
Tidak bisa dipercaya!
Bisa-bisanya 'anak' itu menggoda orang tua ini. Awas saja, belum tahu dia bagaimana jadinya jika aku serius.
Meski begitu, mau tidak mau aku tetap harus menyimpan semua baju ini. Walaupun penampilannya mirip seperti baju santai dan bahkan sebuah piyama, tapi performanya tidak kalah dari Armor dengan 4★.
"Baiklah, mari kita lanjutkan..."
Belum sempat aku selesai bicara, ruang di hadapan kami terdistorsi dan menampakkan sebuah jalan setapak yang sebelumnya tidak ada.
Sontak kami semua menjadi waspada.
Tidak lama kemudian [Detection] milikku merasakan sebuah keberadaan yang cukup kuat mendekat ke arah kami dengan kecepatan konstan.
Tampaknya Alfred dan Turbo juga merasakan keberadaan yang sama. Terlihat dari mereka yang sudah siaga untuk bertarung.
Aku tidak bisa merasakan aura permusuhan dari keberadaan tersebut. Untuk saat ini aman dikatakan kalau pertarungan tidak akan langsung terjadi. Tapi, kami masih tidak boleh menurunkan kewaspadaan kami.
Akhirnya kami bisa melihat sosoknya.
Dia adalah seorang wanita yang umurnya sekitar 20 tahunan. Dengan kulit putih bagaikan sebuah batang kayu yang baru ditebang yang terdapat tanaman merambat melekat dengan erat pada tubuhnya. Tatapan yang lembut
dari matanya yang berwarna ungu serta wajahnya yang memancarkan aura kedewasaan membuatku menurunkan kewaspadaanku untuk beberapa detik.
Yang paling mencolok dari penampilannya adalah rambutnya yang sehijau daun yang memanjang hingga di bawah lututnya serta gaun yang dia pakai bagaikan terbuat dari dedaunan yang disulam dengan sangat teliti hingga membuatnya menyaingi bahkan gaun mahal yang biasa di kenakan oleh para wanita bangsawan.
Jelas dia bukanlah manusia.
Dari aura yang dia pancarkan, aku bisa menduga kalau dia berasal dari ras Dryad. Terlebih dia bukanlah Dryad biasa melainkan Dryad dengan kasta yang lebih tinggi.
Sesaat setelah wanita ini muncul, aku bisa merasakan ada yang berbeda dari Alfred dan Turbo. Dari ekspresi wajah mereka, mereka tampaknya mengenal siapa wanita ini.
"No-nona Lif!?"
Oh, jadi dia ini Lif. Si pelayan dari Penyihir Lavender.
Heh, hebat juga 'anak' itu sampai-sampai bisa punya pelayan sehebat ini. Tunggu, kalau tidak salah mereka bilang kalau Lif itu memiliki kulit yang eksotis?
"Selamat datang, para pengunjung yang terhormat. Nona Lavender sudah menanti kedatangan kalian"
Lif lalu meminta kami untuk mengikutinya. Tidak punya pilihan lain, kami pun mengikutinya.
Sepanjang jalan, aku melihat kiri dan kanan kami yang entah sejak kapan telah berkabut. Sekilas saja aku sudah bisa merasakan kalau kabut ini bukanlah kabut biasa. Dengan berjalan di dalamnya aku akhirnya mulai mengerti sifat asli dari kabut ini.
Kabut ini sebenarnya adalah semacam penghalang yang berfungsi untuk mencegah siapa pun untuk melewatinya. Jika saja kami tidak di tuntun oleh Lif, bisa-bisa kami akan berada di sini selama seharian penuh sebelum aku
bisa membuka jalan secara paksa dengan sihirku.
Itu masih belum termasuk menemukan ilusi yang membuat tempat ini tidak terlihat sebelumnya.
Saat sedang berjalan, aku bisa mendengar percakapan dari Alfred dan Turbo yang berjalan tidak jauh di belakangku.
"Headmaster Alfred, dia itu benar Nona Lif kan?"
"Penampilan dan aura yang dia pancarkan sedikit berbeda, tapi tidak salah lagi, dia itu memang Lif"
Hmm... Begitu.
