cabang Kota Gata, Alfred. Sedang menahan salah satu pegawainya yang sedari tadi mencoba untuk kabur dari pekerjaannya.
"Lepaskan aku dasar tua bangka!"
"Jaga ucapanmu! Aku ini hanya 13 tahun lebih tua darimu!"
Sukses mengikat pegawainya, Laila. Ke atas kursi, Headmaster Alfred lalu duduk di kursinya sendiri dan mulai berbicara ke Laila.
"Sering datang terlambat, sering bolos tanpa alasan, dan sering tertidur ketika jam kerja. Apakah kau punya alasan kenapa kau sampai melakukan semua itu?"
Berusaha untuk lolos namun tidak bisa, Laila menatap langsung ke arah Headmaster Alfred.
"Kalau kau mau aku bekerja keras maka cepat naikkan gajiku dan kembalikan aku ke Shift Malam!"
"Kalau kau tidak kerja mana mungkin gajimu bisa naik! Juga, bukankah kau yang awalnya meminta untuk bekerja di Shift Siang setelah sebelumnya kau mengeluh karena Shift malam membuatmu tidak bisa melihat pria tampan?"
"Itu sebelumnya! Sekarang sudah berbeda!"
Kembali memberontak, Laila pun memberitahukan alasan sebenarnya kenapa dia jadi jarang bekerja.
"Kalau kau memang peduli dengan pegawaimu, maka cepatlah buat divisi baru yang khusus menangani penukaran material dari Dungeon Ibis. Apakah kau tahu berapa banyak uang yang harus aku habiskan hanya untuk membeli
antidote!"
Setelah hutan Ibis berubah menjadi Dungeon, semua material yang ada di dalamnya juga ikut berubah menjadi bahan material tingkat tinggi yang memiliki harga yang mahal. Meski begitu, tidak semua material aman untuk disentuh begitu saja. Tidak sedikit dari mereka sangatlah beracun hingga menyentuhnya saja sudah mampu membuat kulitmu iritasi.
Walau memang benar ada banyak pedagang yang berebut membeli material dari Dungeon Ibis, tapi itu hanya berlaku pada material yang aman dan berguna untuk membuat item penyembuh atau material untuk membuat Equipment saja. Berkat hal itu semua, yang tersisa hanyalah material yang tergolong berbahaya saja yang mengalir ke Guild Petualang.
"Belum lagi sejak Turbo dan anggota Guildnya pergi ke medan perang jumlah berandalan semakin bertambah!'
Guild Iron Sword yang di pimpin oleh Turbo memiliki andil besar dalam mengurus ketertiban antara Otherworlder dan Locals. Pada saat Guild Iron Sword pergi ke medan perang, para Otherworlder pengacau yang tidak ikut
perang akhirnya mulai bertindak semena-mena.
Tentu saja Turbo telah meninggalkan beberapa anggota Guildnya sebagai pengawas, tapi jumlah mereka yang tidak seberapa dan mereka yang masih terhitung sebagai Pemain baru jelas kewalahan menahan para berandalan yang jumlahnya jauh lebih banyak dan lebih kuat dari mereka.
"Kalau malam setidaknya hanya sedikit yang beraktifitas jadinya aku bisa santai! Dan kalau kau bertanya kenapa aku sering bolos, itu karena aku harus melakukan perawatan kulit karena semua material terkutuk itu membuat kulitku rusak. Dan jika kulitku rusak maka tidak mungkin ada pria yang mau mendekatiku! Dan bahkan jika ada, mereka tidak lebih dari berandalan jorok tak berotak!"
"Lagi-lagi soal pria. Tidak bisakah kau bertindak sedikit lebih profesional?"
Hanya saja itu mustahil mengingat orang tua pegawainya ini adalah Gurunya yang mengajarinya tentang cara berpedang. Jika saja Laila tidak punya latar belakang apa-apa, maka Headmaster Alfred pasti sudah sejak lama
memecatnya.
"Hah..." mengeluarkan nafas berat, Headmaster Alfred pun memberitahukan kalau divisi yang Laila maksud akan segera dibentuk. Tempat kerja mereka sudah selesai dibangun, sekarang hanya menunggu orang yang mau bekerja di sana saja.
"Berapa banyak orang yang sudah mendaftar?"
"..."
"Headmaster Alfred, tolong jangan katakan kalau tidak ada yang mendaftar?"
"..."
"Katakan sesuatu kau tua bangka!"
"Aku bilang aku hanya 13 tahun lebih tua darimu!"
Setelah bolak-balik saling beradu mulut, Headmaster Alfred akhirnya mengutarakan alasan sebenarnya kenapa dia 'memanggil' Laila kemari.
"Kau bilang kau mau kembali ke Shift malam kan?"
"Ya, tentu saja"
"Aku bisa saja mengabulkannya, hanya saja ada syaratnya"
"Dan syarat apakah itu?"
Mengambil secarik kertas berwarna merah jambu, Headmaster Alfred pun menunjukkannya ke hadapan Laila untuk dia baca.
Selesai membacanya, Laila pun mengerutkan keningnya.
"Headmaster, aku tahu kalau kau itu selalu gagal dalam menjalin hubungan. Tapi apakah kau seputus asa itu sampai..."
"Tutup mulutmu karena kau akan ikut denganku"
"...Tunggu, apa?"
...
Senja sudah lewat dan malam semakin larut.
