
Mengenakan gaun terbaik yang aku miliki, serta merias wajahku hingga secantik mungkin namun masih terlihat natural walau setengahnya akan tertutup oleh topeng, aku berdiri dengan anggun di depan pintu masuk demi menyambut tamu penting yang di jadwalkan akan tiba hari ini.
Mendampingiku adalah Percy dan Glory.
Meno dan Victoria berdiri tidak jauh di belakang sementara para Maid dan Butler yang lain berjejer dengan rapi tepat di samping kanan dan kiri pintu masuk.
Cukup lama menunggu, tamu yang di tunggu akhirnya tiba juga.
Dia adalah seorang pria yang tinggi dengan tubuh atletis yang tidak mampu disembunyikan oleh setelan mewah yang dia kenakan. Setelan yang dia kenakan tampak seperti seragam militer berwarna merah tua yang selaras
dengan rambut miliknya.
Apa yang ada di pinggangnya adalah sebilah pedang panjang dengan gagang berbentuk kepala Naga yang berlapis emas. Sambil menunjukkan sebuah senyuman yang menawan, dia berjalan dengan penuh wibawa dan percaya diri
sambil memancarkan aura yang membuat mereka yang merasakannya merasa ingin tunduk di hadapannya.
Pada saat aku mengatakan kalau dia punya senyuman yang menawan, aku benar-benar serius. Itu dibuktikan oleh para Maid yang seakan terpesona hanya dengan melihat senyumannya saja.
Tentu saja, senyuman itu tidak berpengaruh apa-apa bagiku.
Yang menjadi masalah adalah aura yang dia pancarkan. Sungguh, aku sampai harus menyelimuti seluruh Pelayanku dengan Manaku sendiri agar mencegah mereka untuk tunduk kepadanya.
Mendampingi pria tampan itu adalah seorang pria tampan lainnya.
Dengan rambut hitam pendek yang di sisir rapi, dia mengenakan Tuxedo? Klasik berwarna hitam yang biasanya dikenakan oleh seorang Pianis saat melakukan pertunjukkan.
Aku tidak melihat senjata apa yang dia bawa. Tapi aku yakin benar kalau dia memiliki senjata tersembunyi atau semacamnya.
Sekilas dia memang tampak seperti seorang Manusia. Tapi jika kau melihat lebih jeli lagi, maka akan tampak kalau dia memiliki kulit yang pucat, telinga yang sedikit meruncing, mata merah darah, serta sepasang taring terlihat ketika dia membuka mulutnya meski hanya sedikit.
Tidak perlu diragukan lagi dia adalah seorang Vampire.
Hanya mereka berdua saja yang terlihat seperti orang penting. Sisanya tidak lebih dari para Pelayan sekaligus Pengawal baik itu yang terlihat maupun yang sedang bersembunyi di dalam bayang-bayang.
"Selamat datang, di kediaman yang sederhana ini... Perkenalkan, Saya adalah Baron Malika von Verloren. Senang bisa menyambut kedatangan Anda semua"
Setelah memberikan salamku, kini adalah giliran mereka untuk membalas salam dariku.
Dengan gaya hormat yang berwibawa, pria dengan rambut merah memperkenalkan dirinya "Senang bertemu dengan Anda, Baron Malika. Diri ini adalah seorang 'Saudagar' dari tanah yang jauh. Namaku adalah Leaf buoy.
Sungguh sebuah kehormatan untuk bisa di sambut oleh seorang Bangsawan cantik jelita seperti Anda".
Pada saat 'Leaf' mengangkat kepala, bisa terlihat ekspresi 'puas' seperti seorang anak yang baru saja sukses menjahili kawannya.
Berikutnya adalah giliran si Vampire.
"Perkenalkan, Saya adalah asisten dari Tuan Leaf, Vergil Nero"
Sungguh sebuah perkenalan yang singkat. Dan aku akan pura-pura tidak tahu kalau itu adalah nama dua orang tokoh dalam game yang sangatlah terkenal.
