A Journey Of A Delusional Witch

A Journey Of A Delusional Witch
Chapter 78 : Let's Play at the Casino



Sambil di bantu oleh Zweite, aku mengenakan gaun baru yang aku beli siang tadi.


Gaun yang aku kenakan adalah gaun panjang berwarna ungu yang dihiasi oleh kristal-kristal kecil yang akan bersinar ketika berada di bawah cahaya.


Tidak lupa aku mengenakan sarung tangan yang panjangnya sampai menutupi sikuku dengan warna yang sama dengan gaunku. Selanjutnya aku juga mengenakan sepatu hak tinggi berwarna hitam yang mana butuh waktu bagiku untuk terbiasa berjalan saat mengenakannya.


Lalu inilah yang paling menyusahkan.


Yaitu mengenakan segala macam aksesoris dan pernak-pernik agar penampilanku tampak meriah. Jika bukan karena bantuan dari Zweite maka mungkin butuh berjam-jam bagi diriku agar bisa mengenakannya.


Tentu saja aku tidak akan menjelaskan aksesoris apa saja yang aku kenakan karena bahkan aku sendiri saja tidak tahu apa sebenarnya yang sedang aku kenakan.


Yang jelas


salah satu aksesoris yang aku kenakan adalah semacam mahkota tebal yang dihiasi oleh bulu burung yang aku kenakan untuk menutupi yang kini aku ubah bentuknya menjadi tali yang kecil yang melilit kepalaku.


Aku benci benda seperti mahkota ini. Rasanya berat dan aneh di kepala.


Sumpah ini Kerajaan butuh reformasi fashion sesegera mungkin.


Juga, siapa sih bajingan yang memulai kebiasaan sialan ini?


Selagi Zweite memasangkan aksesoris kepadaku, aku melirik Luna yang saat ini juga tengah di dandani oleh Victoria.


Apa yang dia kenakan sekarang adalah sebuah gaun Gothic Lolita hitam yang penuh renda yang bahkan melebihi gaun yang dia kenakan tadi siang. Agak lucu melihat Victoria yang kesusahan saat membantu Luna karena walau


tangannya sekarang tampak normal, tapi tangan aslinya tetaplah seperti tangan seekor kadal yang enyusahkannya dalam melakukan kegiatan yang memerlukan ketelitian.


Sehabis berpakaian, kini saatnya untuk merias wajah.


Karena aku biasanya tidak menggunakan kosmetik apa-apa, ini akan menjadi kali pertama aku akan merias wajahku habis-habisan.


Meski begitu, aku tetap tidak akan menutupi wajahku dengan riasan tebal seolah ingin memasak ayam goreng. Aku hanya akan mengaplikasikan riasan tipis pada wajahku terkecuali lipstick dan eyeliner yang berwarna ungu


terang agar aku terlihat sedikit mencolok.


Nenek pasti akan terkejut kalau melihat penampilanku yang sekarang. Sedangkan kalau Mama yang melihat ini... Aku tidak ingin membayangkannya.


Untuk Luna, wajahnya dirias hingga membuat dirinya seperti seorang anak gothic yang kelam dan sok misterius agar menyesuaikan dengan gaun yang dia kenakan.


Hah... Walau sudah berdandan habis-habisan seperti ini, pada akhirnya setengah wajahku tidak akan terlihat karena tertutup oleh topeng.


Benar juga, kalau soal topeng, aku kembali membuat topeng baru untuk diriku dan Luna.


Topengku yang baru memberikan kesan glamour sedangkan topeng milik Luna memberikan kesan kelam.


Sehabis berdandan, kami pun segera pergi ke kasino yang ada di sebelah hotel.


Sampai di depan kasino, aku kembali dibuat takjub akan gaya arsitektur mereka yang sangat abstrak dan jauh dari kesan fantasi.


Sambil di kawal oleh Percy dan Zweite, kami pun dengan anggun masuk ke dalam kasino.


