
Jauh di pedalaman hutan Barriere. Berdiri sebuah perkemahan nan mewah yang sangatlah kontras dengan pemandangan asri di sekitarnya.
Di dalam tenda yang paling besar dan yang paling mewah, beristirahat tokoh terpenting di perkemahan ini.
Namanya adalah Uskup Slon Elepanthi.
Dia ditugaskan untuk menutup akses satu-satunya dari Drakon Kingdom ke dunia luar agar mereka tidak bisa mengirimkan bantuan kepada Sanguine Kingdom dan Ferox Kingdom dalam menghadapi kerajaan tercintanya, Narsist Kingdom.
Karena personel yang bisa dikirim sangatlah terbatas, Raja Narsist meminjamkan kepadanya sebuah artefak berharga yang memberikannya kekuatan untuk mengendalikan Mobs sesuka hati.
Akan tetapi, untuk artefak dengan efek luar biasa seperti itu, tentu saja ada harga yang harus di bayar.
Kian hari kondisi fisik dari Uskup Slon kian menurun.
Dia yang awalnya terbilang rupawan menurut standar Narsist Kingdom. Kini tampak seperti orang tua yang telah renta di makan usia.
Daging telah menghilang dari tubuh yang dulunya sehat hingga hanya menyisakan tulang dan kulit yang tampak telah menyatu. Pakaian mewah yang dia pakai kini terasa longgar dan tidak cocok untuk tubuh yang telah renta.
Pandangannya mulai kabur. Berbicara sudah terasa sulit baginya. Bahkan makan dan minum pun dia sudah tidak mau.
Yang paling parah, tiap malam dia pasti akan mengalami mimpi buruk.
Sebuah mimpi di mana dia di bawa ke sebuah tempat yang penuh akan api yang berkobar. Di kejauhan terlihat sebuah kastil raksasa berdiri dengan kokohnya di atas magma yang mengalir. Makhluk-makhluk dengan tampang
menakutkan terlihat keluar masuk dari dalam kastil tersebut.
Mimpi buruk itu hanya akan berakhir jika Slon bertemu dengan seekor Makhluk yang memiliki wujud seperti pria rupawan dengan rambut panjang selurus sutra. Makhluk tersebut memiliki tubuh bagian atas yang ideal namun
tubuh bagian bawah mirip seperti kambing dan sepasang tanduk raksasa tumbuh dari kepalanya.
Pada saat makhluk itu mengulurkan tangannya, barulah Slon akan terbangun.
....
"Haaaaa...!!!!"
Demi yang mulia... Mimpi itu lagi.
Kian hari mimpi itu semakin jelas dan makin terasa begitu nyata. Entah karena alasan apa aku kerap mengalami mimpi ini.
Kalau tidak salah... Pertama kali aku mendapatkan mimpi ini saat aku baru memasuki kawasan Ancient Mountain?
Sudahlah, tidak usah memikirkan masalah ini lagi. Yang lebih penting, aku harus segera melaksanakan perintah Yang Mulia.
Sayang beribu sayang... Meski aku memiliki tekad yang besar, namun tubuhku tidak mau bekerja sama.
Untuk bangun dari tempat tidur saja sudah membutuhkan seluruh tenagaku. Belum lagi aku harus membasuh diri, berpakaian, merias diri, lalu akhirnya aku harus pergi bertugas.
Tugas yang diberikan oleh Yang Mulia kepadaku... Tugas yang hanya bisa aku lakukan... Aku harus melaksanakannya sebaik mungkin... Demi Yang Mulia... Eh, siapa nama Yang Mulia yah?
"Uskup... Maaf mengganggu, ada keadaan darurat!"
"...kau yah... Katakan"
"Baik, telah ditemukan satu batalion musuh yang mengarah langsung ke tempat ini"
"Hmm... Hadang mereka"
"Maaf, tuan Uskup. Pasukan kita kalah jumlah, jika kita..."
"Aku bilang 'uhuk' hadang mereka!"
"...sesuai perintah Anda"
Heh, dasar kesatria rendahan. Apakah dia tidak mempercayai kekuatan dari Narsist Kingdom yang maha kuasa? Jika hanya satu batalion, mereka pasti dapat menanganinya dengan sangat mudah. Jika saja dia... Dia?
Nama orang tadi siapa? Dari keluarga mana dia berasal? Juga... Apa pangkat yang dia miliki?
Ahh... Sudahlah, tidak ada gunanya mengingat orang rendahan sepertinya. Lebih baik aku segera melaksanakan doa pagi... Doa?
Kepada siapa aku berdoa?
...
"Tch, dasar tua bangka!"
Alasan kenapa aku sampai repot-repot untuk menemuinya adalah untuk memintanya menggunakan mahkota bodoh itu!
