A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 42 : Battle of Barriere Forest (2)



Matahari mulai terbenam namun gelombang Mobs tampak jauh dari berakhir.


Meski secara individu relatif mudah di lawan, tapi dengan jumlah sebanyak ini mereka jelas merupakan ancaman besar.


Kami yang awalnya unggul dalam pertempuran ini sekarang telah di paksa untuk berlindung di balik barikade sederhana yang entah mampu bertahan berapa lama lagi.


Korban jiwa juga mulai berguguran.


Bagi kami para Otherworlder, kami masih bisa bangkit kembali meski memakan waktu. Akan tetapi hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk para Locals.


Melihat tubuh tak bernyawa tersusun rapi di balik dinding dan hanya ditutupi oleh selembar kain adalah sebuah pemandangan yang aku harap tidak akan pernah aku lihat dalam hidupku.


Dan itu hanya menghitung tubuh yang mampu kami selamatkan. Tidak sedikit dari mereka yang sudah tidak lagi berbentuk karena ulah para Mobs yang ganas.


Tidak hanya itu!


Banyak dari kami yang sudah mulai kelelahan. Baik itu Otherworlder maupun Locals kami semua membutuhkan istirahat. Terlebih kami Otherworlder juga harus Log Out atau itu akan membebani tubuh kami yang ada di sana.


Meski begitu, kami tidak punya pilihan lain selain bertarung.


"Doragon! Barikade sudah hampir hancur!"


Sialan, jika barikade itu hancur maka kami tidak akan punya pilihan selain berlindung di balik benteng sebagai langkah terakhir kami.


"Siapkan Tower Shield! Bawa mereka ke depan, sekarang!!!"


"""Siap!!!"""


Tidak berselang lama, beberapa prajurit maju ke depan sambil membawa perisai raksasa yang mampu menutupi hampir seluruh tubuh pemakainya. Masing-masing dari Tower Shield itu di susun dengan kuat dan rapat hingga membentuk sebuah dinding kokoh.


Tepat setelah dinding pertahanan di buat, barikade sederhana yang kami buat dengan menebang pohon-pohon di sekitar akhirnya runtuh juga.


!!!(Fortress)!!!


Setiap prajurit yang memegang Tower Shield mengaktifkan sebuah skill secara serempak.


Tower Shield yang mereka bawa bersinar kecokelatan.


Para Mobs yang menggila akhirnya bertubrukan dengan dinding pertahanan. Suara nyaring menggema kencang di saat tubuh para Mobs menghantam Tower Shield yang kokoh dengan begitu kuat.


"Tombak!!!"


Pasukan bertombak mengangkat tinggi Long Spears yang mereka bawa dan secara serempak menusukkannya dengan kuat ke arah Mobs yang tertahan oleh dinding pertahanan.


Tidak hanya itu, hujan panah dan sihir juga tiada hentinya menghujani para Mobs itu tanpa ampun.


Dengan begini laju para Mobs itu kembali tertahan.


Tapi aku tahu kalau ini tidak akan bertahan lama. Kami harus mencari cara untuk setidaknya menahan mereka lebih lama lagi sampai bantuan akan tiba.


...


Matahari telah terbenam sepenuhnya.


Kami harus menyalakan obor atau meminta mereka yang memiliki [Light Magic] untuk memberikan sumber penerangan yang memadai.


Selama seharian ini kami telah berusaha untuk menahan para Mobs ini agar tidak melewati garis pertahanan kami.


Meski ini baru hari pertama, tampaknya ini terlalu berlebihan.


"Berapa banyak yang kerusakan yang kita alami?"


"Lapor, sebanyak 10% dari total pasukan kita telah gugur dengan terhormat. Lebih dari 30% dari pasukan kita terluka ringan hingga sedang serta 5% mengalami luka parah hingga mustahil untuk kembali bertugas"


Jadi hanya tersisa kurang dari 60% yah.


