
Akhirnya! Akhirnya! Akhirnya!
Akhirnya setelah sekian lama salah satu impianku bisa terwujud juga!
Cerita tentang seorang gadis desa biasa yang setelah bertemu dengan Ibu Peri atau Penyihir Baik dia tiba-tiba menjadi seorang gadis cantik dan berhasil merebut hati sang Pangeran hanya dalam waktu semalam saja.
Itu adalah sebuah cerita yang tidak kalah menariknya dari cerita tentang seorang Penyihir yang hendak menjatuhkan sang Tuan Putri dengan berbagai cara yang juga adalah alasan utama kenapa aku jadi mendambakan sosok Penyihir Idealku.
Walau sekarang aku masih belum menemukan Tuan Putri yang bisa aku jatuhkan, tapi setidaknya aku bisa membuat gadis desa biasa untuk menjadi seorang Tuan Putri.
Mau bagaimana lagi? Karena yang ada di hadapanku sekarang adalah seorang gadis bangsawan lugu yang jatuh dalam keterpurukan dan harus berjuang bermandikan keringat demi bisa bertahan hidup sambil merawat adiknya
yang masih kecil. Secara bersamaan dia juga masih mendambakan kehidupan mewahnya yang kini telah sirna.
Bukankah itu adalah bahan yang pas untuk cerita si Putri dan si Penyihir versiku sendiri?
"Perkenalkan, Penyihir dari Hutan Ibis, Lavender La Ciel. Alasanku datang kemari adalah untuk menawarkanmu cara untuk terbebas dari jerat kemiskinan dan mengangkatmu kembali menjadi seorang gadis Bangsawan sebagai mana kau seharusnya... Apakah kau tertarik?"
Gadis yang bernama Meno itu tampak waspada sambil menarik adiknya menjauh dariku.
"Ya ampun, tidak usah waspada seperti itu. Diriku bahkan sampai memberikan adikmu gaun sebagai wujud ketulusan hatiku"
Tidak bergeming, Meno malah berteriak ke arahku.
"Diam! Kau bilang kau adalah Penyihir (Witch) kan?! Kau pasti datang ke sini untuk memangsa aku dan adikku agar kau tetap bisa awet muda!"
Tunggu sebentar, apakah itu gambaran Penyihir di Kerajaan ini?
Astaga, pantas saja Nenek dan Bibi Asterids sangat benci Kerajaan ini.
"Oh Meno sayang, gambaranmu terhadap kami para Penyihir (Witch) tidak bisa lebih salah lagi. Jika memang benar kalau kami butuh untuk memangsa gadis muda agar tetap bisa tampak cantik, maka aku tidak akan repot-repot masuk ke dalam Narsist Kingdom yang semua gadisnya memiliki wajah yang cacat seperti kalian"
Atas perkataanku, sontak Meno menyentuh bekas luka yang ada di wajahnya.
Agar bisa lolos dari hukuman Ratu mereka, seluruh penduduk perempuan di Narsist Kingdom harus menorehkan luka di wajah mereka agar mereka tidak lagi 'cantik' dan lolos dari bawah pengawasan Ratu mereka yang sudah
gila akan kecantikan.
"Jika memang begitu, lalu kenapa kau berada di sini?!"
"Bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu. Aku tertarik kepadamu, Meno"
Sedikit demi sedikit Meno mengambil langkah mundur sambil menarik adiknya mendekat ke arah pintu keluar. Tanpa dia sadari kalau ternyata sudah terdapat sosok seorang Maid berambut hijau yang mengenakan topeng sudah menunggunya di depan pintu.
Sadar kalau ternyata sudah ada yang menghadang di pintu keluar, dengan panik Meno melirik ke arah jendela yang selalu dibiarkan terbuka... Hanya untuk mendapati seorang Maid lainnya yang memiliki kulit cokelat sudah berdiri di sana.
