
Pada pagi hari yang seharusnya indah ini, entah mengapa, aku mendapatkan tatapan sinis dari Nenek.
"Terdapat laporan adanya beberapa Otherworlder yang menghilang tanpa jejak. Kau tahu kenapa?"
"Nek, bagaimana Nenek bisa mencurigai cucumu sendiri?"
"[Sixth Sense]"
"Tch, Skill sialan"
"Ya ampun, sudah kuduga. Ternyata memang ada efek sampingnya"
Mau bagaimana lagi, aku ini kelaparan! Lagian, orang-orang itu pasti akan bersyukur menjadi makananku dan pasti akan memohon kembali.
Setelah menghabiskan pagiku mendengar ceramah dari Nenek, kami pun akhirnya naik ke atas kereta untuk melanjutkan perjalanan kami.
Tujuan kami yang selanjutnya adalah Kerajaan Binatang, Ferox Kingdom.
Perjalanan ke sana akan memakan waktu sekitar 5 sampai 7 hari tergantung apakah ada halangan di jalan atau tidak.
Karena perjalanan ke sana mengharuskan seseorang untuk melewati Hutan Barriere, maka pertemuan dengan Mobs atau bandit di jalan menjadi tidak terelakkan.
Akan tetapi, karena sekarang Hutan ini telah menjadi bagian dari Dungeonku, maka bisa aku pastikan kalau tidak akan ada sesuatu yang menghalangi perjalanan kami.
"Kita akan melaju dengan kecepatan sedang, itu berarti minimal kita akan sampai dalam kurun waktu 6 hari. Yang artinya kau memiliki waktu 3 hari waktu dunia sana untuk menyelesaikan urusanmu dengan orang itu. Paham?"
Itu berarti aku akan memiliki total 3 hari untuk pulang.
Butuh waktu sekitar setengah hari dengan mobil untuk sampai ke rumah orang tuaku. Karena aku tidak yakin kalau urusan Papa akan selesai dalam sehari, apakah aku memang harus membawa peralatan VR ku pulang?
"Baiklah, untuk sementara waktu, aku akan meminta Nenek untuk menjaga tubuh ini"
"Tenang saja, kau bisa 'Tidur' dengan nyenyak"
"Selain itu, cucumu ini hendak meminta sebuah permintaan. Apakah Nenek mau mengabulkannya?"
"Oh, ada apa ini? Tentu saja, katakanlah"
"Selama aku tidak ada, jangan berbuat baik kepada kadal itu bagaimana pun caranya"
"...."
Sejak aku memperbudak kadal itu hingga sekarang, kadal sialan itu masih saja suka membangkang. Aku harus menghukumnya terlebih dahulu sebelum kadal itu mau menjalankan perintahku.
Oleh sebab itu, aku berniat untuk memberi kadal itu 'Pelajaran' agar kadal itu tahu dimana tempatnya sekarang.
Bahkan, pelajaran itu sudah di mulai.
Aku mengikatkan rantai di lehernya kepada bagian belakang kereta dan memerintahkan kadal itu untuk terus berjalan tanpa henti. Untuk berjaga-jaga, aku memborgol kedua tangannya serta memerintahkan si kembar untuk terus mengawasinya.
Untuk perintah tambahan, aku membuat agar kadal itu tidak bisa mengeluarkan sihir tanpa seizinku. Jika, dan hanya jika ada musuh yang datang, maka kadal itu adalah yang pertama yang maju untuk menghadang musuh.
Tentu saja, dengan tangan masih terborgol dan tanpa sihir.
"...baiklah. Meski berat, Nenek berjanji tidak akan mengganggu pelatihan kecilmu itu"
Bagus, dengan begini aku bisa Log Out dengan nyaman!
"Selamat malam"
...
"Selamat malam"
Setelah menyelimuti tubuh cucuku, aku melihat ke luar jendela.
Hutan yang dulunya hijau sekarang berubah menjadi hutan yang di dominasi oleh warna violet yang cerah. Kualitas Mana di sini juga jauh berbeda dari yang sebelumnya.
