
Kenapa hal ini bisa terjadi?
Berbaring di atas ranjang yang lembut, apa yang menemaniku hanyalah sebuah pemutar musik, smartphone untuk berselancar di internet, serta televisi yang terus saja menyala dan menampilkan acara drama murahan.
Jika saja aku bisa ngemil makanan ringan atau semacamnya maka aku mungkin bisa sedikit menikmatinya.
Akan tetapi, jangankan menikmatinya, entah mengapa lidahku tidak mampu merasakan rasa dari makanan yang masuk ke dalam mulutku. Apakah seperti ini rasanya sakit itu? Jika begitu, aku tidak menyukainya.
Apalagi satu-satunya hidangan yang bisa aku rasakan hanyalah sebuah bubur yang rasanya... Bleugh!
"Apakah kau tidak punya hidangan lain yang bisa kau berikan kepadaku?" tanyaku pada Pelayanku yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan semangkuk penuh bubur yang aku maksud.
"Ini adalah racikan khusus dari Nyonya Besar, makanan ini berkhasiat untuk mempercepat pemulihan Nona Muda serta memiliki efek positif lainnya bagi kesehatan Nona Muda"
"Kau... Kau ini sebenarnya Pelayan siapa sih?"
"Hamba adalah Pelayan Setia dari Nona Lavender La Ciel"
"Kalau begitu kenapa kau menyiksaku seperti ini?"
"Hamba tidaklah sedang menyiksa Nona Muda. Hamba hanya bertindak dengan kepentingan Nona Muda di atas segalanya. Dan kali ini kesehatan Nona Muda jauh lebih utama ketimbang keinginan Nona Muda"
...apakah ada sesuatu yang salah dalam proses ritualnya?
Aku serius, bahkan Pelayan utamaku Lif tidak pernah bersikap seperti ini!
Oh, iya. Jika kalian bertanya-tanya siapa sebenarnya Pelayan kurang ajar ini, ingat adiknya si Canary? Itu loh, yang dia jual demi bisa bertemu dengan suami serta anak-anaknya.
Benar sekali, setelah proses ritual yang panjang, adiknya Canary, Putri Samira. Kini akhirnya telah sepenuhnya menjadi Pelayanku yang setia dan kini sedang merawatku yang sedang dalam kondisi lemah karena telah menggunakan kekuatanku secara berlebihan.
"Nona Muda, tolong buka mulutnya... Aaaaaa"
Dan sekarang aku tengah menyesali pilihanku untuk menjadikannya Pelayanku.
Hah... Kemana sebenarnya perginya Anna? Bukankah dia yang seharusnya menjadi Pelayan pribadiku di sini?! Sial, ingin sekali rasanya aku memanggil Lif kemari.
Baiklah, kembali ke topik utama.
Aku tidak tahu berapa tepatnya aku telah tidak sadarkan diri, yang jelas waktu telah lama berlalu semenjak pertempuran di Narsist Kingdom.
Hasilnya, adalah kekalahan bagi pihak Aliansi serta kehancuran dari Narsist Kingdom.
Alasan kenapa aku menyebutnya kekalahan bagi pihak Aliansi, itu adalah karena musuh utama dalam cerita kali ini telah sukses mendapatkan apa yang dia inginkan.
Apa yang telah susah payah aku lawan, dan apa yang telah susah payah di segel oleh Nenek ternyata tidak lebih dari sebuah umpan raksasa yang bertujuan untuk menyibukkan kami semua sementara si dalang utamanya berada di tempat yang aman dan tentram.
Berdasarkan cerita Mama serta penjelasan dari Papa, alasan utama kenapa Iblis (Demon) itu menginfeksi banyak orang untuk mengubahnya menjadi Monster yang ganas serta alasannya memulai sebuah peperangan besar yang
merenggut banyak nyawa adalah demi bisa mengumpulkan banyak 'Bahan Baku' untuk bisa menyempurnakan sebuah tubuh yang sekarang dia gunakan sebagai wadahnya.