Dengan tidak ada lagi jalan keluar yang bisa digunakan, Meno memeluk adiknya lebih erat lagi sembari berusaha keras untuk melindunginya dariku.
Si adik kecil yang tidak tahu apa-apa dan masih tidak mengerti di situasi apa dia sekarang hanya bisa menatap wajah kakaknya dengan ekspresi penuh keheranan.
"Oh, Meno. Tidakkah kau ingin kembali ke kehidupanmu yang dulu? Bisa tidur di Kasur yang empuk, bisa selalu mengenakan pakaian mewah seperti yang adikmu sekarang kenakan, bisa bebas makan makanan yang sedap dan nikmat sampai perutmu menjadi buncit. Terakhir, kau tidak perlu lagi bekerja selayaknya rakyat jelata dan bisa kembali bersantai di rumahmu sendiri sambil dilayani oleh para Pelayan yang setia?"
Meno kini tampak ragu setelah mendengar penawaran dariku.
Walau dia masih waspada, tapi setidaknya aku tidak merasakan adanya rasa permusuhan darinya.
Baiklah, mari kita berikan sentuhan terakhir.
"Juga, di lingkungan manakah kau ingin adikmu itu tumbuh? Apakah kau ingin dia untuk tumbuh di dalam gubuk lusuh di luar perlindungan dinding Ibukota, atau kau ingin dia tumbuh di bawah naungan rumah mewah di pusat
Ibukota?"
Memandang wajah polos adiknya, lalu memandang gaun cantik yang adiknya kenakan. Terakhir, dia kembali melihat di mana dia sekarang berada.
Dan seolah mendukungku, adiknya pun dengan polosnya berkata kepada kakaknya.
"Kak, adek mau tinggal di rumah yang besar lagi. Adek tidak mau lagi tidur di Kasur keras dan harus mandi dengan air yang dingin lagi"
Berkat perkataan adiknya itu, keraguan di hati Meno pun seketika memudar. Tidak peduli bagaimana dia membuat dirinya terlihat tegar, aku yakin di dalam hati dua juga ingin kembali ke kehidupan lamanya.
Meski masih ada rasa waspada, tapi Meno tampaknya sudah membulatkan tekadnya.
"...Baiklah, jika semua yang kau katakan itu benar. Maka tolong, bantu kami mendapatkan kehidupan kami kembali!"
...
Hahahaha... Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa!
Tidak aku sangka aku mampu meyakinkan mereka hanya dengan sekali pertemuan. Aku menyangka aku harus berkali-kali datang untuk akhirnya bisa meyakinkan mereka untuk ikut bersamaku.
Sungguh, aku bahkan sempat kepikiran untuk membuat si adik sakit agar membuat si kakak putus asa dalam mencarikan obat untuk adiknya tercinta. Barulah nanti aku datang dengan obat yang akan aku berikan secara cuma-cuma dengan syarat agar mereka berdua mau menuruti segala perintahku.
Hah... Untungnya aku mampu meyakinkan mereka hanya dengan bayaran gaun murahan.
Aku sampai heran apakah kemampuan persuasiku memang sebagus ini?
•Skill**[Demonic Charm]**telah mencapai level 10. Mendapatkan 1SP•
Ah, jadi itu sebabnya.
"Baiklah, bisakah kau mulai menceritakan kepadaku bagaimana kau bisa berakhir menjadi rakyat jelata?"
Membawa Meno dan adiknya kembali ke Hotel tempat aku menginap, aku langsung meminta Victoria untuk memandikan mereka terlebih dahulu sebelum mengajak mereka makan malam.
Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan saat melihat si adik, Mana. Menjadi terharu karena akhirnya bisa kembali makan makanan yang layak setelah sebulan lamanya hidup susah. Meski dia menahannya, tapi masih bisa terlihat kalau Meno juga merasakan hal yang sama dengan adiknya.