Setelah saling memperkenalkan diri, aku pun mengajak mereka menuju ruang pertemuan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Menunggu para Maid termasuk Meno selesai menyiapkan minuman serta sajian lainnya, aku mengajak Leaf untuk berbincang santai sebelum masuk ke dalam topik utamanya.
"Tuan Leaf, Anda telah menghabiskan waktu beberapa hari di kota ini. Sebagai penguasa baru dari Wilayah ini, bolehkan Saya meminta pendapat Anda tentang kota ini? Jika ada yang kurang, Saya mungkin bisa memperbaikinya"
"Jujur, sebelumnya diriku belum pernah melihat sebiru apa lautan itu sebenarnya. Dulu saat diriku hendak berkunjung ke kota ini, Ayahanda melarang karena katanya kota ini sangatlah jorok dan tidak layak untuk di ingat.
Namun, setelah melihat kota ini dengan mata dan kepala Saya sendiri, diri ini yakin kalau kota ini sangatlah berbeda dari apa yang Ayahanda saya katakan"
"Saya sungguh tersanjung. Pertama kali Saya menginjakkan kaki ke kota ini, kota ini memang sama seperti yang di rumorkan. Butuh usaha serta kerja keras agar kota ini dapat terlihat seperti yang Anda lihat sekarang"
Kebetulan minuman berupa teh beserta camilan lainnya seperti kue serta manisan baru saja selesai disajikan.
"Tolong, nikmati sajian sederhana kami"
"Oh, tentu saja"
Untuk sementara waktu tidak ada kata-kata yang terucap.
Aku, Leaf, serta Vergil yang sedari tadi duduk tepat di samping Leaf hanya fokus menikmati cemilan nikmat beserta teh hangat yang menenangkan.
Tampak Leaf sangat menikmati cemilan yang disajikan. Sedangkan untuk Vergil... Begitu yah, jadi Vampire itu mati rasa yah.
"Sungguh sebuah manisan terenak yang pernah diriku rasakan. Rasanya manis serta lembut saat di kunyah. Dan teh ini, satu tegukan saja sudah cukup untuk menyegarkan lidah sehingga aku bisa merasakan manisan yang lainnya"
"Pujian Anda akan Saya sampaikan kepada Koki kami"
Meletakkan cangkir tehnya yang telah kosong, Leaf mengambil manisan lainnya sementara Meno yang berperan sebagai Maid segera mengisi kembali cangkir itu dengan teh yang baru di seduh.
Sementara itu Vergil tampak hanya menghabiskan setengah cangkir saja sebelum akhirnya meletakkannya kembali ke atas meja. Di saat seorang Maid berusaha untuk mengisi kembali cangkirnya, Vergil menolaknya.
Hmm... Aku rasa ini sudah saatnya.
Kebetulan Maid yang tadi hendak mengisi ulang cangkir Vergil adalah salah satu dari budak milikku. Dengan ini aku bisa memerintahnya dengan sesuka hati.
"...bawakan Tuan Vergil cangkir yang baru. Kali ini jangan isi dengan teh melainkan dengan darahmu sendiri"
Sontak Maid itu tampak sangat terkejut. Namun, karena ini adalah perintah dariku membuatnya tidak punya pilihan lain selain mengikutinya.
Maid itu mengambil cangkir yang masih bersih lalu mengambil pisau kecil yang biasa digunakan untuk memotong buah-buahan di tangan kanannya. Meletakkan pergelangan tangan kirinya tepat ke atas cangkir yang kosong...
"Tunggu sebentar..."
Melihat ini Vergil berusaha untuk menghentikan Maid itu. Tentu saja aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Tuan Vergil, selaku tuan rumah Saya ingin bisa memberikan sebuah pelayanan yang layak kepada semua tamu Saya. Jadi, mohon setidaknya biarkan Saya menjamu Anda dengan minuman yang sesuai dengan selera Anda"
"Nona Malika, Saya sangat menghargai niat baik..."
Kali ini giliran Leaf yang menyela perkataan Vergil. Dari tatapan matanya saja sudah cukup untuk membuat Vergil dengan pasrah bersedia untuk kembali duduk dengan tenang.
Dengan tidak ada lagi yang menghalanginya, Maid itu akhirnya selesai mengisi cangkir itu dengan cairan merah yang kental dan menyajikannya kepada Vergil.
