A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 63 : The Alchemist of Destruction



Meski pagi telah lama berlalu, tubuhku masih terasa berat seolah terdapat magnet yang membuatku melekat kuat pada tempat tidurku.


Berada pada jarak pandangku adalah mesin VR yang merupakan hadiah yang orangtuaku berikan saat aku berulang tahun yang ke-17.


Beberapa hari yang lalu aku sangat sering menggunakannya sampai-sampai aku rela untuk berpura-pura sakit hanya agar aku punya alasan untuk bolos sekolah sehingga aku bisa terus bermain sepanjang hari.


Tentu saja pada akhirnya aku kena omel dan hampir saja tidak diperbolehkan untuk bermain untuk selamanya.


Freedom 2.


Sebuah game yang awalnya aku kira hanyalah game VR pada umumnya. Sampai pada akhirnya aku mencobanya dan berakhir menjadi tergila-gila karenanya.


Sejak dulu aku suka memainkan game tentang para gadis yang berpetualang sebagai seorang Alkemis. Dari bertarung dengan monster lucu hingga kegiatan meramu berbagai macam barang dari yang masuk akal hingga yang di luar nalar tersedia di game tersebut. Game tersebut sangatlah populer hingga memiliki banyak seri yang memperkenalkan banyak sekali protagonist yang berbeda-beda dan terkadang akan saling bertemu dan bertualang bersama.


Walau aku sangat menyukai seri tersebut, terdapat satu game yang membuatku teramat sangat terpikat hingga aku mendasarkan Avatar gameku pada protagonist game tersebut.


Aku tidak bisa menyebutkan atau menjelaskan game apa itu, karena pada dasarnya game tersebut adalah game dewasa yang tidak seharusnya dimainkan oleh anak-anak.


Walau aku yang pada saat itu masih belum cukup umur, tapi itu tidak akan menghentikanku untuk memainkan game apa pun yang aku inginkan.


Apa? Memangnya perempuan tidak boleh main game begituan?


Mengingat kembali perjuanganku sebagai seorang Alkemis murni memang sangatlah susah. Aku sampai harus meningkatkan skill sihir milikku terlebih dahulu sebelum aku bisa memulai kegiatan Alkemiku dengan tenang.


Pada saat aku akhirnya bisa fokus pada kegiatan Alkemiku hingga mendapatkan seorang guru yang sangat aku hormati, aku mulai menikmati hari-hariku di dalam game dengan sepenuh hati. Hingga ke tahap aku mulai merasa kalau di sana adalah tempat aku seharusnya berada.


Namun, tampaknya aku terlalu terlena akan kegiatanku sampai-sampai aku menciptakan sebuah item yang seharusnya tidak pernah aku ciptakan.



Aku dulunya sempat bertanya-tanya bagaimana perasaan mereka yang menciptakan bom serta persenjataan lainnya walau tahu kalau ciptaan mereka akan digunakan untuk merenggut banyak nyawa.


Sekarang aku tahu...


Aku tidak menyukainya...


Tok...! Tok...! Tok...!


Aku mendengar suara ketukan pintu. Itu pasti Ibu yang menyuruhku turun untuk sarapan.


Aku sedang tidak merasa lapar, aku akan mengindahkannya seperti yang kemarin-kemarin.


Tok...! Tok...! Tok...! "Clara! Cepat bangun!"


Ya ampun, Ibu terdengar lebih memaksa lebih dari yang biasanya.


"Clara! Cepat bangun! Katanya temanmu, Canary ingin bertemu!"


"...Kak Canary!!!"


Seketika aku merasan energi memenuhi seluruh tubuhku. Dengan segera aku melompat dari tempat tidur dan langsung tiba di depan lemari pakaian.


Dengan terburu-buru aku mencari pakaian yang sekiranya mampu memberikan kesan pertama yang baik kepada Kak Canary.


"Ugh... Ini bertambah besar lagi"


Walau aku awalnya merasa senang karena papan cucianku sudah berkembang hingga menjadi buah melon, tapi terus membeli bra baru setiap minggu itu cukup menguras kantong dan tenagaku. Bahkan Ibuku saja sampai mengira aku menggunakan obat terlarang karena pertumbuhanku yang tidak biasa.