Sekarang, setelah perut mereka kenyang. Mana langsung pergi tidur di kamar pribadinya yang sudah aku pinta untuk disediakan oleh pihak Hotel. Sedangkan Meno berada di kamarku agar bisa aku tanyai.
Jadi begitu, singkatnya ini adalah cerita klasik tentang perebutan kekuasaan antar saudara bangsawan.
Melihat keluarga saudaranya yang tiada dan hanya meninggalkan dua orang Putri yang Naïve dan Lugu, tentu saja si Monaco ini tidak akan melewatkan kesempatan emas seperti ini. Tanpa membuang waktu sedikitpun dia langsung bergerak untuk mengambil alih harta dan kekuasaan milik saudaranya yang telah tiada.
"Hmm... Itu artinya cara termudah untuk mengembalikanmu ke dunia Bangsawan adalah dengan cara menyingkirkan Pamanmu itu dan mengambil kembali segala yang telah dia renggut"
"Apakah memang sesederhana itu?"
"Tentu saja... Itu jika kau mau menggunakan cara yang aku sarankan. Jika kau mau menggunakan cara yang 'benar' dan 'sah' seperti Pengadilan atau semacamnya maka lupakan saja"
"Memangnya apa yang salah dengan cara yang benar itu?"
"Tentu saja semuanya salah! Di mata hukum, itu mungkin adalah cara yang 'benar'. Tapi pada akhirnya keputusan akhir berada di tangan Manusia itu sendiri. Jika kau memilih untuk membawa Pamanmu itu ke meja Pengadilan,
maka dia tanpa ragu akan menggunakan semua yang dia miliki untuk menjatuhkanmu.
Aku peringatkan, apa yang menyusahkan saat melawan Bangsawan dan orang kaya di pengadilan bukan hanya uang mereka, tapi juga koneksi mereka"
Meski sudah aku berikan penjelasan panjang lebar, Meno masih tampak tidak yakin akan langkah yang akan aku ambil.
Hah... Dasar bocah.
"Tidak apa-apa kalau sekarang kau masih tidak percaya kepadaku. Tapi, aku pastikan mulai minggu depan kau akan menuruti segala yang aku katakan"
Setelah itu aku langsung mengirimnya kembali ke kamarnya untuk tidur karena hari sudah sangat larut.
Dengan sosok Meno yang sudah pergi, aku pun memanggil dua burung hantu panggilanku untuk mencari informasi mengenai Baron Monaco ini.
...
Monaco Von Malaya.
Adalah seorang Baron yang mendapatkan wilayah berupa Pelabuhan kecil jauh di Utara Narsist Kingdom.
Bagi Bangsawan pada umumnya, mereka yang memiliki wilayah berbatasan langsung dengan lautan pasti akan bersyukur karena itu artinya mereka akan memiliki semua hak untuk memonopoli semua sumber daya yang tersedia di lautan yang luas.
Terlebih di Benua Libertas yang hampir semua wilayahnya dikelilingi oleh pegunungan. Wilayah yang dikuasai oleh Baron Monaco adalah satu-satunya wilayah yang berbatasan langsung dengan lautan dan bahkan memiliki sebuah Pelabuhan yang juga adalah satu-satunya Pelabuhan di seluruh Benua Libertas dibangun di sana.
Jika saja ini adalah Kerajaan lainnya, maka Baron Monaco pasti akan menjadi salah satu Bangsawan terkaya karena dia mampu untuk memonopoli seluruh lautan sesuka hatinya.
Sayang, ini adalah Narsist Kingdom yang kita bicarakan.
Mereka yang mengutamakan kecantikan di atas segalanya menolak segala macam hidangan laut dengan alasan "Ikan itu jorok" sehingga bisnis perikanan di sana tidak pernah maju.
Penolakan ini juga mengakibatkan harga ikan di pasaran menjadi sangat murah hingga harga satu ikan bisa jauh lebih murah ketimbang harga seonggok roti.