Menurut penjelasan dari Papa, sekali seorang Iblis (Demon) mendapatkan sebuah wadah fisik yang sempurna, maka dia akan mampu menjelajahi berbagai dunia serta dimensi sesuka hati mereka. Tidak hanya itu, dengan memiliki wadah fisik, itu memudahkan mereka untuk menyebarkan nama mereka lebih luas lagi dan memperjelas gambaran yang mereka tanamkan ke dalam pikiran banyak orang yang mana itu akan mengisi ego mereka untuk ditakuti serta dikagumi oleh banyak orang.
Karena hal ini juga lah kenapa Papa sampai melenyapkan kota... kota apalah itu, pokoknya yang ada Tower of Challenge nya.
Setelah sukses mengirimkan kota itu ke dimensi lain, Papa akhirnya mendapatkan sebuah tubuh fisik yang membuatnya mampu untuk berpindah antar dimensi sesuka hatinya.
Sungguh, tidak pernah aku membayangkan kalau alasan sebenarnya kenapa pertempuran ini berlangsung adalah karena sebuah rencana licik dari seorang Iblis (Demon).
"Buka mulutnya lagi, Aaaaaa"
Dan seperti yang aku katakan sebelumnya, berkat peperangan ini, Narsist Kingdom kini sama saja dengan telah tiada.
Ibukota serta Istana kebanggaan mereka telah hancur lebur dan porak-poranda karena amukan Iblis (Demon) hingga mustahil untuk bisa di huni. Banyak sekali prajurit hingga warga mereka yang kehilangan nyawa serta tidak sedikit dari mereka yang sudah kehilangan harapan pada tanah air mereka dan memilih untuk mengungsi ke Kerajaan sebelah.
Empat Jenderal Besar yang selama ini menjadi pelindung utama mereka kini juga telah berkurang hingga hanya menyisakan satu dari mereka.
Dan yang paling parah adalah Ratu mereka serta Pangeran Ketiga mereka telah kehilangan nyawa dalam peperangan ini. Yah, walau secara teknis Ratu mereka masih hidup walau tersiksa di dalam Dungeon milikku, tapi mereka tidak perlu mengetahui hal itu.
Untungnya Pangeran Pertama mereka beserta Istri serta anak-anaknya aman sentosa karena ternyata ketika Ibukota sedang di serang mereka semua sedang berlibur di pantai di kota yang aku kelola. Sedangkan Pangeran Kedua serta ketiga Tuan Putri mereka juga dalam keadaan aman sentosa karena sejak awal mereka telah berlindung di Drakon Kingdom.
Kehilangan Istri, Putra, Istana, Ibukota, Jenderal, serta prajurit dan warganya, Raja dari Narsist Kingdom kini seharusnya berada dalam keadaan terpuruk karena kondisi Kerajaannya yang kacau balau.
Benar, Seharusnya!
Jika yang aku baca dari forum itu benar, maka entah mengapa Raja Narsist Kingdom kini dengan semangat bergebu-gebu mulai menyusun rencana untuk membangun kembali Istana serta Ibukotanya di tempat yang jauh lebih strategis dengan tampilan yang jauh lebih megah dan elegan.
Terima kasih berkat kekuatan yang dia miliki, tidak ada satupun dari sisa bawahannya yang mampu atau bahkan berani untuk menentang keputusannya.
Dan dengan alasan untuk membantu sang Ayahanda, Pangeran Pertama dan Pangeran Kedua kini berada di samping Raja Narsist Kingdom untuk membantunya membangun kembali Kerajaan mereka yang tercinta.
Sungguh, ada banyak sekali hal yang terjadi ketika aku sedang tidak sadarkan diri.
Ingin sekali aku untuk kembali ke dunia sana untuk bisa melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Hanya saja, satu-satunya aksesku untuk menuju ke sana, alias alat VR ku kini sedang di sita oleh Mama.
Alasannya apa lagi kalau bukan "Kau itu masih sakit, jadi jangan main game dulu!".
Persetan dengan itu! Lagian, katanya Mama itu benci sihir, tapi kenapa malah balik ke dunia sana dan gelud sama Iblis (Demon) itu dan sempat-sempatnya menciptakan sebuah pedang yang katanya setara dengan artefak sebuah Kerajaan?!
Setidaknya ajari aku juga bagaimana caranya membuat artefak semacam itu!
"Ayo, Nona Muda, buka mulutnya lagi... Aaaaa"
Pokoknya setelah aku bisa kembali ke dunia sana, hal yang pertama kali aku lakukan setelah mengurus wilayahku adalah mencoba membuat artefak milikku sendiri yang paling sakti mandraguna!
