A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 79 : Why Am Like This?



Kembali ke kamar Hotel, aku segera mengaktifkan untuk memberikan laporan rutin kepada Nenek.


Setelah komunikasi saling terhubung, aku pun segera memberitahuka segala informasi yang aku dapatkan hari ini.


Berawal dari uang kertas yang berisikan wajah orang-orang terpenting di Narsist Kingdom, fakta bahwa Pangeran Kedua dari Drakon Kingdom berada di sini, kondisi perekonomian serta ketersediaan lapangan pekerjaan di Narsist


Kingdom, dan terakhir adalah berita kalau kami (Luna) telah membuat kontak dengan Pangeran Kedua dari Narsist Kingdom.


Menerima semua informasi ini, Nenek memujiku karena keberhasilanku sebelum kemudian memarahiku karena alasan yang jelas.


"Kau membiarkan muridmu di bawa begitu saja!!!"


"Nenek, dengarkan. Ini penting bagi Quest kali ini. Mana mungkin aku akan melewatkan kesempatan untuk menyusup ke markas musuh tanpa harus bersusah payah menyusun rencana yang rumit dan berbelit-belit"


"Apakah kau tidak khawatir akan keselamatan muridmu?"


"Tentu saja tidak. Terlebih setelah aku mengetahui kalau Pangeran Argenti hanya akan menyekap gadis pilihannya selama seminggu sebelum akhirnya memulangkan mereka kembali sembari memberikan kompensasi yang besar


kepada pihak keluarga"


"Tetap saja! Dia akan di tahan di sana selama seminggu, seminggu! Mustahil dia hanya akan menghabiskan waktu sambil minum teh. Pangeran mesum itu pasti akan melemparnya ke ranjang dan menggoyangnya selama semalaman penuh!"


"Nenekku sayang, apakah Nenek lupa kalau Luna itu sejatinya adalah seorang Succubus? Digoyang semalaman sudah seperti istirahat minum teh baginya!"


Setelah saling beradu argumen selama 10 menit lamanya, kami akhirnya lelah sendiri dan memilih untuk berganti topik.


"Hah... Sudahlah, aku akan menggambar kembali wajah dari orang-orang penting itu dan menyebarkannya kepada semua orang"


"Nenek bisa menggambar?"


"Tentu saja aku bisa, hidup selama ini memberikanku banyak waktu untuk belajar"


Hening sejenak, Nenek lalu menampilkan ekspresi seperti sedang kesusahan.


"Hah, sebelumnya aku menerima kabar kalau Pangeran Drake telah berkhianat dan sekarang menjadi buronan di seluruh Drakon Kingdom. Dan hari ini kau menemukannya berada di Narsist Kingdom. Raja Krieger tidak akan senang ketika mendengar informasi ini"


"Nenek, walau aku tidak melihatnya secara langsung, tapi aku mendengar dengan jelas kalau terdapat seorang gadis yang bersama dengan Pangeran Drake. Dari pembicaraan mereka, aku berani menyimpulkan kalau gadis tersebut telah memegang kendali penuh akan Pangeran Drake"


Mendengar ini, Nenek tampak berpikir sebelum akhirnya mengeluarkan nafas lelah.


"Ini rahasia, Pangeran Draco sebelumnya telah mendapati kalau Pangeran Drake memiliki kekasih di Narsist Kingdom yang dia temui saat pesta dansa jauh sebelum perang ini pecah. Tampaknya gadis yang kau dapati bersama dengan Pangeran Drake itu adalah kekasihnya yang selama ini saling terhubung dengan cara bertukar surat"


Ahh... Surat cinta antar kekasih yah. Klasik.


Atau mungkin wajar? Mengingat di sini masih belum ada Smartphone ataupun internet yang mampu menghubungkan banyak orang dengan mudah. Jadi surat cinta yang ditulis dengan tangan adalah hal yang umum digunakan jika ingin menjalani hubungan jarak jauh.


Tapi, masih ada satu hal yang membuatku penasaran.


