
Ibukota Narsist Kingdom.
Sebuah Ibukota yang bangga akan keindahannya kini sedang di landa kekacauan.
Pada pintu gerbang bagian Selatan sedang terjadi sebuah pertempuran sengit antara Pasukan Aliansi yang hendak masuk ke dalam Ibukota sementara para Prajurit dari Narsist Kingdom berusaha untuk mencegah mereka.
Kedua belah pihak saling bertarung dengan sengit tanpa menyadari kalau ada satu lagi pertarungan yang terjadi di Ibukota ini.
Pada pintu gerbang bagian Utara yang kini telah hancur berkeping-keping masuklah sebuah pasukan (Woodland Creature) yang memiliki tampang mengerikan merengsek masuk ke dalam Ibukota dengan niatan untuk menghancurkan segala yang ada di hadapan mereka.
Sedangkan yang menyambut mereka adalah pasukan Einherjar yang sejatinya adalah Golem tingkat tinggi yang pihak Narsist Kingdom gali dari sebuah reruntuhan yang kini telah di sulap menjadi sebuah Katedral yang megah.
Pertempuran sengit nan brutal terjadi antara (Woodland Creature) dengan Einherjar yang sama-sama tidak tahu apa itu rasa takut dan tidak mengenal apa itu rasa sakit.
Tanpa peduli dengan diri mereka sendiri, kedua pasukan saling beradu dan saling menghancurkan.
Pemandangan kedua pasukan yang saling bertarung terlihat sangat brutal. Satu-satunya hal yang perlu disyukuri adalah fakta kalau tidak ada satupun dari mereka terbuat dari darah dan daging sehingga pemandangannya tidak menjadi lebih parah lagi.
Hanya saja hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada pasukan lain yang datang menyusul (Woodland Creature).
"Haaa...!!!"
Datang menyusul (Woodland Creature) adalah para Kesatria Elit yang telah di pilih langsung oleh Pangeran Draco dari Drakon Kingdom.
Berkat perintah dari Penyihir Lavender, mereka tidak di serang oleh (Woodland Creature) dan bahkan bisa bertarung bersama tanpa hambatan.
Dengan gagah berani mereka bertarung bersama dengan makhluk yang tampak keluar langsung dari lubang Neraka untuk melawan Golem indah namun tidak berjiwa.
Memimpin para Kesatria itu bukanlah Pangeran Draco melainkan Allucard yang di bantu oleh Oriens yang dulunya adalah salah satu dari 4 Jenderal Besar dari Narsist Kingdom.
Dengan Rapier yang berlapiskan darah, Allucard menebas semua Einherjar yang ada di hadapannya dengan anggun dan efisien. Sementara Oriens dengan Greatsword yang menyala merah memotong semua Einherjar yang datang kepadanya dengan begitu mudahnya bagaikan sedang memotong mentega dengan pisau panas.
Berkat mereka berdua yang memimpin jalan, para Kesatria dapat melaju dengan lancar dengan hanya mengalami luka ringan.
Bertarung bersama para Kesatria adalah seorang pria muda yang menggunakan tombak.
Pria itu adalah seorang Otherworlder yang tergabung ke dalam Party Petualang bernama The Guardian. Dia adalah Yari, yang entah karena alasan apa dia tidak sedang membantu kawan-kawannya di sisi lain gerbang dan malah
bertarung sendiri di sini.
(Whirlwind)
Memutar tombaknya dengan ganas, Yari menciptakan sebuah tornado kecil yang menghempaskan semua Einherjar yang menerjang ke arahnya.
"Kerja bagus!" "Tolong teruskan!"
Puji dua Kesatria Wanita yang bertarung bersamanya. "Heh" dengan seringai besar di wajahnya ayunan tombak Yari menjadi semakin ganas.
Kesatria wanita yang pertama memiliki rambut biru panjang sedangkan yang satunya memiliki rambut cokelat pendek.
Nama mereka adalah Cielo dan Tierra.
Mereka adalah Kesatria yang mengabdi kepada Drakon Kingdom. Fakta kalau mereka berdua termasuk ke dalam anggota regu Kesatria ini adalah bukti nyata akan kemampuan mereka.
Sungguh, masih sebuah pertanyaan besar bagaimana bisa mereka berdua bisa dekat dengan Yari hingga berakhir mengikutinya kemana-mana seperti ini.
