A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 38 : Traveling With Grandma



Sumpah, baru juga keluar rumah sudah dapat masalah saja.


Aku tahu kalau mereka membangun pasar disini, karena itulah aku mengirim Glaza untuk melihat keadaan.


Tapi ketika aku menemukan kerumunan yang tidak biasa, perasaan buruk pun muncul dan ketika aku mendengarkan lebih lanjut, aku tidak bisa menahan amarah yang mulai membara.


Jika saja nenek tidak ada disini, babi sialan itu pasti sudah tamat!


"Katakan kepadaku, ada keperluan apa hingga engkau membuat keributan di halaman orang lain?"


Atas perkataanku, babi itu hanya bisa menggertakkan giginya sambil berkeringat deras yang kalau boleh jujur, itu menjijikkan.


Tidak bisakah aku membakarnya sekarang juga?


"Tunggu! Penyihir ini, dia bukanlah Manusia melainkan iblis!!!"


Oh, pendeta tua itu hebat juga bisa mengetahui rasku hanya dengan sekali lihat.


Mendengar perkataannya, semua orang seketika mengambil langkah mundur dan menyiapkan senjata mereka. Bagi mereka yang bukan petarung, mereka segera mencari tempat aman tapi masih cukup dekat untuk menonton.


Sedangkan untuk si babi... Oh!


"Uskup Sussy, apakah itu benar?"


"Tidak salah lagi, Mana yang ada di dalam dirinya adalah Mana iblis!"


"Heh, hampir saja aku terkecoh. Kurasa iblis itu telah merampok salah satu kereta milik Sol Ciel. Setelah mengalahkan iblis itu dan mengembalikannya kepada mereka, hadiah apa yang akan aku dapatkan yah?"


"Tenangkan dirimu! Jangan menghitung ayam sebelum telurnya menetas! Semua Petualang yang ada disini, mohon bantuannya! Kita harus melenyapkan iblis ini disini dan sekarang juga!"


Meski hatinya gelap, tapi dedikasinya terhadap pekerjaan tampak nyata.


Akan aku berikan pujian untuk itu.


Para Petualang yang ada disini menjadi semakin tegang dan nampak siap untuk menyerang kapan saja.


Menanggapi ini, para Pelayanku segera turun untuk melindungiku terkecuali Zweite yang masih di atas kereta. Selain karena posisinya yang lebih tinggi, dia juga bertugas untuk melindungi nenek.


Sayang, jika saja ini adalah waktu biasa, aku pasti dengan senang hati akan meladeninya.


"Tampaknya ada kesalahpahaman disini, memang benar adanya kalau diriku adalah seorang Iblis (Demon), tapi fakta kalau aku berasal dari Sol Ciel juga benar adanya!"


"Iblis pembohong, memang kami akan percaya padamu!"


"Apa yang anak ini katakan memanglah benar"


Nenek yang sedari tadi masih di dalam kereta akhirnya naik ke atas panggung.


Saat melihat nenek turun dari kereta, semua orang jadi terdiam dan secara tidak sadar menurunkan senjata mereka.


Bukan karena penampilan nenek yang seperti anak kecil, tapi karena saat turun nenek mengeluarkan aura yang mengintimidasi sehingga mereka yang lemah hanya bisa diam dan menurut.


Sedangkan untuk si babi dan pendeta...


Kalau pendeta tua itu sih tidak apa-apa. Tapi bisakah aku menghanguskan babi itu sekarang juga?


"Tidak hanya memprovokasi orang-orang untuk menjalankan rencana jelekmu itu, kau bahkan tidak berusaha untuk menyembunyikannya! Terlebih, kau pikir aku tidak mendengar apa yang kau gumamkan?"


Ceramah nenek masih berlanjut. Aku akan mengampuni kalian untuk mendengarkannya karena aku sendiri juga tidak mendengarkan isi dari ceramah nenek.


Karena si babi dan pendeta itu tidak membuat masalah yang sebenarnya, mereka pun diampuni dan hanya disuruh untuk segera beranjak dari wilayah kota Gata dan kembali ke tempat asal mereka.


Hah! Mana mungkin!


Selain membuat keributan di wilayah orang lain, mereka bahkan menyinggung Penyihir terkuat tepat di hadapan orangnya sendiri.