Pada akhirnya aku selesai berpakaian yang rapi namun masih menonjolkan sisi kewanitaanku.


Meski tidak menggunakan riasan wajah, aku setidaknya menata rambutku dan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhku.


Melihat pantulanku di cermin, aku merasa puas.


Melewati Ibu yang menunggu di depan pintu kamar, aku segera melompat dari lantai dua ke lantai satu tanpa melewati tangga.


Mau bagaimana lagi kan?


Aku sudah tidak sabar untuk bisa bertemu dengan kak Canary. Aku yang hanya sekedar Alkemis biasa tentu tidak punya hak untuk bisa bertemu dengannya secara langsung. Satu-satunya saat aku bisa melihat Kak Canary adalah


saat upacara pernikahannya.


Tentu saja bukan sebagai tamu undangan.


Aku melihat sosoknya saat pawai besar yang diadakan untuk oleh pihak Kerajaan Elf dua hari setelah Pernikahan resmi dilangsungkan.


Setelah melakukan perjalanan jauh dari Drakon Kingdom, aku berdiri bersama rakyat Sanguine Kingdom yang lain untuk menonton dari kejauhan sosok Kak Canary yang berdiri di samping suaminya sambil melambaikan tangan


kepada para rakyat yang memberikan ucapan selamat kepada mereka.


Aku yang hanya bisa berinteraksi dengan Kak Canary melalui forum tentu merasa sangat senang ketika akhirnya bisa melihatnya secara langsung meski hanya dari kejauhan.


Dengan semangat yang sudah tidak terbendung, aku akhirnya menemui sosok yang sudah menunggu di depan pintu rumah... Hanya untuk di sambut oleh seorang perempuan dengan setelan hitam dan mengenakan kacamata hitam serta terdapat semacam earphone menggantung di telinganya.


Dilihat dari mana pun, dia bukanlah Kakak Canary melainkan agen pemerintah.


"Um..."


Tidak memedulikan aku yang baru melompat dari lantai dua begitu saja, perempuan tersebut menatap tajam dari balik kacamata hitamnya dan berkata.


"Nona Colette, benar?"


"Umm... ya"


"Bagus, tolong ikut kami. Nyonya Canary sudah menunggu"


Oh, jadi mereka adalah anak buah Kakak Canary. Tunggu, jangan bilang kalau Kakak Canary itu aslinya orang kaya!!!!


Setelah meyakinkan Ibu kalau aku tidak sedang di tangkap atau bergabung dengan jaringan Mafia atau ******* atau semacamnya (Walau yang bagian Mafia aku sedikit tidak yakin) aku pun ikut dengan perempuan itu yang lalu menuntunku menuju sebuah mobil sedan hitam yang semua kacanya tertutup rapat... Kakak Canary bukan bagian dari Mafia... kan?


Mengikuti arahan dari perempuan itu, aku pun masuk ke dalam mobil dan menemukan seorang Gadis dengan seragam Maid ala era Victoria duduk dengan tenang di jok belakang.


Dengan gugup aku pun duduk di sampingnya sementara perempuan dengan setelan hitam tadi duduk di bangku depan tepat di samping sopir yang sudah siap di balik kemudi.


Setelah mesin di nyalakan, roda mobil pun berputar.


Dalam perjalanan, aku hanya bisa duduk diam sambil melirik ke samping dan kedepan.


Aku sangatlah gugup karena situasiku saat ini jauh dari yang biasanya. Aku yang hanya sekedar gadis biasa dari keluarga biasa jelas tidak akan terbiasa jika dikelilingi oleh seorang sopir mobil orang kaya, perempuan yang tampak seperti agen pemerintah, serta seorang Maid yang sebenarnya.


Setelah beberapa menit duduk dalam keheningan, si Maid pun akhirnya memulai percakapan.


"Nona Colette, bisakah aku menanyakan sesuatu?"


"Eh, iya, silahkan"


"Apakah kau merasakan ada perubahan yang aneh akhir-akhir ini?"


"Perubahan? Perubahan seperti apa?"