Dari yang awalnya 15.000 pasukan, sekarang hanya tersisa sekitar 9.000 yang masih mampu bertarung.


Jumlah musuh masih belum diketahui dengan pasti. Tapi, dari mayat mereka yang telah menumpuk, secara kasar kami telah menghabisi sekitar 10.000 dari mereka.


Itu adalah jumlah yang banyak. Namun, karena kami tidak tahu berapa jumlah pasukan mereka yang sebenarnya, aku tidak tahu apakah mereka mengalami kerusakan yang kecil atau besar.


"Bagaimana sisa persediaan kita?"


"Lapor, baik itu persediaan makanan atau obat-obatan semuanya baik-baik saja. Dengan persediaan yang ada sekarang, diperkirakan kita masih bisa bertahan selama seminggu. Akan tetapi, persenjataan kita tidaklah terlalu baik"


Wajar saja.


Equipment pasti akan mengalami kerusakan saat dalam pertarungan. Terlebih pada skala pertempuran yang sekarang. Bahkan Equipment dengan performa yang paling tinggi sekalipun pasti akan cepat rusak.


Aku sudah memastikan untuk membawa Equipment cadangan yang banyak. Tapi tampaknya itu masih belum cukup.


"Itu adalah ekspresi yang tidak boleh ditunjukkan oleh seorang Komandan sepertimu"


Tanpa aku sadari Penyihir Cardinal sudah berada di sampingku.


Penampilannya yang seperti gadis kecil terkadang bisa menipu dan membuatku lupa siapa dirinya yang sebenarnya.


"Mau bagaimana lagi, situasi mulai memburuk sementara kita masih tidak tahu harus berapa lama lagi kita harus menahan para Mobs itu"


"Oh, bukankah akar dari semua masalah ini sudah diketahui. Kenapa tidak segera mencabutnya saja?"


"Mudah mengatakannya. Tapi, keberadaan musuh berada jauh di dalam hutan. Tepat di tengah-tengah ratusan Mobs yang selalu mengelilinginya. Belum lagi serangan tanpa henti yang mereka lakukan membuat kita tidak punya kesempatan untuk mengirimkan tim elite untuk mengatasinya"


Seperti yang telah diketahui di rapat sebelumnya. Biang keladi dari gelombang Mobs tanpa henti ini adalah orang-orang dari Narsist Kingdom. Jelas sekali tujuan mereka adalah untuk memutus akses satu-satunya dari Drakon


Kingdom menuju kerajaan lain.


Tentu aku sudah mengirimkan berita ini kepada pihak pusat. Tapi, sampai sekarang aku masih belum mendapatkan balasan apa-apa.


Sialan, apa yang sedang di lakukan oleh para bangsawan bodoh itu!!!


"Tidaklah perlu bagimu untuk gusar seperti itu. Jika keadaan menjadi tidak terkendali, kami pasti akan turun tangan. Bahkan, aku sudah mengirimkan pengawal pribadi dari anak itu untuk ikut membantu"


Memang benar, jika itu dirinya, maka para Mobs ini tidak lebih dari kerikil di jalan raya. Juga, keempat gadis itu yah. Memang benar mereka itu cukup kuat hingga pantas disebut sebagai seorang pengawal dari Penyihir Sol


Ciel. Tapi, apakah mereka bisa banyak berguna dalam pertempuran ini?


"Meski aku mengatakan itu, tampaknya aku masih belum harus campur tangan. Lihat, bantuanmu sudah tiba"


...


Sialan, karena jarak pandang yang terbatas membuat para Mobs ini menjauh lebih berbahaya.


Skill (Fortress) tidaklah bertahan lama. Dalam waktu pengaktifannya yang terbatas, para Ahli Sihir (Mage) secara berturut-turut mengeluarkan sihir AOE mereka masing-masing berharap untuk mengurangi sebanyak mungkin Mobs yang ada.