Tampaknya penampilannya memang berubah. Apakah ini juga adalah efek dari hutan ini yang berubah menjadi Dungeon?
Jika begitu, tuannya, 'Anak' itu, Lavender. Pasti juga ikut berubah.
'Anak' itu seharusnya adalah seorang Manusia. Dan mustahil bagi Manusia untuk menjadi master dari sebuah Dungeon. Itu bisa berarti dua hal... Pertama, 'anak' itu berhasil memperbudak seekor Dungeon Master dan dengan bebas menggunakannya untuk mengatur Dungeon ini. Yang kedua, 'anak' itu mengubah rasnya sendiri.
Jika itu yang terakhir, maka... Kurasa tidak masalah. Mengingat dia adalah keturunan dari 'orang itu' kurasa aku sudah bisa menebak ras apa yang dia miliki sekarang.
Yang jadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana caranya 'anak' itu mengubah rasnya?
Apakah itu dengan menggunakan sihir atau item? Juga, apakah ini bisa digunakan dengan bebas atau hanya bisa dipakai sekali seumur hidup?
Lalu, yang paling penting adalah bagaimana bisa 'anak' itu bisa datang ke sini?
Walau aku merasa sudah bisa mengetahui jawabannya, aku akan tetap menanyakannya saat kami akhirnya bertemu.
Demi bisa mengetahui semua pertanyaan ini, aku tidak punya pilihan lain selain bertanya secara langsung.
Tidak lama kemudian, kami akhirnya sampai.
Itu adalah sebuah tempat terbuka dengan hanya sedikit pohon yang tumbuh. Terdapat tiga bangunan dengan bentuk yang unik serta sebuah Mansion sebagai bangunan yang paling besar. Terdapat juga sungai yang mengalir dengan air sejernih kaca dan di sampingnya adalah deretan kebun yang berisikan tanaman yang bisa dijadikan sebagai material.
Namun, yang paling penting...
"..."
Aku kehilangan kata-kata.
Mana yang ada di tempat ini sangatlah padat. Jika orang biasa memasuki tempat ini, mereka pasti akan kesusahan untuk bernafas. Bahkan Turbo yang merupakan yang terlemah di grup ini mulai menampakkan gejala sesak nafas.
Meski Mana yang ada di tempat ini sangatlah padat, namun mereka juga sangatlah murni. Tingkat kemurniannya setara dengan yang berada pada kediaman Baginda Ratu Cascade.
Pantas saja Dryad dengan kasta tinggi seperti Lif bisa berada di sini. Sebagai bagian dari ras Spirit, Dryad sepertinya pasti akan sangat betah tinggal di sini.
"Selamat datang, tuan-tuan yang terhormat dan Nenekku yang tercinta . Di kediamanku yang sederhana ini"
Tiba-tiba saja datang seorang perempuan yang berumur sekitar 18 tahun dari dalam Mansion.
Wajahnya sangatlah mirip dengan Rosemary saat dia masih muda. Yang menjadi pembeda adalah rambutnya yang berwarna ungu tua serta matanya yang berwarna violet nampak seperti mata kadal yang memancarkan cahaya yang memikat.
Pada permukaan kulitnya yang tampak pucat terdapat semacam tato yang bermotif seperti akar tumbuhan. Meski ditutupi oleh rambutnya yang panjang dan lurus, aku masih bisa melihat telinganya yang tampak meruncing bagaikan telinga Elf namun lebih pendek.
Dia mengenakan topi kerucut yang sedikit lebih kecil dari milikku. Jubah yang dia pakai.... Hah!?
"Sungguh terima kasih yang mendalam karena telah jauh-jauh... "Dari mana kau mendapatkan jubah itu!!!!" ...Tunggu sebentar, Nenek aku masih belum selesai bicara!"
"Masa bodo! Jubah itu adalah jubah khusus dari Verloren Kingdom! Dari mana kau mendapatkannya!"
Jubah itu, mana mungkin aku bisa melupakannya. Jubah itu hanya di berikan kepada Ahli Sihir Kerajaan (Royal Mage) yang bekerja langsung di bawah perintah Raja Verloren. Sebelum kerajaan itu hancur, hanya ada satu orang yang memiliki akses untuk memakainya.