Sedangkan untuk nasib sahabat baikku yang telah jatuh menjadi budak dari cucuku sendiri, aku hanya bisa pasrah tanpa bisa melakukan apa-apa.
Sekali dia menjadi budak, terlebih dengan kerah terkutuk itu, mustahil aku bisa membebaskannya. Bahkan membunuh cucuku sendiri hanya akan berujung dengan kematian sahabatku karena sekarang jiwanya telah terhubung dengan Lavender.
Jika Lavender mati, maka Victoria juga akan mati.
Akan tetapi, fakta bahwa cucuku kembali ke dunia ini dengan menjadi seorang Otherworlder. Membuatku tidak yakin apakah Victoria akan bisa bangkit kembali lalu terbebas dari perbudakannya.
Melihat wajah tidur dari si biang keladi, aku tidak kuasa untuk tidak menghela nafasku.
"Oh, Orchid. Meski sebentar, tolong pulang dan lihatlah apa yang putrimu telah lakukan"
...
Ingatan terakhirku adalah pemandangan Kerajaan kesayanganku yang diselimuti oleh lautan api. Di hadapanku adalah bajingan yang menyebabkan semua ini.
Dengan sekuat tenaga, aku berusaha untuk mengirimnya ke akhirat.
Ingatanku yang selanjutnya adalah kegelapan.
Tanpa bisa melihat, mencium, atau merasakan apa-apa, aku seolah melayang dalam kekosongan dalam waktu yang sangat lama.
Pada saat aku melihat secuil cahaya pada kegelapan itu, aku menggunakan seluruh kekuatanku yang ada untuk menuju cahaya tersebut.
Hal terakhir yang aku tahu, aku berada di tengah hutan.
Aku bisa merasakan kalau ada yang berbeda dari tubuhku tapi aku tidak tahu mengapa. Satu-satunya hal yang aku rasakan saat itu adalah rasa dendam kepada bajingan yang membuatku kehilangan segalanya.
Akan tetapi, entah mengapa, orang pertama yang menyambutku adalah sosok yang bisa aku sebut sebagai sahabat.
Kenapa dia menyerangku? Apa salahku? Apakah dia juga mengkhianatiku?
Sebelum aku mengetahui jawabannya, aku sudah mendapati diriku bertarung melawannya.
Kemudian... Kemudian... Aku melihat sebuah sosok yang baru pertama kali aku lihat. Tapi, hanya dengan melihatnya saja sudah cukup untuk membuat api dendam menyala di dalam tubuhku.
Hal terakhir yang aku ingat adalah kekalahanku dan kenyataan memalukan di mana aku menjadi budak dari sosok tersebut.
"Hahaha... Ayo jalan!" "Hahaha... Dia jatuh, dia jatuh!"
"Ugh... Golem sialan..."
Dengan tubuh di rantai dan diikatkan pada bagian belakang kereta, aku dipaksa untuk berjalan bagaikan seekor kerbau yang digembalakan.
Saat aku terjatuh dan terseret oleh laju kereta, mereka malah menghentakkan rantai yang terikat pada kerah di leherku dan memaksaku untuk berdiri dan kembali berjalan.
Iblis itu tidak memberikanku sesuatu untuk dikenakan atau pun sesuatu untuk aku makan.
Sepanjang malam dia menggunakan semacam sihir yang membuat orang-orang menjadi kehilangan akal mereka saat melihatku. Untungnya aku masih bisa melawan dan membuat mereka menjadi abu.
Sudah sejak lama aku bermimpi untuk memiliki tubuh Manusia. Aku ingin bisa jalan berdampingan dengan sahabatku yang berharga, makan makanan yang sama dengannya, hingga tidur di ruangan yang sama.
Tapi, sekarang... Tidak hanya tubuhku penuh dengan lumpur, perutku yang kosong terasa menyiksa, tubuh lemah yang hampir tidak ada kekuatan yang tersisa...
Apakah nasibku bisa lebih buruk dari ini?
Tik... Tik... Tik...