Apa yang menyambut kami di dalam adalah sebuah aula besar yang terlihat megah dan berkilau. Sayang, pemandangan megah ini tidak bisa dinikmati sepenuhnya karena orang-orang dengan riasan meriah memenuhi aula ini hingga membuat aula ini penuh sesak akan pengunjung yang asyik bermain game.


Permainan yang tersedia di sini tampak asing bagi diriku.


Tampaknya dunia ini memiliki permainannya tersendiri yang berbeda dari permainan yang ada di dunia sana.


Yah, tidak ada salahnya belajar permainan baru. Aku harap tingkat kesulitannya lebih rendah ketimbang yang ada di dunia sana.


Aku sekarang memiliki keping kasino dengan total nilai setara dengan 100 juta.


Keping kasino ini tidaklah terbuat dari bahan logam maupun kayu. Melainkan terbuat dari plastik yang tidak aku sangka akan aku temui di dunia ini.


"Ini keping senilai 10 juta. Kalau ada permainan yang menarik perhatianmu maka silahkan bermain"


Menyerahkan keping senilai 10 juta kepada Luna, aku pun segera melihat-lihat permainan apa yang sekiranya bisa aku mainkan.


Meski aku sudah menyerahkan keping untuk bermain, Luna tampaknya masih tidak mau terpisah dariku dan berjalan mengiringiku.


Setelah berkeliling sebentar, aku mendapati sebuah meja yang sedang memainkan permainan kartu yang belum pernah aku lihat sebelumnya.


Kartu yang mereka mainkan tidaklah memiliki nilai angka melainkan menggunakan gambar hewan-hewan mistik dengan bentuk yang unik dan indah.


Karena meja sudah penuh, aku hanya melihat dari samping bersama para penonton lainnya.


Aku menggunakan kesempatan ini untuk menonton sekaligus mempelajari bagaimana peraturan dari permainan kartu ini.


Setelah menonton untuk beberapa waktu, aku jadi tahu kalau permainan ini bernama Nature Law. Singkatnya ini adalah permainan yang mengharuskan pemain untuk memilih hewan dalam kategori Karnivora, Herbivora, dan


Omnivora.


Masing-masing pemain dan bandar akan memilih satu kartu dari tangan mereka dan meletakkannya ke atas meja dalam keadaan tertelungkup.


Fokus utama dalam permainan ini adalah untuk mengalahkan si bandar.


Para pemain harus pintar dalam memilih kartu apa yang akan efektif dalam mengalahkan kartu si bandar.


Jika bandar memilih kartu Karnivora, maka pemain harus menggunakan kartu Omnivora untuk bisa menang. Jika bandar menggunakan kartu Herbivora, maka pemain harus menggunakan Karnivora. Dan jika bandar menggunakan


Omnivora, maka pemain harus menggunakan Herbivora.


Singkatnya : Karnivora → Herbivora → Omnivora → Karnivora.


Aku tidak mengerti bagaimana bisa Herbivora mengalahkan Omnivora dan bagaimana bisa Omnivora bisa mengalahkan Karnivora. Tapi karena bukan aku yang membuat permainan ini maka aku hanya bisa diam.


Juga, bukankah permainan ini sejatinya hanya sekedar batu gunting kertas versi kartu?


Tidak lama salah satu pemain yang duduk di meja akhirnya kehabisan kepingnya dan dengan terpaksa harus menyerah.


"Kursi telah kosong, apakah ada dari para penonton yang mau menggantikan posisinya?"


...


Mengunjungi kasino bersama Guru, aku merasa kalau aku tidak seharusnya berada di sini.


Selagi aku masih belajar di Sol Ciel selalu saja melapisi diriku dengan [Illusion Magic] agar keberadaanku tidak terlihat oleh orang lain. Itu aku lakukan agar tidak ada yang memulai pembicaraan denganku dan agar aku tidak dikerumuni oleh banyak orang.


Bukannya aku tidak ingin berteman, hanya saja aku tidak tahu bagaimana caranya.


Aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk memulai percakapan dan akan merasa canggung jika tiba-tiba diajak bicara.


