
Di ruangan dansa, dua figur sedang berhadapan satu sama lain.
Memegang Rapiernya dengan erat, Allucard menatap tajam ke arah Oriens yang sudah siap dengan Greatsword miliknya.
Tidak ada satupun dari mereka yang bergerak. Mereka hanya berdiri di sana dengan tatapan mereka saling mengunci satu sama lain.
"Jenderal Matahari dari Timur, Oriens El Orientalis"
Melihat Oriens telah memperkenalkan dirinya, dengan terpaksa Allucard juga ikut menyebutkan namanya karena dia juga tahu apa itu sopan santun.
"Blood Hunter, Allucard"
Setelah memperkenalkan dirinya, Allucard melihat kalau Oriens menyeringai kepadanya.
"Blood Hunter, dan penampilan itu... Kau adalah seorang Vampire. Jadi Sanguine Kingdom yang mengutusmu kemari yah"
"Heh, Apakah itu adalah sesuatu yang harus aku katakan dengan lantang?"
"Tidak usah!"
Seketika Greatsword yang Oriens pegang menyala merah. Mengancungkannya ke arah Allucard, Oriens pun berkata.
"Tidak peduli dari mana mereka berasal, semua penyusup harus mati!"
Dengan perkataan itu sebagai sinyal, pertarungan mereka pun dimulai.
Yang pertama kali bertindak tentu saja adalah Oriens.
Menendang lantai dengan kuat, dia meluncur ke arah Allucard dengan kecepatan tinggi yang tidak akan pernah bisa di sangka bisa dilakukan dengan Armor yang berat itu. Greatswordnya yang kini merah menyala meninggalkan
jejak api seraya pedang itu diayunkan.
Menanggapi ini Allucard tidak kalah cepat. Menggunakan (Blood Sheath) dari [Blood Magic] Allucard melapisi Rapier miliknya dengan darahnya sendiri. Tepat setelah dia melakukan itu, sebuah Greatsword merah membara sudah berada tepat di depan matanya.
Sukses menghindar kesamping, Allucard harus kembali menghindari serangan lanjutan yang dilancarkan oleh Oriens. Setelah menghindar sebanyak empat kali, Allucard akhirnya menemukan celah di pertahanan Oriens dan tanpa ragu langsung melancarkan serangan balasan.
"Naïve!"
Seolah menunggu saat ini, Oriens tidaklah menggunakan Greatswordnya untuk menangkis serangan Allucard melainkan menggunakan tangan kanannya untuk menahan serangan dari Allucard.
Allucard pun tersenyum.
Ketika Rapiernya terhalang oleh Gauntlet yang Oriens kenakan, tiba-tiba saja darah yang melapisi Rapier itu pecah yang mengejutkan Oriens. Dari darah yang pecah itu, Rapier Allucard seketika berubah arah dan kini menusuk
langsung ke arah wajah Oriens yang cantik.
Bersusah payah untuk menghindar, tindakannya itu membuat Allucard menyadari adanya bekas luka bakar yang terlihat jelas di jidat Oriens yang biasanya dia tutupi dengan poni rambutnya. Tidak bisa menghindar dengan
sempurna, kini sebuah luka gores tercipta di pipinya yang putih.
Walau darah yang menetes itu tidaklah seberapa, tapi fakta kalau wajahnya telah terluka tetaplah sama.
Allucard yang setelah sukses melancarkan serangan kejutannya tidak kembali lanjut menyerang melainkan mengambil langkah mundur beberapa meter dari Oriens untuk menjaga jaraknya.
Merasakan perasaan panas di pipinya, Oriens pun marah besar.
"Kau! Beraninya kau menyerang wajah seorang gadis!"
Bersama dengan amarahnya, Oriens menggunakan Skill (Overheat) yang membuat segala yang ada di sekitarnya merasakan panas yang bahkan mampu untuk melelehkan besi. Bahkan Armor emas yang dia kenakan kini telah berubah menjadi Armor yang merah menyala.
Setelah mengaktifkan Skillnya, Oriens kembali menyerang.
Merasakan hawa panas yang mulai membakar kulitnya, Allucard segera menggunakan (Blood Veil) yang membuat efek darah yang mengitari tubuhnya. Selain untuk pertahanan, Skill ini juga berguna untuk sedikit mengurangi hawa
panas yang datang kepadanya.