Tanpa terasa pertarungan telah berlangsung selama hampir sejam lamanya.
Walau (Woodland Creature) dan Einherjar sama-sama tidak bisa merasakan lelah, hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada para Kesatria. Mereka yang hanyalah Manusia biasa tidak mungkin bisa terus berada dalam pertarungan sengit seperti ini dalam kurun waktu yang lama.
Menyadari hal ini, Allucard pun berniat untuk membawa pasukan yang dipinjamkan kepadanya ke pertempuran yang sesuai untuk mereka.
"Oriens! Tolong bukakan jalan!"
"Hah, akhirnya kau memintanya!"
Mengangkat Greatswordnya tinggi ke udara, hawa merah panah melapisi seluruh tubuh Oriens. Saking panasnya bahkan Einherjar yang berniat untuk menyerang Oriens yang terbuka lebar malah berhenti di tempat karena semua
persendian di tubuh mereka telah meleleh karena hawa panas yang luar biasa.
Mengambil jarak yang aman, Allucard serta para Kesatria mengamati Oriens yang sedang beraksi.
(Inferno Sword)
Api merah mulai menyelimuti seluruh permukaan Greatsword milik Oriens hingga akhirnya membuat Greatsword itu terlihat dua kali lebih besar dari yang seharusnya.
"Haaa...!" dengan satu ayunan vertikal sebuah jalur terbuka di antara lautan Einherjar.
Api merah yang panas membara menerjang dalam garis lurus yang melelehkan semua Einherjar yang berada dalam jalurnya. Sedangkan bagi Einherjar yang tidak berada dalam jalur serangan tapi berada dekat dengannya
mendapati seluruh permukaan tubuh mereka meleleh hingga mustahil bagi mereka untuk bergerak.
"Jalan sudah terbuka, maju!!!"
Dengan arahan dari Allucard seluruh Kesatria langsung bergerak maju dengan Oriens berada di barisan paling depan sebagai pembuka jalan.
Menginjak jalanan yang masih menyala merah, para Kesatria melaju lurus ke arah Katedral tempat para Einherjar berasal. Sementara para Kesatria melaju lurus, para (Woodland Creature) langsung menyerbu para Einherjar yang
sudah tidak lagi bisa bergerak untuk mengakhirinya sebelum akhirnya mereka mulai menyebar dan akhirnya para penduduk sipil pun terlibat dalam pertarungan ini.
"Kyaaa!!!"
"Pergi! Pergi!"
"Cepat! Sembunyikan anak-anak!"
Sungguh aneh bagi (Woodland Creature) untuk menyerang penduduk yang tidak bersalah. Padahal Penyihir Lavender sudah memerintahkan mereka untuk hanya menyerang mereka yang melawan dan jangan melirik mereka yang tidak berguna.
Di tengah teriakan para penduduk yang mulai menyelimuti kota, jawaban kenapa (Woodland Creature) menyerang mereka akhirnya menjadi jelas.
"Jangan... Jangan serang aku... Aaa... Graaoo!!!"
Para penduduk biasa yang awalnya terlihat tidak berdaya tiba-tiba saja berubah menjadi seekor monster ganas yang penampilannya tidak kalah menakutkan dari (Woodland Creature) yang menyerang mereka.
Tidak salah lagi, itu adalah fenomena Berserk yang sering kali terlihat ketika para Prajurit dari Narsist Kingdom berada dalam keadaan terdesak.
"Apa!"
Menyaksikan seorang penduduk biasa berubah menjadi monster tepat di depan matanya sendiri membuat tubuh Oriens yang diselimuti oleh api membara kini semakin menjadi bersamaan dengan amarahnya yang telah tersulut.
Sebagai seorang mantan Jenderal dari Narsist Kingdom, Oriens tahu benar kalau pihak Kerajaan telah secara aktif memberikan artefak-artefak berbahaya kepada para Prajuritnya untuk secara drastis meningkatkan kekuatan
mereka.
Oriens sendiri juga sempat menerima artefak tersebut namun dia tidaklah menyukainya.
Sebagai seorang Kesatria, Oriens membenci jika harus meminjam kekuatan yang membuat seolah latihan keras itu tidak ada gunanya. Terlebih ketika kekuatan itu pada akhirnya akan memakan penggunanya hingga yang tersisa
hanyalah monster ganas yang tidak berakal.