"Bagaimana bisa Pangeran Drake mampu mencapai Narsist Kingdom tanpa ketahuan? Apakah penjaga perbatasan sudah di sogok atau apa?"


"Untuk itu, berdasarkan laporan dari Pangeran Draco, sesaat sebelum pasukannya berhasil menangkap Pangeran Drake, dia menggunakan semacam item yang memungkinkannya untuk berteleportasi secara instan"


Item aneh lagi...!!!


Terlebih yang ini bisa untuk berteleportasi antar Kerajaan!


Sumpah, kalau sampai mereka punya item yang bisa menghidupkan orang mati maka aku tidak akan terkejut lagi.


Serta aku menginginkan item teleportasi itu.


Selesai membahas tentang pengkhianatan Pangeran Drake, serta karena kami sudah berbincang terlalu lama, sudah waktunya bagiku untuk mengakhiri laporanku hari ini.


"Untuk saat ini aku akan terus memantau situasi dan berusaha untuk mencari informasi lebih dalam lagi. Untuk masalah Luna, Zweite Pelayan ciptaanku masih bersama dengannya. Jadi aku masih bisa menjalin komunikasi dengan Luna dan akan terus memantau perkembangannya.


Untuk Pangeran Drake, aku akan mencari tahu di mana dia tinggal dan peran apa yang dia miliki dalam perang kali ini"


"Bagus, lanjutkan kerja bagusmu"


Dengan itu percakapan pun akhirnya berakhir.


Sontak aku tersungkur di atas meja karena Mana ku yang terkuras banyak oleh \ sialan ini yang terlewat boros.


•Skill [Greater Mana Enchant] telah mencapai level 20. Mendapatkan 1SP•


•Skill [Greater Mana Recovery] telah mencapai level 20. Mendapatkan 1SP•


Oh, itu tidak terduga.


Tetap saja, tidak bisakah item sialan ini menjadi lebih efisien?


Lupakan itu, aku ingin tidur sekaligus memulihkan Manaku. Kalau soal Luna nanti saja aku tunggu laporan dari Zweite.


Selamat malam.


...


Membuka mata, aku menemukan diriku berada di ruangan yang tidak aku kenali.


Malahan, aku merasa kalau diriku tidak sepantasnya berada di dalam ruangan ini. Itu dikarenakan ruangan dimana aku berada sekarang adalah sebuah ruangan yang seluruh permukaannya dihiasi oleh ornamen-ornamen keemasan yang memancarkan kilauan yang memanjakan mata.


Baik itu dinding, perabotan, dekorasi, hingga langit-langitnya sekalipun memancarkan aura kekayaan yang melebihi akal sehatku.


"Di mana aku sekarang?"


Itu sebenarnya hanyalah kata-kata yang aku ucapkan secara refleks karena situasiku yang sekarang sungguh sangatlah membingungkan.


Namun, tidak kusangka aku malah mendapatkan jawaban.


"Kau sekarang berada di kamarku"


Sontak aku berpaling ke arah sumber suara itu.


Apa yang aku lihat kemudian membuatku tidak bisa berkata apa-apa.


Dia adalah seorang pria tampan dengan rambut dan mata keperakan. Tampak tidak ada cela di wajahnya serta suaranya tidak di sangka terdengar merdu di telingaku.


Yang membuatku tidak bisa habis pikir adalah pria tampan itu saat ini tidak mengenakan sehelai pakaianpun dan hanya menutupi dirinya dengan sebuah selimut putih bersih.


Selimut yang sama yang saat ini juga menutupi tubuhku.


Barulah aku tersadar kalau aku juga sedang tidak mengenakan sehelai pakaianpun. Tidak hanya itu, saat ini kami berdua sama-sama sedang berbaring di atas sebuah Kasur yang besar dan empuk melebihi Kasur yang ada di kamar asramaku.


Meski ukuran Kasur ini cukup besar, tapi posisi berbaring kami adalah saling berdekatan hingga aku bisa merasakan nafas pria itu tepat di permukaan kulitku.


Apa yang pria itu ucapkan selanjutnya bagaikan sebuah paku terakhir pada peti matiku.