Melompat tinggi ke udara, Allucard sukses menghindari serangan Oriens sepenuhnya. Oriens yang ingin menyerang Allucard yang masih berada di udara mendapati ada sesuatu di bawah kakinya.
Booom!
Sebuah ledakan tercipta dari yang Allucard tinggalkan tepat sebelum dia melompat. Rasanya tidak
perlu disebutkan lagi siapa sebenarnya yang menciptakan item tersebut.
Tepat setelah dia mendarat Allucard segera melemparkan dua buah Throwing Knife tepat ke arah Oriens seharusnya berdiri.
Dari dalam asap yang tebal, Allucard mendengar suara Crang! Tanda kalau serangannya baru saja ditangkis.
Seketika [Danger Sense] miliknya berbunyi keras.
Melompat jauh kesamping, Allucard sukses menghindari sebuah tebasan berbentuk bulan sabit yang melelehkan apa pun yang dilaluinya. Melihat ke sumber serangan, Allucard mendapati kalau Oriens kini sudah menerjang langsung ke arahnya.
Suara logam berdentum dengan keras ketika pedang mereka saling beradu.
Karena (Overheat) yang Oriens aktifkan membuat Allucard tidak bisa beradu pedang terlalu lama dengannya. Berusaha untuk menjauh, namun Oriens tidak mengizinkannya.
Mereka berdua saling beradu serangan untuk beberapa saat. Dan dalam waktu yang singkat itu kulit Allucard yang sebelumnya pucat kini sudah terbakar merah.
Tidak tahan lagi, Allucard langsung menggunakan (Blood Wave) yang menghasilkan gelombang darah yang menyapu segala yang ada di sekitarnya.
Normalnya Skill ini akan mencabik-cabik semua lawan yang mengenainya. Tapi dalam kasus Oriens dia masih bisa berdiri tegap seolah itu tidak ada apa-apanya baginya. Malahan (Blood Wave) yang Allucard keluarkan seketika menguap sedetik setelah mereka menyentuh permukaan Armor Oriens.
Melihat kalau itu masih belum cukup, Allucard lalu mengaktifkan (Transformation) yang mengubah wujudnya menjadi kawanan kelelawar yang terbang menjauh dari Oriens.
Berusaha untuk menggagalkan rencana Allucard untuk kabur, Oriens segera menembakkan (Heat Wave) ke arah Allucard yang kini mengambil wujud sebagai kawanan kelelawar. Karena (Heat Wave) mencakup area yang luas,
membuat Allucard tidak mampu untuk menghindarinya sehingga dia dengan terpaksa kembali ke wujud aslinya dan berguling-guling di atas lantai.
(Blood Stake)
Tidak mau mengalah begitu saja, Allucard memunculkan pasak dari darah yang menyembul dari dalam tanah dan menerjang ke arah Oriens.
Sayang, sekali lagi serangannya menguap tepat setelah menyentuh Armor milik Oriens.
"Percuma sa..."
Belum sempat Oriens menyelesaikan perkataannya, dia dibuat terkejut oleh sebuah bola berwarna biru pucat yang melayang di hadapannya. Dengan [Danger Sense] miliknya yang berbunyi, Oriens segera meletakkan Greatswordnya tepat di hadapannya sebagai tameng.
Benar saja, tepat setelah dia melakukan itu. Bola berwarna biru pucat itu langsung meledak.
Akan tetapi, itu bukanlah ledakan biasa. Bukannya api merah yang keluar melainkan api biru yang membekukan segala yang dia sentuh.
Sssshhhhh... Suara mendesis keras terdengar ketika es itu berusaha untuk membekukan Armor Oriens. Akan tetapi panas yang dihasilkan oleh seorang Jenderal tidaklah selemah itu untuk dibekukan begitu saja. Seketika semua es itu meleleh dan menguap setelah menutupi tubuh Oriens untuk beberapa detik saja.
Meski begitu, Oriens tidak bisa merasa senang.
Itu karena es yang menguap telah menghasilkan asap tebal yang mengurangi jarak pandangnya.
Memanfaatkan asap tebal ini, wujud Allucard telah menghilang dari pandangannya.
Menajamkan semua inderanya, Oriens berusaha untuk mencari keberadaan Allucard di dalam asap.
"? Dia kabur!"
Menyadari kalau dia sudah tidak bisa lagi merasakan keberadaan Allucard, Oriens menjadi murka karena dirinya telah membiarkan musuh kabur begitu saja.
Terlebih...
Booom! Booom! Booom!