Karena itulah Oriens sangat membenci para petinggi di Narsist Kingdom yang memaksakan penggunaan artefak ini kepada para Prajuritnya.
Dan sekarang, setelah melihat kalau mereka juga melakukan hal yang sama kepada warga Kerajaan mereka sendiri.
Tidak ada lagi rasa hormat kepada tanah kelahirannya.
Yang tersisa hanyalah amarah yang membara.
(Flaming Ground)
Hanya dengan satu hentakan kaki seluruh area yang ada di sekitarnya seketika menyala merah.
Einherjar, (Woodland Creature), hingga rumah-rumah yang berdiri berserta para penduduk yang masih berada di dalamnya semuanya kini terbakar hebat oleh api yang membara.
Tapi anehnya para Kesatria yang berada tidak jauh di belakang Oriens sama sekali tidak terkena dampak dari sihir yang Oriens gunakan dan hanya perasaan panas yang mereka rasakan.
"...kenapa?" tanya Allucard yang heran atas apa yang baru saja Oriens lakukan.
Tanpa memberikan jawaban yang Allucard inginkan, Oriens hanya berkata "Jalanan sudah aman, mari kita segera selesaikan pertempuran tidak berguna ini".
Menyaksikan sosok Oriens yang menjauh, Allucard menghela nafas berat sebelum akhirnya memimpin para Kesatria untuk mengikutinya.
...
Pada akhirnya mereka tiba di depan Katedral agama Narsist.
Terlihat jalur merah memanjang dari arah mereka berasal serta aroma terbakar yang menyengat tersebar di udara.
Berkat aksi dari Oriens, bukan hanya jalanan yang terbakar tapi juga seluruh bangunan yang berada di sekitarnya. Para penduduk yang awalnya berlindung di dalam rumah semua kini berhamburan keluar menjauhi arena pertempuran.
Selain harus kabur dari api, para penduduk juga harus kabur dari kejaran (Woodland Creature) yang merasakan ada pengguna artefak yang berada di antara para penduduk yang mencoba untuk kabur.
Dengan semua kekacauan serta pertumpahan darah yang terjadi, para prajurit yang sedang bertempur di gerbang bagian Selatan akhirnya menyadari ada sesuatu yang salah.
Melihat asap tebal membumbung tinggi dari sisi lain Ibukota, banyak prajurit yang hendak bergegas ke sana namun tidak mampu karena perintah untuk bergerak belum datang kepada mereka.
Jenderal Boreas yang masih sibuk meladeni Pangeran Lapelis masih belum menyadari apa yang terjadi di dalam Ibukota. Dia yang sedang fokus menembakkan anak panahnya tidak punya waktu untuk menengok ke belakang dan tidak ada satupun dari para prajurit yang bisa memberikan kabar ini kepadanya karena mereka sedang di tahan oleh Pasukan Aliansi.
Dengan para prajurit yang tertahan di gerbang bagian Selatan, Allucard beserta pasukannya bisa dengan leluasa menyerbu Katedral sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya.
Tapi, sebelum itu...
(Flame Missile)
Menembakkan sihirnya Oriens menghancurkan pintu tempat para Einherjar keluar. Booom! Sebuah ledakan besar terjadi dan terkecuali mereka tahu caranya untuk menggali, Einherjar tidak lagi akan keluar untuk mencari masalah.
Melihat ke dalam Katedral, hanya para Biarawati muda saja yang terlihat.
Meski begitu, Allucard tidaklah segan "Tahan mereka! Jika mereka memiliki artefak, sita! Jika melawan, habisi saja!" dengan perintah tegasnya para Kesatria pun mulai bergerak.
Tanpa ragu mereka menahan para Biarawati yang tidak mampu untuk melawan. Tanpa butuh waktu lama para Kesatria sukses menyisir seluruh isi Katedral dan menahan lusinan Biarawati serta Pendeta muda yang berada di
sana.
Dengan semua tempat telah diselidiki, kini hanya tersisa satu tempat saja yang tersisa.
"Aku merasakan kumpulan Mana di tempat ini"
"Aku juga merasakan hal yang sama, di dalam sana pasti tempat para ulama senior berada"
Berdiri di sebuah pintu ganda yang berhiaskan ukiran malaikat yang sedang memainkan alat musik adalah Allucard, Oriens, Yari, Cielo, Tierra beserta sekitar lima Kesatria lainnya.
