A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 99 : The Runaway Prince



Pangeran Drake Blut Drakon.


Pangeran kedua dari Drakon Kingdom yang kini adalah seorang buronan karena telah berani untuk menyerang kakaknya sendiri yang juga adalah seorang Putra Mahkota.


Belum lagi dia ketahuan telah melakukan kontak dengan Narsist Kingdom yang adalah Kerajaan musuh.


Dengan semua kejahatan itu, mustahil baginya untuk tetap tinggal di Kerajaannya sendiri. Kabur ke Ferox Kingdom atau Sanguine Kingdom juga bukanlah pilihan karena dua Kerajaan itu adalah sekutu dari Drakon Kingdom.


Tidak ada pilihan lain, Drake pun memutuskan untuk mencari suaka kepada Narsist Kingdom.


Selain karena Narsist Kingdom adalah satu-satunya Kerajaan yang mau menerimanya, alasan lainnya adalah karena orang yang dia cintai ada di sana.


Putri Thysia ol Narsist.


Putri ketiga dari Narsist Kingdom.


Pertama kali mereka berdua bertemu adalah di sebuah pesta dansa beberapa tahun yang lalu jauh sebelum semua pertikaian ini terjadi.


Seketika Drake jatuh hati kepada Putri Thysia pada pandangan pertama. Sedikit dia tahu alasan kenapa Thysia mau mendekati Drake pada saat itu adalah karena perintah dari sang Ibunda.


Drake yang pada saat itu sedang patah hati karena kejadian memalukan yang dia alami tersebar, membuat tidak ada lagi gadis bangsawan yang mau dekat dengannya. Di saat dia sedang bingung harus bagaimana, Drake langsung terpesona setelah melihat Thysia yang tersenyum kepadanya.


Setelah perbincangan singkat, mereka berdua pun setuju untuk saling bertukar pesan.


Hari berganti tahun, hubungan di antara mereka berdua menjadi semakin erat.


Isi dari surat yang mereka kirimkan satu sama lain kini tidak lagi hanya berupa pujian manis tapi juga mengenai topik lainnya seperti keadaan Kerajaan masing-masing


Ketika Thysia menulis tentang gaya berbusana terkini di Narsist Kingdom, maka Drake akan membalasnya mengenai kemajuan militer di Drakon Kingdom. Saat Thysia menulis mengenai tempat dengan pemandangan terindah, Drake akan membahas hal yang sama hanya saja tempat-tempat itu termasuk objek vital bagi Kerajaannya.


Hal ini terus mereka lakukan bahkan ketika peperangan telah pecah di antara Kerajaan mereka. Malahan mereka menjadi semakin sering bertukar surat dari yang awalnya sebulan sekali kini menjadi seminggu sekali.


Semua itu baru terhenti ketika Pangeran Draco memergokinya dan memaksa Drake untuk kabur ke Narsist Kingdom tempat di mana pujaan hatinya berada.


Terima kasih berkat Item yang Thysia berikan kepadanya bersamaan dengan surat terbaru yang dia kirimkan, Drake berhasil kabur dari Drakon Kingdom dan muncul langsung di dalam wilayah Narsist Kingdom.


Dan sekarang, dengan tidak ada lagi jarak yang memisahkan mereka.


Pangeran Drake dan Putri Thysia kini dapat hidup bersama dalam satu atap.


Berkat hubungan yang telah mereka jalin selama ini serta semua 'Jasa' yang telah Drake berikan kepada Narsist Kingdom, mereka diberikan sebuah Mansion di pinggiran Ibukota Narsist Kingdom yang berada jauh dari bangunan pemerintahan namun masih berada di dalam wilayah elit Ibukota.


Akhirnya tinggal bersama, mereka pun menghabiskan hari-hari mereka dengan suka cita dan tiada hari tanpa melihat mereka berdua bermesraan bagaikan sedang dimabuk oleh cinta.


Mereka jalan-jalan bersama, berbelanja bersama, makan bersama, hingga mandi dan tidur pun mereka lakukan bersama-sama.


Tidak perlu peduli dengan politik, tidak perlu peduli dengan dunia, mereka hidup bak di Negeri dongeng di mana hanya ada mereka berdua di sana.


Akan tetapi, tidak peduli seberapa bahagianya mereka sekarang, bukan berarti itu semua tidak memiliki kendala.