Aku lihat di forum kalau Mary juga ada di sana ketika Mama menciptakan artefak itu. Jika Mama tidak mau mengajari, maka aku hanya tinggal meminta Mary menunjukkannya kepadaku.
Ngomong-ngomong soal artefak, kira-kira sudah berapa jauh proses «Awakening» pada Crown of the Monarch, yah? Terakhir aku periksa masih berada pada nilai 2%. Tapi, setelah pertempuran ini nilainya pasti sudah meroket jauh mengingat aku menggunakannya secara gila-gilaan hingga membuatku berakhir menjadi seperti ini.
Aku juga penasaran berapa banyak penampilanku yang telah berubah karenanya.
Terakhir aku mendapatkan tato di sekujur tubuhku, tidak tahu kalau yang sekarang.
Melihat diriku sendiri, aku sama sekali tidak melihat ada yang berubah. Kurasa aku hanya bisa mengetahuinya ketika aku sudah kembali ke dunia sana.
Hah... kurasa memang tidak banyak yang bisa aku lakukan sekarang.
Mengambil remot televisi yang tergeletak di pinggir kasur, aku lalu menekannya.
Terlihat acara pertama yang di putar adalah cerita mengenai seorang pria kaya yang selingkuh dari istrinya dengan seorang wanita yang dia temui di tempat kerjanya. Pindah, selanjutnya adalah acara tinju. Pindah, acara kartun anak-anak. Pindah, sinetron ibu tiri. Pindah...
Setelah berkali-kali mencari acara yang menarik, pada akhirnya aku berakhir menonton acara berita siang.
"Nona Muda, mulutnya... Aaaaa"
Berita hari ini menampilkan tentang info waspada mengenai hewan liar yang telah memasuki kawasan penduduk. Bukan hanya di daerah pedesaan saja, bahkan hewan-hewan ini juga sampai ke tengah-tengah kota besar.
Tidak ada yang tahu darimana hewan-hewan ini berasal.
Ada yang menduga mereka berasal dari kebun binatang yang kabur, namun tidak ada satupun kebun binatang yang mengaku ada hewan mereka yang kabur. Ada juga yang mengatakan kalau mereka berasal dari toko hewan atau hewan peliharaan seseorang yang kabur, hanya saja hewan liar yang tertangkap kamera termasuk ke dalam jenis anjing besar seperti serigala dan bahkan hewan buas lainnya seperti singa dan beruang.
Tunggu, memangnya negara ini punya spesies beruang endemik?
"Permirsa sekalian, kali ini kami akan menampilkan rekaman amatir dari seekor beruang yang tertangkap kamera sedang berkeliaran di sebuah gang sempit di kawasan XXX"
Sesuai dengan perkataan pembawa acara, layar pun berganti menunjukkan sebuah rekaman amatir yang tampaknya di ambil dari lantai kedua sebuah rumah.
"Oh, beruangnya besar juga"
Dapat terlihat seekor beruang sebesar dua sampai tiga meter dengan rambut berwarna hitam mengkilap sedang berlarian kesana-kemari berusaha mengejar warga yang berteriak ketakutan takut akan diterkam oleh seekor
beruang ganas.
Pada akhirnya aksi beruang itu terhenti setelah pihak pemadam kebakaran datang bersama dengan pihak kepolisian untuk menangkap beruang tersebut.
Terlihat kalau mereka telah menyiapkan sebuah jaring besar dan beberapa anggota polisi terlihat datang sambil membawa semacam senapan bius di tangan mereka.
Menyadari kalau dirinya terkepung, beruang itu dengan panik masuk ke dalam salah satu rumah warga dengan cara mendobrak pintunya dengan tubuhnya yang besar dan rekaman pun berakhir di situ.
"Menurut kabar terbaru, beruang itu berhasil lolos dan sampai saat ini keberadaannya masih di cari oleh pihak yang berwajib. Tentang darimana beruang itu berasal, pihak kepolisian yang bekerja sama dengan lembaga perlindungan hewan juga masih sedang menyelidikinya..."
Selesai menonton berita itu, banyak pertanyaan yang muncul di dalam kepalaku.