Berkat itu kami berhasil menyingkirkan cukup banyak Mobs yang berkerumun dan kembali memberikan kami ruang untuk bernafas.


Meski begitu, kelelahan yang menumpuk sudah tidak tertahankan lagi.


Tidak lama lagi aku harus segera Log Out atau aku akan mengalami masalah kesehatan yang serius.


"(Minotaur)!!!"


Apa yang baru saja muncul adalah Mobs raksasa berkepala banteng. Tubuhnya melebihi 3 meter dengan otot keras seperti besi yang dilapisi oleh kulit kemerahan yang juga ditumbuhi oleh rambut pendek yang kasar.


Pada kedua lengannya terdapat sepasang Twins Axes yang telah berlumuran darah. Hal ini membuat siapa pun yang melihatnya gemetar ketakutan.


Dari aura yang dia pancarkan, jelas (Minotaur) ini adalah Mobs kelas Boss.


(Taunt)!


Tidak punya pilihan lain, aku harus menghadapi (Minotaur) ini dan mengalahkannya.


Menanggapi skill (Taunt) dariku, (Minotaur) itu lalu mengalihkan pandangannya kepadaku. Matanya yang merah menyala tampak haus akan darah.


Tidak lama kemudian, (Minotaur) itu menerjang langsung ke arahku.


Grrrroooaaaaaa!!!!!


Dengan raungan yang menggentarkan bumi, (Minotaur) itu berlari lurus ke arahku tanpa memedulikan segala yang ada di hadapannya.


Baik itu lawan atau kawan semua dilibas hanya untuk bisa datang mencapaiku.


"Tidak akan aku biarkan!"


Yari yang ada di sampingku melemparkan tombak khusus yang dia beli hanya untuk di lempar. Dengan (Javelin) yang jelas dia aktifkan, tombak yang dia lempar meluncur lurus ke arah (Minotaur) yang semakin mendekat.


Efeknya... Tidak ada.


"Oi... Oi... Kau serius!!!"


(Minotaur) itu bahkan tidak repot menangkis atau menghindar. Dia hanya menerimanya begitu saja dan tombak yang Yari lempar hancur berkeping-keping.


(Stand) (Defense Up)


Mengangkat perisaiku, aku bersiap menerima dampak yang akan datang.


Saat (Minotaur) itu hanya tinggal beberapa meter lagi dariku, hal yang mengejutkan terjadi. Sebuah lubang tiba-tiba saja muncul di atas tanah yang membuat (Minotaur) itu tersandung dan meluncur keras ke tanah.


"PEMANAH! FOKUSKAN PADA (MINOTAUR) ITU!!!"


Anak panah lalu mulai menghujani tubuh (Minotaur) yang masih tersungkur di atas tanah. Meski begitu, hanya sedikit panah yang mampu menembus kulit kerasnya hingga hujan panah itu tampak tidak berarti sama sekali.


Merasa kesal, (Minotaur) itu hendak berdiri... Hanya untuk mendapat hantaman keras di wajahnya.


Tanpa aku sadari, seorang kesatria dengan Full Armor berwarna hitam legam menghantamkan Buckler miliknya tepat ke wajah (Minotaur) dengan sangat keras. Tidak sampai di situ, dia lalu hendak melanjutkan dengan mengayunkan pedang miliknya tepat ke leher (Minotaur).


Sayang, kali ini (Minotaur) itu tidak akan diam saja dan melayangkan sebuah pukulan telak ke arah dada si kesatria itu.


Suara besi yang saling berseteru bergema keras di tengah pertempuran.


Menerima pukulan telak, kesatria itu terdorong mundur hingga mencapai tempat aku berdiri.


Jika aku yang terkena serangan itu, aku pasti sudah terluka parah dan tidak akan mampu bertarung lagi. Akan tetapi, kesatria itu masih bisa berdiri dengan tenang seolah pukulan tadi bukanlah apa-apa.


Mengambil kembali Twins Axes yang sempat dia jatuhkan, (Minotaur) itu mengalihkan pandangannya kepada kesatria yang berani melukainya.