Walau agak enggan, Vergil tetap menghabiskan cangkir itu dengan lahap.
Melihat ini aku pun menjadi puas. Oh, tidak lupa aku telah mengizinkan Maid itu untuk pamit keluar dengan pergelangan tangannya yang masih berdarah.
"Apakah ini cara seorang Penyihir memperlakukan bawahannya sendiri?!"
"Aku tidak tahu dengan saudariku yang lain, tapi seperti inilah caraku memperlakukan bawahanku sendiri"
Bagus, dengan ini aku tidak perlu lagi bermain peran sambil menggunakan nama pemberian Ibu yang jelek dan tidak ada bagus-bagusnya.
Dan tampaknya Leaf juga setuju dengan hal ini.
"Baiklah, Pangeran Draco, Tuan Allucard. Bagaimana kalau kita mulai masuk ke dalam topik pembicaraan yang sebenarnya?"
"Aku sangat setuju dengan hal itu, Penyihir Lavender"
...
Dengan suasana yang berganti serius, tidak ada lagi alasan bagi kami untuk tidak menggunakan nama asli.
"Pangeran Draco, apakah alasan engkau kemari adalah untuk adikmu itu?"
"Itu adalah satu alasan. Alasan lainnya kenapa kami kemari adalah demi mengambil alih, atau setidaknya menghancurkan reruntuhan kuno milik Narsist Kingdom"
"Begitu, maka aku anggap engkau sadar kalau ada banyak reruntuhan kuno di Kerajaan ini, kan?"
"Kami sangat sadar akan hal itu. Karena itulah target kami adalah untuk merenggut setidaknya setengah dari reruntuhan yang ada"
Jika begitu ceritanya, maka itu berarti Pangeran Draco datang sambil membawa pasukannya yang kini sedang ditempatkan di tempat yang tidak aku ketahui.
Melirik pria yang ada di sampingnya, aku menduga kalau dia lah yang akan memimpin penyerangan terhadap reruntuhan.
Dan dugaanku adalah benar.
"Mungkin kau sudah bisa menduganya, tapi orang yang ada di sampingku ini adalah yang akan membantu dalam merenggut setiap reruntuhan yang ada. Soal kekuatan, Allucard telah direkomendasikan langsung oleh Pangeran
Verfolger Pes Sanguine dari Sanguine Kingdom"
Aku sudah tahu akan hal itu.
Tapi mari kita pura-pura tidak tahu saja.
"Senang mendengarnya" memberikan sinyal kepada Pelayanku, seorang Butler datang sambil membawa beberapa dokumen di tangannya.
Menerima dokumen itu, aku lalu menyerahkannya kepada Pangeran Draco.
"Ini adalah semua yang berhasil aku selidiki perihal adikmu itu. Tolong diterima"
"Terima kasih banyak, ini akan sangat membantu"
Membaca dokumen yang aku berikan, sebuah senyuman kian merekah di wajah Pangeran Draco.
"Begitu... Jadi pelacur itu adalah Putri Ketiga..."
Selesai membaca dokumen itu, butuh waktu beberapa saat bagi Pangeran Draco untuk mengembalikan ekspresinya menjadi seperti semula.
Setelah itu kami terus mendiskusikan beberapa hal penting lainnya.
Aku juga memberitahukan kepada mereka kalau aku telah membuat koneksi dengan Pangeran Kedua serta Putri pertama dari Narsist Kingdom. Tentu saja aku juga memberitahukan tentang keinginan mereka yang juga ingin
menghentikan pertempuran sia-sia ini beserta niat mereka untuk merubah Kerajaan ini.
Terakhir, aku memberitahukan kepada Pangeran Draco tentang alasan sebenarnya kenapa perang ini bisa terjadi.
"Tower of Challenge? Ini pertama kali aku mendengarnya..."
"Aku pernah mendengar tentang menara ini. Legenda menyebutkan kalau barang siapa yang berhasil mendaki menara ini hingga menggapai puncaknya, maka segala keinginannya akan dikabulkan"
"Seperti itu yah, apakah Menara ini memang berada di Sanguine Kingdom?"