Dengan semua itu, bahkan dinginnya penjara masih terbilang ringan untuk mereka.


Untuk motif mereka untuk melakukan hal seperti ini, sama seperti cerita klasik lainnya. Mereka iri akan kota Gata yang mulai makmur dan hendak menyabotase kota ini dengan cara menyebarkan rumor buruk dan sebagainya


yang pada akhirnya akan berubah menjadi keuntungan bagi mereka.


Jika saja mereka lebih cerdas lagi maka situasi mungkin akan menjadi menarik. Tapi dari apa yang aku lihat, kurasa mereka tidak memiliki otak yang mumpuni untuk merancang rencana yang lebih baik.


Melihat mereka di arak oleh prajurit dari kota Gata, kerumunan pun perlahan memudar dan kembali seperti semula.


Meski terdapat sedikit hambatan yang tidak berarti, kali ini kami akhirnya benar-benar berangkat.


...


Pada akhirnya kami berhasil keluar dari wilayah kota Gata dengan aman tanpa hambatan apa pun. Bahkan tidak ada Mobs ataupun bandit yang mencoba untuk menghalangi jalan.


Ha... Perjalanan damai seperti ini memang yang paling ideal.


"Baiklah, karena engkau tampak bosan, nenek sudah menyiapkan bahan bacaan untuk mengisi waktu luang"


Apa yang nenek serahkan kepadaku adalah setumpuk buku tebal.


Membaca judulnya... Sejarah dunia, Hubungan antar Kerajaan, Geografi dunia, dll.


"Nek, ini..."


Melihat senyuman nenek yang menyilaukan hingga membuatku terbayang kalau itu adalah senyuman dari seorang iblis, dengan patuh aku mulai membaca.


Jika saja ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan sihir, aku masih bisa semangat saat membacanya.


Tapi, dari judulnya saja sudah jelas apa isi dari buku-buku ini.


"Apa yang kurang darimu adalah pengetahuan, dengan pengetahuan kau bisa..."


...nek, ini disuruh baca atau mendengar ceramah?


Tentu saja aku tidak bisa mengatakannya, jadi aku hanya bisa membaca dengan tenang sambil pura-pura mendengarkan apa yang nenek katakan.


...


Tanpa peringatan sedikit pun, kereta tiba-tiba saja berhenti. Nenek hampir saja menumpahkan minuman yang dia pegang sementara tumpukan buku tebal di sampingku jatuh berantakan di lantai kereta.


Saat aku bertanya kenapa...


"Master, maaf, tapi terdapat rombongan orang yang menghalangi jalan"


Oh, apakah sudah saatnya bandit muncul?


Baguslah, aku juga sudah mulai bosan.


Akan tetapi, apa yang aku lihat bukanlah apa yang aku harapkan.


Mereka bukanlah bandit. Melainkan rombongan orang yang hampir semuanya mengenakan pakaian yang tidak layak. Mereka terdiri dari orang tua, wanita dan anak-anak. Aku tidak melihat adanya pria muda di antara mereka. Bahkan jika ada sekalipun, mereka berada dalam kondisi yang terbilang menyedihkan.


Yang paling mengejutkan adalah jumlah mereka yang mencapai ratusan.


Saat aku memberitahukan ini kepada nenek, beliau menyuruhku untuk turun dan bersama kami menghampiri mereka.


"Katakan, siapa kalian dan apa tujuan kalian menghalangi jalan kami?"


Atas perkataan nenek, seorang pria tua yang tampaknya adalah pemimpin dari rombongan ini maju ke depan.


"Maafkan kami wahai Penyihir terhormat, kami adalah pengungsi dari Narsist Kingdom. Kami kabur karena perlakuan tidak pantas yang kami dapatkan..."


Belum sempat dia menyelesaikan perkataannya, aku segera menyiapkan Staffku dan siap untuk membantai mereka semua dalam satu serangan.


Mengikutiku, para Pelayanku segera masuk dalam formasi dan bersiap untuk bertarung.


Melihat ini, pria tua dan para 'pengungsi' lainnya menjadi ketakutan dan tidak tahu apa yang sedang terjadi.