"Oi Nona, apakah kau tidak apa-apa?!"


"Tenang saja, ini sudah biasa. Yang lebih penting, kita harus mengatasi itu terlebih dahulu"


Nona? Jadi kesatria ini adalah seorang wanita?!


Dasar Yari, kalau soal cewek dia tanggap sekali.


Tunggu sebentar, kalau aku lihat-lihat lagi, bukankah kesatria ini adalah pengawal pribadi dari Penyihir Lavender?


Grrrrraaaaaaaaa....!!!!


Benar, fokus (Minotaur) itu harus segera dikalahkan.


"Biar aku yang menahannya. Kalian fokus menyerang"


Setelah mengatakan itu, Si kesatria, Percy. Maju menghadang (Minotaur) yang mengamuk.


...


Karena perintah dari Nyonya Cardinal, kami harus membantu dalam menghadapi ancaman dari para Mobs ini.


Sekarang aku memikirkannya lagi, kurasa ini adalah pertama kalinya aku bertarung tanpa menerima arahan dari Master.


Meski begitu, menghadapi Boss adalah sesuatu yang jauh dari dugaanku.


Terlebih pukulannya. Jika saja aku tidak mengaktifkan (Ignore Bashing) yang mampu mengurangi kerusakan yang diberikan oleh serangan benda tumpul, aku pasti sudah kembali terkapar seperti pada saat aku pertama kali


bertarung.


Setelah aku berevolusi menjadi Advance Golem, aku mendapatkan [Armor Skills] yang telah berada pada level maksimal, aku mendapat banyak skill yang berguna untuk meningkatkan pertahananku secara signifikan.


Dan sekarang, aku harus berhadapan satu lawan satu dengan Boss (Minotaur).


(Stand) (Parry) (Defense Up) (Parry) (Strengthening) (Lightweight) (Parry) (Sturdy Defense) (Defense Area) (Parry) (Protector)


Satu-persatu aku mengaktifkan semua skill yang mampu meningkatkan pertahananku lebih jauh lagi. Sembari aku melakukan itu, aku terus menangkis semua serangan yang diarahkan kepadaku.


Pada saat (Minotaur) itu mulai geram karena serangannya tampak tidak berarti, sebuah perisai melayang dan menghantam wajahnya dengan sangat keras.


Menanggapi ini, (Minotaur) itu menangkis serangannya dengan menggunakan salah satu kapak miliknya.


Dia tampak tidak bergeming saat kapak miliknya beradu dengan sebuah pedang yang terbakar sebelum akhirnya dia mendorong mundur Doragon hanya dengan satu ayunan.


Kesempatan!


Dengan mengaktifkan (Defense Cutter) aku menebas bagian perut dari (Minotaur). Sayang tebasanku tidaklah terlalu dalam.


Grrrroooaaaaa!!!!


Murka, (Minotaur) itu mulai kembali menyerangku dengan jauh lebih ganas.


"Jangan lengah!"


Sebuah tombak diayunkan dengan cepat tepat ke arah kepala si (Minotaur). Kalau tidak salah dia adalah rekannya Doragon.


Sekarang (Minotaur) itu harus menghadapi tiga orang yang menyerang dari tiga sisi secara bersamaan. Meski begitu, (Minotaur) itu masih sanggup untuk menghadapi kami bertiga.


Saat itulah orang keempat bergabung.


Seorang gadis kucing dengan rambut hitam muncul entah dari mana dan telah menyerang kaki dari (Minotaur) dengan kedua Dagger miliknya.


Hal ini membuat (Minotaur) menjadi kesulitan menjaga keseimbangannya.


Kami tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kami masuk ke dalam mode ofensif dan berhasil melukai (Minotaur) itu dengan cukup parah.


Grrraaaaaa!!!!


Akhirnya, babak kedua dimulai.


