A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 68 : My Cute Disciple



Hari ini aku kembali terbangun tepat sebelum matahari terbit.


Hal pertama yang aku lakukan setelah bangun tidur adalah merapikan tempat tidurku. Walau aku bukan tipe orang yang banyak bergerak saat tidur, aku akan merasa tidak enak ketika melihat tempat tidur yang berantakan


meski hanya sedikit saja.


Selesai merapikan tempat tidur, aku lalu mengemas peralatan mandiku dan segera beranjak menuju sungai yang mengalir tepat di belakang asrama tempat aku tinggal.


Seperti biasa, aku adalah satu-satunya orang yang berada di tempat ini. Jika saja aku menunggu setelah matahari terbit, sungai kecil ini akan dipenuhi oleh para gadis lainnya yang menghuni asrama yang sama dengan diriku.


Mencelupkan ujung kakiku ke dalam aliran sungai yang dingin, aku mulai membasuh seluruh tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki hingga benar-benar bersih.


Karena aku memiliki rambut yang terbilang cukup panjang, agak susah untuk membersihkannya apalagi untuk mengeringkannya.


Terakhir, tidak lupa aku juga membersihkan ekor milikku.


Setelah selesai membersihkan tubuhku di sungai, aku lalu mengelap tubuhku dengan handuk yang aku bawa hingga kering sebelum akhirnya membalut tubuhku dengan handuk yang sama serta membalut rambutku dengan handuk kedua yang lebih kecil.


Tanpa terasa matahari sudah mulai terbit.


Aku yang sudah selesai membasuh diri segera kembali ke dalam asrama.


Dalam perjalanan kembali ke kamarku, aku berpapasan dengan gadis-gadis lainnya yang sudah bangun dan bersiap untuk membasuh diri ke sungai.


Mereka semua saling menyapa satu sama lain dan bahkan ada yang sibuk membangunkan teman mereka yang masih terlelap di dalam kamar seraya bercanda ria demi mengawali hari mereka dengan riang gembira.


Tidak ada satupun dari mereka yang menyapaku.


Yah, itu wajar saja karena memang inilah yang aku inginkan.


Karena sudah terbiasa, aku sukses berjalan kembali ke kamarku tanpa menyenggol gadis-gadis lainnya yang sudah mulai memenuhi lorong yang sempit.


Ini bukan perkara mudah mengingat kamarku berada tepat di ujung lorong di lantai kelima yang juga adalah lantai teratas dari asrama ini.


Sekembalinya ke dalam kamar, tubuhku telah kering sepenuhnya.


Tanpa menunda waktu lagi aku segera mengenakan baju terusan yang berwarna hitam polos yang lalu aku lapisi dengan jubah hitam yang tebal. Setelah menyisir rambutku, barulah aku meletakkan topi segitiga kecil di atas


kepalaku.


Sambil membawa buku-buku pelajaran yang sudah aku siapkan sebelum aku pergi tidur, tidak lupa aku mengambil Staff kayu polos yang bersandar di pojok ruangan sebelum akhirnya aku keluar kamar menuju ke kelas.


Walau hari masih pagi, sudah banyak orang yang memulai aktifitasnya.


Mereka semua mengenakan jubah dan topi segitiga sama sepertiku. Kebanyakan dari mereka juga menyandang gelar yang sama dengan diriku.


Forest Dwellers.


Jika di luar sana gelar ini sangatlah berarti, itu tidaklah sama dengan tempat ini. Bahkan, gelar ini adalah gelar yang pasti dimiliki oleh seluruh penduduk setempat, atau mungkin lebih tepatnya aku sebut sebagai warga kota ini.


Itu dikarenakan seluruh penduduk kota ini adalah atau akan menjadi Penyihir (Witch).


Sol Ciel.


Itu adalah kami.


Kami bisa disebut sebagai kelompok, organisasi, atau Guild. Yang seluruh anggotanya adalah Penyihir yang bertugas untuk menjaga keseimbangan dunia ini.


Baik itu adalah keseimbangan alam ataupun keseimbangan antar Kerajaan. Sudah menjadi tugas kami untuk menjaga dunia ini aman dari bencana dan konflik yang membahayakan banyak nyawa.