"Ah, hujan!" "Ini jas hujan" "Terima kasih" Whoo... Whoo... "Sini Glaza sini, ikut neduh"
...jika saja ada dewa yang mewakili hujan atau cuaca, maka sudah pasti aku akan mengutuknya sekarang.
Semakin lama hujan semakin deras. Jalan yang kering kini telah berubah menjadi jalanan berlumpur yang licin.
Berkat hujan ini laju kereta menjadi melambat. Tetapi begitu juga dengan lajuku berjalan. Frekuensi diriku terjatuh menjadi lebih sering.
"Hahaha... Penuh lumpur!" "Hahaha... Lucu, lucu!"
Dengan semua yang terjadi, satu-satunya yang aku syukuri dari hujan ini adalah dahagaku yang akhirnya terpuaskan.
Menadahkan kepalaku ke arah langit, aku berusaha untuk menangkap lebih banyak air hujan sekaligus menyembunyikan air mata yang mulai berlinang.
Tidak peduli apa yang terjadi sekarang, aku bersumpah.
Aku akan membalas apa yang Iblis itu lakukan kepadaku berkali-kali lipat!
"Ghaaaaaaa!!!"
Apa ini!? Kenapa aku tiba-tiba saja merasakan sakit seperti di sambar petir!
"Ah, kerahnya aktif!" "Dia pasti mikir yang tidak-tidak"
Kerah?! Jadi, kerah ini penyebabnya!? Bagaimana bisa?!
"Bagaimana ini, dia sekarang keseret?" "Biarin aja, kalo di bantu nanti di marahin Master!" "Oke, kita lihat saja kalo gitu"
...
Baju... Sudah. Mesin VR... Sudah.
Baiklah, setelah yakin semua sudah di kemas ke dalam koper, aku segera turun ke lantai pertama dengan Anna yang membawakan koperku.
Berjalan melewatinya, aku di sambut oleh sebuah sedan putih yang terparkir rapi di depan rumah. Setelah si sopir membukakan pintu mobil, aku duduk dengan tenang di kursi penumpang sementara Anna memasukkan koperku ke
dalam bagasi.
Setelah selesai, Anna lalu duduk di samping sopir. Yakin semua sudah siap, si sopir langsung tancap gas dan mobil pun melaju.
Seperti biasa, tidak ada percakapan yang terjadi.
Aku hanya duduk bersandar sambil mengarahkan pandanganku pada pemandangan di balik kaca mobil.
Sejak dulu aku merasa pemandangan perkotaan itu sangat membosankan. Yang ada hanyalah bangunan beton yang tertata rapi dengan orang-orang yang tiada hentinya berlalu-lalang di jalanan.
Namun sekarang, aku bisa melihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku lihat namun tidaklah asing lagi bagiku.
Mana.
Meski tipis, aku bisa melihat kalau dunia ini memang memiliki Mana. Walau begitu, aku tetap tidak bisa menggunakan sihir seperti di sana karena Mana di sini yang terlalu tipis hingga membutuhkan usaha yang jauh lebih besar hanya untuk menggunakan sihir yang paling sederhana sekalipun.
Selain Mana, aku sekarang juga mampu melihat sesuatu yang kebanyakan orang pikir hanyalah takhayul belaka.
'Mereka' dengan jelas terlihat berada di mana-mana. Berbaur dengan masyarakat sekitar seolah 'Mereka' adalah bagian dari masyarakat biasa.
Bahkan, salah satu dari 'Mereka' berada tepat di dalam mobil ini.
"Anna, aku tidak tahu kalau kau dulunya punya saudari kembar"
Tepat setelah aku mengatakan itu, Anna menjadi sangat terkejut hingga dia secara refleks menoleh ke belakang dengan mulut ternganga serta ekspresi antara terkejut yang bercampur dengan rasa takut.
Itu tidak masalah, bahkan ekspresi inilah yang ingin aku lihat.
Yang menjadi masalah adalah si sopir.
"Hei, apakah kau ingin membunuhku!"
Menendang kursi pengemudi, aku membentak si sopir yang juga sama terkejutnya hingga membuat mobil yang kami kendarai hilang kendali.