"Oke, aku bilangin, tapi berhenti mengguncangku!"
Oh, tampaknya aku kehilangan ketenanganku. Setelah melepaskan tanganku dari kerahnya, aku lalu mundur beberapa langkah dan menunggu penjelasan darinya.
...
"Headmaster Alfred, bagaimana menurut Anda?"
"Bagaimana apanya?"
"Hubungan antara Nyonya Cardinal dengan Penyihir Lavender"
"Hmm..."
Sesampainya kami di kediaman Penyihir Lavender, aku hampir tidak bisa berkata apa-apa. Selain karena takjub, tapi entah mengapa aku merasa sesak di dadaku.
Headmaster Alfred bilang kalau ini adalah gejala yang biasa timbul jika kau berada di area yang padat akan Mana. Setelah itu Headmaster Alfred mengajariku bagaimana caranya agar bisa bertahan di daerah seperti ini.
Beberapa saat kemudian aku akhirnya mulai bisa bernafas dengan normal meski dadaku masih terasa agak sakit.
"Sekilas aku sempat mendengar Penyihir Lavender memanggil Nyonya Cardinal sebagai 'Nenek'. Ini hanya bisa berarti satu hal..."
Yah, aku juga mendengar dan menduga hal yang sama.
Sejak pertama kali aku melihat wajah Nona Rosemary, aku punya perasaan kalau Penyihir Lavender dan Sol Ciel memiliki hubungan.
Tampaknya tebakanku tepat sasaran.
Hal itu dibuktikan dengan betapa akrabnya Nyonya Cardinal dengan Penyihir Lavender.
Mereka berdua sekarang sedang berbincang di sebuah meja yang tidak jauh dari kami. Tapi karena mereka berbicara dengan nada yang kecil, kami tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Akan tetapi, yang menjadi permasalahan utama adalah penampilan baru dari Penyihir Lavender.
Dalam waktu beberapa bulan ini dia menjadi tampak jauh lebih dewasa. Bukan dalam artian umur tapi dari ekspresi dan aura yang dia pancarkan membuatku tidak bisa melihat apa pun kecuali seorang wanita dewasa yang cantik jelita.
Berbicara soal aura, tongkat yang dia pegang juga memancarkan sebuah aura yang nampaknya memiliki efek untuk membuat siapa pun yang melihatnya merasakan perasaan menekan yang membuatmu ingin tunduk kepadanya.
Jika ini adalah aku dari tahun lalu, aku pasti akan segera berlutut saat aku melihatnya.
Oh iya, saat ini kami semua sedang berada di dalam Mansion milik Penyihir Lavender. Tepatnya kami sekarang berada di ruang tamu yang terlihat sangat mewah sambil menunggu mereka berdua untuk selesai bicara.
"Silakan tehnya"
"Oh, terima kas..."
"Sama-sama"
Orang yang menyuguhkan teh kepada kami adalah seorang gadis kecil dengan penampilan mirip seperti dengan Lif yang baru. Bahkan gaun yang mereka kenakan memiliki model yang mirip hanya saja miliknya sudah disesuaikan
untuk dikenakan oleh anak-anak.
Satu-satunya yang menjadi pembeda adalah rambutnya yang berwarna putih dan sekilas tampak seperti sebuah wol.
Setelah anak itu pergi, aku berbisik kepada Headmaster Alfred.
"Kira-kira sekitar 8-10 tahun"
"Dari mana gadis itu bera..."
"Hush, jangan bertanya lebih jauh lagi. Juga, lebih baik jangan menyinggung apa pun mengenai para 'Wanita' di luar"
Sebelum masuk ke dalam Mansion, aku sempat dengan jelas melihat sepasang wanita yang memiliki ekor dan tidak mengenakan sehelai pakaian sedang bekerja di kebun.
Saat memandang mereka, meski hanya sesaat, aku bisa merasakan kalau gairahku seketika meningkat. Dengan cepat aku segera mengalihkan pandanganku dan mencoba menjauhkan pikiran kotor ini dari kepalaku.
Meski begitu, sekilas aku bisa melihat terdapat semacam tato berbentuk rantai di leher mereka. Headmaster Alfred juga melihatnya dan memberitahukan kepadaku kalau itu adalah semacam segel budak.