Meski begitu, aku yang masih seorang Pelajar hanya memiliki satu tugas saja.


Belajar.


Berjalan dengan santai di bawah naungan pepohonan yang rindang, aku akhirnya tiba di depan gerbang sekolah... Hanya untuk menemukan sebuah kerumunan dengan seorang Penyihir senior yang biasa bertugas sebagai instruktur di kelas berdiri di tengah-tengah para pelajar yang mau memasuki gerbang sekolah.


Penasaran, aku pun ikut bergabung ke dalam kerumunan tersebut.


Mendengarkan penjelasan dari si instruktur, aku terkejut akan apa yang baru saja dia katakan.


Ketua Cardinal telah kembali.


Berita mengenai Ketua Cardinal yang mendapatkan Quest langsung dari Ratu Cascade jelas membuat gempar seluruh Sol Ciel. Terlebih beliau menerima Quest itu tepat di tengah pesta kelahiran Keluarga Kerajaan Elf. Membuat berita ini menjadi topik pembicaraan selama sebulan penuh.


Dan sekarang, setelah dua bulan lebih lamanya, Ketua Cardinal akhirnya kembali.


Demi menyambutnya, semua murid diminta untuk segera berkumpul di depan pintu masuk.


Yang aku maksud pintu masuk di sini sama dengan Gerbang Kota jika di tempat lain.


Menuruti arahan dari instruktur, aku pun mengikuti para pelajar lainnya menuju pintu masuk. Sementara para pelajar lainnya mulai berbaris dengan rapi, aku memisahkan diri dan memilih untuk berdiri sendiri di bawah bayangan


pohon yang rindang.


Aku sudah biasa seperti ini. Terlebih tidak akan ada yang menegur karena tidak ada seorangpun yang bisa menyadari keberadaanku.


Terkecuali Ketua Cardinal, Wakit Ketua Asterids, serta Nona Rosemary.


Selain mereka bertiga, tidak ada yang bisa menyadari keberadaanku dan bahkan aku yakin banyak dari pelajar serta instruktur yang mengajar tidak mengetahui kalau aku bahkan ada.


Kian lama kian banyak pelajar yang mulai berkumpul dan segera masuk ke dalam barisan.


Melihat dari jumlah pelajar yang datang, aku yakin kalau ini sudah merupakan total pelajar yang ada. Yang artinya seluruh pelajar di Sol Ciel sudah berkumpul di depan pintu masuk.


Tentu saja hal ini membuatku penasaran kenapa mereka meminta para pelajar untuk berkumpul di depan pintu masuk seperti ini.


Memang benar menyambut ketua Cardinal adalah hal yang harus. Tapi biasanya hanya para Penyihir Senior yang akan menyambutnya dan bukan kami para pelajar.


Walau banyak orang sudah terkumpul, aku tidak melihat keberadaan Wakil Ketua Asterids di mana-mana. Yah, itu wajar karena beliau saat ini sedang berada di Ibukota Sanguine Kingdom untuk membahas sesuatu yang penting


dengan para petinggi dari Sanguine Kingdom lainnya.


Setelah yakin kalau semua pelajar telah berkumpul, seorang instruktur senior mulai menjelaskan maksud sebenarnya dari penyambutan ini. Dan di sinilah aku akhirnya mendapatkan jawaban dari pertanyaanku.


Ketua Cardinal pulang bersama dengan cucu pertamanya.


Berita ini sontak membuat seluruh tempat ini menjadi ribut karena para pelajar yang saling berbisik satu sama lain.


Tanpa perlu menajamkan telinga aku sudah mampu mendengarkan pembicaraan mereka.


"Cucu pertama? Apakah kau serius?"


"Apakah itu berarti Nona Rosemary bukanlah putri satu-satunya putri dari Wakil Ketua Asterids?"


"Tunggu sebentar! Apakah Cucu pertama Ketua Cardinal sudah memiliki murid?"


"Instruktur tidak ada menyinggung masalah itu... AH!"


"Hei, hei, apakah ini artinya..."


Seketika semua pelajar memikirkan hal yang sama.