Drake yang awalnya payah dengan perempuan hingga melihat tubuh telanjang mereka saja tidak mampu. Selama beberapa tahun terakhir ini telah menerima semacam perawatan dari Thysia.


Perawatan itu berupa Potion berwarna hijau menjijikan yang jika diminum mampu meningkatkan gairah Drake hingga berkali-kali lipat.


Berkat perawatan itu, Drake yang awalnya satu ronde saja tidak mampu kini seratus ronde pun bukanlah masalah baginya. Hal ini sudah dia uji coba dengan para wanita bayaran yang dia bawa ke Mansion miliknya ketika dia


masih berada di Drakon Kingdom.


Tentu saja Potion semacam itu akan memiliki sebuah efek samping.


Bersamaan dengan gairahnya yang meningkat, membuat Drake mau tidak mau harus mendekap perempuan setiap harinya. Bukan hanya pada malam hari, kini dia juga harus melakukannya pada siang hari kalau tidak mau merasakan sakit hebat pada kejantanannya.


Karena terlalu banyak meminum Potion itu, satu gadis kini tidak mampu memuaskannya.


Sekarang dia akan selalu melakukannya dengan 3 hingga 5 gadis secara bersamaan.


Awalnya Drake merasa enggan untuk melakukan ini. Terlebih karena kini Thysia ada bersamanya. Namun, setelah Thysia memberikan lampu hijau dan bahkan mendorongnya untuk melakukan itu. Drake kini terus melakukannya bersama gadis lain baik itu ketika Thysia ada atau tidak ada bersamanya.


Baru saja Drake mulai terbiasa dengan gaya hidup barunya, masalah baru muncul untuk mengganggu kehidupannya.


Putri Thysia kini telah hamil.


...


Berduaan di dalam kamar, Drake sedang mengelus perut Thysia yang sudah mulai membesar.


Senyuman merekah di wajah mereka berdua seraya membayangkan masa depan yang akan segera mereka jalani.


Walau dari luar itu terlihat seperti wajah keluarga yang berbahagia, tapi di dalam itu jauh dari kata sempurna.


"Thysia, aku..."


Senyuman cerah Drake berubah menjadi senyuman bersalah. Dia tidak mampu untuk mengucapkan apa yang ingin dia ucapkan. Dia bahkan tidak mampu untuk melihat wajah Thysia dan hanya bisa menundukkan kepalanya.


Menanggapi ini, Thysia pun mengelus kepala Drake dengan sangat lembut dan penuh dengan kasih.


"Tenang saja. Ini juga adalah salahku karena telah memberikanmu Potion itu"


"Tidak, jika saja aku bisa menjadi lebih jantan, aku tidak akan merepotkanmu dengan masalahku ini"


Sekali lagi mereka berdebat seperti ini.


Setelah perdebatan tidak berguna lainnya, Drake pun akhirnya meminta izin untuk pergi keluar.


"Aku akan pergi dulu... Ingatlah, kalau hanya ada kau yang ada di dalam hatiku"


Mencium kening Thysia, Drake pun akhirnya pamit undur diri.


Tepat setelah dia keluar kamar, Dia sudah disambut oleh seorang Butler tua. Membungkuk dengan tubuhnya yang sudah renta, Drake langsung melewatinya tanpa berkata apa-apa. Tanpa perlu melirik ke belakang, Drake tahu kalau Butler tua itu berjalan di belakangnya dalam diam.


Melewati lorong mansion yang panjang Drake melewati puluhan Maid yang tengah bekerja.


Mereka semua adalah gadis-gadis muda yang cantik bahkan dari standar kecantikan Narsist Kingdom. Ketika Drake berjalan melewati mereka, setiap Maid segera menundukkan kepala mereka berusaha untuk menyembunyikan ekspresi takut di wajah mereka.


Drake yang tahu kalau semua Maid di Mansion ini tidak suka kepadanya, dia yang tidak tahu harus melakukan apa hanya bisa mengabaikan mereka.


Mau bagaimana lagi?


Dia yang secara teknis telah 'Memperkosa' semua gadis muda di Mansion ini jelas bukanlah tipe orang yang bisa mereka hormati. Belum lagi, jumlah Maid yang ada sekarang sebenarnya sangat kurang dari jumlah total Maid


yang sebelumnya bekerja di Mansion ini.