"Misal, kau sekarang mampu merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada, melihat sesuatu yang tidak pernah kau lihat sebelumnya, atau lebih tepatnya, sesuatu yang bisa kau lakukan di Freedom 2 sekarang juga bisa kau


lakukan di dunia nyata?"


Itu, pertanyaan yang tidak biasa.


Aku hampir tidak memahami apa yang dia tanyakan di awal. Tapi setidaknya aku bisa cukup memahami arti dari pertanyaan yang terakhir.


Hal ini juga membuatku menyadari kalau sedari tadi mereka tidak pernah menanyakan nama asliku. Sejak awal mereka hanya memanggilku sebagai 'Colette' yang mana adalah nama dari Avatarku di dalam game. Mereka juga


menyebut Kak Canary sebagai 'Canary' dan tidak pernah menyebutkan nama aslinya.


Memang benar aku tidak pernah menyebutkan nama asliku kepada kak Canary dan begitu juga dengan sebaliknya.


Tapi mereka setidaknya menanyakan nama asliku karena itu memang adalah sopan santun.


Hmm... Aku mulai merasakan ada yang tidak beres di sini. Meski begitu, aku tidak bisa merasakan ada niatan buruk dari mereka. Itu aku katakan bukan karena aku mudah percaya dengan orang lain tapi karena skill yang...


Skill?!


Tampak seolah membaca raut wajahku, aku mendapati si perempuan dengan setelan hitam mengangguk puas sambil menuliskan sesuatu di buku catatan yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya.


"Selanjutnya, apakah ada perubahan yang terjadi pada tubuhmu?"


Perubahan pada tubuh?


Aku secara refleks menyentuh dadaku yang kian hari kian membesar.


Melihat tingkahku, baik itu si Maid dan si perempuan dengan setelan hitam sama-sama mengerutkan kening mereka.


"Itu Manusia... Tapi aku mengubah penampilanku menjadi memiliki rambut pendek berwarna abu-abu dan mata berwarna ungu kemerahan... Juga, aku membuat buah dadaku menjadi sedikit lebih besar"


Si perempuan dengan setelan hitam kembali mencatat sesuatu di buku catatannya. Tampaknya dia mencatat semua yang aku ucapkan.


"Terakhir, apa yang akan kau lakukan jika saja game yang selama ini aku mainkan bukanlah sekedar game?"


"Itu..."


Aku sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan aku rasakan jika itu adalah benar adanya. Jika saja ini adalah sebulan yang lalu, aku mungkin akan kegirangan karena game kesukaanku ternyata adalah sebuah kenyataan.


Akan tetapi, setelah kejadian itu...


"Maaf jika perkataanku ada yang menyinggungmu... Oh, lihat, kita sudah sampai"


Menahan air mata yang hendak tumpah, aku menengok dari jendela mobil.


Apa yang aku lihat, adalah sebuah rumah mewah layaknya sebuah istana.


...


Dengan canggung aku berjalan dengan si Maid yang berjalan dengan anggunnya di hadapanku. Melihat ke kiri dan ke kanan, terlihat jelas kalau seluruh pojok rumah ini dihiasi oleh perabotan mahal dan beberapa di antaranya bisa di sebut sebagai barang antik.


Menelan ludahku, aku tidak mampu menahan diri untuk tidak membayangkan pemandangan Kak Canary yang hidup setiap hari di rumah semewah ini.


Setelah melewati lorong yang panjang dan berkelok, si Maid akhirnya berhenti di depan sebuah pintu yang berhiaskan ukiran keemasan.


Mengetuk pintu sebanyak dua kali, si Maid pun berkata "Nyonya Canary, saya sudah membawakan Nona Colette".


Tampak menerima jawaban dari balik pintu, si Maid pun membukakan pintu dan menyuruhku untuk segera masuk.


Dengan suara pintu yang tertutup di belakangku, aku terdiam di tempat akan apa yang sekarang aku lihat.


"Jadi, kau adalah Colette, yah. Perkenalkan, namaku adalah Canary Ast Regenwald. Aku yakin ini adalah kali pertama kita bertemu secara langsung seperti ini"


"Mustahil..."


"Oh, apa yang menurutmu mustahil?"


Ini mustahil!