Cucu pertama Ketua Cardinal sedang mencari seorang murid!


Walau aku tidak tahu siapa dan seperti apa si cucu pertama ini, tapi fakta kalau dia adalah keturunan dari Ketua Cardinal sudah lebih dari cukup untuk menarik perhatian semua orang.


Baru tahun kemarin Nona Rosemary membuka peluang bagi para pelajar untuk menjadi muridnya. Saat itu semua orang seketika menjadi gila dan mulai bekerja siang dan malam agar mereka bisa terpilih untuk menjadi murid


dari Nona Rosemary. Menjadi murid dari seorang Ciel.


Menjadi murid dari seorang Ciel bagaikan sebuah harta yang lebih berharga dari segala emas permata. Dengan belajar di bawah naungan seorang Ciel engkau bisa menguasai sihir dengan lebih cepat atau bahkan mendapatkan


kesempatan untuk belajar sebuah Skill langka yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan.


Belum lagi, posisi serta jabatan yang pasti akan kau dapatkan ketika kau menjadi murid dari seorang Ciel.


Bahkan posisi sebagai Penasehat seorang Raja pun tampak tidak berarti ketika kau menjadi asisten atau bahkan hanya sekedar pembantu di keluarga Ciel.


Aku masih bisa mengingat betapa kacaunya situasi asrama ketika hampir seluruh penghuninya begadang siang dan malam agar bisa meningkatkan Skill mereka atau mencari cara agar mereka bisa mencolok dan mendapatkan


perhatian dari Nona Rosemary.


Pada akhirnya semua itu terhenti ketika seorang pelajar yang sekitar setahun lebih muda dariku di pilih sebagai murid dari Nona Rosemary.


Dan sekarang, posisi sebagai murid dari seorang Ciel dibuka kembali.


Sontak saja semua akan menjadi gila sama seperti yang sebelumnya.


Bertolak belakang dengan para pelajar lainnya yang menjadi sangat bersemangat, aku malah tidak merasa apa-apa terkecuali sakit kepala yang akan aku rasakan karena tetangga di kamar sebelah pasti akan melakukan eksperimen gila lainnya yang akan membuatku tidak akan mampu untuk pergi tidur selama semalaman suntuk.


Whoo... Whoo...


Mendongak ke atas, aku menemukan seekor burung hantu yang memiliki bulu seputih salju dan terdapat sebuah simbol mata dengan tiga buah tanduk di


dadanya.


Jelas sekali kalau burung hantu yang satu ini bukanlah burung hantu liar.


Aku tahu banyak Penyihir yang menguasai [Summoning Magic] dan banyak dari mereka yang menjadikan burung hantu sebagai makhluk summon mereka.


Tapi makhluk summon yang ada di hadapanku ini baru pertama kali aku lihat.


Aku dan burung hantu itupun saling mengunci pandang.


Mata violetnya yang menyala menatap lurus ke arahku...


Di saat itulah aku tersadar. Burung hantu itu dapat melihat wujudku.


"Ah!?"


Tiba-tiba saja aku merasakan sebuah keberadaan yang berbahaya mendekat ke tempat ini.


Seluruh tubuhku terasa membeku hanya dari merasakan keberadaannya saja. Aku hendak memperingatkan yang lain namun mulutku menolak untuk terbuka. Aku hendak kabur menjauh dari tempat ini namun kakiku menolak untuk bergerak.


Aku hanya berdiri kaku di bawah bayangan pohon ketika keberadaan itu terasa kian mendekat.


"Ketua Cardinal La Ciel telah kembali!!!"


Dengan pengumuman dari seorang Penyihir senior, para Penyihir yang telah berbaris rapi di depan pintu masuk segera mengangkat tinggi Wand di tangan mereka dan menembakkan [Fire Magic] yang terlihat bagaikan kembang api ke langit.


Bersama dengan itu, para Penyihir lainnya segera menabuh genderang dengan penuh semangat.


Penyambutan ini mulai terlihat bagaikan sebuah perayaan. Sorak-sorai meledak ketika sebuah kereta kuda yang di tarik oleh empat ekor Sleipnir yang dengan gagahnya berjalan di bawah kelopak bunga warna-warni yang ditaburkan


oleh para pelajar sambil menampilkan senyum di wajah mereka.