Tidak peduli seberapa keras kau berlatih, menghadapi satu batalion berjumlah 1.000 prajurit hanya dengan 100 orang itu sama saja dengan bunuh diri!!!
Juga, bukankah kondisi Uskup terlihat memburuk?
Pihak Kerajaan tidak mengatakan apa pun mengenai efek samping dari artefak itu. Akan tetapi, mengingat kekuatan yang dimilikinya, wajar jika terdapat satu atau dua efek samping yang bisa membahayakan penggunanya.
Sial, jika begini maka misi ini sama saja dengan misi bunuh diri!
Belum lagi... Masih ada makhluk terkutuk itu...
"Komandan! Bagaimana?"
"Tidak berguna. Lebih baik kita berlindung di balik barikade dan jangan mengharapkan para makhluk hina itu untuk tetap bersama dengan kita... Hanya untuk berjaga-jaga, siapkan beberapa (Madness Dust)."
"Siap, laksanakan!"
Setelah melihat anak buahku menjauh. Aku segera berjalan kembali menuju tendaku.
Berbeda dari apa yang dimiliki oleh si Uskup sialan itu, tenda yang aku tempati hanyalah tenda umum untuk kebutuhan militer.
Selain perabotan yang sederhana, tidak ada hal lain di sini selain Equipment yang berserakan serta tumpukkan dokumen yang seharusnya dikerjakan oleh tua bangka itu.
Tujuanku datang kemari adalah untuk mengambil sebuah ukiran kayu yang kuletakkan di atas meja.
Itu adalah sebuah burung merak yang diukir dengan sangat kasar hingga tampak seperti ayam ketimbang merak. Akan tetapi, aku sangat menghargainya.
Tidak peduli seperti apa ejekan yang anak buahku katakan di belakangku saat melihat ukiran ini, aku tidak akan memedulikannya. Opini mereka tidak sebanding dengan usaha keras putri tercintaku yang susah payah membuatkan ini untukku.
"Reine sayang, ayahmu pasti akan pulang"
...
"Glaza, apakah kau melihat sesuatu?"
Whoo! Whoo!
"Begitu, baiklah. Lanjutkan pengintaiannya"
Menyaksikan sang burung hantu terbang kembali ke gelapnya malam, aku mendekati Percy.
"Bagaimana?"
"Musuh tampaknya menyadari keberadaan kita. Mereka berlindung di balik barikade dan tampaknya mereka memiliki semacam item yang merepotkan"
"Bagaimana dengan target utama?"
"Target tetap berada di dalam tenda"
"Dimengerti, lanjutkan sesuai rencana"
Bergerak di balik bayangan malam, kami melanjutkan perjalanan kami menuju markas musuh.
Satu batalion yang Komandan Onlay kirim sudah berjalan lebih dulu dari kami. Tinggal beberapa menit lagi, mereka akan melakukan kontak dengan pasukan musuh. Pada saat situasi mulai menjadi kacau, kami akan menyelinap langsung ke jantung pertahanan musuh dan memenggal kepala Pemimpin mereka.
Pada akhirnya, saat yang di tunggu-tunggu datang juga.
"SERAAAANG!!!"
"Demi Narsist Kingdom!"
Pada saat pasukan kami menerjang pertahanan musuh secara langsung, pasukan musuh tampak melemparkan semacam bubuk ke arah pasukan kami.
Pada awalnya tidak ada yang tahu apa efek dari bubuk tersebut. Tapi, tidak butuh waktu lama sebelum kami akhirnya mengetahuinya.
Grraaaaa....
Grrrroooaaaaaa....
"Mobs!!!"
Para Mobs yang awalnya berlindung di balik pepohonan seketika menjadi liar dan menyerang pasukan kami dengan ganasnya.
Yang menjadi sasaran utama mereka adalah prajurit yang terkena serbuk yang dilemparkan oleh kesatria Narsist Kingdom.
Tch, jadi ini yang Percy maksud sebagai item yang merepotkan.
"Kita tidak bisa membuang waktu, ayo"
Memimpin Party dadakan ini, aku menggiring mereka menuju rute yang telah ditentukan.
...
"Tahan! Jangan sampai musuh melewati pertahanan kita!"
"""Ya!!!"""
Bersama dengan 100 kesatria yang diserahkan kepadaku, kami berusaha semampu kami untuk menahan serbuan musuh yang jumlahnya 10 kali lebih banyak dari jumlah kami.
Jika saja kami tidak berlindung di balik barikade, kami pasti sudah tamat dalam sekejap mata.
Meski begitu, pertempuran ini jelas sangatlah tidak menguntungkan bagi kami. Tidak hanya kalah jumlah, pihak kami tidak memiliki seseorang yang mampu menggunakan sihir.
Sialan, jika saja tua bangka itu masih sehat, para Perapal Mantra (Caster) tidak akan disibukkan dengan segel makhluk sialan itu!