Terlebih dengan latar belakangku yang berasal dari ras Setan (Devil). Yang lebih parah lagi adalah darah setan (Devil) yang aku warisi adalah darah seorang Succubus. Setiap kali ada yang mengetahui fakta ini, mereka


pasti mengira kalau aku adalah orang mesum yang punya banyak pengalaman dalam urusan percintaan.


Yang mana itu semua adalah salah dan selalu ditanyai begitu membuatku merasa tidak nyaman.


Oleh karena itu aku membuat diriku tidak terlihat agar tidak ada yang mendekatiku dan memaksaku untuk masuk ke dalam sebuah percakapan.


Walau berkat itu hampir tidak ada yang mengingat keberadaanku, tapi setidaknya ini lebih baik ketimbang mereka yang dengan sengaja menghindariku karena tidak suka denganku.


Namun, sekarang, kehidupan sepi itu tidak lagi bisa aku rasakan.


Aku yang telah menjadi murid seorang Ciel secara otomatis menjadi pusat perhatian. Aku yakin orang-orang di Sol Ciel sekarang pasti tengah sibuk membicarakanku. Jika mereka sampai melihatku, mereka pasti akan mengerumuniku dan membanjiriku dengan beribu pertanyaan sama seperti yang mereka lakukan terhadap Clara sebelumnya.


Dan sekarang, dengan mengenakan gaun mewah yang cantik aku berdiri di tengah-tengah orang kaya yang berpakaian sama mewahnya dengan yang aku kenakan.


Pemandangan kasino yang penuh cahaya gemerlap ini jauh berbeda dari pemandangan hutan yang asri yang selama ini aku lihat.


"Pemenangnya adalah Nona Malika!"


Ekspresi senang tergambar di wajah Guru ketika kemenangannya diumumkan. Setelah dua kali kalah, kemenangan pertamanya pasti terasa manis baginya karena rasa bahagianya sampai tidak bisa ditutupi oleh topeng yang dia kenakan.


Terhanyut oleh kemenangan pertamanya, Guru pun kembali bertaruh.


Aku tidak tahu harus berapa lama lagi aku harus berdiri di sini. Melihat sikap Guru yang sekarang, aku yakin dia akan terus bertaruh sampai dia puas atau sampai uangnya terkuras.


Beberapa minggu menghabiskan waktu bersama Guru, aku mulai paham akan kepribadiannya.


Tidak seperti Nona Rosemary yang selalu bersikap baik hingga membuatnya tampak sempurna serta selalu menjalankan Quest yang diberikan kepadanya dengan serius, Master hanya tampil anggun jika dia berada di acara resmi saja.


Saat Guru sedang senggang atau saat dia tidak sedang belajar serta melakukan eksperimen, Guru akan melakukan hal yang acak hingga aku tidak tahu lagi apa yang sebenarnya dia pikirkan.


Terkadang Guru hanya akan bersantai seperti di pantai, terkadang Guru akan membuat item-item aneh menggunakan [Alchemy] hanya untuk mengisi waktu luang, dan yang paling sering adalah Guru akan


menyiksa budak-budaknya dengan hukuman yang aneh meski mereka sebenarnya tidak salah apa-apa.


Bahkan saat Guru mendapatkan Quest dari Ketua Cardinal sekalipun, dia akan selalu menemukan cara untuk bersenang-senang seperti saat ini.


Meski sikapnya seperti itu, Guru sebenarnya adalah seorang pekerja keras yang selalu menjalankan tugasnya dengan penuh perhatian.


Bahkan saat ini saja aku yakin Guru sedang mengumpulkan informasi seperti saat pagi ini dia mengirim familiarnya untuk memata-matai reruntuhan kuno yang menjadi sumber utama Narsist Kingdom mendapatkan item-item terkutuk mereka.


Walau ini hanya kebetulan, berkat Guru yang mengajakku berbelanja pakaian membuat kami jadi mengetahui kalau ternyata Pangeran dari Drakon Kingdom telah mengkhianati Kerajaannya sendiri dan sekarang telah bergabung dengan Narsist Kingdom.