Sedangkan untuk nenek, beliau masih tampak tenang dan mulai kembali bicara.


"Engkau berkata kalau kalian berasal dari Narsist Kingdom, apakah itu benar?"


"Be-benar sekali. Ka-kami tidak berbohong!"


"Kalau begitu jawab pertanyaan ini, bagaimana bisa kalian bisa melewati Ferox Kingdom, melewati perbatasan dan sampai di ujung Drakon Kingdom tanpa ketahuan? Terlebih dengan situasi perang seperti ini, tampaknya mustahil


bagi kalian untuk bisa sampai ke sini"


"Perang!"


Mendengar apa yang dikatakan nenek, mereka jadi terkejut dan kehilangan kata-kata. Bahkan aku melihat ada yang sampai meringkuk di atas tanah sambil menggenggam kepalanya dengan histeris.


Jangan bilang kalau mereka tidak tahu kalau kerajaan mereka sedang berperang?


Setelah mereka mulai tenang, si pria tua mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Mereka adalah penduduk Narsist Kingdom yang dinilai gagal dalam menjaga kecantikan mereka. Jika dalam istilah umum, mereka adalah gelandang.


Di negara atau kerajaan mana pun, gelandang adalah perusak pemandangan.


Bagi Narsist Kingdom yang mengejar keindahan dan kecantikan di atas segalanya, keberadaan mereka tentu adalah duri dalam daging.


Oleh karena itu, mereka mendapatkan perlakuan yang lebih rendah daripada manusia.


Mereka diperlakukan seperti sampah berjalan yang bahkan orang-orang yang ada di sana tidak mau menyentuh mereka dan tiada hentinya menghina mereka siang dan malam.


Karena tidak tahan akan apa yang mereka alami selama ini, mereka memutuskan untuk kabur dari kerajaan mereka sendiri dan berharap bisa mencari suaka di kerajaan lain.


Meski begitu, sebagai penduduk asli dari Narsist Kingdom, mustahil bagi mereka untuk pergi ke Sanguine atau Ferox Kingdom yang mana di dominasi oleh ras selain Manusia.


Satu-satunya harapan mereka yang tersisa adalah Drakon Kingdom yang mana di dominasi oleh ras Manusia.


Mereka memotong jalan melewati gurun dan mendaki gunung demi agar bisa sampai kemari.


"Tunggu sebentar, jangan bilang kalian berjalan melalui Ancient Desert dan Thousand Mountain hanya untuk bisa sampai kemari?"


Pria tua itu hanya mengangguk.


Ancient Desert adalah sebuah gurun yang sangat luas hingga melebihi wilayah kerajaan mana pun. Sedangkan Thousand Mountain adalah deretan pegunungan yang berada di sisi barat dari Drakon Kingdom.


Medan yang mereka lalui tentu tidaklah mudah bahkan terbilang berbahaya.


"Jadi, apa yang kalian hendak lakukan selanjutnya?"


"Jika memungkinkan, kami ingin menuju kota terdekat untuk mencari tempat tinggal baru"


Menolong mereka tentu bukanlah pilihan.


Selain karena kami sedang terburu-buru, kami (Nenek) yang secara teknis merupakan warga dari Sanguine Kingdom tidak punya otoritas apa pun disini.


Oleh karena itu, nenek hanya memberitahukan kepada mereka arah menuju kota Gata. Setelah itu mereka bebas untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan.


Setelah berpamitan, kami pun melanjutkan perjalanan.


...


Selama tiga hari penuh, kami melaju dengan damai tanpa hambatan yang berarti. Walaupun terkadang ada Mobs yang mencoba menghadang, para Pelayanku sudah lebih dari cukup untuk mengatasinya.


Pada akhirnya, kami tiba di kota Adler.


Kota ini tidak punya keunggulan khusus, hanya sebuah kota biasa yang dipenuhi oleh orang-orang... penuh dengan orang-orang?


Terlihat jelas kerumunan massa yang hampir semuanya mengenakan pakaian tidak layak yang membuat mereka terlihat seperti kerumunan pengemis.


"Tampaknya para pengungsi itu juga mencapai kota ini"


Seperti yang nenek bilang, mereka kemungkinan besar adalah rombongan pengungsi lainnya yang mencoba mencari suaka.