Tidak ada gunanya memikirkan hal seperti ini. Untuk sekarang, aku harus fokus akan apa yang ada di hadapanku.
Berkat (Madness Dust) yang kami lemparkan ke arah musuh, para Mobs yang mulai tidak bisa dikendalikan, pergi menyerang pihak musuh secara membabi-buta.
Dengan ini kami berhasil menyibukkan musuh untuk sementara waktu.
Persediaan (Madness Dust) yang kami bawa tidaklah banyak. Kalau terus begini, hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum akhirnya kami kehabisan pilihan.
...
"Dasar rakyat jelata... berisik sekali"
Bagaimana bisa aku kembali tidur jika mereka ribut seperti itu?
Haa... Memang salah jika aku menyalahkan orang tidak berotak seperti mereka. Lebih baik aku kembali...
Bang!
"A-apa itu!"
Tiba-tiba saja terjadi ledakan besar yang membuat seluruh tendaku hancur berantakan hingga tidak ada lagi yang tersisa.
Ahh.... Tenda ini di buat dengan bahan terbaik dan dirancang oleh seniman paling ternama seantero dunia.... Kenapa bisa meledak!
Pada saat debu mulai mereda, terlihat seorang gadis berambut hitam panjang yang menderita luka di lengan kanannya. Hah? Jika diperhatikan lagi... Ada belati... Begitu!
"Hahaha... Kau... Assassin rendahan, berani 'uhuk' beraninya kau 'uhuk' mencoba untuk mengambil kepalaku!"
Oh... Wajah gadis itu... Ekspresi marahnya sangat menggoda... Ahh... Aku jadi tidak sabar untuk memberikan pelajaran kepada pelacur rendahan sepertinya!
Pang!
Apalagi ini? Panah?
"Begitu... Jadi begi 'uhuk' ... Ada yang lain... Yah"
"Mati!!!" "Mampus!!!"
Selanjutnya adalah sepasang gadis kembar yang tampak masih di bawah umur mengayunkan pedang dan Halberd mereka kepadaku.
Sayang bagi mereka, serangan mereka terhenti sebelum bisa menyentuhku.
"Pelindung sialan!" "Ah, gak asik!"
Heh, baru tahu mereka.
Selain aku masih memiliki satu lagi item yang meski bukan sebuah artefak, namun
efeknya tidaklah kalah dari item-item kelas atas lainnya.
\ ★★★★★
«Space Protection : Large» «Automatic Action : Large»
Sebuah jimat pelindung yang diciptakan oleh seorang Ahli Sihir (Mage) yang namanya telah hilang oleh waktu.
Memberikan perlindungan kepada penggunanya dari segala mara bahaya dan akan aktif secara otomatis.
Syarat penggunaan : Memiliki darah bangsawan
Butuh waktu lama sebelum akhirnya item ini bisa sampai di tanganku. Akan tetapi, semua usaha itu sekarang terbayar dengan sangat sempurna!
Boom!
Kali ini apa lagi? Sihir?
"Terus serang, pelindung itu pasti memiliki batasnya!"
Oh, tampaknya pria itu adalah pimpinan mereka.
Tanpa aku sadari, gadis berambut hitam tadi telah hilang entah ke mana. Sekarang dia telah digantikan oleh seorang pria dengan tombak. Selain itu, aku melihat ada satu pria lagi dengan pedang dan ada pria berkacamata yang menggunakan Greatsword.
Sekarang ada... Wanita? Yang mengenakan Armor penuh.
Tch, mereka bahkan membawa Beastman kotor bersama mereka. Budak dari Ferox Kingdom memang menjijikan.
Tamu yang cukup banyak.
Aku tidak melihat adanya penyembuh (Healer) apakah dia bersembunyi? Mungkin saja, terlebih gadis tadi juga tengah terluka.
Tetap saja, jelek rasanya kalau hanya mereka yang menyerang.
"Rasakan ini... Wahai rakyat jelata!"
(Luminous Sphere)
Lima bola cahaya tercipta dan mengorbit mengitari diriku.
Saat gadis kecil dengan pedang mencoba kembali menebasku, salah satu bola cahaya itu bergerak dan menyerangnya... Berhasil menangkisnya yah.
Selanjutnya, serangan panah dan sihir yang ditembakkan ke arahku juga di tangkis oleh bola cahaya milikku. Aku bisa melihat wujud si Ahli Sihir (Mage). Tapi aku tidak bisa melihat orang yang menembakkan panah.
"Itu adalah (Luminous Sphere)! Itu akan secara otomatis melindungi penggunanya! Tapi itu hanya mampu menerima masing-masing lima serangan kuat!"
Bahkan jika mereka mengetahuinya sekalipun, itu tidak akan mengubah apa-apa!