Lebih tepatnya hanya tersisa kurang dari 30% Maid saja yang saat ini tengah hadir untuk bekerja. 70% sisanya saat ini sedang cuti sakit atau sedang cuti hamil.


Tidak perlu lagi dijelaskan bagaimana mereka bisa bernasib seperti itu, kan?


Masuk ke dalam kereta kuda yang sudah menunggu, Drake dan si Butler tua akhirnya berangkat meninggalkan Mansion.


Tujuan mereka adalah pasar.


Bukan pasar pada umumnya, melainkan pasar gelap yang penuh dengan toko-toko yang menjual berbagai macam barang baik itu ilegal atau tidak.


Hari sudah malam ketika mereka sampai di pasar gelap.


Tempatnya berada di tengah hutan yang dalam yang jauh dari Ibukota sehingga perjalanan menuju ke sana membutuhkan banyak waktu.


Sama halnya seperti pasar pada umumnya, tempat ini juga penuh sesak akan orang-orang repot-repot datang ke tempat terpencil seperti ini demi bisa membeli barang yang mereka inginkan. Yang menjadi pembeda adalah tidak


terdengar adanya suara para pedagang yang berteriak demi menarik pelanggan. Mereka hanya duduk di toko atau kios mereka masing-masing menunggu pelanggan datang.


Melewati semua kios yang berjejer sepanjang jalan, Drake beserta si Butler tua berjalan lurus menuju salah satu gedung yang sebenarnya adalah sebuah toko.


Sempat dihentikan oleh penjaga yang menjaga pintu masuk, si Butler tua lalu menunjukkan sesuatu kepada si penjaga pintu yang membuat mereka berdua diizinkan untuk masuk ke dalam.


Menyambut Drake adalah sebuah ruangan yang megah yang penuh dengan perabotan dan dekorasi yang berlapis emas serta lantainya dilapisi oleh karpet merah. Di setiap dinding ruangan terdapat semacam ruangan yang dibatasi oleh dinding kaca sehingga semua orang bisa melihat apa yang ada di dalamnya.


"Oh, lebih penuh dari yang biasanya"


Ini bukan kali pertama Drake mendatangi tempat ini. Namun ini adalah pertama kalinya dia melihat toko ini penuh dengan barang dagangan.


Mengintip ke dalam ruang pajangan melalui kaca, satu ruangan yang biasanya di isi oleh satu sampai dua produk kini penuh sesak dengan 10 sampai 15 produk.


Dan yang paling mencolok adalah hanya ada sedikit pelanggan yang ada di toko ini. Setiap kali Drake mendatangi toko ini, toko ini selalu penuh akan pelanggan. Namun kali ini sangatlah sepi, selain dirinya, Drake hanya menemukan satu pelanggan lagi.


"Pangeran Argenti!"


Sapa Drake seketika dirinya tahu kalau pelanggan lainnya adalah orang yang dia kenal.


Tidak menyangka akan ada yang menyapa dirinya, Argenti sempat terdiam sebelum akhirnya sadar kalau yang menyapanya adalah orang yang dia tahu.


"Pangeran Drake! Tidak menyangka akan bertemu dengan dirimu di sini!"


"Justru aku yang ingin mengatakan itu. Jarang-jarang aku melihatmu di tempat seperti ini. Apa yang sebenarnya kau cari?"


Melirik ke belakang Pangeran Argenti, Drake menemukan setidaknya 20 lebih gadis muda yang tengah di rantai. Sama sekali tidak ada kesamaan di antara mereka semua. Jika ada, itu adalah fakta kalau tidak ada satupun dari


mereka yang berasal dari ras Manusia.


Mengingat kebiasaan Pangeran Argenti yang sebenarnya, Drake pun paham kenapa dia bisa berada di sini.


Tidak seperti warga Narsist Kingdom lainnya yang akan langsung mencemooh Pangeran Argenti karena seleranya, Drake yang lahir dan besar di Drakon Kingdom tidak punya perasaan apa-apa mengenai ras selain Manusia.


Karena inilah yang membuat mereka berdua bisa dekat dan sering mengobrol bersama.


"Banyak sekali, apakah ini semua yang ada di toko ini?"