Tidak peduli dari mana aku melihatnya, orang yang ada di hadapanku sekarang jelas bukanlah manusia!


Sepasang telinga runcing, rambut pirang panjang bagaikan kain sutra, dua pasang mata berwarna keemasan, tubuh langsing yang di balut oleh gaun putih panjang. Serta, wajah cantik jelita yang tidak mungkin aku bisa lupakan...


"Kak... Canary?"


"Benar juga, kalian selalu memanggilku sebagai kakak di Forum. Walau benar aku punya adik kandung, tapi di panggil kakak oleh orang lain rasanya..."


"Tunggu sebentar! Bagaimana bisa, bagaimana bisa kau adalah seorang ELF!"


Aku sebelumnya pernah ke acara cosplay dan sering mendapati ada orang yang berdandan selayaknya Elf dalam cerita.


Mereka akan memakai kostum, wig, serta merias wajah mereka hingga mengenakan telinga palsu agar penampilan mereka bisa menyerupai Elf. Tidak peduli seberapa sempurnanya dandanan mereka, 'kepalsuan' bisa terlihat jelas di penampilan mereka.


Akan tetapi, biar dilihat dari mana pun, sosok Kak Canary yang ada di hadapanku sekarang jelas adalah sosok Elf yang sesungguhnya tanpa ada cela atau kepalsuan sedikitpun.


"Begitu, jadi itu yang kau maksud... Aku paham perasaanmu itu. Karena itulah aku akan menjelaskannya kepadamu"


Kak Canary lalu memintaku untuk ikut dengannya ke arah teras dan duduk di atas meja yang telah di sediakan.


Meja tersebut adalah meja bundar kecil yang berwarna putih susu. Di atasnya sudah terdapat berbagai macam kue cantik serta camilan lainnya yang biasanya hanya akan di hidangkan saat acara minum teh para gadis bangsawan di televisi.


Dengan perasaan gugup aku duduk di atas bangku mungil sementara Kak Canary duduk berhadapan denganku.


Tidak lama setelah kami duduk, ada gadis lainnya yang mengenakan seragam Maid yang sama dengan yang sebelumnya datang menghampiri kami sambil membawa troli saji yang di atasnya adalah perlengkapan untuk minum teh yang memiliki kesan antik.


Setelah menyuguhkan teh hangat kepada kami berdua, Maid tersebut lalu berdiri tidak jauh dari kami dan hanya diam di sana.


"Silahkan di minum selagi hangat. Aku jamin rasanya jauh lebih nikmat ketimbang teh kemasan yang di jual di pasaran"


Tanpa perlu diberitahupun aku pasti sudah tahu. Aku yakin teh yang ada di hadapanku ini di seduh dari daun teh impor terbaik atau semacamnya yang harganya puluhan kali lebih tinggi dari uang jajanku.


Awalnya aku agak ragu untuk meminumnya. Tapi setelah melihat Kak Canary menenggak teh miliknya dengan gaya yang elegan selayaknya seorang gadis bangsawan, sontak aku merasa ingin menurutinya.


Mengangkan cangkir teh dengan penuh hati-hati, aku sudah bisa mencium aroma wangi dari cangkir teh di tanganku. Secara perlahan aku lalu mencicipinya sambil menjaga agar tidak ada satu tetespun yang terbuang.


Hanya dengan satu seruput kecil saja, aku sudah bisa merasakan rasa manis menyebar di seluruh penjuru mulutku.


Hanya dengan satu tegukkan saja, aku bisa merasakan tubuhku menjadi rileks dan pikiranku pun menjadi tenang kembali.


"Hehe, senang mengetahui kalau kau menikmatinya"


Terlihat Kak Canary yang tersenyum lembut ke arahku. Hal ini membuat hatiku yang mulai tenang kini menjadi tenang sepenuhnya.


Puas hanya dengan satu tegukkan, aku pun meletakkan kembali cangkirku ke atas meja.


"Benci aku harus mengatakan ini ketika suasana hatimu baru saja membaik..." Senyuman menghilang dari wajah Kak Canary seraya dia menatapku dengan wajah yang serius "...seperti yang kau lihat, semuanya adalah kenyataan".