Yang pertama adalah ekspresi ketakutan yang beruang itu tunjukkan. Meski wajar kalau hewan akan panik dan menjadi stress ketika mereka tiba-tiba saja berada di daerah yang asing bagi mereka, hanya saja ekspresi
beruang itu masih tampak tidak wajar bagiku.
Terlebih reaksi beruang itu ketika menyadari dirinya tengah dikepung.
Di ruang sempit seperti itu, pilihan yang akan di ambil oleh hewan liar biasanya adalah maju menerobos atau jika mereka memiliki kemampuan untuk memanjat, maka tidak diragukan lagi mereka akan langsung naik ke atas
atap rumah dan kabur dari sana.
Dan selama tidak ada orang bodoh yang membiarkan pintu rumahnya terbuka lebar, maka kecil rasanya kesempatan bagi hewan liar itu untuk kabur masuk ke dalam rumah warga. Bahkan jika mereka berhasil masuk sekalipun, asalkan pintu belakang juga tidak terbuka lebar, maka mereka hanya akan berakhir membuat diri mereka sendiri terpojok yang mana itu akan sangat mempermudah proses penangkapan.
Akan tetapi, bukan hanya beruang itu berhasil masuk ke dalam rumah warga secara paksa, tapi fakta kalau dia berhasil lolos itu membuktikan kalau dia mengetahui kalau rumah itu memiliki pintu belakang yang mana bisa
menjadi jalur pelariannya.
Semakin aku memikirkannya, semakin aneh rasanya perilaku beruang itu.
"Nona Muda... AAaaaaa"
Berita selanjutnya adalah berita mengenai fenomena supranatural yang mulai semakin sering ditemukan dan direkam oleh kamera.
"Akhir-akhir ini sering beredar video-video di masyarakat yang menunjukkan tentang para pemuda yang mampu menciptakan api dari telapak tangannya atau menggerakkan bumi yang dia pijak. Apakah ini hanyalah efek digital
semata, atau apakah fenomena supranatural seperti sihir atau esper itu benar-benar ada?"
Layar lalu menunjukkan video mengenai sekelompok pemuda yang salah satunya adalah seorang anak dengan rambut merah yang berada di kawasan terpencil dan gelap sedang melemparkan sebuah bola api dari telapak tangannya. Bola api yang dia tembakkan sontak mengenai botol-botol kaca yang telah dipersiapkan sebelumnya dan berhasil menghancurkannya hingga berkeping-keping.
Terdengar suara kagum serta gelak tawa yang pecah ketika anak berambut merah itu berhasil menembakkan bola api dari telapak tangannya. Tak ayal anak itu mulai dipuji-puji oleh kawan-kawannya yang lain hingga sampai ada yang minta di ajari.
Selanjutnya pihak berita mulai memutar video mengenai seorang gadis muda yang sedang mengobati seseorang yang terluka dengan telapak tangannya yang memancarkan cahaya terang.
Orang-orang yang menonton gadis itu segera memuji-mujinya hingga ada yang memanggilnya sebagai gadis suci atau bahkan anak tuhan.
"Kau pasti bercanda kan?!"
Meskipun si pembawa acara mengatakan kalau kejadian ini sedang diteliti oleh para ahli mengenai keasliannya, tapi aku tahu benar kalau apa yang baru saja mereka putar itu adalah sesuatu yang sangat nyata dan bukanlah
sebuah video editan.
Dan jika aku menghubungkannya dengan beruang yang tadi, maka jelas sudah apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tanpa menunda lagi aku segera membuang selimut yang menutupi tubuhku dan mencoba bangkit dari tempat tidurku.
"Tunggu, Nona Muda mau pergi kemana?"
Meletakkan kembali mangkuk bubur yang sedari tadi dia pegang, Putri pun berusaha untuk menghentikan diriku yang mencoba untuk bangkit dari tempat tidur.
"Aku ingin pergi menemui Papa, ada yang harus aku bicarakan!"
"Nona Muda jangan gegabah! Nona Muda harus tetap beristirahat, jika ada yang Nona Muda ingin ucapkan kepada Tuan Besar biar saya saja yang menghantarkannya"
"Tidak usah! Biar aku bicara sendiri dengannya"
Mencoba bangkit dari tempat tidur, baru juga selangkah aku ambil aku sudah terjatuh dengan keras ke lantai.