(Luminous Rays)
Sebuah sinar cahaya yang aku tembakkan tepat mengenai si wanita dengan Armor. Dia tampak cukup tangguh untuk bisa menerima serangan dariku secara langsung hanya dengan menggunakan perisai kecil.
Tunggu... Dia kian mendekat!
Pang! Pang! Pang!
Apa lagi sekarang? Panah lagi! Tunggu, bagaimana bisa seseorang menembakkan panah tanpa henti seperti ini?!
Ini tidak baik, anggota musuh yang lain juga mulai menyerangku secara bersamaan. Kalau begini terus (Luminous Sphere) tidak akan bertahan lebih lama lagi.
"Gh... Menjauhlah! (Lumi...."
"Jangan harap... «Flame Edge» (Absolute Slash)"
Tanpa aku sadari pemimpin musuh sudah berada di sampingku. Terlebih lagi, dia sudah mengangkat pedangnya yang menyala oleh api yang sangat membara!
Dengan sekali ayunan, pedangnya yang membara sukses menembus pertahananku dengan begitu mudahnya.
"Arrgghhhh....!!!"
Ini sakit, rasanya sakit sekali!!!
Kenapa? Apa yang telah aku lakukan hingga pantas mendapatkan perlakuan seperti ini?!
"Dan... *Chop*"
"kjgjgkgjfjgkgk"
...
"Hei, apakah itu benar-benar perlu?"
"Tidak juga... Kami hanya ingin"
Setelah aku sukses menembus pertahanannya dan menorehkan luka besar padanya, komandan musuh yang mengenakan pakaian keagamaan berakhir berguling-guling kesakitan di atas tanah.
Melihat penampilannya yang mirip kakek-kakek renta membuatku merasa sedikit kasihan kepadanya.
Berbeda denganku, gadis yang bernama Vier malah dengan santainya mengayunkan Halberd miliknya hingga mengamputasi salah satu lengan kakek itu.
Belum selesai sampai di situ, Percy dengan santainya menginjak tubuh kakek itu yang tiada hentinya menggeliat di atas tanah hingga membuatnya tidak bisa bergerak.
Lalu... Dengan satu ayunan kecil, kepala kakek itu terguling di atas tanah.
"Wow, bicara soal Gore"
"Kenapa? Bukankah tujuan awal kita memang ini?"
"Feline, apakah ada dari ini yang menurutmu manusiawi?"
"Semuanya. Sebentar lagi dia pasti akan mengumumkan kemenangan kita dengan lantang"
Pada saat Yari dan Feline sedang sibuk berdebat, Percy mengambil kepala kakek itu dari atas tanah lalu mengangkatnya tinggi di udara.
"KOMANDAN DARI NARSIST KINGDOM TELAH MATI!!!"
"Lihat!"
Setelah pengumuman ini dikumandangkan, serentak semua pasukan dari Narsist Kingdom yang tersisa menjatuhkan senjata mereka dan pasrah akan kekalahan mereka.
Pada Mobs yang memenuhi tempat ini tampaknya juga telah mendapatkan kesadaran mereka kembali sebelum akhirnya pergi menjauh ke suatu tempat.
Dari kejauhan bisa terdengar suara sorak-sorai gembira dari para prajurit dan Petualang.
Sementara itu, aku melihat Turbo dan Nos dengan hati-hati memeriksa tubuh kakek itu. Setelah pemeriksaan selesai, Turbo mengambil beberapa item yang terlihat berharga lalu meletakkannya ke dalam miliknya.
"Kau sedang apa?"
"Jaga-jaga siapa tahu dia memiliki item terkutuk atau semacamnya. Kita tidak mau kan dia tiba-tiba saja bangkit kembali atau meledakkan diri?"
Benar juga, hal seperti ini umum terjadi di film ataupun game. Turbo juga menjelaskan kalau item yang dia ambil akan langsung di serahkan kepada Komandan Onlay dan Penyihir Cardinal untuk diperiksa lebih jauh lagi.
Hal itu juga termasuk dengan mahkota yang masih berada di kepala komandan musuh yang sekarang sedang di pamerkan ke seluruh pasukan.
Melihat pemimpin mereka telah mati, pasukan dari Narsist Kingdom lalu segera menjatuhkan senjata mereka tanda bahwa bendera putih telah berkibar.
Kami lalu beramai-ramai mengarak mereka menuju benteng dengan sorak-sorai kemenangan yang terus berkumandang. Sesampainya kami di benteng, Turbo izin untuk membawa Sisteen yang terluka ke tenda medis untuk di obati. Yang membuat kewajiban untuk melaporkan Quest ini jatuh ke tanganku.
Menerima nasib, aku lalu berjalan menuju tenda di mana Komandan Onlay menunggu.
Dengan ini... Pertempuran antara Narsist Kingdom dengan Drakon Kingdom di Hutan Barriere telah berakhir.