Aku telah lama mengetahui kalau perbudakan itu cukup umum di game ini. Bahkan kami para Otherworlder bisa dengan bebas membeli budak asalkan budak tersebut adalah budak legal.
Sedangkan apakah budak yang ada di sini itu legal atau tidak, aku tidak berani untuk mencari tahu.
"Saat ini kita sedang berada di wilayahnya dan kita tidak punya informasi apa pun. Lebih baik kita menunggu Nyonya Cardinal sebelum bertindak"
"Baik"
Setelah itu kami hanya diam sambil menikmati teh yang disediakan sembari menunggu pembicaraan antara Nyonya Cardinal dan Penyihir Lavender untuk berakhir.
...
Setelah sekian lama tidak bertemu, hal pertama yang nenek lakukan adalah menarik kerahku dengan sangat keras.
Tidak hanya itu, setelah mengetahui kalau rasku telah berubah dan bagaimana bisa berubah, nenek langsung mengomeliku sambil tiada hentinya menjewer telingaku.
Saking kerasnya nenek menjewernya, aku tidak akan heran kalau besok-besok telingaku bakal tambah panjang.
Serius, tidak bisakah dia lebih lembut kepada cucunya sendiri?
Lagian, kenapa nenek bisa berada di dalam sini? Apakah nenek juga main game?
Awalnya aku mengira begitu, tapi setelah berbicara dengannya aku mendapat perasaan kalau bukan itu kasusnya.
Terlebih penampilannya, bukankah nenek terlihat jauh lebih muda dariku?!
Sekarang aku mengingatnya lagi, bukannya saat terakhir kali aku melihat nenek penampilannya juga kurang lebih sama seperti ini? Itu berarti setelah sekian lama nenek tetap awet muda!
Dan... Pakaian yang nenek kenakan.
Itu adalah pakaian khas Penyihir!!!
Itu berarti... Ahh... Aku adalah keturunan seorang Penyihir!
Sisihkan hal itu dulu, nenek tampaknya sangat tertarik dengan Dominic.
Selama sejam penuh nenek hanya bertanya tentang orang itu. Aku tidak tahu dendam apa yang ada di antara mereka berdua, tapi setelah nenek mengetahui kalau aku telah menghabisi Dominic, nenek langsung memelukku
dengan sangat, sangat erat.
"Kerja bagus, wahai cucuku"
"...ya"
Heh, sudah lama aku tidak dipeluk nenek. Untung saja aku menghabisi Dominic.
Nenek lalu memberitahukan kepadaku tentang hubungannya dengan Dominic.
Dulu, nenek pernah menjalin hubungan dengan Raja Verloren (Tunggu, apa!?) Tapi itu bukanlah hubungan resmi namun hanya sekedar hubungan semalam.
Meski begitu, kehidupan telah tercipta.
Tidak lama kemudian lahir seorang gadis yang diberi nama Orchid La Ciel.
Karena adat dari Sol Ciel, maka Orchid harus ikut dengan ibunya (yaitu nenek) untuk di didik agar bisa menjadi seorang Penyihir dan tidak boleh berhubungan dengan Verloren Kingdom dengan alasan apa pun sampai dia
dewasa.
"Lavender, Orchid itu adalah nama asli dari ibumu"
"....APA!!!!!"
Kau bercanda! Itu berarti aku memiliki hubungan kekeluargaan dengan Filia!
Tunggu sebentar, jika Filia secara teknis adalah bibiku, itu artinya Dominic adalah...
"Apakah aku baru saja membunuh pamanku sendiri?"
"Aku lebih senang menyebutnya sebagai seseorang yang memperdaya bibimu"
Yah, benar. Hubungan mereka ternyata seperti itu.
Meski begitu, nenek tidak pernah menyinggung alasan utama kenapa dia memiliki hubungan yang buruk dengan Dominic selain fakta kalau dia memiliki hubungan dengan bibi Filia.
Untuk mengalihkan pembicaraan, nenek mengatakan alasan utama kenapa mereka memasuki hutan ini.
"Dengan begitu, bisakah kau membukakan Dungeon ini untuk umum?"