Tapi, fakta kalau aku sedang senggang tetap tidak berubah.


Merogoh keping kasino yang Guru serahkan kepadaku, dan setelah melihat betapa gembiranya wajah Guru sekarang, membuatku penasaran dan juga ingin mencobanya.


Sambil ditemani oleh Zweite yang bertindak sebagai pengawalku, aku pun berkeliling kasino.


Tidak peduli meja permainan mana yang aku kunjungi, mereka selalu saja penuh akan penjudi yang bersorak gembira akan kemenangan mereka atau teriakan putus asa bagi mereka yang baru saja kehilangan segalanya.


Setelah menonton untuk beberapa saat, aku mengetahui kalau permainan yang mereka mainkan bernama Fish Eyes. Inti dari permainan ini adalah para pemain harus melemparkan dua buah dadu dengan enam sisi dan saling


bersaing mana yang mendapatkan nilai terendah.


Pemain yang menang akan menerima semua keping yang dipertaruhkan oleh pemain lainnya.


Jika ada pemain ada yang mendapatkan ganda satu yang mana itu adalah nilai terendah, maka dia akan secara otomatis menang dan bahkan akan mendapatkan keping dua kali dari total keping yang dipertaruhkan pada


ronde itu.


Sedangkan untuk pemain yang akan mendapatkan ganda enam yang adalah nilai tertinggi, dia harus membayar dua kali lipat dari keping yang dia pertaruhkan.


Ini adalah sebuah permainan sederhana yang sepenuhnya bergantung pada keberuntungan.


Bahkan aku yang belum pernah berjudi pun akan bisa dengan mudah memainkannya.


"Nona muda, Anda tampaknya tertarik dengan permainan ini. Apakah Anda mau ikut bergabung bersama kami?"


Mendapatkan tawaran dari si bandar, aku pun tidak punya alasan untuk tidak mengangguk.


Total ada enam pemain dan seorang bandar.


Masing-masing pemain telah menerima dadu mereka dan atas instruksi dari si bandar, kami pun mulai bertaruh. Walau aku telah menerima total 10 juta keping, aku yang takut kalah dan malah membuang-buang uang Guru memilih untuk bertaruh dengan nilai terendah yaitu 100 ribu.


Meletakkan satu keping yang setara dengan 100 ribu ke atas meja, dan setelah semua pemain memberikan taruhannya, si bandar pun menginstruksikan kami untuk mulai melemparkan dadu.


Mengocoknya sebentar dengan kedua tanganku, aku pun melemparkan daduku ke atas meja.


"Pemenangnya adalah Nona Selene!"


Dengan angka satu dan tiga, nilai empat ternyata adalah nilai terendah di ronde ini. Menerima keping dari pemain lain, aku pun merasakan kemenangan pertamaku.


...


Puas setelah bermain beberapa ronde, aku pun menjajal permainan lainnya.


Terkadang aku menang dan terkadang aku kalah. Namun aku percaya diri kalau kemenanganku jauh lebih banyak ketimbang kekalahanku.


Itu terbukti dari keping kasino yang berhasil aku menangkan nilainya sudah setara dengan 500 juta.


Bermain judi itu terasa sangat menyenangkan selama kau menang dan menjadi kaya raya.


Sayang aku tidak bisa menikmati kemenangan ini bersama Luna karena entah sejak kapan dia sudah berkeliaran sendiri ketika aku sedang asyik bermain.


Yah, aku sendiri yang memberikannya keping untuk bisa bermain.


Pada saat aku sedang berkeliling mencari permainan yang menarik, aku mendapati Luna sedang bermain sebuah permainan yang menggunakan dadu. Dia tampak sangat menikmati permainannya jadi aku biarkan saja dia


bermain sampai puas.


Karena Zweite bersamanya maka aku tidak perlu khawatir kalau dia akan terlibat sebuah masalah.