Tapi sayang, mereka tertahan di gerbang depan karena tidak diizinkan masuk.


Melihat tidak adanya tenda yang berdiri, aman dikatakan kalau mereka baru datang hari ini.


Tidak memedulikan mereka, kereta kami terus melaju membelah lautan manusia hingga mencapai gerbang kota.


Karena kereta yang kami pakai terbilang mewah, ditambah dengan lambang Sol Ciel yang tertera di bagian samping kereta, tidak memakan waktu lama bagi kami untuk diizinkan masuk ke dalam kota.


Sebelum itu...


"Menjauh dari gerbang dasar pengemis!"


Para penjaga menembakkan panah ke tengah kerumunan yang seketika membuat mereka mundur dan menciptakan ruang yang aman bagi para penjaga untuk membukakan gerbang.


Aku harus memuji prajurit yang menembakkan panah karena mampu menembak ke tengah kerumunan tanpa mengenai seorangpun.


Di tengah cemoohan para pengungsi, kami akhirnya masuk ke kota dengan aman.


"Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang kalian rasakan. Para pengungsi itu tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan meminta untuk membukakan gerbang"


Tanpa hentinya meminta maaf seolah-olah ini adalah kesalahannya, Walikota dari kota Adler menyambut kami dengan sebuah jamuan sederhana di kediamannya.


"Tidak masalah, di perjalanan pun kami juga menemui rombongan pengungsi yang sedang menuju ke kota Gata"


"Begitu, jadi begitu..."


Nenek dan pak Walikota pun mendiskusikan tentang masalah ini untuk waktu yang lama.


Aku?


Aku sedang sibuk menikmati makan malam sambil menemani ibu Walikota yang senang menggosip. Sungguh, kenapa semua ibu-ibu suka sekali bergosip?


Pada akhirnya kami harus bermalam selama beberapa hari untuk membantu menyelesaikan masalah ini.


Keputusan akhir yang mereka dapatkan adalah dengan membuat sebuah kawasan pedesaan yang tidak jauh dari kota yang dekat dengan sumber air dan meminta mereka untuk mengolahnya sendiri.


Tentu saja Walikota sudah membekali mereka dengan benih untuk di tanam dan hewan untuk diternakkan.


Sedangkan untuk tempat tinggal mereka...


•Skill [Stone Magic] telah mencapai level 20, mendapatkan 1SP•


•Skill [Forest Magic] telah mencapai level 10, mendapatkan 1SP•


•Mendapatkan (Stakes Wave) dari [Stone Magic]•


Yup, itu menjelaskan semuanya.


Setelah semua kerja keras yang aku lakukan, yang kami dapatkan hanyalah beberapa kantung uang serta persediaan makanan untuk perjalanan selama seminggu.


Hanya itu?


Karena keputusan tidak berada di tanganku, aku hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua negosiasi kepada nenek.


Setelah semua sudah selesai, kami akhirnya kembali melanjutkan perjalanan.


...


Pada akhirnya kami sampai di hutan Barriere.


Hutan ini adalah pembatas alami antara Drakon Kingdom dengan Ferox Kingdom.


Oleh karena itu, terdapat pos penjaga perbatasan yang berdiri di sana.


Setelah melewati hutan ini, kami akan sampai ke Ferox Kingdom sebelum akhirnya menuju ke Sanguine Kingdom.


Akan tetapi...


"Bukankah ada terlalu banyak prajurit di sini?"


Aku tahu kalau ini adalah perbatasan antar kerajaan. Tapi jumlah prajurit yang berjaga sudah melebihi angka ribuan atau bahkan sudah mendekati angka lima digit.


Bahkan aku juga bisa melihat Petualang yang berbaur dengan para prajurit.


Tidak jauh dari mereka, terdapat kumpulan kereta kuda yang juga tertahan seperti kami. Kebanyakan dari mereka adalah rombongan pedagang atau wisatawan dan sisanya adalah kereta militer yang digunakan untuk membawa


perbekalan untuk para prajurit.


Mereka semua tampak tegang.


Terlihat mereka sedang membangun semacam blokade yang biasa terlihat di adegan pengepungan... Jangan bilang?!