Karena pintu yang terkunci mencegah mereka untuk masuk ke dalam.
Dengan aba-aba dari Allucard, Oriens pun mengayunkan Greatswordnya yang masih diselimuti oleh api yang membara.
Pang! Suara besi saling beradu terdengar kencang dan tanpa di sangka Greatsword milik Oriens memantul tidak mampu menebas pintu ganda itu.
"Apa!" sontak semua orang terkejut dibuatnya.
Mereka yang menyaksikan secara langsung betapa dahsyatnya ayunan pedang dari Oriens tidak pernah menyangka kalau ada sesuatu yang tidak mampu dia tebas. Akan tetapi, yang paling terkejut adalah Oriens itu sendiri.
Dia yang sangat percaya diri dengan kemampuan berpedangnya tidak akan pernah menerima kalau dia akan dikalahkan oleh sebuah pintu belaka.
Kembali mengangkat pedangnya tinggi di udara, udara panas kembali menyelimuti tubuhnya.
Tanpa perlu diperintah sekalipun, Allucard beserta Kesatria yang lain segera menjauh dari Oriens takut terkena imbas dari apa yang akan Oriens lakukan.
Memejamkan matanya, Oriens mulai berkonsentrasi.
Lambat laun pusaran api merah mulai menyelimuti seluruh tubuhnya lebih dari yang sebelum-sebelumnya. Badai api mulai berkobar hingga membuat Allucard dan yang lain harus berlindung lebih jauh lagi.
Setelah beberapa saat, kobaran api itu akhirnya terkumpul di satu tempat yaitu tepat di ujung Greatswordnya.
Dengan konsentrasi tinggi Oriens mulai memadatkan api yang dia kumpulkan hingga pada akhirnya kumpulan api tersebut mulai berubah wujud menjadi sebuah bola api kecil yang ukurannya tidak lebih besar dari sebutir kelereng.
Meski begitu, janganlah meremehkannya!
Walau besarnya tidak lebih dari sebutir kelereng kecil. Tapi, hawa panas yang dipancarkan bahkan menyaingi hawa panas dari sebuah gunung berapi aktif.
Sebegitu panasnya hingga ujung dari Greatswordnya yang telah di tempat khusus untuk menahan hawa panas sampai dibuat tidak mampu untuk menahan hawa panas yang dipancarkan oleh bola api itu.
Butiran logam emas yang mencair mulai menetes ke atas lantai.
Merasa dirinya sudah berada di ambang batasnya, Oriens langsung mengarahkan Greatswordnya menuju ke pintu ganda yang tertutup rapat.
(Inferno Tears)
Dengan sihir yang telah aktif, bola api pun dilepaskan!
"..."
Tidak ada suara, tidak ada guncangan, tidak ada asap yang mengepul.
Semua tampak normal terkecuali sebuah lubang menganga pada apa yang dulunya adalah sebuah pintu ganda yang berhiaskan ukiran malaikat.
Terlihat kalau bagian sisi dari lubang tersebut menyala merah dengan logam cair yang mulai menetes darinya.
Hal yang sama juga bisa dikatakan kepada lantai serta dinding lainnya di seberang ruangan dan baru berakhir ketika pemandangan dunia luar telah terlihat di bagian paling ujung.
Berniat hanya ingin membuka pintu, sedikit Oriens tahu kalau aksinya barusan telah menggambar sebuah garis lurus tepat di tengah-tengah Ibukota yang telah melenyapkan semua nyawa yang dilaluinya dan baru berhenti ketika bola api itu pada akhirnya menghancurkan dinding pelindung Ibukota.
Seolah tidak peduli dengan kehancuran yang baru saja dia buat, Oriens melangkah masuk dan menemukan kalau seisi ruangan telah di isi oleh mayat-mayat yang hangus terbakar.
"Oh, tampaknya aku terlalu berlebihan"
"Tentu saja! Apakah kau tidak tahu apa itu artinya menahan diri?!"
"Heh, salahkan para penganut agama sesat itu yang memasang pintu terlalu tebal"
Allucard yang memiliki penciuman tajam seketika menutup hidungnya ketika menghirup bau daging bakar yang menyengat. Sementara Yari dan para Kesatria yang lain masih menunggu di belakang karena takut terbakar.