"Ma-maaf"
Dengan susah payah dia mencoba untuk menstabilkan kembali mobil ini. Meski begitu, si sopir masih saja mencuri-curi pandang pada Anna yang masih dengan mulut yang terbuka lebar.
"Mohon maaf bila lancang. Tapi, dari mana Nona mempelajari tentang saudari kembar saya?"
Dia tidak mencoba untuk menyembunyikannya yah... Baguslah.
"Hehe... Katakan saja sekarang aku mengetahui mengapa kau bisa awet muda"
Kali ini Anna menjadi syok berat dan mulai menangis tersedu-sedu. Si sopir yang berada di sampingnya menjulurkan sebelah tangannya untuk mengelus punggung Anna yang menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tidak mau menoleh ke arahku lagi.
Haha... Akhirnya perjalanan ini menjadi tidak membosankan.
...
Pada sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, hidup satu keluarga yang terdiri dari sang Ayah yang selalu bekerja dari pagi hingga larut malam, seorang Ibu rumah tangga yang menghabiskan hari-harinya untuk mengurusi
kebutuhan keluarganya, si Kakak perempuan yang baru saja lulus kuliah namun hanya menghabiskan hari-harinya untuk bermain game, dan si Adik perempuan yang baru saja menginjak bangku SMA.
Mereka jarang berkumpul bersama kecuali saat hari libur.
Untungnya, hari ini adalah hari libur nasional yang membuat keluarga ini bisa berkumpul bersama.
Namun...
Duduk di meja makan, sang Ayah menatap putri tertuanya dengan tatapan sinis. Si Ibu tampak sedih dan cemas. Sedangkan si adik seolah tidak peduli namun jauh di dalam, dia merasa marah dan kecewa kepada kakaknya.
Menatap putrinya yang tertunduk diam, si Ayah pun akhirnya angkat bicara.
"Pipit, Papa punya kenalan yang katanya... "Tidak mau!" ...Dengarkan dulu apa yang ingin Papa katakan!"
Seolah sudah mendengar hal ini berkali-kali, si Kakak hanya menjawab singkat namun tegas. Kesal, si Ayah pun membanting tangannya ke atas meja dengan kuat hingga mengejutkan si istri dan si Adik perempuan.
"Sudah cukup! Kau seharusnya sadar! Kau itu sudah dewasa! Berhenti bermain game dan mulailah mencari pekerjaan atau setidaknya cari suami sana!"
"Kan sudah kubilang aku ini sudah menikah!"
"Ya, di dalam game!"
Pada akhirnya mereka kembali saling adu mulut. Hal ini sudah sering terjadi hingga hampir setiap hari mereka pasti akan mendapatkan keluhan dari tetangga karena keributan yang mereka timbulkan.
Tangisan si Ibu kian menjadi sementara si Adik mencoba mengalihkan perhatiannya dengan cara bermain handphone.
"Cukup! Papa sudah tidak tahan lagi!"
Bangkit dari kursinya, si Ayah dengan marah berjalan menuju kamar si Kakak. Merasa ayahnya akan melakukan sesuatu yang buruk, si Kakak dengan cepat mencoba menghentikannya.
"Apa yang ingin kau lakukan!!"
"Menghancurkan benda bodoh itu sehingga kau tidak bisa lagi bermain game!"
"!!!"
Dengan tubuhnya yang tidak di sangka gesit, si Kakak berhasil mendahului si Ayah. Berdiri tepat di depan pintu kamarnya, si Kakak membentangkan kedua tangannya sambil menatap tajam kepada ayahnya yang murka.
"Minggir!!!"
"Tidak mau!"
"Papa bilang minggir!!!"
Melihat pertengkaran antara suami dan putrinya kian menjadi, si Ibu berusaha untuk melerai mereka namun gagal.
Si adik yang tidak tahan melihat kondisi Ibunya mencoba untuk menenangkan si Ibu tanpa mengalihkan pandangannya kepada sosok Ayah dan Kakaknya yang terus bertengkar.