Hah... Bersenang-senang di tempat yang gemerlap ini, membuatku merasa ingin membuka kasinoku sendiri.


Oh, bukankah itu ide yang bagus?


Tapi, jika aku membukanya di Kota Gata aku ragu aku akan mendapatkan banyak untung. Jika aku mau membuka kasino, alangkah baiknya aku membukanya di sebuah kota besar atau sekalian saja aku membukanya di Ibukota.


Hmm... Nanti aku pikirkan kembali.


Puas bermain, aku pun memutuskan untuk beristirahat di bar mewah yang tersedia di dalam kasino.


Aku pun memesan kepada bartender sebuah minuman yang aku tidak tahu itu sebenarnya apa tapi namanya terdengar indah.


Di saat aku tengah menikmati minumanku dengan santai, datang seorang bapak-bapak yang duduk di sampingku dan langsung memesan sebuah minuman.


Walau dia tidak berkata apa-apa, sedari tadi aku bisa merasakan matanya yang sesekali melirik padaku.


Jelas sekali kalau dia tertarik kepadaku. Namun, karena aku tidak punya alasan untuk berbicara kepadanya, aku pun hanya diam saja.


Setelah dia menerima minumannya dan meminum seteguk, dia pun akhirnya berani untuk menyapaku.


"Wajah Nona tampak baru, apakah ini pertama kalinya Nona datang ke kasino?"


Sekali lagi, karena aku tidak punya alasan untuk berbicara kepadanya, aku berniat untuk tetap diam tanpa menghiraukan segala perkataannya. Tapi, duduk diam saja rasanya tidak menyenangkan.


"Itu benar, baru kali diriku mendapatkan izin untuk bisa mengunjungi tempat seperti ini"


"Ohh... Keluargamu pasti sangatlah ketat. Sebagai seorang Ayah, aku sendiri juga akan merasa ragu untuk mengizinkan anakku untuk mengunjungi tempat yang bisa membuatmu kehilangan segalanya"


Nih bapak-bapak sudah punya anak tapi masih deketin cewek muda? Itu bini di rumah apa tidak di urus? Atau mungkin sudah cerai makanya cari ibu baru buat anaknya?


"Itu benar. Walau tidak seketat anak Bangsawan, Ibuku selalu saja sangat overprotektif kepadaku"


"Hahaha... Semua Ibu juga pasti akan seperti itu"


Kami pun terus berbicara sembari menikmati minuman yang kami pesan. Setelah beberapa kali berganti topik pembicaraan, apa yang kami bicarakan selanjutnya sangat menarik perhatianku.


"Sejak aku masih muda, aku terus saja berusaha untuk mengembangkan bisnisku agar aku bisa membeli hak untuk menjadi seorang bangsawan. Bahkan menjadi seorang Baron tanpa wilayah kekuasaan sekalipun sudah lebih dari cukup untuk menjamin kehidupanmu sampai ke generasi mendatang.


Tapi, setelah mendengar apa yang terjadi pada banyak keluarga Bangsawan sekarang... Hah"


Wajahnya tampak lelah dan kecewa saat mengatakan itu. Di saat dia sadar gelasnya sudah kosong, dia pun meminta untuk isi ulang.


Tidak aku sangka kalau ternyata kalau kau bisa membeli hak untuk mendapatkan gelar Bangsawan. Jika ini di Kerajaan lain, kau harus berusaha keras untuk mendapatkan reputasi besar di mata sang Raja agar kau bisa di


angkat untuk menjadi seorang Bangsawan.


Keluarga Bangsawan yah... Kalau tidak salah satu-satunya masalah antar Keluarga Bangsawan baru-baru ini adalah berita tentang itu.


"Perebutan warisan adalah hal yang umum bagi setiap Keluarga. Tapi, skalanya akan berbeda jika itu adalah Keluarga Bangsawan"


"Jika boleh bertanya, apakah Keluarga Nona memiliki masalah dalam hal hak waris?"