Suara ledakan mulai saling bersahutan bersamaan dengan kastil yang mulai bergetar hebat. Merasa tidak baik kalau dia berada tetap di dalam, Oriens pun segera bergegas keluar dari kastil.
Sepanjang jalan keluar Oriens mendapati kalau anak buahnya sudah bergelimpangan tidak bernyawa di atas lantai. Tidak lagi melirik ke arah bawahannya, Oriens mempercepat langkahnya karena suara ledakan masih terdengar dan getaran pada kastil mulai semakin membesar.
Tepat setelah Oriens berhasil keluar kastil dengan selamat, Kastil Matahari yang sudah menjadi kediamannya selama kurang dari sebulan ini kini telah terbakar hebat sebelum akhirnya runtuh rata dengan tanah.
Melihat ke arah sebuah bukit yang tidak jauh dari Kastil, Oriens menemukan sosok Allucard telah berdiri di sana sambil menatapnya dengan mata merahnya sebelum akhirnya berbalik dan menghilang ke balik bukit.
"Hah... Aku gagal yah"
Membayangkan hukuman apa yang akan dia terima, Oriens pun mengambil medali yang dia simpan di kantongnya. Itu adalah medali yang Yang Mulia berikan setelah dia menjadi anggota dari Empat Jenderal Besar.
Memandangi medali itu, Oriens melemparnya tinggi ke udara sebelum akhirnya menebasnya dengan Greatsword miliknya yang masih menyala merah.
Menyaksikan medali yang telah terbelah dua itu jatuh ke atas tanah, Oriens segera berpaling.
"Lebih baik aku menjadi buronan daripada menjadi monster buruk rupa"
Menanggalkan Armor emasnya, tujuan Oriens adalah ke arah Utara.
...
Kembali kepada Allucard.
Setelah sukses menjatuhkan Kastil Matahari, dia dan bersama pasukannya beristirahat sejenak sebelum akhirnya melanjutkan untuk menghancurkan reruntuhan yang tersisa.
Karena keamanan yang semakin ketat, membuat rencana mereka terhambat dan butuh waktu dua minggu sebelum akhirnya semua reruntuhan di bagian timur rata dengan tanah.
"Hah, itu sangat melelahkan..."
Allucard yang baru saja selesai melaporkan Questnya kepada Pangeran Draco kini sedang beristirahat di sebuah Kedai sederhana yang dikelola oleh Juni.
Karena Juni sekarang sedang Log Out, salah satu Locals yang menjadi muridnya yang kini sedang bertugas untuk menyambut pelanggan.
Menerima kopi hitam pesanannya, Allucard dengan lihainya memasukkan beberapa tetes darah ke dalam kopi ketika tidak ada yang melihatnya.
Hari saat ini sudah lewat tengah malam.
Karena kedai Juni itu buka sehari 24 jam, membuat Allucard bisa bebas bersantai di sini selama yang dia mau. Dan karena sudah larut, hanya ada Allucard bersama dengan pelayan yang mendapatkan Shift malam yang
sekarang sedang berada di kedai ini.
Dalam suasana yang tenang, Allucard mencoba mengingat kembali informasi apa saja yang dia terima ketika dia kembali ke kediaman Penyihir Lavender.
Semua reruntuhan di sisi Timur sudah habis tidak bersisa. Hal ini tentu adalah sebuah pukulan keras bagi Narsist Kingdom yang selama ini bergantung kepada item-item terkutuk demi memperkuat pasukan mereka.
Akan tetapi, hal yang sama tidak bisa dikatakan pada sisi Barat.
Berkat pengamanan ketat dari Jenderal Angin dari Utara, Borreas El Borras. Pasukan Pangeran Draco tidak mampu bergerak secara leluasa dan bahkan harus di tarik mundur.
"Masih ada 3 lagi..."
Hanya 3 lagi maka seluruh reruntuhan di Narsist Kingdom akan sirna sepenuhnya. Hanya saja itu bukanlah perkara yang mudah.
Itu karena salah satu dari 3 reruntuhan yang tersisa terletak tidak jauh dari Ibukota Narsist Kingdom. Terlebih itu adalah reruntuhan terbesar yang pernah ditemukan.
Satu reruntuhan itu saja sudah cukup untuk memasok seluruh pasukan Narsist Kingdom yang masih tersisa. Dan tentu saja reruntuhan seperti itu akan mendapatkan penjagaan yang paling ketat setara dengan penjagaan pada
Istana seorang Raja.