Dengan darah yang memuncak, si Ayah yang tidak sanggup lagi menahan emosinya akhirnya melayangkan sebuah pukulan tepat ke kepala putrinya sendiri.
Gedebuk!
Pukulan itu mengenai tepat di wajah si Kakak hingga membuatnya terpental dan bagian belakang kepalanya membentur permukaan pintu kamar dengan sangat keras.
Noda merah dapat terlihat jelas pada permukaan pintu yang berwarna putih.
Melihat ini, semua orang menjadi diam membeku. Apalagi si Kakak tampak tidak bergerak dengan mata yang terpejam.
"Pi-pipit!"
Meski di panggil oleh Ibunya, namun tidak ada jawaban.
Menyadari apa yang baru saja dia perbuat, si Ayah mencoba mendekati tubuh putrinya dengan tangan yang tidak berhenti gemetaran.
"ugh..."
Melihat si Kakak mulai kembali berdiri, semua merasa senang. Tapi, sesaat kemudian perasaan senang itu sirna sepenuhnya.
Apa yang ada di hadapan mereka adalah si Kakak, juga bukan si Kakak.
Mata si Kakak yang awalnya berwarna hitam kini digantikan oleh sepasang mata keemasan yang menatap tajam pada sosok si Ayah. Meski mereka berada di dalam ruangan, hembusan angin bisa terasa menerpa kulit mereka.
"Pipit?"
Si Ayah yang terkejut akan perubahan Putrinya yang tiba-tiba, mencoba untuk menyentuhnya...
"Menjauh!"
Sebuah gelombang angin tercipta dengan si Kakak sebagai pusatnya. Gelombang angin itu sangatlah kuat hingga menghempaskan segala yang ada di sekitarnya. Baik itu perabotan rumah hingga orangtuanya sendiri semua terombang-ambing seolah terdapat badai di dalam rumah.
Si Ayah yang berdiri paling dekat terlempar hingga tubuhnya membentur dinding rumah dengan sangat keras. Tidak hanya itu, tubuh si Ayah menjadi tertahan pada permukaan dinding seakan dia telah di paku dan tidak mampu untuk turun karena tekanan angin yang terlalu kuat. Karena benturan itu, darah mengalir dari mulutnya dan kesadarannya mulai memudar.
Si Adik secara refleks mencoba untuk melindungi Ibunya dengan menggunakan tubuhnya sebagai perisai. Akan tetapi, usahanya terbukti sia-sia karena dia berakhir terpental bersama dengan Ibunya.
Pada akhirnya gelombang angin itu mereda.
Yang tersisa hanyalah rumah yang berantakan seperti kapal pecah. Sosok si Ayah dapat terlihat terkapar di atas lantai dengan darah yang mengalir dari mulutnya. Sedangkan si Ibu dan si Adik tidak terlihat karena tubuh mereka tertimbun oleh perabotan yang ikut terhempas oleh gelombang angin.
Menjadi satu-satunya orang yang masih berdiri, si Kakak masih merasa tidak percaya akan apa yang baru saja dia lakukan.
Dengan kondisi yang masih tidak stabil, si Kakak segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dengan rapat.
Butuh waktu sebelum akhirnya para tetangga yang di dampingi oleh seorang Satpam mendobrak pintu rumah karena khawatir akan keributan yang baru saja terjadi.
Mereka semua terkejut saat melihat kondisi rumah yang seakan baru saja ditimpa bencana alam. Setelah pencarian singkat, mereka pun akhirnya menemukan si Ayah, Ibu, dan Adik yang sedang dalam kondisi terluka parah dan segera melarikan mereka ke rumah sakit.
Pada saat mereka mencari sosok si Kakak, pintu kamarnya terkunci dengan rapat dan tidak mau di buka. Bahkan jendela kamarnya ditutupi oleh gorden yang membuat mereka mustahil untuk mengintip ke dalam kamar.
Meski aneh, para tetangga akhirnya memutuskan kalau si Kakak sedang tidak ada di rumah dan meninggalkan si Kakak yang sekarang sedang tenggelam ke dalam dunia virtual sendirian di dalam kamar di rumah kosong yang
berantakan.