
Yasmin.
Dia adalah seorang mahasiswi di sebuah fakultas ekonomi dan bisnis yang baru saja memasuki tahun keduanya.
Alasan dia memilih jurusan tersebut adalah karena setelah lulus SMA, Yasmin tidak tahu apa yang harus dia lakukan demi masa depannya. Oleh karena itu, dia memilih jurusan ekonomi dan bisnis dengan anggapan mungkin saja di masa depan dia akan memulai usahanya sendiri.
Yasmin bukanlah tipe orang yang gemar belajar. Itu bertambah parah ketika dia mulai memainkan game Freedom 2 yang di sarankan oleh teman kampusnya sekaligus pria yang dia cintai.
Di dorong oleh kesukaannya terhadap kucing, ras yang Yasmin adalah Beastman berdarah campuran dari suku kucing.
Walau di awal Yasmin sempat kesusahan, lamban laun Yasmin menjadi terbiasa dan mulai menikmati game yang dia mainkan.
Pada saat itu Yasmin masih tidak mengetahui kalau game tersebut memiliki dampak nyata pada kehidupan nyata.
Karena Yasmin itu orangnya memang pemalas, membuatnya tidak menyadari kalau waktu tidurnya kian lama kian memanjang. Dia yang awalnya selalu tidur di atas ranjang kini mulai tidur di sembarang tempat. Dia yang awalnya
suka makan sayuran kini lebih memilih hidangan daging atau seafood.
Semua itu baru dia sadari ketika teman sekamar sekaligus saingan cintanya menunjukkan semua perubahan itu padanya.
Setelah lebih dari setahun bermain, Yasmin mulai menyadari kalau memang ada yang berubah dari dirinya.
Kini panca inderanya kian menajam. Matanya mampu melihat dalam kegelap dengan mudahnya seakan hari masih terang. Dia mampu mendengar suara dari kejauhan dengan jelas walau suaranya sangatlah kecil yang biasanya
luput oleh telinga Manusia. Hidungnya kini mampu membedakan dan mengenali berbagai macam aroma dengan mudahnya. Instingnya juga telah meningkat dengan drastis hingga membuatnya mampu merasakan keberadaan
yang awalnya tidak bisa dia rasakan. Bahkan refleks alaminya juga telah jauh meningkat yang membuatnya mampu menyaingi kawan-kawannya yang lain dalam bidang olah raga.
Yasmin masih belum mengatakan hal ini kepada teman-temannya yang lain. Bahkan kepada pria yang dia cintai sekalipun.
Tidak ada alasan khusus untuk itu. Yasmin tahu benar kalau mereka tidak akan keberatan atau akan menjauhinya hanya karena hal seperti ini. Bahkan Yasmin yakin kalau mereka akan mendukungnya karena mereka juga memainkan game yang sama.
Hanya saja Yasmin merasa kalau dia memberitahukan ini kepada mereka, maka hanya masalah yang akan muncul. Terlebih jika masalah tersebut mengharuskannya untuk berhenti bermain game Freedom 2.
Sudah terlalu banyak yang dia investasikan pada game tersebut. Berhenti sekarang jelas bukanlah pilihan baginya.
Berkat perubahan ini juga Yasmin mulai rajin berolahraga.
Dari angkat beban, lari pagi, hingga pelajaran silat dia lakukan.
Berkat itu dia mulai merasakan kalau dirinya di dunia nyata mulai semakin dekat dengan dirinya di dalam game.
Pada suatu hari, pada saat Yasmin sedang lari pagi seperti biasa. Penciumannya yang tajam mencium aroma yang terasa familiar baginya.
Mengikuti instingnya, Yasmin pun mulai mencari asal aroma tersebut.
Pencariannya membawanya ke sebuah kompleks perumahan yang tampak biasa. Terkecuali sebuah rumah yang dikerumuni oleh banyak orang serta terdapat orang-orang yang tampak seperti wartawan lengkap dengan kamera serta banyak polisi yang berjaga di sana.