Sebuah aura kemerahan menyelimuti tubuh (Minotaur) dan tatapan matanya mulai memancarkan cahaya merah darah.


Dia lalu menghentakkan kakinya dengan sangat keras hingga menciptakan sebuah gelombang kejut yang menghempaskan segala yang ada di sekitarnya.


Meski terdorong cukup jauh, aku masih tidak apa-apa. Begitu juga dengan Doragon serta rekannya yang jaraknya cukup jauh dari (Minotaur) yang membuat mereka memiliki waktu untuk menghindar.


Akan tetapi, hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada si gadis kucing.


Karena posisinya yang tepat di bawah (Minotaur). Ditambah dengan pertahanannya yang cukup rendah, membuatnya terhempas sangat jauh dan menderita luka yang cukup parah.


"Gah..."


"Feline!"


Si gadis kucing, Feline. Memuntahkan darah segar dari mulutnya sembari meraih sebuah botol Potion dan langsung menenggaknya.


Melemparkan botol yang telah kosong, Feline menggenggam kembali kedua senjatanya dan berniat untuk kembali bertarung.


Bagus, begitulah seharusnya.


Baiklah, kurasa saatnya untuk serius.


Demi meningkatkan pertahananku lebih jauh lagi, aku menggunakan sihir (Wooden Armament) pada diriku sendiri.


Akar-akar pohon muncul dari tanah dan mulai menyelimuti diriku.


Armor hitam legam sekarang dilapisi oleh kayu kecokelatan yang sepenuhnya menutupi seluruh bagian tubuhku.


Pada saat pertama kali aku menunjukkannya kepada Master, beliau menamai wujud ini sebagai (Forest Knight) yang kurasa sangat cocok.


Satu-satunya kekurangan dari wujud ini adalah menambah berat Armor yang harus aku tanggung. Akan tetapi, aku bisa mengatasinya berkat skill (Lightweight) yang mengurangi berat dari Armor yang aku kenakan.


Mengangkat Buckler yang sekarang lebih terlihat seperti sebuah Round Shield. Aku menyambut kapak yang diayunkan ke arahku.


Dampak yang aku rasakan jauh lebih berat dari yang sebelumnya. Jika saja aku tidak mengaktifkan (Forest Knight) maka besar kemungkinan aku tidak akan sanggup menahannya.


Doragon beserta rekannya juga mulai bergerak.


Mereka menyerang dari kedua sisi secara bersamaan. Sayang, serangan mereka berhasil di tangkis oleh si (Minotaur) dengan mudahnya.


Akan tetapi, berkat mereka (Minotaur) itu menjadi terbuka lebar.


"Sekarang!"


Dari arah belakangku, terdapat seseorang yang berlari dengan kencang sebelum akhirnya melompat dengan menggunakan punggungku sebagai sebuah pijakan.


Dia adalah Vier yang sejak dari tadi menunggu kesempatan untuk tampil.


Dengan sebuah Halberd baru di tangannya, dia mengaktifkan (Giant Swing) yang membuat kepala Halberd miliknya tampak lebih besar dan berbahaya.


"Hiiyaaaaaat!!!


Vier mengayunkan Halberdnya dengan sekuat tenaga tepat ke arah kepala si (Minotaur).


Karena kedua tangannya sedang sibuk menangkis serangan dari Doragon dan rekannya, (Minotaur) itu seharusnya tidak punya cara lain untuk melindungi dirinya. Akan tetapi, aku terbukti salah.


(Minotaur) itu menggunakan tanduknya yang kuat untuk menangkis serangan dari Vier.


Serangan dari Vier terbukti tidak cukup untuk melawan kerasnya tanduk si (Minotaur). Tidak hanya itu, dengan lihainya (Minotaur) itu menggunakan tanduknya untuk menahan Halberd Vier dan melemparnya jauh ke belakang.


"Woiii...!!!"


Vier yang tidak mau melepaskan Halberd miliknya berusaha untuk menyesuaikan postur tubuhnya di udara.