Berbanding terbalik dengan suasana meriah di hadapanku, hanya aku seorang yang terdiam membeku di bawah bayangan pohon jauh dari kemeriahan yang sedang terjadi.


Tidak butuh waktu lama sebelum kereta kuda itu akhirnya berhenti.


Seorang kesatria yang mengenakan Full Body Armor yang berwarna hitam turun dari bangku pengemudi bersama dengan wanita pemanah di sampingnya dan segera membukakan pintu kereta.


Yang pertama kali turun adalah Nona Rosemary bersama dengan muridnya, Clara.


Setelah turun dari kereta, Nona Rosemary lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Ketua Cardinal untuk turun dari kereta.


Sambutan hangat nan meriah sontak dilemparkan kepada Nona Cardinal yang telah kembali dari Questnya.


Sesaat setelah itu...


Turun dari kereta adalah seorang Penyihir yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Nona Rosemary namun terlihat lebih muda.


Berbanding terbalik dengan Nona Rosemary yang mengenakan jubah berwarna putih murni, Penyihir yang satu ini mengenakan jubah berwarna hitam kelam.


Melihat Staff yang dia bawa, seketika aku merasa sesak nafas.


Tidak hanya aku, para murid bahkan para Instruktur juga kedapatan menahan nafas mereka ketika melihat sosok Penyihir itu.


Tidak hanya Staffnya saja, bahkan aura yang Penyihir itu pancarkan sangatlah kuat hingga membuat semua terkecuali para Penyihir Senior seketika bertekuk lutut padanya.


Berdiri menghadap semua orang yang ada, Ketua Cardinal menghentakkan Staff yang dia bawa ke tanah dengan kuat yang membuat semua orang terdiam seketika seolah kemeriahan tadi tidak pernah terjadi.


Bahkan aku yang tadinya hampir berhenti bernafas jadi kembali mampu untuk bernafas dengan lega. Seolah-olah hentakan Staff dari Ketua Cardinal mampu menetralkan aura yang dipancarkan oleh Penyihir baru itu.


Mengambil nafas yang dalam, Ketua Cardinal pun mulai bicara.


"Pertama-tama, terima kasih atas sambutan kalian yang meriah. Diriku berharap kalau kepergianku selama ini tidak membuat kalian menjadi malas karena perang sudah dihadapan mata"


Atas perkataan Ketua Cardinal, semua orang menjadi tegang.


Walau kota ini berada di lokasi yang tersembunyi, bukan berarti kami tidak mampu mendapatkan informasi terbaru dari dunia luar.


Justru sebaliknya, semua hal yang terjadi di luar sana pasti akan kami ketahui.


Itu karena tugas kami sebagai Sol Ciel adalah untuk mengatasi semua konflik yang ada di dunia ini yang mana itu mengharuskan kami untuk bisa mengetahui segala hal yang terjadi di dunia ini.


Dan informasi terbaru yang paling sering dibicarakan selama adalah Narsist Kingdom yang mengibarkan bendera perang kepada seluruh Kerajaan yang ada di benua ini.


Termasuk Sol Ciel.


"Kita sebagai Sol Ciel harus selalu berada dalam posisi netral apa pun yang terjadi. Kita telah mempertahankan kedudukan kita selama berabad-abad dan telah dikenal sebagai penengah yang dihormati dan terpercaya. Akan


tetapi, kasus kali ini sungguh berbeda!"


Semua orang seketika menahan nafas tidak sabar untuk mendengar perkataan Ketua Cardinal yang selanjutnya.


"Narsist Kingdom. Sebuah Kerajaan yang dulunya terkenal akan seni dan budaya mereka. Kini telah mengibarkan bendera perang ke seluruh penjuru benua.


Bahkan setelah usaha kita untuk menenangkan mereka, Raja dari Narsist Kingdom telah menolak kita mentah-mentah dan bahkan menghina kita tepat di wajah.


Oleh karena itu, kita yang seharusnya netral kini tidak lagi bisa diam dan melihat saja.


Karena mulai saat ini, kita, Sol Ciel. Kini secara resmi ikut berpartisipasi dalam perang besar abad ini.