Aku lalu memerintahkan Zweite untuk pergi dan bertanya apa gerangan yang sebenarnya terjadi.


Setelah pergi untuk beberapa saat, Zweite akhirnya kembali sambil membawa sebuah informasi yang mengejutkan.


Tampaknya terjadi insiden dimana Mobs dari berbagai spesies saling berkumpul dalam sebuah kelompok besar dan mulai menyerang pemukiman terdekat.


Insiden ini bernama Wave.


Setelah mengetahui pertanda adanya Wave, pihak kerajaan mengirim prajurit dan Petualang untuk menghadang Wave itu.


"Begitu, merepotkan tapi kita tidak bisa diam saja, kita akan membantu mereka"


"Siap"


Dengan begitu, kami segera menuju pos penjaga untuk menyampaikan niat kami kepada komandan pasukan. Setelah mengetahui identitas nenek, kami segera diantarkan kepada komandan mereka.


"Oh... Sungguh sebuah mukjizat. Tidak kusangka kalau Pemimpin Sol Ciel akan berbaik hati dan membantu kami dalam mengatasi cobaan ini"


Seorang pria kekar dengan Armor mewah menyambut kami dengan penuh semangat. Jelas dia adalah komandannya. Yang menjadi masalah adalah Armor yang dia kenakan. Itu jelas hanyalah hiasan tanpa kemampuan untuk melindungi sebagaimana sebuah Armor yang seharusnya.


"Jangan lah berlebihan. Mengatasi Wave adalah kewajiban bersama"


Setelah bertukar sapaan singkat, nenek segera membahas tentang strategi bersama dengan si komandan.


Oh iya, jika kalian bertanya, nama komandannya adalah Onlay.


Meski aku tidak begitu mengerti tentang operasi militer selain yang aku lihat dari film, strategi yang dibuat oleh Onlay terdengar cukup bagus bagiku.


Mereka mengirim orang masuk ke dalam hutan untuk menggiring para Mobs untuk menuju ke blokade secara langsung tanpa membiarkan mereka untuk menyebar. Dengan begitu fokus pertahanan hanya akan tertuju pada bagian yang sudah di blokade.


Setelah itu mereka akan fokus bertahan sampai Wave mereda.


Sederhana tapi efektif.


"Strategi yang bagus, tapi dengan tidak adanya dinding penjaga, masih terdapat kemungkinan ada Mobs yang berhasil lolos dan menyerang dari samping blokade"


"Kami tahu itu, hanya saja membutuhkan waktu untuk membangun dinding dengan sihir. Terlebih (Stone Wall) yang di bangun oleh ahli sihir (Mage) kami tidak cukup kokoh untuk menahan serbuan sekelas Wave"


"Tenang saja, saya punya solusi untuk itu"


Umm... Nenek, nenek tidak mungkin serius kan?!


...


..


.


(Nature Fortress)


Terima kasih, berkat itu aku memiliki satu sihir baru lagi.


Terinspirasi dari cerita putri tidur, aku menciptakan sebuah dinding berduri setinggi lebih dari 10 meter.


Meskipun aku bilang berduri, tapi itu hanya di bagian luarnya saja. Bagian dalam bebas dari duri dan aku juga bisa membuat tangga yang memungkinkan para prajurit untuk naik ke bagian atas sehingga mereka bisa memborbardir


para Mobs yang datang dengan menggunakan panah maupun sihir.


Untuk berapa panjang benteng ini, aku perkirakan sekitar 10 km lebih?


Setidaknya sekarang aku yakin tidak peduli berapa banyak Mobs yang menyerbu, mereka tidak akan bisa lewat dengan mudah. Terlebih dengan tidak adanya gerbang membuat mereka tidak bisa memfokuskan serangan mereka pada satu tempat.


Untuk berapa lama benteng ini akan bertahan, selama tidak tertembus... Selamanya.


Hal itu dikarenakan (Nature Fortress) buatanku ini merupakan benteng hidup. Jadi bisa bertahan selama terdapat nutrisi di tanah untuk menunjang hidup mereka layaknya pohon biasa.


Baiklah, karena aku sudah menghabiskan lebih dari 90% Mana ku, aku ingin tidur.


Selamat malam.