"Akhirnya kau menunjukkan wujud aslimu..."


Ucapnya sembari meletakkan tangannya pada pipiku.


Aku yang masih kebingungan akan situasiku yang sekarang hanya bisa terdiam selagi dia dengan lembut mengusap wajahku yang telah dilukai oleh Guru demi penyamaran kami.


Pria itu membelai bekas lukaku dengan lebut dan penuh perhatian seolah takut untuk melukaiku. Setelah lama dia pun lanjut membelai rambutku. Berkat semua perawatan yang aku lakukan setelah menjadi murid dari Guru Lavender, rambutku yang biasa saja kini menjadi mulus dan terasa halus saat di sentuh. Setelah puas, dengan perlahan dia menggerakkan tangannya ke kepalaku sebelum kemudian dia mengusap tandukku.


...Tanduk!


"Oh, menarik"


Secara refleks aku menjauhkan diriku darinya dengan melompat dari atas Kasur sekuat tenagaku. Dengan penuh waspada aku menatap langsung ke arahnya demi memperhatikan tindakan apa yang selanjutnya akan dia ambil.


Namun, dia hanya tersenyum.


Dia tersenyum seolah sedang bersenang-senang.


Dengan perasaan takut, aku mengarahkan tanganku pada tempat yang sebelumnya pria itu sentuh.


Di sana aku menemukan sebuah tanduk mungil yang tidak di sangka terasa halus saat di sentuh. Menyentuh sisi kepalaku yang satunya dan menemukan tanduk yang sama.


Melihat ekorku, aku menyadari kalau di satu titik ilusi yang aku gunakan sudah menghilang yang membuat identitasku terbongkar.


Saat memeriksa ekorku, aku menyadari kalau sedari tadi kakiku tidaklah sedang menyentuh tanah melainkan aku saat ini sedang melayang sekitar satu meter di atas lantai.


Melihat ke arah pinggulku, aku mendapati sepasang sayap hitam seperti sayap kelelawar telah tumbuh dan sedang mengepak-ngepak seolah agar menjagaku agar tetap melayang.


Terakhir.


Melihat penampilanku yang sekarang, aku akhirnya menyadari kalau darah Succubusku telah bangkit sepenuhnya.


Walau aku ingin berteriak kencang, tapi ini bukanlah saat yang tepat untuk itu.


Pada saat ini aku haruslah memikirkan cara untuk pergi dari sini menjauh dari pria yang ada di hadapanku ini.


Berbanding terbalik dari aku yang berada dalam mode siaga penuh, pria di hadapanku tetaplah santai seolah tidak ada yang terjadi.


"Oh, Selene ku yang cantik, janganlah engkau seperti itu. Atas namaku, Pangeran Kedua dari Narsist Kingdom, Argenti ol Narsist. Diriku bersumpah kalau tidak ada satupun orang di wilayahku yang akan menyakitimu ataupun membocorkan rahasiamu kepada banyak orang.


Jadi, mohon percayalah kepadaku dan berhentilah menjauhiku"


Selene? Oh, benar. Itu adalah nama samaran yang aku gunakan.


Juga, aku akhirnya tersadar kalau dia ini adalah sang Pangeran Kedua yang wajahnya aku lihat pada uang kertas yang Guru tunjukkan kepadaku.


Aku akhirnya ingat kalau alasan kenapa aku bisa berada dalam situasi sekarang. Itu semua berawal saat aku sedang bersenang-senang di dalam Kasino. Orang ini datang begitu saja sebelum akhirnya melamarku yang


sebelum sempat aku jawab dia sudah menggendongku pulang dan mendekapku sepanjang malam.


Serius, itu adalah saat pertamaku kau tahu!


"Kerajaan ini membenci ras lain selain Manusia. Dan kau adalah Pangeran dari Kerajaan ini, apa yang membuatmu berpikir aku akan mempercayainya?"


Aku berusaha keras untuk meniru gaya berbicara Guru. Apakah aku sudah melakukannya dengan benar?