Penasaran, Yasmin pun bertanya pada orang-orang di kerumunan.
"Aku dengar ada sebuah kejadian yang membuat satu keluarga terluka parah hingga di bawa ke rumah sakit. Polisi mengatakan kalau itu adalah ledakan gas. Tapi seperti yang kau lihat, rumah itu dari luar tampak baik-baik saja"
"Kau itu kurang update. Memang benar satu keluarga terluka terkecuali si putri tertua"
"Itu benar, aku tinggal di rumah sebelah dan sebelum kejadian terdengar suara pertengkaran dari dalam rumah. Suaranya sangat ribut hingga terdengar ke luar. Kami kira itu hanya pertengkaran biasa karena akhir-akhir ini keluarga itu sering ribut. Tapi tiba-tiba saja terdengar suara ledakan dari dalam rumah. Saat warga memeriksanya, seluruh anggota keluarga terkecuali si putri tertua ditemukan terluka parah dengan bagian dalam rumah hancur berantakan seperti diterjang badai"
"Si putri tertua, Fitria namanya. Kini mengurung diri di dalam kamarnya. Para polisi beserta pemadam sudah mencoba untuk mendobrak masuk. Tapi tampaknya mereka masih belum berhasil sampai sekarang"
Yasmin mendengarkan kesaksian para warga sampai dia puas sebelum akhirnya menjauh dari kerumunan.
Bergerak ke bagian belakang salah satu rumah, Yasmin memikirkan kembali informasi yang baru saja dia dengar.
Jelas sekali kalau ini bukanlah sebuah kejadian yang biasa. Terlebih aroma yang dia ikuti berasal dari rumah yang dibicarakan.
Yasmin berusaha dengan keras untuk mengingat dari mana dia mencium aroma ini. Tidak butuh waktu lama sebelum dia akhirnya mendapatkan jawabannya.
"...Canary?!"
Walau dia hanya pernah menemui Canary di dalam game. Namun Yasmin merasa yakin kalau ini adalah aroma miliknya.
Merasa sudah yakin kalau tebakannya benar, Yasmin berencana untuk masuk ke dalam rumah dan memastikan apakah orang yang ada di dalam adalah benar-benar Canary.
Namun, karena rumah itu kini sedang di jaga ketat, Yasmin mencari cara lain agar bisa masuk ke dalam rumah.
Ide yang dia dapatkan adalah masuk melalui jendela di lantai dua.
Naik ke atap rumah yang tepat berada di samping rumah Canary, Yasmin sempat terkejut akan betapa mudahnya dia naik ke atas atap. Menyingkirkan rasa keterkejutannya, Yasmin bersiap untuk melompat... hanya untuk mendapati instingnya berteriak dengan keras menyuruhnya agar segera menghindar.
Mengikuti instingnya seperti yang biasa dia lakukan di dalam game, Yasmin sukses menghindari sesuatu yang mengincar kepalanya.
Walau sekilas, namun Yasmin yakin kalau yang dia lihat tidak lain adalah sebuah serangan sihir dengan elemen angin.
Terkejut, Yasmin mengikuti arah dari serangan itu berasal.
Hanya untuk menemukan sebuah sosok yang tidak akan pernah dia bayangkan akan bertemu di dunia nyata.
...
"Kau... Penyihir Lavender?"
"Kita bertemu lagi, anggota dari The Guardian. Feline"
Jujur aku tidak menyangka kalau akan bertemu dengannya seperti ini. Aku tahu kalau dia itu seekor kucing. Tapi tidak aku sangka kalau kegemarannya akan naik ke atas atap rumah orang bisa separah ini.
"Jadi selama ini kau adalah seorang Otherworlder?"
"Jawaban untuk pertanyaanmu itu adalah benar dan tidak. Aku ingin menjelaskan kepadamu lebih jelas lagi namun takutnya kita tidak punya waktu untuk itu"
Anna yang tadi aku suruh untuk berbicara dengan polisi untuk mengizinkanku masuk ke dalam rumah akhirnya kembali juga.