"Kau benar. Tapi jika dibandingkan dengan yang lain, aku terkejut karena untuk pertama kalinya jumlah Manusia jauh lebih banyak"


Melihat ke kiri dan ke kanan, memang benar ada terlalu banyak gadis dari ras Manusia yang di pajang di sini. Terlebih mereka semua terlihat cantik jelita tanda kalau mereka bukanlah dari kalangan orang biasa.


"Apakah kau tahu kenapa bisa menjadi seperti ini?"


"Hah... Kau tahu kan kalau pasukan musuh sudah semakin dekat dengan Ibukota?"


"Ah!"


Akhirnya paham apa yang sebenarnya sedang terjadi, Drake pun tidak bertanya lebih jauh lagi.


"Kau sendiri juga, apa yang kau cari di sini? Apakah Thysia tahu kau pergi ke sini?"


"Dia tahu, malahan Thysia yang merekomendasikan tempat ini"


"Aneh, dia itu sedang mengandung jadi seharusnya... Ah!"


Baru paham akan apa yang sebenarnya terjadi, Argenti yang juga tahu tentang keadaan Drake tidak bertanya lebih jauh lagi. Yang bisa dia lakukan hanyalah menepuk pundak Drake sambil berkata "Jangan berlebihan" sebelum


akhirnya pamit undur diri karena urusannya telah selesai.


Melihat sosok Pangeran Argenti yang pergi keluar toko bersama dengan rombongan gadis yang baru dia beli, Drake pun mulai memilih agar urusannya yang di sini bisa cepat selesai dan dia bisa segera pulang.


Meski niatnya begitu, Drake yang masih tidak begitu baik dengan perempuan tidak mampu memilih dengan cepat.


Terlebih semua gadis yang ada di sini memiliki paras yang cantik sehingga semakin menyusahkan Drake untuk bisa memilih.


Melihat Drake yang kesusahan, Butler tua itu pun memberikan sarannya.


"Bagaimana kalau Tuan meminta rekomendasi dari pemilik toko?"


Baru ingat kalau itu adalah sebuah pilihan, Drake pun tidak membuang waktu lagi dan langsung pergi menghadap pemilik toko.


...


Ketika Drake kembali pulang, hari sudah berganti.


Tidak bermalam terlebih dahulu, dia memaksa untuk terus melaju melewati gelapnya malam.


Tepat di belakang kereta kuda yang dia kendarai adalah apa yang baru saja dia beli. Total ada satu lusin gadis belia yang dia beli.


Menyerahkan mereka kepada si Butler tua, termasuk yang sudah dia santap di dalam keretanya sendiri, Drake lalu bergegas masuk ke dalam Mansion untuk menemui Thysia yang mungkin saja sudah menunggunya selama semalaman.


Namun ketika dirinya tiba di kamar Thysia, dia menemukan kalau Thysia tidaklah sendirian.


Bersamanya adalah perempuan lainnya yang mengenakan sebuah gaun terlewat mewah dan mengenakan tudung yang menutupi seluruh wajahnya.


Tentu saja Drake mengenal perempuan itu.


"Putri Margarita"


Putri Margarita ol Narsist.


Putri pertama dari Narsist Kingdom sekaligus kakak dari Thysia.


Putri Margarita dikenal jarang menampakkan diri di hadapan banyak orang. Bahkan Drake sendiri baru pernah sekali bertemu dengannya.


Alasan kenapa Putri Margarita berada di sini hanya berarti ada masalah yang sangat penting hingga dia rela keluar dari kediamannya hanya untuk bertemu dengan Thysia.


Melihat kedatangan Drake, mereka yang awalnya sedang mengobrol tiba-tiba terhenti.


"Oh, akhirnya kau datang juga"


Dari nadanya saja Drake sudah tahu kalau Putri Margarita sebenarnya tidak suka dengannya. Namun sebagai tamu, Drake tentu saja tidak bisa bersikap tidak sopan kepadanya.


"Selamat datang, Putri Margarita. Maaf karena sebelumnya saya memiliki urusan di luar"


"Aku tidak akan menanyakan urusan apa yang kau miliki. Tapi karena kau sudah berada di sini, maka aku akan mengulangi apa yang telah aku katakan kepada Thysia"


Karena Margarita terdengar serius, Drake pun bersiap untuk mendengarkannya.


"Kau segera lah bawa Thysia pergi dari sini!"


Sontak Drake pun terkejut.


"Pergi? Memangnya kenapa?"