"Wahai Selene ku yang cantik. Jika engkau masih meragukanku, maka ingatlah. Dirimu sekarang sedang berdiri, maaf, melayang di sini di dalam kamar pribadiku dengan tubuh tanpa noda. Bukan berada di dalam penjara bawah


tanah yang kotor dalam keadaan terpaku pada dinding batu yang keras dan dingin"


Itu... ada benarnya juga.


Tapi, aku tidak bisa mempercayainya begitu saja.


"Kau bilang tanpa noda, tapi bukankah kau sendiri yang telah menodaiku?"


Atas perkataanku, pria itu, Pangeran Argenti mengeluarkan ekspresi menyesal sebelum akhirnya kembali menjadi sebuah senyuman.


"Pertama, maaf karena telah mengambil kesucianmu tanpa persetujuanmu. Akan tetapi, rasa penyesalan ini tidak bisa dibandingkan dengan kebahagiaan yang diriku rasakan di saat kita berdua menyatu. Bukankah kau juga


merasakan kebahagiaan yang sama?"


Bagaimana bisa dia berkata seperti itu dengan senyum di wajahnya!


Saat pertama seorang gadis itu seharusnya diberikan kepada orang yang kami sukai, bukan Pangeran numpang lewat yang menculikku dari kasino!


Juga, walau dia bilang dia menyukainya, bukan berarti aku juga merasakan hal yang sama. Terlebih ketika aku tidak... Aku benci diriku.


Baru saja aku mau bilang kalau aku tidak mengingat kejadian semalam, semua ingatan itu malah kembali padaku.


Dari saat Pangeran Argenti menggendongku layaknya seorang tuan Putri, ketika dia melemparku ke atas ranjang, ciuman pertamaku, pengalaman pertamaku, hingga di saat kami berdua menyatu sepanjang malam. Aku mengingat semuanya.


Tanpa aku sadari pipiku jadi merona karena mengingat kejadian semalam.


Hal ini malah membuat Pangeran Argenti salah mengira kalau aku setuju dengan perkataannya yang sebelumnya.


Lupakan itu, walau aku telah mengingat semua yang terjadi semalam di ruangan ini, tapi aku tidak mengingat bagaimana caranya aku bisa sampai ke sini.


Yang aku ingat adalah setelah dia menggendongku ke luar kasino, tiba-tiba saja aku sudah berada di sini dan di dekap olehnya.


Di saat aku hendak mengucapkan sesuatu, terdengar suara ketukan pintu yang berirama.


"Masuk"


Mendapatkan izin dari Pangeran Argenti, pintu pun terbuka.


"Beastman?"


Masuk ke dalam ruangan adalah seorang Maid Beastman berdarah campuran yang tampaknya berasal dari suku Domba.


Dia memiliki rambut putih keriting dengan sepasang tanduk melingkar khas domba di setiap sisi kepalanya. Wajahnya terlihat cantik jika saja tidak terdapat sebuah luka bakar di pipinya.


Sembari membawa sebuah troli besar yang penuh akan makanan dan perlengkapan minum teh, Maid Domba itu lalu berhenti tepat di tengah-tengah aku dan Pangeran Argenti kemudian memberikan hormat kepadanya.


"Selamat pagi, Tuan Muda. Hamba membawakan sarapan untuk Anda dan Nona Selene"


"Ahh, sudah waktunya yah..."


Mengatakan itu, Pangeran Argenti lalu bangkit dari Kasur yang membuat selimut yang tadinya menyelimuti tubuhnya jatuh begitu saja di atas lantai yang menampilkan tubuh polosnya secara jelas.


Secara refleks aku memalingkan wajahku sekaligus menutup mataku dengan kedua tanganku.


Benci mengatakannya, tapi aku sekarang sedang melawan perasaan ingin mengintip dari cela-cela jariku.


Aku tidak tahu apa yang Pangeran Argenti lakukan setelah itu, tapi aku mendengar suara langkah kakinya serta suara seperti pintu kayu yang terbuka.


Apakah itu suara lemari baju? Aku harap begitu.


Sementara itu si Maid Domba tengah sibuk menata sarapan sekaligus menyiapkan teh yang aroma wanginya sudah mulai bisa tercium menyelimuti seluruh ruangan ini.