"Nona Muda, saya telah mendapatkan izin agar Nona Muda bisa masuk ke dalam tempat kejadian perkara"
"Bagus... oh, Feline. Bukannya kau juga mau masuk kan? Kenapa kau tidak ikut dengan kami saja?"
"Tergantung, apakah kau tahu identitas yang sebenarnya dari orang yang ada di dalam rumah? Tentu yang aku maksud itu adalah identitas yang ada di sana"
"Oh, tentu... Bila dugaanku benar, maka yang ada di sana adalah si Permaisuri Elf"
Tampak berpikir sejenak, Feline pun akhirnya mengangguk juga.
Melewati kerumunan yang penasaran sambil di kawal oleh dua orang polisi, kami berempat berjalan menuju pintu rumah yang terbuka lebar.
Sesaat sebelum kami masuk ke dalam, Putri dengan pelan menarik lengan bajuku.
"...apakah gadis ini adalah kenalanmu?"
"Kalau yang kau maksud itu Feline, maka jawabannya adalah iya. Dia juga adalah kenalan... atau bahkan bisa dibilang sebagai sahabat dari kakakmu"
"Itu benar. Bulan lalu aku juga menghadiri acara lahiran anak-anak Canary"
"Anak? Itu berarti kau benar adalah teman kakak di dalam game?"
Membiarkan mereka berdua saling bercakap, tanpa ragu aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah yang berantakan.
Segala jenis perabotan telah hancur dan berserakan di mana-mana. Pecahan kayu dan kaca tersebar luas di atas lantai yang membuatnya berbahaya untuk berjalan di dalam rumah tanpa alas kaki.
Dengan kedua polisi yang mengiringi kami menunjukkan jalannya, kami akhirnya sampai di depan sebuah pintu kayu sederhana yang berwarna putih dengan noda darah yang telah mengering mengotori pintu putih tersebut.
Pada pintu tersebut juga terdapat bekas hantaman benda tumpul yang berbekas cukup dalam tanda kalau pihak Polisi serta Pemadam kebakaran benar-benar telah mencoba untuk memaksa masuk hanya untuk berakhir dalam kegagalan.
"Kami telah berusaha mendobraknya dengan berbagai macam cara namun selalu gagal. Rasanya seperti sedang mendobrak pintu baja ketimbang pintu kayu"
Begitu... jadi Fitria, atau lebih tepatnya Canary mampu memperkuat pintu kamarnya sendiri dengan menggunakan sihir hingga membuatnya menjadi kokoh bagaikan pintu baja.
Semua cerita yang aku dengar membuatku beranggapan kalau kejadian ini karena Canary yang kehilangan kendali karena amarah yang membuatnya secara tidak sengaja mengeluarkan sihir yang membuat keluarganya terluka.
Akan tetapi, melihat pintu ini yang memang sengaja diperkuat. Tampaknya Canary telah menyadari kalau dia mampu menggunakan sihir jauh sebelum kejadian itu berlangsung.
"Puput... senang mengetahui kalau kau baik-baik saja"
Tanpa perlu mengetuk pintu, tampaknya Canary telah menyadari kedatangan kami hingga mengetahui kalau adiknya juga berada di sini.
"Kakak! Kakak kenapa mengurung diri? Cepat keluar! Aku ingin bicara!"
"...itu tidak bisa aku lakukan. Tidak untuk saat ini..."
"Apakah kakak marah? Kalau kakak marah aku mau minta maaf! Ayah dan Ibu juga akan ikut minta maaf jadi tolong keluarlah!!"
Tidak peduli seberapa keras Putri menggedor pintu dan memohon, pintu tetap saja tidak terbuka.
"...Feline, kau berada di sana kan?"
"Eh, ah, iya!"
"Aku tidak akan menanyakan bagaimana kau bisa tahu aku berada di sini. Yang ingin aku tanyakan adalah siapa Iblis yang berada di sampingmu itu?"