Dengan hanya Oriens dan Allucard saja yang berada di dalam ruangan, mata mereka seketika menyisir seluruh ruangan tanpa berniat untuk melewatkan detil sekecil apapun.
"Apakah menurutmu Paus mereka termasuk ke dalam mayat-mayat ini?"
"Mustahil, orang itu pintar tapi pengecut. Dalam keadaan seperti dia pasti bersembunyi di tempat teraman seantero Narsist Kingdom"
"Hmn... Istana yah"
Setelah hawa panas mulai mereda, barulah para Kesatria yang lain berani untuk masuk menyusul atasan mereka. Sempat terkejut melihat puluhan mayat yang hangus terbakar dalam formasi melingkar seolah menyerumuni sesuatu, pikiran mereka seketika teralihkan oleh perintah yang diberikan kepada mereka.
"Cepat! Cari ke seluruh ruangan! Jangan lewatkan petunjuk sekecil apapun!"
"""Siap!"""
Perintah sudah diterima, para Kesatria pun sontak bergerak bersama menyusuri seisi ruangan hingga ke ruangan sebelah.
Berkat lubang yang Oriens buat, kini mudah bagi para Kesatria untuk menjelajah tanpa perlu mengambil jalan memutar atau mencuri kunci untuk membuka pintu yang tertutup.
Meski begitu, tidak ada hal yang penting yang bisa mereka temukan terkecuali ruangan-ruangan mewah yang akan membuatmu tidak mengira kalau ruangan tersebut adalah bagian dari Katedral yang seharusnya suci dari segala
hal yang bersifat duniawi.
Ketika para Kesatria mulai frustrasi karena pencarian mereka tidak membuahkan hasil, Yari yang sedari tadi mengetuk-ngetuk dinding dengan telinga yang menempel di dinding tampaknya telah berhasil menemukan sesuatu.
Tok.. Tok... Teng!
"Hei! Aku menemukan ruangan rahasia!" mengayunkan tombaknya, Yari sukses menghancurkan dinding tersebut yang menunjukkan sebuah lorong rahasia di belakangnya.
"Kerja bagus!" Puji Allucard yang lalu memimpin para Kesatria untuk menyelidikinya.
Menyusuri lorong gelap yang mengarah ke bawah, tidak butuh waktu lama sebelum mereka akhirnya tiba di akhir lorong yang panjang itu.
Apa yang menyambut mereka adalah pemandangan seperti sebuah pabrik raksasa yang sedang beroperasi dalam kapasitas maksimal.
Roda-roda besi berputar dan tangan-tangan robot bekerja keras dengan suara mesin sebagai pengisi latar belakang.
"Reruntuhan?!" teriak salah satu Kesatria yang tidak menyangka kalau terdapat reruntuhan tepat di bawah Katedral.
Sedangkan apa yang dihasilkan dari reruntuhan ini sudah terpampang jelas di depan mata mereka.
Satu-persatu Einherjar sedang di produksi dalam kecepatan penuh.
Dalam semenit saja reruntuhan ini sudah sukses memproduksi selusin Einherjar dalam satu waktu.
Einherjar yang sudah jadi kemudian dikumpulkan di satu tempat yang kini sudah penuh sesak oleh para Einherjar yang berbaris rapi dengan senjata di tangan.
Mereka sejatinya adalah Golem yang patuh kepada tuannya. Akan tetapi, itu hanya bisa terjadi selama tuan mereka selaku menyuplai mereka dengan Mana atau Einherjar akan hilang kendali dan mulai menghancurkan segala hal yang ada di hadapan mereka.
Itu bisa diketahui kalau mata Einherjar yang biasanya memancarkan cahaya biru terang berubah menjadi warna merah menyala.
Dan sekarang, setelah Oriens menghanguskan para ulama yang bertugas untuk menyuplai para Einherjar dengan Mana. Membuat para Einherjar menjadi Golem yang tidak terkendali.
Tang! Berkat kecerobohan seorang Kesatria yang tidak sengaja menyenggolkan pedangnya pada dinding yang seluruhnya terbuat dari baja kokoh. Membuat para Einherjar yang awalnya berdiri diam kini memandang mereka dengan mata yang merah menyala.
"Bersiap!!!"
Dengan perintah sekaligus peringatan dari Allucard, lonceng tanda pertempuran pun akhirnya kembali berbunyi.