"Awalnya memang seperti itu, hanya saja sekitar 50 tahun yang lalu Menara itu tiba-tiba saja menghilang bersama dengan sebuah kota yang berada di sekitarnya"
"Menghilang?! Tunggu sebentar, jika itu benar, bukankah itu berarti peperangan ini sia-sia saja?"
Aku hanya bisa mengangguk. Tentu saja aku tidak akan memberitahukan kepada mereka fakta yang sebenarnya.
"Kalau begini caranya, kurasa kita harus mempercepat rencana kita..."
"Tunggu sebentar, Pangeran Draco. Janganlah terburu-buru seperti itu. Jika kita mengikuti rencana milikku, maka butuh waktu setidaknya tiga bulan sebelum kita bisa menggulingkan Kerajaan ini dengan pertumpahan darah yang minimal"
"Oh, menarik. Mari kita dengarkan"
Mendengarkan rencanaku, Pangeran Draco tampak sangat tertarik dan berniat untuk ikut andil dalam rencana yang telah aku buat.
...
Pada malam harinya.
Merendamkan diriku ke dalam kolam air hangat, aku berusaha untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah setelah melewati pertemuan yang panjang dan melelahkan.
Lebih dari seharian penuh kami membahas tentang rencana ini dan itu yang mana membuatku kelelahan baik secara fisik maupun secara mental.
Sebelum makan malam Allucard sudah pamit untuk menjalankan Quest yang diberikan kepadanya. Tentu saja aku sudah memberikannya peta yang mengarahkannya ke reruntuhan terdekat.
Pada saat makan malam aku memperkenalkan Luna kepada Pangeran Draco beserta peran penting yang Luna miliki dalam rencana ini.
Dengan semua hal yang telah terjadi, maka sudah sepantasnya aku menghadiahi diriku sendiri dengan pelayanan maksimal dari Victoria serta Meno di kamar mandi...
"Jadi, apakah engkau menyukai pemandangan yang kami suguhkan?"
Ikut berendam di seberangku adalah Pangeran Draco yang ikut membawa dua Pelayan Wanitanya.
Tentu saja tidak ada satupun dari kami yang mengenakan sehelai pakaian.
Itu membuatku mampu melihat tubuhnya yang terlatih dan juga putih bersih tanpa ada noda ataupun lecet sedikitpun.
Otot tubuhnya terlihat kekar dan keras bukti kalau dia telah melatihnya. Meski aku bilang kekar, tubuhnya tidaklah besar seperti atlet angkat berat tapi lebih seperti tubuh seorang ahli bela diri.
"Tentu saja, pria macam apa yang mampu mengalihkan pandangannya dari tubuh seorang bidadari seperti dirimu"
"Oh, apakah kau yakin tidak salah lihat? Aku ini seorang Half-Demon kau tahu"
"Heh, tidak peduli apa ras yang kau miliki, aku tahu seorang bidadari ketika aku melihatnya"
Oh, ya ampun. Apakah semua Pangeran memang suka bertindak berani seperti ini?
Dengan satu gerakan tangan, aku memerintahkan Victoria dan Meno untuk pergi meninggalkan kami berdua. Melihat ini, Pangeran Draco juga ikut memerintahkan kedua Pelayan yang bersamanya untuk pergi.
Dengan ini hanya ada kami berdua saja. Berdua di dalam kamar mandi. Tanpa ada satupun hal yang bisa menghalangi kami...
"Baiklah, apa yang sebenarnya ingin engkau bicarakan?"
Pangeran Draco memberikan sebuah seringai nakal.
"Aku sangat bersyukur karena kau itu cepat tanggap... Penyihir Lavender, apakah kau tertarik untuk menjadi Penyihir Kerajaan di Drakon Kingdom?"
Begitu, kalau begitu ceritanya maka wajar saja dia tidak bisa membicarakannya di hadapan orang banyak. Terlebih ketika ada Allucard yang secara teknis adalah agent khusus dari Sanguine Kingdom.
Untuk menjadi seorang Penyihir Kerajaan, itu berarti aku akan terikat dengan Kerajaan itu.