Oh, dia bahkan tahu kalau aku itu Iblis? Menarik.
Sebelum Feline sempat menjawab, aku maju menghadap ke pintu sambil membuat Putri menyingkir dan menjauh dari depan pintu.
"Perkenalkan, aku adalah Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender La Ciel"
"Hutan Ibis... Lavender... aku kira kau hanya berada di dalam game?"
"Semua pertanyaanmu itu akan aku jawab jika kau mau membiarkanku masuk ke dalam kamarmu. Wahai Putri dari ras Elf, Canary Ast Regenwald"
"...baiklah. Dengan satu syarat... suruh kedua polisi yang bersamamu pergi menjauh. Sekaligus suruh mereka membuat penembak jitu yang sedari tadi membidik ke arah jendelaku untuk berhenti dan pulang ke rumah"
Pada saat aku melirik ke arah Feline, tampaknya dia juga baru pertama kali mendengar soal sniper tersebut sementara Putri tampak masih tidak memahami apa yang kakaknya baru saja katakan.
Melirik ke arah kedua polisi tersebut, tampak mereka juga terkejut akan hal ini. Lebih tepatnya mereka terkejut kalau Canary bisa mengetahui kalau terdapat sniper yang mengincar dirinya.
Fakta mengenai jarak deteksi Canary yang melampaui diriku tentu membuatku sedikit kesal. Tapi aku tahu kalau ini bukan waktunya untuk itu.
"Kalian dengar itu!"
"Ba-baik"
Melihat kedua polisi itu yang bergegas berlari ke luar rumah. Kami masih harus menunggu beberapa saat sebelum akhirnya pintu terbuka.
Heh, jadi butuh waktu selama itu bagi mereka untuk menyingkirkan si sniper.
Pada saat pintu terbuka, apa yang tampak adalah seorang Wanita yang mengenakan daster putih bersih sedang berdiri dengan anggunnya.
Rambut hitam panjangnya terlihat memiliki warna kuning keemasan yang tampak tumbuh dari ujung rambutnya. Yang paling mencolok adalah sepasang mata emas yang menatap tajam ke arahku.
"Senang akhirnya bisa bertemu denganmu secara langsung, Putri Canary"
"...tolong lewati basa-basinya dan katakan kepadaku, apakah kau itu benar-benar Penyihir dari Hutan Ibis?"
"Keraguanmu itu bisa dimaklumi mengingat apa yang ada di dalam 'game' tidak mungkin bisa ada di dunia nyata... itu jika 'game' yang kau mainkan adalah benar-benar sebuah game"
"Jadi kau berkata kalau game yang selama ini aku mainkan bukanlah sekedar game belaka melainkan sebuah realitas yang nyata?"
"Akan lebih tepat jika mengatakan kalau dunia yang kau jelajahi itu berada di sebuah planet lain yang jauh dari sini dan dihubungkan dengan sebuah sarana khusus"
"Dan sarana tersebut adalah..."
"Freedom 2"
Keheningan pun terjadi di antara kami.
Feline yang ada di belakangku hanya diam sambil memperhatikan sementara Putri masih bingung akan apa yang sedang kami bicarakan.
"Jika kau masih tidak percaya... yah, kurasa fakta kalau kau mampu menggunakan sihir serta perubahan pada penampilanmu itu seharusnya sudah cukup untuk menjadi sebuah bukti yang nyata"
"...aku sama sekali tidak bisa menyangkal hal tersebut"
Penampilan Fitria saat ini jauh berbeda dari yang aku lihat di fotonya. Aman dikatakan kalau sekarang dia mulai terlihat seperti Canary ketimbang Fitria.
"Jadi, apa sebenarnya tujuanmu?"
"Oh, ini tidaklah rumit. Aku hanya mendapatkan perintah untuk membereskan masalah yang kau timbulkan. Secara, mengatasi masalah yang berhubungan dengan sihir adalah tugas kami"
"Dan bagaimana kau akan melakukan itu?"