Karena (Minotaur) itu harus mendongakkan kepalanya agar bisa melempar Vier, membuat lehernya menjadi terbuka lebar.


Tanpa perlu di beri aba-aba, Trita menggunakan punggungku sebagai pijakan sebagaimana saudarinya baru saja melakukannya.


Dengan pedang di tangan, Trita mengaktifkan (Sharp Edge) yang lalu dilanjutkan dengan (Pierce) sebelum akhirnya dia menanamkan pedangnya tepat ke arah tenggorokan (Minotaur).


Long Sword milik Trita menusuk dalam hingga menembus sisi lain dari leher (Minotaur).


Darah segar mengalir dengan deras dari luka yang terbuka. Berusaha menyingkirkan orang yang berani melukainya, si (Minotaur) dengan segera mengarahkan kedua kapaknya tepat ke arah Trita yang terjebak karena


tidak mampu menarik pedangnya keluar.


Pada saat itu, sebuah anak panah meluncur dan mendarat di atas tanah tidak jauh dari (Minotaur) tersebut. Tidak, daripada di atas tanah, lebih tepatnya anak panah itu mendarat tepat di atas bayang (Minotaur) itu.


Seketika bayang milik (Minotaur) itu mulai menjadi lebih gelap. Efek dari anak panah itu menjadi jelas. Sepasang kapak kembar yang diarahkan kepada Trita seketika berhenti sebelum mencapai targetnya. Tidak hanya itu,


gerakan si (Minotaur) juga telah terhenti sepenuhnya.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, Doragon beserta rekannya segera menyerang bagian kaki (Minotaur) dan sukses meninggalkan sebuah luka yang membuat (Minotaur) itu tidak mampu lagi berdiri dengan benar.


Bersamaan dengan itu, Trita akhirnya mampu untuk menarik kembali pedang miliknya. Menjauhkan dirinya dari (Minotaur), Trita bersiap untuk kembali bertarung.


Mendapati dirinya dipaksa untuk berlutut, sontak membuat (Minotaur) yang akhirnya bisa bergerak kembali menjadi marah besar.


Grrrroooa.... AaaaaAaaaAaaa!!!!


Memotong teriakan dari (Minotaur) adalah sepasang anak panah yang bersarang tepat di kedua matanya yang membuatnya buta seketika.


Dari bentuk anak panah, jelas itu adalah panah yang dilepaskan oleh Zweite yang berdiri di atas benteng bersama dengan pasukan pemanah lainnya. Panah sebelumnya juga pasti dilepaskan olehnya.


"Hahaha... Tamat sudah!" "Hahaha... Mati kau!"


Mengikuti si kembar yang maju begitu saja, kami pun melancarkan serangan kami kepada (Minotaur) yang sudah tidak berdaya.


...


Grrrroooaaaaaa.....


Ha... Ha... Ha... Akhirnya, akhirnya berakhir sudah...


Dengan tumbangnya (Minotaur) itu, masalah terbesar saat ini telah sirna sehingga kami tidak perlu mengkhawatirkan hal lain selain para Mobs yang masih tidak berhenti berdatangan.


"Kau lelah kan?"


Yang mendatangiku adalah seorang kesatria yang mengenakan Armor raksasa dari kayu.


Dia adalah pengawal dari Penyihir Lavender, Percy.


Saat di tengah pertarungan, dia menggunakan semacam sihir yang membuat tubuhnya dilapisi oleh kayu keras yang membentuk sebuah Heavy Armor yang terlihat sangat mengintimidasi. Tidak hanya itu, pedang serta perisai


miliknya juga ikut berubah dan tampaknya juga menjadi lebih kuat.


"...yah kau benar. Aku serahkan di sini kepadamu"


Aku telah benar-benar berada pada batasku. Sejak tadi mesin VR milikku terus saja mengirimkan alarm peringatan yang memberitahukan kalau waktu Log In milikku sudah melewati batas yang dianjurkan.