Bagi orang lain, mereka akan kebingunan akan maksud dari perkataan Kak Canary barusan. Akan tetapi, aku yang tahu dan bisa menduga apa yang Kak Canary maksud, berharap kalau apa yang baru saja aku dengar dan apa yang Kak Canary akan jelaskan adalah kebohongan.


Kak Canary lalu memberitahukan kepadaku kepadaku.


Dia memberitahukan segalanya. Segalanya tentang kenyataan di balik game bernama Freedom 2.


Walau awalnya terdengar tidak masuk akal, tapi dengan bukti nyata yang ada di hadapanku serta yang mengatakannya adalah Kak Canary, tidak mungkin bagiku untuk tidak mempercayainya.


Semakin banyak yang Kak Canary jelaskan, aku bisa merasakan dadaku menjadi semakin terasa sesak hingga aku merasa kehabisan nafas. Pandanganku menjadi kabur dan aku sudah tidak lagi bisa mendengar dengan jelas apa yang Kak Canary sedang katakan.


Tanpa aku sadari Kak Canary sudah bangkit dari kursinya dan mendekapku dengan erat.


Tak terasa air mata telah mengalir dan membasahi pipiku.


"...sudah, tidak apa-apa. Jangan di pendam, keluarkan saja"


Menuruti perkataannya, aku tidak lagi menahan diri dan menangis sejadi-jadinya. Tanpa peduli seberapa jelek penampilanku sekarang, tanpa peduli walau aku mengotori gaun putih milik Kak Canary, aku terus saja menangis


meluapkan segala perasaan yang ada di dalam dadaku selama ini.


...


"Apakah kau sudah baikkan?"


"hiks... ya, Terima kaish"


Sambil menyapu sisa air mata di wajahku dengan menggunakan sapu tangan yang diberikan oleh si Maid, aku berusaha untuk mencerna apa yang telah Kak Canary beritahukan kepadaku.


Game yang selama ini aku mainkan adalah dunia lain yang nyata adanya. Locals (NPC) yang selama ini aku temui bukanlah sekumpulan data melainkan adalah orang yang sesungguhnya. Semua yang terjadi, semua yang telah aku alami, adalah kenyataan dan bukanlah sebuah ilusi.


Itu berarti...


"Berapa banyak yang sudah aku bunuh...?"


Ultima Arca... Semua bayangan itu... Itu semua karena diriku...


"Maaf, aku tidak bisa mengatakan kalau aku mengerti dengan apa yang kau rasakan, aku juga tidak bisa berbohong dengan mengatakan kalau itu semua bukanlah salahmu.


Yang bisa aku katakan adalah kau harus tegar dan menerima fakta kalau semua yang terjadi adalah benar adanya. Walau ini terdengar kejam, tapi banyak nyawa telah melayang karena bom yang kau buat.


Meski begitu, janganlah kau terlarut dalam kesedihan. Hidupmu itu masih panjang. Jika kau ingin merasa bersalah, maka itu tidak apa-apa. Jika kau merasa ingin bertanggung jawab, maka bantu untuk segera mengakhiri perang ini sebaik yang kau bisa namun jangan paksakan dirimu itu.


Terakhir, tolong, jangan berhenti dari Freedom 2"


Mendengar nasehat serta permohonan dari Kak Canary, aku hanya bisa menganggukkan kepala.


Walau aku tidak tahu apakah aku masih bisa beraktifitas seperti biasanya setelah mengetahui semua ini, demi Kak Canary yang sampai memohon seperti ini, maka aku hanya bisa mencobanya.


Pada saat itu, tiba-tiba saja aku merasakan bulu kudukku berdiri.


Terdengar suara pintu terbuka yang kemudian di susul oleh suara langkah kaki yang seakan menginjak-injak diriku di setiap langkahnya.


Walau tanpa harus berbalik sekalipun, aku bisa tahu kalau langkah kaki itu mengarah tepat ke arahku.


Atas kedatangan orang ini, Kak Canary tampak biasa saja seolah dia mengenal orang itu. Melirik ke samping, aku bisa melihat si Maid membungkuk hormat kepada orang tersebut.


Kemudian...


"Haha... Jadi kau yang bernama Colette"