Dan yang paling sulit adalah reruntuhan itu yang dijaga langsung oleh Jenderal terakhir, Borreas.
Itu benar, dari Empat Jenderal Besar, kini hanya Borreas saja yang tersisa.
Jenderal Lautan dan Jenderal Daratan sudah gugur di medan perang. Sementara Jenderal Matahari baru saja dilaporkan gugur dalam tugas.
Akan tetapi, Allucard tidak setuju dengan yang terakhir.
"Mana mungkin orang itu gugur oleh api kecil itu"
Mengingat kali terakhir dia bertemu dengan Oriens, Allucard tahu benar kalau wanita itu sudah berhasil lolos dari kastil yang telah dia ledakkan. Dan dengan kepribadiannya mustahil baginya untuk bunuh diri karena gagal
dalam tugas.
"Apakah dia kabur? Tapi sebagai Jenderal dia seharusnya memiliki kesetiaan yang tinggi. Apakah dia dihabisi oleh Kerajaannya sendiri?"
Membayangkan semua kemungkinan yang ada, lamunannya terhenti ketika pintu kedai terbuka tanda seorang pelanggan baru telah tiba.
Penasaran akan orang seperti apa yang datang ke kedai malam-malam seperti ini selain dirinya, Allucard pun melirik ke arah pintu masuk.
Itu adalah sosok yang menggunakan tudung sehingga orang lain tidak bisa melihat wajahnya. Namun dari aroma dan perawakannya jelas terlihat kalau dia adalah seorang perempuan.
Selain menggunakan tudung yang terlihat masih baru, dia juga membawa sebuah Greatsword di punggungnya yang dia balut dengan kain.
Ini membuat Allucard gelisah.
"Selamat datang kembali, menu yang biasanya?"
Menyadari kalau pelayan kedai memperlakukannya sebagai langganan, Allucard menduga kalau orang itu sudah cukup sering mengunjungi kedai ini. Dan karena pelayan kedai tidak mengomentari tentang orang itu yang datang
larut malam, itu berarti dia juga selalu datang di jam yang sama.
Mengambil meja yang paling ujung, orang itu duduk dengan tenang menunggu pesanannya untuk datang.
Pada saat orang itu melirik Allucard dari balik tudungnya, dia langsung memalingkan badan seolah takut untuk melihat Allucard secara langsung.
Jika bisa maka Allucard akan mengabaikannya seperti yang orang itu inginkan. Tapi jelas sekali itu mustahil untuk dilakukan.
"Hah..." setelah mendesah lelah, Allucard pun membawa kopinya untuk duduk di meja yang sama dengan orang itu.
Duduk begitu saja di meja yang sama dengan orang itu, tindakan Allucard ini membuat orang itu menjadi tidak tenang. Bukan karena ada orang asing yang duduk satu meja dengannya tapi karena orang itu adalah Allucard.
Tidak berkata apa-apa orang itu lalu menundukkan kepalanya agar wajahnya tidak bisa dilihat oleh Allucard.
Allucard sendiri tanpa berbasa-basi langsung berkata.
"Apakah kau tahu kalau Vampire memiliki indra penciuman yang setara atau dalam beberapa kasus jauh lebih superior dari Beastman?"
Atas pernyataan dari Allucard, orang itu seketika menaikkan kepalanya yang membuat wajah di balik tudung itu menjadi terlihat jelas oleh Allucard.
Itu adalah sebuah wajah seorang wanita yang cantik jelita namun juga familiar.
Mengambil berkas yang dia simpan, Allucard lalu menyerahkannya kepada wanita itu.
"Mereka mengumumkan kalau kau sudah gugur dalam bertugas"
Mengambil berkas yang diberikan kepadanya, wanita itu mulai membacanya dengan cermat.
Karena berkas yang Allucard berikan hanyalah satu lembar, tidak butuh waktu lama baginya untuk membacanya sampai habis.
"Heh, apa ini? Mereka bahkan tidak berusaha untuk mencariku"
"Oh, apakah kau berniat untuk dicari?"
"Tentu saja tidak, buronan macam apa yang ingin keberadaannya diketahui? Hanya saja, aku berharap kalau mereka membentuk tim pencari walau hanya sementara sehingga aku bisa merasa sedikit dihargai"
Mengembalikan dokumen itu kepada Allucard, terlihat jelas kalau wajah cantiknya kini tampak cemberut.