Bersama dengan Kerajaan lainnya, kita akan maju dan menjatuhkan Kerajaan tercela itu!"


Atas pidato dari Ketua Cardinal, seluruh tempat ini kembali diselimuti oleh sorak sorai penuh semangat perjuangan. Sekilas aku lupa kalau kami ini seharusnya adalah Penyihir dan bukannya sekumpulan prajurit yang haus


akan pertarungan.


Dengan satu hentakan dari Staffnya, semua orang kembali terdiam.


Ketua Cardinal lalu kembali bicara.


"Demi menyambut perang yang akan datang, kita membutuhkan semua kekuatan yang ada. Oleh karena itu, mulai hari ini semua Penyihir (Witch) yang tersebar di seluruh benua akan di tarik kembali dari tugas mereka. Itu termasuk Cucu pertamaku yang selama ini berdiam di Drakon Kingdom"


Seolah ini adalah saat-saat yang mereka tunggu-tunggu, semua pelajar pun menghela nafas mereka dan menajamkan pendengaran mereka takut melewatkan satu kata pun.


"Perkenalkan, Cucu pertamaku. Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender La Ciel"


Dengan namanya yang disebut, Nona Lavender lalu maju ke samping Ketua Cardinal dan menunjukkan wajahnya ke semua orang.


Senyuman di wajahnya entah mengapa membuat bulu kudukku merinding.


Melihat wajahnya yang terlihat lebih muda dari Nona Rosemary, memberitahukanku bahwa dirinya telah terlebih dahulu menjadi Penyihir (Wicth) ketimbang Nona Rosemary.


Yah, itu wajar mengingat dia adalah kakaknya.


"Meski ini bukanlah waktu yang tepat, tapi Cucuku yang satu ini masih belum memiliki seorang murid. Oleh karenanya, mulai hari ini, salah seorang dari kalian bisa mendapatkan kehormatan untuk belajar langsung di bawah


naungan Cucuku. Karena itulah, kalian yang ingin mendapatkan kehormatan itu maka..."


Belum sempat Ketua Cardinal menyelesaikan perkataannya, Nona Lavender mengulurkan tangannya seolah meminta Ketua Cardinal untuk berhenti. Walau Nona Lavender tidak mengatakan sepatah kata pun, tapi tampaknya


Ketua Cardinal paham apa yang ingin Nona Lavender katakan.


"Begitu... Jadi kau sudah menemukan anak yang ingin kau jadikan murid. Baiklah kalau begitu, silahkan bawa dia ke sini"


Apa?!


Itu adalah reaksi yang sama yang dirasakan semua orang pada saat ini.


Bagaimana tidak?


Mengingat ini adalah pertama kalinya beliau melihat kami semua, itu berarti Nona Lavender sudah bisa menentukan mana yang akan menjadi muridnya hanya dengan sekali lihat saja.


Apakah ini berarti ada seseorang di antara kami yang cukup kuat atau setidaknya cukup mencolok hingga menarik perhatian dari seorang Ciel?


Dengan hati yang berdebar, semua orang penasaran akan siapa yang akan di pilih.


Mengambil langkah santai, Nona Lavender dengan perlahan berjalan lurus tepat ke arahku... Tunggu, apa!?


Sesuai dengan apa yang aku takutkan, Nona Lavender kini berdiri tepat di hadapanku. Mata violetnya memandang lurus ke arahku.


Entah mengapa aku merasa pernah melihat mata itu sebelumnya.


Seolah untuk mengingatkanku, seekor burung hantu berbulu seputih salju turun dari atas pohon dan mendarat tepat di pundak Nona Lavender.


Sontak aku pun menyadari semuanya.


Fakta kalau bahkan sebelum beliau datang kemari, Nona Lavender sudah menyadari keberadaanku dan meletakkan perhatiannya kepadaku.


Sama seperti keluarganya yang lain, Nona Lavender juga mampu untuk melihat keberadaanku.


Tidak memedulikan diriku yang sedang terkejut, Nona Lavender pun berkata padaku.


"Gadis kecil, bisakah kau beritahukan namamu kepadaku?"