"Kenapa? Bukankah kau tahu sendiri kalau medan perang kian mendekati Ibukota. Sebagai pemilik darah Kerajaan, sudah sepantasnya untuk Thysia pergi menyelamatkan diri sejauh mungkin. Terlebih sekarang dia sedang mengandung yang membuatnya harus pergi secepat mungkin!"


"Saya paham, tapi ke mana kami harus pergi?"


"Tepat di ujung Utara Kerajaan ini terdapat sebuah kota yang bernama Kota Pelabuhan. Bangsawan yang mengelola kota itu adalah kenalanku. Semua hal sudah dipersiapkan. Selama kalian bisa sampai di sana maka akan aku jamin kalau kalian akan aman"


Ini bukanlah kali pertama Drake mendengar nama kota itu.


Sebuah kota yang terkenal miskin dan jorok seketika berubah menjadi kota yang makmur ketika jatuh ke tangan seorang Baron Wanita.


Drake juga mendengar gosip kalau alasan kenapa Wanita itu yang dulunya hanyalah rakyat jelata bisa mendapatkan posisi seperti itu adalah karena adik dari Wanita tersebut disukai oleh Pangeran Argenti. Dengan latar belakang seperti itu, serta setelah dia tahu kalau Baron itu juga adalah kenalan dari Putri Margarita, membuat Drake bisa merasa sedikit lebih aman.


Melirik ke arah Thysia yang sedari tadi hanya diam, Drake menemukan kalau Thysia akan setuju dengan setiap keputusan yang dia ambil.


"Baiklah, kami akan segera berangkat"


Mendengar jawaban ini, sebuah seringai tercipta di wajah Putri Margarita yang terhalang oleh tudung yang dia kenakan.


...


Singkat cerita kini Drake bersama dengan Thysia sudah tiba di Kota Pelabuhan.


Bersama mereka adalah puluhan Maid sekaligus para gadis yang baru saja Drake beli yang di angkut di dalam puluhan kereta kuda.


Walau harus menempuh perjalanan yang panjang, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan.


"Sebuah kota yang indah"


Sama-sama dibuat kagum oleh pemandangan kota yang ada di hadapan mereka, Drake dan Thysia sempat terdiam sebelum akhirnya disadarkan oleh si Butler tua.


"Master, pemandangan bisa di lihat nanti, pertama mari kita sapa Baron Verloren terlebih dahulu"


"Itu benar, tidak sopan rasanya jika kita jalan-jalan tanpa menyapa pemilik rumah terlebih dahulu"


Dengan tujuan yang sudah ditetapkan, mereka pun menuju Mansion Walikota.


Setelah di sapa oleh para Pelayan, mereka pun dibimbing menuju ruang kerja di mana Baron Verloren sudah menunggu kedatangan mereka.


Hanya Drake dan Thysia yang masuk ke dalam. Si Butler tua harus membicarakan sesuatu dengan Pelayan Baron Verloren sehingga dia tidak ikut menemani mereka sementara Maid dan para gadis yang lain telah di kawal ke tempat lain.


Masuk ke dalam, Drake menemukan seorang wanita cantik berambut ungu gelap dan mengenakan sebuah topeng yang menutupi setengah wajahnya sudah menanti mereka.


Meski sempat terkesima atas kecantikannya, Drake yang sadar diri langsung menenangkan dirinya.


"Senang bertemu..."


Baru juga Drake hendak mengucapkan salamnya, pintu di belakang mereka tiba-tiba saja tertutup kencang. Menengok ke belakang, terdapat dua orang Maid yang mengenakan topeng serta sama-sama memiliki rambut hijau


menjaga pintu seolah mencegah mereka untuk bisa kabur.


Mulai merasa kalau mereka dalam bahaya, baru dia sadar kalau entah sejak kapan jendela yang terbuka kini sudah terkunci dan tertutup oleh gorden.


"Apa maksudnya ini!"


Sambil memeluk Thysia yang mulai ketakutan, Drake tidak pernah menyangka kalau pertanyaan yang dia tujukkan kepada Baron Verloren akan dijawab oleh orang yang paling tidak dia sangka akan berada di sini.


"Apa lagi kalau bukan menangkap kriminal yang kabur?"


Muncul begitu saja dari ruang kosong adalah Pangeran Draco yang muncul dengan seringai nakal di wajahnya.