Hal itu membuat ikan menjadi makanan rakyat jelata yang semakin membuat para Bangsawan dan orang kaya lainnya menolak hidangan laut karena tidak mau disamakan dengan rakyat jelata yang kotor dan menjijikan.
Bahkan Baron Monaco sendiri juga menolak hidangan laut di meja makannya padahal itu adalah hidangan dari wilayah kekuasaannya sendiri.
Dengan tidak ada produk lain di wilayahnya yang bisa dia perdagangkan, membuatnya harus bergantung pada produk lautan sebagai penunjang utama perekonomian di wilayahnya.
Itu membuat Wilayah yang Baron Monaco kuasai terbilang miskin.
Jalanan di sana tidaklah terawat dan bahkan masih berupa jalan tanah yang becek dan susah untuk dilewati. Satu-satunya fasilitas umum yang ada di sana adalah sebuah Kuil tua yang kini sudah hampir ambruk jika bukan karena
usaha keras jemaatnya untuk menjaga tempat ibadah mereka.
Fasilitas umum lainnya adalah sebuah Pelabuhan kecil tempat kapal-kapal nelayan untuk berlabuh.
Meskipun Pelabuhan ini seharusnya adalah fasilitas terpenting yang ada di wilayah ini, Pelabuhan itu juga tidaklah begitu dipedulikan oleh Baron Monaco hingga selama lebih dari 10 tahun ini, Pelabuhan itu masih tidak berubah sedikitpun.
Jika bukan karena para nelayan yang selalu merawat Pelabuhan tempat mereka bekerja, maka Pelabuhan itu pasti sudah lama ambruk dan menghilang ditelan ombak.
Jika bukan karena ikan yang mereka tangkap setiap harinya, para Penduduk yang ada di sini pasti juga akan mengalami kelaparan karena wilayah itu tidak cocok untuk ditanami oleh tanaman pokok seperti gandum ataupun
kentang dan jagung.
Setiap hari melihat keadaan wilayahnya yang miskin ini membuat Baron Monaco setiap hari semakin mengutuk nasibnya yang sial.
Namun, bukannya berusaha keras untuk mengubah keadaan wilayahnya agar menjadi lebih baik, Baron Monaco malah selalu berpoya-poya dan menghabiskan semua uang yang wilayahnya miliki yang semakin memperparah kondisi perekonomian yang ada di sana.
Melihat adik perempuannya yang berkeluarga dengan seorang Viscount yang memiliki wilayah dekat dengan Ibukota, tiada hentinya dia mengutuk adiknya sendiri dan menyebutnya sebagai seorang pelacur murahan.
Ingin sekali dia bertukar posisi dengan suami adiknya itu.
Bukan dalam hal yang vulgar melainkan Baron Monaco menginginkan wilayah yang Viscount itu miliki.
Pada akhirnya saat-saat yang dia tunggu akhirnya tiba juga.
Dengan meninggalnya hampir semua keluarga Viscount itu, sangat mudah bagi Baron Monaco untuk menyingkirkan dua putri yang tersisa dan menempatkan dirinya di posisi suami adiknya itu. Walau pada akhirnya dia tetap tidak bisa memiliki gelar seorang Viscount, selama wilayah yang dia kuasai bertambah itu sama saja dengan sebuah kemenangan besar.
Meninggalkan kota Pelabuhan yang kotor, Baron Monaco kini pindah ke Ibukota.
...
Melihat kembali informasi yang aku dapatkan, seluruh strategi untuk mengembalikan Meno dan adiknya kembali menjadi Bangsawan seketika berubah sepenuhnya.
"Daripada mengambil kembali wilayah yang di ambil oleh Baron Monaco, bukankah akan lebih mudah untuk mengambil alih kota Pelabuhan yang kini telah 'ditinggalkan' olehnya?"
Saat aku mengatakan ini, Victoria dan Glory seketika membuat ekspresi heran seolah tidak mengeti apa yang baru saja aku ucapkan.
Terlebih Victoria... Aku kembali memasangkan