"Tergantung. Apakah kau ingin tetap tinggal di rumah yang hancur ini, atau ikut denganku ke tempat di mana kau bisa bermain dengan tenang. Siapa tahu, mungkin akan tiba saatnya di mana kelak kau akan menetap di sana,
bersama dengan suami dan putri-putrimu"
Mendengar hal ini, Canary menunjukkan ekspresi terkejut untuk pertama kalinya.
"Apakah kau berkata kalau aku bisa pergi ke sana dalam artian yang sebenarnya?"
"Tentu, kau pikir kenapa aku bisa berada di sini?"
Kali ini bukan hanya Canary tapi bahkan Feline juga terkejut akan apa yang baru saja aku katakan. Sedangkan Putri masih tampak bingung akan apa yang sebenarnya kami katakan tapi sepertinya dia sudah mulai bisa
memahami apa yang sedang terjadi.
"Jadi... bagaimana menurutmu?"
Jawaban yang diberikan oleh Canary adalah apa yang aku harapkan.
...
"Aku paham kenapa kau membawa si Putri Elf kemari. Bahkan aku mengharapkan hal itu. Aku bahkan bisa memaklumi kenapa adiknya juga ikut kemari"
Ucap Papa sembari duduk tegap di balik meja kerjanya.
"Akan tetapi, aku tidak menyangka kalau kau juga akan membawa seorang Beastman bersamamu"
Setelah mendengar jawaban dari Canary, aku segera membawanya ke kantor Papa yang ada di kota. Sama seperti yang sebelumnya, si Putri juga memaksa ikut agar dia bisa berbicara dengan kakaknya. Sungguh, perjalanan kemari menjadi sangat ribut karena ulahnya.
Sedangkan untuk Feline, karena dia secara teknis juga terlibat dalam masalah ini, maka aku juga mengajaknya bersamaku.
Meski begitu, semenjak datang kemari Feline tampak dalam keadaan siaga penuh. Itu tampak dari semua rambut yang ada di tubuhnya berdiri bagaikan seekor kucing yang marah serta dia yang menjaga jaraknya dari Papa
dengan berdiri sedekat mungkin dengan jendela seolah bersiap untuk melompat ke luar kapan saja.
Aku harap dia tidak melakukannya.
Tidak peduli seberapa baik seekor kucing dalam teknik jatuh dari ketinggian. Melompat dari lantai 100 sama saja dengan bunuh diri.
"Tenanglah wahai gadis Beastman. Kau adalah tamu dari putriku. Dengan begitu kau tidak akan dilukai asalkan kau tidak membuat masalah terlebih dahulu"
Itu bukanlah cara yang benar untuk menenangkan seseorang yang waspada kepadamu. Tapi biarlah.
Feline masih dalam keadaan waspada, namun dia sudah tidak lagi berencana untuk kabur.
"Sekarang... Putri Elf, apa yang ingin kau lakukan mulai sekarang?"
"Penyihir Lavender berkata kalau ada cara bagiku untuk berpindah dari dunia ini ke dunia sana. Apakah itu benar?"
"Tentu, tentu... tentu saja ada cara untuk itu. Bahkan, 'game' yang selama ini kau mainkan juga termasuk cara untuk berpindah antar dunia. Hanya saja, cara tersebut hanya memindahkan kesadaranmu saja. Aku yakin berpindah yang kau maksud itu bukan hanya kesadaran saja tapi seluruh jiwa dan ragamu. Apakah aku benar?"
Canary lalu mengangguk.
Walau sempat terkejut, Feline tampak sudah menduganya. Tapi Putri berbeda, dia tampak masih tidak percaya kalau game yang selama ini kakaknya mainkan adalah sebuah cara untuk berpindah antar dunia.