"Untungnya tidak ada. Semua hak waris sudah aku serahkan kepada adikku"


"Oh, kenapa itu? Apakah kau tidak tertarik pada warisan Keluargamu?"


"Bagaimana aku harus menceritakannya? Katakan saja bisnis yang keluargaku jalani sekarang terlalu kaku bagi diriku. Jadi, dengan menyerahkannya kepada adikku, membuatku menjadi bebas.


Tentu saja aku tidak bisa hidup tanpa bekerja. Jadi aku berencana untuk membuka bisnisku sendiri. Tapi aku tidak tahu bisnis macam apa yang cocok bagiku"


Tentu saja aku sudah punya bisnis yaitu Dungeon dan tidak lama lagi aku akan secara resmi masuk ke dalam bisnis hiburan malam.


Tapi karena bisnisku berada di Kerajaan lain, jadi aku tidak mungkin bisa mengatakannya.


"Darah muda. Sedikit nasehat dari orang tua ini. Kalau ingin membuka bisnis baru itu akan susah. Seperti yang Nona tahu, Kerajaan ini sangatlah tertutup dari dunia luar. Jadi semua bisnis hanya berputar di dalam Kerajaan saja.


Itu membuat semua lahan yang ada telah di ambil.


Sedih untuk mengatakan ini. Tapi lebih baik menyerah saja. Jika Nona ingin tetap bisa hidup tanpa perlu bergantung pada orangtua, karena Nona adalah seorang wanita, kenapa Nona tidak mencari suami dan membuat sebuah keluarga saja"


"Mudah mengatakannya, tapi di mana aku bisa menemukan seorang pria yang mapan?"


"Yang jelas bukan di sini. Salah-salah uang untuk persiapan perkawinanmu malah habis dia pakai untuk bertaruh. Terlebih..."


Dia lalu berbisik kepadaku dengan suara rendah.


"Pangeran Kedua selalu berada di sini setiap minggunya untuk mencari 'mainan' baru"


Melihat wajah seriusnya, aku jadi bisa menebak kalau 'mainan' ini mungkin saja tidak akan berakhir dengan baik.


Seolah ini adalah sebuah kebetulan yang sangat pas, terjadi sebuah keributan di area permainan. Suaranya tidaklah seperti sebuah kemenangan besar ataupun orang yang menjadi gila karena kekalahan.


Penasaran, aku pun mencari tahu keributan apa itu.


Apa yang aku lihat adalah sekumpulan Kesatria berzirah sedang membukakan jalan untuk seseorang.


Tepat di tengah para Kesatria itu, adalah seorang pria tampan dengan rambut dan mata berwarna perak. Pakaian yang dia kenakan seolah meneriakkan kata 'MEWAH' yang mana itu membuat penampilannya menjadi semakin


berkilauan di bawah cahaya lampu.


Dia itu bukanlah pria sembarangan.


Karena dia lah sang Pangeran Kedua dari Narsist Kingdom, Argenti ol Narsist.


Wajahnya terlukis di mata uang kertas Kerajaan ini jadi tidak salah lagi.


Melihat sang Pangeran berada di sini, maka wajar saja jika terjadi sebuah keributan. Hanya saja bukan itu penyebab dari keributan kali ini.


"Ah... Tampaknya Pangeran Kedua sudah mendapatkan 'mainannya' untuk minggu ini"


Bapak-bapak yang tadi minum bersamaku tampaknya juga penasaran dan ikut melihat. Tapi, tanpa perlu dia beritahukan sekalipun aku sudah bisa menebaknya.


Itu karena Pangeran Argenti sekarang sedang menggendong seorang gadis layaknya seorang tuan putri.


Berbeda dari Pangeran Argenti yang tersenyum lebar, gadis itu menampakkan ekspresi kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana. Saat tatapan kami bertemu, tanpa perlu membuka mulutnya sekalipun, ekspresi gadis itu mengatakan dengan jelas kalau dia meminta bantuanku.


Itu benar, gadis yang Pangeran Argenti gendong tidak lain dan tidak bukan adalah Luna.