"Selene sayang, jika engkau hendak mengenakan sesuatu, itu sudah aku letakkan di atas Kasur"


Mengintip ke atas Kasur, sudah terdapat sebuah jubah mandi berwarna putih dengan sulaman emas yang menghiasinya. Tanpa ragu aku mengambilnya dan segera mengenakannya.


Melihat kembali, Pangeran Argenti juga telah mengenakan jubah mandi yang sama dengan yang aku kenakan. Aku tidak tahu apakah dia memang sengaja ingin mengenakan pakaian serasi atau hanya memang inilah satu-satunya model baju mandi yang dia miliki.


Pokoknya aku tidak menyukainya.


Setelah kami selesai berpakaian, sarapan sudah siap.


Lokasi sarapan tampaknya berada di meja kecil di beranda kamar Pangeran Argenti.


Duduk saling berhadapan, aku berusaha untuk tidak melihat wajah Pangeran Argenti terlalu sering dengan cara mengalihkan perhatianku kepada pemandangan hutan lebat yang terhampar luas mengelilingi kediaman Pangeran Argenti.


"Hutan? Di mana kita sebenarnya?"


Melihat aku yang pertama kali memulai pembicaraan dengannya, Pangeran Argenti menjadi tidak mampu menahan senyuman di wajahnya.


"Kita sekarang berada di Gunung Argent. 500 Km dari Ibukota"


"...Kau serius? Kenapa kediaman Pangeran dari sebuah Kerajaan bisa berada di tengah antah berantah begini? Dan bagaimana bisa kita sampai di sini dalam semalam?"


"Alasanku memilih berdiam di sini adalah untuk menjauh dari kekacauan yang tengah terjadi di Kerajaan ini. Sedangkan untuk bagaimana bisa kita sampai di sini, aku memiliki sebuah item yang memungkinkanku untuk berteleportasi kembali ke tempat yang sudah ditentukan"


Aku tidak bisa mempercayai ini.


Aku tahu kalau Narsist Kingdom memiliki banyak sekali item aneh yang juga adalah salah satu hal yang harus aku dan Guru selidiki.


Tapi sebuah item teleportasi jarak jauh? Itu adalah satu hal yang aku yakin akan menjadi prioritas utama Guru untuk direnggut atau setidaknya dihancurkan.


Pangeran Argenti juga mengatakan kalau alasan dia berdiam di sini adalah untuk menjauh dari kekacauan yang ada di Kerajaan ini.


Aku tidak melihat adanya yang kacau di kota. Apakah yang dia maksud itu tentang peperangan yang tengah terjadi?


Jika itu benar, di saat Kerajaan ini di serang, maka sudah sewajarnya Ibukota tempat di mana Istana Raja berada akan menjadi target utama penyerangan. Terlebih dia adalah seorang Pangeran. Seorang anggota Keluarga Kerajaan.


Orang-orang akan berkerumun demi mengincar lehernya.


Dengan item teleportasinya itu, Pangeran Argenti dapat dengan mudahnya kabur ke rumahnya yang ada di tengah gunung jauh dari Ibukota.


Setelah itu kami menikmati sarapan dengan sedikit perasaan canggung.


Tidak ada lagi yang bicara. Kami hanya makan sembari menikmati pemandangan yang hijau dan asri.


Sehabis sarapan kami pun menikmati teh yang telah di seduh sebelumnya. Untuk sisa makanan itu sudah dibersihkan oleh si Maid Domba.


"Selene sayang, sedari tadi engkau hendak bertanya. Apa tujuanku, serta kenapa aku membiarkan Beastman melayaniku dengan layak selagi sisa rakyat Kerajaan ini memperlakukan mereka lebih rendah dari hewan ternak"


Aku hanya mengangguk.


"Itu mudah, itu adalah alasan yang sama kenapa aku bersikap baik atau bahkan tertarik kepada Setan (Devil) sepertimu..."


Alasan yang dia berikan seolah terlalu baik untuk menjadi kenyataan.