"Tentu saja, sejak awal memang itu niatanku"
Dengan begitu masalah telah selesai....
"Ehem... Maaf kalau mengganggu"
Hmm... Orang ini... Oh, Headmaster!
"Kalau boleh bertanya, sebenarnya apa gerangan hubungan antara kalian berdua?"
Untuk pertanyaan ini, nenek yang menjawab.
"Oh, benar juga, aku belum bilang yah? Perkenalkan, gadis ini adalah cucu pertamaku. Lavender La Ciel"
Mendengar ini, Alfred dan... Siapa orang ini? Kayaknya pernah lihat tapi di mana?
Pokoknya mereka tampak setengah terkejut setelah mendengar ini. Sepertinya mereka sejak awal sudah bisa menduganya. Pertanyaan mereka hanya berfungsi untuk mengkonfirmasi dugaan mereka.
Karena hari tampaknya sudah mulai gelap (menurut konfirmasi Lif), mereka berdua lalu aku izinkan untuk menggunakan kamar tamu yang berada di lantai pertama.
Ah benar, pria yang satunya itu ternyata adalah Turbo. Lif sering bercerita kalau dia sering bertemu dengannya setiap kali Lif pergi ke luar.
Entah apakah itu murni karena kebetulan atau sejak awal Turbo memang bertugas untuk mengawasi Lif, aku tidak tahu dan tidak peduli. Selama mereka tidak mencari masalah maka tidak ada masalah.
Ehe, kau harus melihat wajah mereka saat aku mengatakan kalau mereka boleh menyentuh budak yang ada di luar.
Sedangkan untuk nenek, beliau akan menggunakan kamar yang ada di lantai ketiga yang hanya berjarak dua kamar dari kamarku.
Setelah makan malam, nenek lalu mengunjungi kamarku. Ekspresinya tampak jauh lebih serius ketimbang yang sebelumnya. Jelas beliau ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.
"Jadi... Lavender, bagaimana kau bisa kembali ke dunia ini?"
Mendengar ini, semua dugaanku selama ini akhirnya terjawabkan. Nenek adalah seorang Locals.
"...sama seperti Otherworlder lainnya"
"Sudah aku duga..."
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah tempat apa ini sebenarnya? Jelas ini bukanlah game biasa dan lebih cocok untuk disebut sebagai dunia lain.
Lalu, kenapa dan bagaimana caranya mereka bisa menerima kami para Otherworlder ke dunia ini dengan iming-iming bermain game?
Yang pasti aku tahu kalau hal ini berlangsung dari dua arah.
Orang dari dunia sana bisa pergi ke sini dan orang dari dunia ini bisa pergi ke sana. Hal itu sudah dibuktikan oleh nenek yang sempat berkunjung ke rumah saat aku masih kecil.
Oh, benar juga!
Kalau nenek ada di sini, itu berarti Mary juga ada di sini kan?!
Setelah aku bertanya beberapa hal, nenek lalu memberitahukan kepadaku tentang segalanya.
Dari dunia apa ini sebenarnya, kenapa mereka menerima Otherworlder, kenapa dunia ini mengambil kedok sebagai dunia game, dan lain sebagainya.
Hanya saja nenek tidak memberitahu siapa sebenarnya pelaku utama yang melakukan semua ini. Tetap saja aku harus bersyukur karena nenek telah memberitahukan hal ini ketimbang mengatakan sesuatu seperti "Kau akan
tahu jika tiba saatnya".
Sungguh, jika nenek melakukan hal itu, aku pasti akan sangat marah.
Tapi, bukankah semua informasi ini terlalu banyak untuk disampaikan dalam satu waktu? Aku jadinya juga tidak bisa memberitahukan informasi yang aku dapatkan kepada kalian karena itu adalah sebuah SPOILER yang sangat
besar.
"Hei, Nenek, bagaimana kalau kita istirahat dulu dan lanjutkan besok saja?"
"Tidak bisa! Hal seperti ini tidak bisa ditunda dan kau harus mengetahui semuanya sekarang juga!"
Malam itu, aku tidak tidur sampai Lif datang mengetuk dan mengatakan kalau pagi telah tiba.