"Kalau itu maumu, maka dengan senang hati akan aku kabulkan... Hanya saja, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar kau bisa berpindah dunia dengan aman"
Papa lalu mengambil sebuah remot yang hanya dengan sekali klik, menutup semua jendela yang ada di dalam ruangan, mematikan lampu, dan menurunkan sebuah layar proyektor yang ada di belakang kami.
Papa kemudian menyalakan sebuah mesin proyektor yang tergantung di langit-langit ruangan. Mengetik sesuatu pada laptopnya, Papa lalu memulai presentasinya.
Terdapat gambar sebuah ruangan yang di seluruh permukaannya baik itu lantai, dinding, hingga langit-langit dipenuhi oleh lingkaran sihir yang sangatlah rumit dan dihiasi oleh berbagai macam batu permata.
Itu adalah ruangan yang dibuat khusus untuk memungkinkan seseorang untuk berpindah antar dunia.
Hanya saja, ruangan tersebut hanya bisa di aktifkan pada saat-saat tertentu saja. Yaitu pada saat planet tempat ruangan tersebut berada telah mengitari matahari sepenuhnya. Itu artinya ruangan tersebut hanya mampu digunakan setiap tahun baru.
Karena jarak antar dua dunia yang saling berjauhan, dibutuhkan banyak energi agar bisa mencapai dari dunia satu ke dunia yang lainnya. Yang Mana energi yang dimaksud di sini adalah Mana.
Dikarenakan jumlah Mana yang ada di dunia ini sangatlah sedikit, dibutuhkan waktu lebih lama untuk kembali mengisi ulang ruangan tersebut.
"Butuh setidaknya satu abad untuk mengisi energi yang dibutuhkan untuk berpindah dunia"
Sontak kami semua terkejut saat mendengar ini.
Bagi Papa yang secara teknis tidak punya batasan umur, menunggu selama seratus tahun bukanlah masalah baginya. Hanya saja itu akan sangat berat bagi manusia biasa yang hidup selama lebih dari 60 tahun saja sudah
merupakan keajaiban.
"Tunggu sebentar, bukankah Nenek..."
"Ibu mertua datang kesini menggunakan energi dari ruang teleportasi yang berada di sana. Beliau juga pulang pada saat ruang teleportasi masih dibiarkan aktif. Dengan begitu energi dari ruang teleportasi yang ada di sini masih belum terpakai"
Begitu, pantas saja Nenek dan Mary hanya diam sehari saja di sini.
"Kalau begitu..."
"Berbahagialah, tahun baru ini kau sudah bisa bersama dengan keluargamu yang ada di sana"
Canary menjadi sangat Bahagia karena hal ini hingga dirinya menangis tersedu-sedu. Sementara itu, adiknya jadi terdiam karena tidak tahu harus berkata apa ketika mendengar kalau kakaknya akan pergi meninggalkannya dan keluarganya yang berada di sini untuk pergi ke dunia lain.
Sedangkan untuk Feline...
"Maaf, bolehkah saya bertanya sesuatu?"
"Tentu, katakanlah"
"Anda berkata kalau butuh setidaknya seratus tahun untuk mengisi kembali energi... Jelas Anda tidak akan menghabiskan energi yang ada untuk seseorang yang baru Anda temui secara percuma, kan?"
"Hahaha... tentu saja"
Heh, aku sudah menduganya.
"Lalu, apakah bayaran tersebut?"
"Lihat kebelakangmu"
Kembali berbalik ke belakang, pada layar proyektor terdapat daftar 'permintaan' yang harus dipenuhi agar Canary diperbolehkan untuk berpindah dunia.
Wow, harus aku akui, 'permintaan' yang Papa ajukan bisa dibilang sangatlah berat untuk...
"Tentu, kau bisa ambil adikku sekarang juga"
"Kakak!?"
Dan... Canary menyetujuinya begitu saja.
Yup, seperti yang kalian duga, salah satu 'permintaan' yang Papa ajukan adalah agar Canary menyerahkan salah satu anggota keluarganya yang ada di sini kepada kami.