Ketika sebagian orang sedang beranjak untuk tidur, sebagian lagi baru saja hendak memulai hari mereka yang sebenarnya.
Dari yang pergi ke kedai untuk minum-minum bersama kawan, sampai ada yang pergi ke rumah judi hanya untuk diamuk keluarganya ketika dia pulang nanti.
Kehidupan malam sangatlah berbeda dari siang hari.
Tidak ada yang namanya pekerjaan yang menumpuk. Tidak ada yang namanya tanggung jawab. Mereka hanya ingin bersenang-senang melupakan segalanya.
Dan malam ini, kehidupan malam di Kota Gata akan menjadi semakin berwarna.
"♥Tuan-tuan dan... Oh, aku bahkan melihat ada Nyonya di sini♥ Selamat datang di acara pembukaan Toko Night Lavender♥"
Mengenakan setelan seksi adalah Milim yang sedang terbang melayang di hadapan para tamu undangan. Walau apa yang mereka kenakan adalah setelan resmi, walau mereka sedang berada di sebuah ruangan yang cukup mewah, dan walau suasana di sana tampak seperti sebuah acara pembukaan yang resmi.
Itu semua terlihat percuma ketika tahu bisnis macam apa yang dilakukan oleh toko Night Lavender.
Walikota Lambert yang datang bersama dengan salah seorang Ajudannya sedang berdiri bersebelahan dengan Headmaster Alfred yang sedang menahan Laila yang tengah cemberut di tangannya.
Mereka berempat berdiri di sana dengan Wine di tangan sambil mendengarkan sambutan pembukaan yang sedang dibacakan oleh Milim.
"♥Pertama-tama terima kasih aku ucapkan karena telah mau meluangkan waktu kalian di malam yang indah ini demi menghadiri acara pembukaan dari toko kami yang sederhana ini♥ Sayang beribu sayang Masterku♥ Penyihir Lavender sedang tidak mampu untuk menghadiri acara pembukaan dari toko yang sudah beliau bangun dengan susah payah ini♥ Oleh karena itu marilah kita semua bersenang-senang..."
Mendengarkan kata-kata sambutan dari Milim membuat Walikota Lambert dan Headmaster Alfred tidak tahu harus berkata apa. Memang benar kalau apa yang dia ucapkan adalah sebuah bahasa baku, tapi ekspresi dan ntonasinya sangat berbeda jauh dari apa yang dia katakan.
"Headmaster Alfred, dia itu Succubus kan?"
"Jika dia bukan Succubus, maka aku tidak tahu lagi dari ras mana dia berasal"
Selagi mereka sedang mengobrol, Milim akhirnya selesai memberikan kata sambutan.
"♥Sekarang♥ Tanpa perlu basa-basi lagi mari kita mulai pestanya♥"
Atas aba-aba dari Milim, dari arah dalam toko muncul puluhan gadis muda yang menggunakan pakaian terbuka. Naik ke atas panggung yang telah disiapkan, mereka semua mulai bernyanyi dan menari mengikuti irama musik.
Para pengunjung yang datang sampai dibuat terkesima oleh penampilan mereka. Bahkan Laila yang awalnya hendak segera pergi dari sini sampai dibuat lupa akan niatannya itu.
Melihat gadis-gadis dari berbagai ras menari dengan gemulai membuat para penonton senang.
Selagi Para tamu undangan yang terdiri dari para pedagang kaya serta Petualang yang sukses tengah dihibur oleh tarian yang menggoda, Milim selaku penyelenggara acara datang mendekati Walikota Lambert dan Headmaster
Alfred.
"Halo♥ Apakah kalian menikmati pertunjukannya♥"
"Ah, Nona Milim, kan. Terima kasih telah mengundang kami ke acara yang meriah ini"
"Saya juga merasakan hal yang sama"
"Sungguh senang mendengarnya♥"
Di bawah senyuman Milim dan matanya yang indah, Walikota Lambert dan Headmaster Alfred merasakan hasrat mereka mulai meningkat. Tahu akan identitas Milim yang sebenarnya, mereka berdua mengerahkan semua tekad
mereka untuk menahan hasrat mereka.
Berkat itu mereka sukses menahan [Magic Eyes : Charm] yang selalu Milim aktifkan sejak acara pembukaan belum dimulai. Berkat Skillnya yang satu ini dia berhasil menghasut banyak pedagang kaya yang menghadiri acara ini.
Berharap bisa menambah lebih banyak rekan bisnis yang penurut, Milim malah tersenyum girang ketika mengetahui kalau ada orang yang mampu menahan godaannya.
Memang benar kalau Walikota Lambert dan Headmaster Alfred berhasil menahannya, tapi hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada dua orang yang bersama mereka.
Selagi mereka berdua sedang disibukkan oleh Milim, Ajudan Walikota Lambert dan Laila sudah dibawa pergi oleh dua orang gadis yang tentu saja adalah pegawai dari toko ini. Ketika mereka berdua menyadari hal ini, semua sudah terlambat.
"Tuan-tuan sekalian tenang saja♥ Pegawai kami pasti akan memberikan pelayanan terbaik bagi mereka berdua♥ Oleh karena itu♥ Maukah kalian berbicara bertiga saja denganku♥"
Sadar kalau mereka sudah termakan jebakan Setan, Walikota Lambert dan Headmaster Alfred hanya bisa pasrah menuruti permintaan Milim.