Aku akan mendapatkan perlindungan dari Kerajaan itu sekaligus berkewajiban untuk melindungi Kerajaan itu. Pada umumnya seorang Penyihir Kerajaan akan mendapatkan tugas selayaknya seorang Penasehat Kerajaan.
Pengetahuan dan kebijaksanaanku akan diperlukan untuk mengatasi segala permasalahan yang menimpa Kerajaan itu terutama jika permasalahan itu berkaitan dengan sihir.
Menjadi seorang Penyihir Kerajaan adalah sebuah tanggung jawab yang sangat besar. Bahkan aku tahu untuk tidak menerima tawaran ini begitu saja.
"Dan alasan apa yang membuat kau yakin kalau diriku adalah orang yang tepat untuk menjadi seorang Penyihir Kerajaan? Kalau engkau bertanya padaku, adikku Rosemary tampak jauh lebih cocok untuk posisi itu"
"Janganlah merendah diri seperti itu, fakta kalau kau mampu mengalahkan seekor Naga sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan semua orang akan kekuatanmu. Juga, janganlah kau lupa kalau Hutan Ibis... Atau sekarang
disebut sebagai Dungeon Ibis masih berada di dalam wilayah Drakon Kingdom?"
...aku tidak bisa menyangkalnya.
Membuat ini sebagai 'Kompensasi' dari mengambil sepetak lahan miliknya adalah sebuah alasan yang tepat untuk membuatku terikat dengan Drakon Kingdom.
Tetap saja, aku tidak tunduk begitu saja.
"Oh, Pangeran Draco. Apakah kau menyinggung ini sekarang setelah melihatku telah memiliki gelar dan juga wilayah di Narsist Kingdom?"
Tepat sasaran!
Walau hanya sekilas, tapi aku bisa melihat ekspresinya berubah.
"Aku tahu kalau wilayahmu ini adalah bagian dari penyamaranmu. Tapi ini juga telah menjadi bukti nyata kalau kau memiliki kemampuan untuk mengolah sebuah wilayah. Rasanya ini adalah sebuah langkah yang tepat untuk menjadikanmu seorang Penyihir Kerajaan di Drakon Kingdom"
Sial, ini malah menjadi bumerang.
"Diriku merasa tersanjung. Meski begitu, janganlah lupa kalau diriku masihlah seorang Half-Demon. Darah seorang Iblis (Demon) mengalir di dalam diri ini. Hal ini mungkin tidak akan bisa diterima oleh banyak orang"
"Itu memang benar, tapi kau juga adalah cucu perempuan dari Cardinal La Ciel. Pemimpin dari Sol Ciel. Aku yakin orang-orang tidak akan berani berbuat macam-macam dengan latar belakangmu yang seperti itu"
Baiklah, sekarang aku benar-benar telah kehabisan ide. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya aku bisa menolak ajakannya.
Oh, benar juga! Masih ada cara itu!
"Oh, kau baru saja membuatku kehabisan pilihan. Baiklah, memangnya apa yang akan aku dapatkan jika menerima tawaranmu itu?"
Kali ini sebuah senyuman lebar tercipta di wajahnya.
"Jika kau mau menjadi seorang Penyihir Kerajaan, bukan hanya kau akan mendapatkan perlindungan penuh dari kami, tapi kau juga akan mendapatkan akses menuju bagian terdalam dari Perpustakaan Kerajaan. Apa yang
tersimpan di sana bukan hanya dokumen-dokumen rahasia Kerajaan, tapi juga berisi buku-buku yang berisikan sihir kuno yang bahkan Ahli Sihir kami tidak bisa terjemahkan.
Dan saat aku bilang perlindungan, itu juga berarti kami akan memalingkan mata pada segala 'Eksperimen' yang kau jalankan asalkan itu tidak memberikan dampak negatif ataupun membahayakan Drakon Kingdom baik itu secara langsung maupun tidak langsung.
Terakhir, jika kau menerima tawaran ini, kau juga akan mendapatkan..."
Ya ampun, lihatlah itu. Kalau begini caranya maka mustahil bagiku untuk bisa menolaknya.