Tidak hanya aku, Yari serta Feline juga tampaknya sudah tidak bisa melanjutkan lebih jauh lagi.


"Meski begitu... Mereka terlalu banyak"


"Aku tidak bisa menyangkalnya. Tapi, tenang saja, lagi pula tampaknya temanmu itu sudah tiba"


Saat aku hendak menanyakan apa yang Percy maksud, sebuah bayangan tiba-tiba saja lewat di medan pertempuran.


Mendongak ke atas, aku bisa menemukan sesosok Wyvern terbang rendah dan darinya terdapat dua orang yang melompat begitu saja dari punggung Wyvern itu tanpa pengaman apa pun.


Orang pertama adalah seorang gadis dengan rambut hitam panjang serta terlihat sebuah Shortsword di tangannya.


Gadis itu menukik dengan tajam tepat ke arah seekor (Ogre) yang masih belum menyadari keberadaannya.


Hanya dengan satu ayunan saja, gadis itu berhasil memotong bersih leher (Ogre) tersebut hingga kepalanya terpisah dari tubuhnya.


Setelah mendarat dengan aman di atas tanah, gadis itu lanjut menebas leher setiap Mobs yang ada di dekatnya.


Orang kedua adalah seorang pria yang mengenakan Scale Armor dan sebuah pedang di tangannya.


Bahkan dari jauh sekalipun aku tahu dengan jelas siapa dirinya yang sebenarnya.


Berbeda dari gadis tadi, orang itu memilih untuk mendarat di tempat yang kosong. Akan tetapi, aksinya setelah itu tidak jauh berbeda dari yang dilakukan oleh gadis sebelumnya.


Setiap tebasan pedangnya mampu memotong habis setiap Mobs yang berusaha untuk mendekatinya.


Meski baru sebentar, tapi sudah tidak terhitung lagi berapa banyak Mobs yang menjadi korban dari keganasan mereka berdua.


"Akhirnya kau datang juga, Turbo"


"Maaf terlambat, tapi sekarang kau bisa tenang. Bantuan sudah tiba"


Tidak lama setelah itu, terdengar suara keras dari arah benteng.


Dari dalam portal yang terbuka, keluar sebuah pasukan yang membawa sebuah bendera dengan simbol pedang yang menghunjam bumi.


Guild Iron Sword.


"Maju.... Jangan biarkan Headmaster berduaan dengan kekasihnya begitu saja!!!"


"""HYAAAAAAAAAA!!!!"""


"Dasar Nos sialan!"


Tidak memedulikan si gadis, Sisteen. Yang pipinya menjadi merah merona. Turbo malah mengutuk temannya yang memimpin anggota Guildnya yang lain sembari terus menebas Mobs tanpa henti.


"Haha... Kurasa sudah waktunya aku istirahat. BAGI MEREKA YANG KELELAHAN, MUNDUR!!! SERAHKAN MEDAN TEMPUR KEPADA IRON SWORD!!!"


Setelah memastikan pasukan yang kelelahan atau terluka telah mundur dengan aman, aku menyapa Turbo untuk terakhir kalinya sebelum aku sendiri juga ikut mundur.


"Begitulah, Turbo, Percy, aku serahkan kepada kalian berdua"


"Ya, baiklah"


"Tenang saja, kau bisa istirahat dengan tenang sementara kami menahan para Mobs tidak berakal itu. Lagi pula aku juga ingin berkenalan dengan stalkernya Lif"


"Tunggu sebentar, apa kau bilang!"


"...makan malam hari ini adalah oseng mercon ekstra cabe rawit"


"Tenanglah Sisteen, kita sekarang sedang berada di medan tempur!"


Meski sedikit kacau, berkat datangnya Guild Iron Sword. Alur pertempuran kembali seperti sedia kala dan mereka berhasil menghadang gempuran para Mobs selama tiga hari berturut-turut.