Tidak lama setelah itu, pelayan kedai datang untuk membawa pesanan wanita itu. Melihat mereka berdua yang duduk bersama sambil mengobrol dengan akrab, pelayan itu mengira kalau mereka berdua adalah teman dekat.
Tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka, pelayan itu segera undur diri setelah dia selesai mengantarkan pesanan.
Setelah melihat pelayan itu pergi menjauh, barulah mereka melanjutkan obrolan mereka.
"Apa yang membuatmu meninggalkan posisimu? Aku pikir semua prajurit Kerajaan ini sedia mati demi Kerajaan mereka?"
"Apakah kau bercanda? Kalau hanya sekedar mati maka aku rela. Tapi kalau berubah menjadi monster buruk rupa, maaf saja. Wajah ini terlalu cantik untuk itu"
Tepat setelah dia mengatakan itu, wanita itu mengambil suapan pertamanya demi mengisi perut yang sebenarnya sudah keroncongan.
Menyaksikan rekan bicaranya yang sedang makan dengan lahap, Allucard kepikiran akan sesuatu.
"Jika kau bisa merasa seperti itu, kenapa semua prajurit yang kami temui selama ini akan langsung berubah tepat ketika mereka mulai dipojokkan?"
"Ah, kalau itu... Semua prajurit biasa dijanjikan akan mendapatkan hadiah yang menggiurkan bagi siapa saja yang mampu membawa kemenangan bagi Kerajaan ini"
"Alasan sepele seperti itu cukup untuk memancing mereka?"
"Tentu saja tidak! Walau memang benar kalau banyak yang termakan rayuan, tidak sedikit dari mereka yang memiliki otak yang berfungsi dengan benar dan menolak item yang dibagikan kepada mereka. Tentu saja orang seperti itu akan langsung dipenggal di tempat"
"Jadi begitu, aku kira awalnya kalian semua adalah sekumpulan patriotik yang punya kepercayaan buta kepada Kerajaan kalian"
"Hah, jangan bercanda! Begini-begini kami juga hanyalah Manusia biasa"
Setelah mengatakan itu dia kembali melanjutkan acara makannya. Walau dia sedang lapar sekalipun, cara makannya tetaplah terlihat anggun dan penuh dengan tata krama.
Melihat wanita yang ada di hadapannya, Allucard jadi bingung harus berbuat apa.
Mereka yang dulunya adalah musuh kini mampu duduk bersama di meja yang sama. Mereka yang awalnya berusaha saling membunuh kini mengobrol dengan damai.
Akan tetapi, Allucard tahu kalau dunia tidaklah sesederhana ini.
Meskipun dia mengaku sebagai buronan, tapi bisa saja dia hanya berbohong dan ini semua adalah akal-akalan Narsist Kingdom untuk mencari tahu posisi para penyusup yang menyerang mereka.
Oleh karena itu, Allucard harus selalu waspada dan tidak boleh menurunkan kewaspadaannya meski hanya sedikit.
"Kalau boleh tahu, kenapa kau menjadikan Kota ini sebagai tempat pelarianmu?"
Menelan makanan yang ada di mulutnya, barulah wanita itu bicara.
"Aku mendapatkan kabar angin kalau penguasa baru Kota ini adalah seorang revolusioner. Kurang dari sebulan dia menjabat, dia sudah mengubah kota busuk ini menjadi sebuah kota indah seperti ini. Dia bahkan membuat ikan
yang awalnya hanya dipandang sebagai makanan orang miskin menjadi makanan mewah yang sangat digemari. Aku juga dengar..."
Wanita itu mulai menjabarkan semua prestasi yang Penyihir Lavender telah lakukan. Terlihat matanya bercahaya ketika membicarakan semua ini.
Tampaknya dia sangat tertarik pada hal-hal yang telah Penyihir Lavender lakukan. Tapi tidak butuh waktu lama bagi Allucard untuk melihat alasannya yang sebenarnya.
"...Belum lagi pakaian yang bernama Bikini! Oh, aku hampir tidak bisa mempercayai kalau Pakaian terbuka itu bisa di anggap wajar sampai aku bisa melihatnya dengan mata kepalaku sendiri"
Tidak salah lagi, wanita itu adalah seorang warga Narsist Kingdom sejati.
Kembali meminum kopinya yang mulai dingin, Allucard dengan sabar mendengarkan semua yang wanita itu, Oriens katakan dengan penuh semangat.