"Nona Muda!"
Tanpa mengindahkan teriakan khawatir dari Putri, aku lalu menciptakan sebuah tongkat berjalan dari kayu untuk membantu menompang kakiku yang terasa lemah. Menggunakan tongkat itu, aku lalu berjalan keluar kamar sambil di bantu oleh Putri yang menjaga agar aku tidak terjatuh lagi.
Meski harus bersusah payah, pada akhirnya aku berhasil menemui Papa yang saat ini sedang sibuk bersantai dengan Mama di meja makan.
Melihat diriku yang berjalan dengan susah payah, tentu saja membuat Mama menjadi khawatir.
"Astaga Malika! Kenapa kau ada di sini!? Kau itu harus banyak istirahat!"
Mengesampingkan Mama yang menghampiriku, aku segera berteriak "Lihat berita!" kepada Papa yang untungnya langsung paham dan segera menyalakan televisi yang ada di ruang makan.
Untungnya tidak banyak waktu yang berlalu sehingga berita masih berada pada topik para pemuda yang mampu menggunakan sihir di dunia nyata. Malahan berita sekarang menunjukkan sebuah wawancara dengan salah seorang pemuda yang katanya mampu mengendalikan angin dengan sesuka hatinya.
"Jadi adek berkata kalau adek mendapatkan kekuatan ini dari game?"
Tanya si reporter yang sedang mewawancarai si pemuda yang kini tengah menampilkan sebuah senyuman sombong yang terlihat menjengkelkan.
Setia dengan senyumannya, pemuda itu dengan sombongnya memamerkan keahliannya.
"Tentu saja! Setelah bermain game bernama Freedom 2 selama setengah tahun aku kini mampu melakukan hal ini!"
Membentangkan kedua tangannya, sebuah pusaran angin pun tercipta dengan pemuda itu sebagai pusatnya. "Aaa!" teriak si reporter yang terkejut dengan kejadian tidak masuk akal yang terjadi tepat di depan matanya.
Tidak hanya si reporter, bahkan warga sekitar yang hanya sekedar numpang lewat dibuat terkejut oleh aksi yang pemuda itu lakukan.
Melihat berita ini, sontak saja membuat Mama langsung mempelototi Papa dengan matanya yang tajam.
"Sayang, apakah kau sudah mengetahui tentang hal ini?"
"Tentu saja, bukakah kau tahu sendiri kalau mengawasi kegiatan magis di dunia ini adalah salah satu pekerjaanku?"
"Kalau begitu kenapa kau membiarkan anak itu pamer di hadapan umum! Apakah ini tidak akan menyebabkan kepanikan di masyarakat!"
"Aku sebenarnya ingin, hanya saja kau pikir berapa banyak orang yang memainkan game itu?"
Itu benar sekali.
Jika kasusnya sama seperti Canary, maka mudah bagi Papa untuk mengurusnya dan mencegahnya agar tidak diketahui oleh publik. Akan tetapi, jika semua Pemain game Freedom 2 membangkitkan kekuatan sihir mereka secara bersamaan, maka mustahil bagi Papa seorang untuk meredam antusiasme mereka terlebih di jaman sekarang di mana pamer ke sosial media atas perihal sekecil apapun adalah hal yang umum dilakukan.
Menyadari kalau dunia ini akan menyadari kalau sihir itu nyata, ekspresi putus asa tergambar jelas di wajah Mama.
"Kalau begitu apa yang akan kau lakukan? Membiarkan mereka begitu saja?"
"Tentu saja tidak! Aku sudah memerintahkan bawahanku agar mencegah pemerintah pusat untuk melakukan tindakan gegabah. Dengan begini setidaknya aku bisa mencegah kejadian seperti perburuan Penyihir terjadi"
"Meskipun pemerintah pusat berhasil ditangani, tapi apa yang akan kau lakukan terhadap masyarakat umum! Kau tahu sendirikan betapa bodohnya mereka dan betapa takutnya mereka terhadap sesuatu yang tidak diketahui!"
"Itu memang tidak bisa dihindari. Karena itulah aku juga berencana untuk menjebak pihak pemerintah pusat untuk menciptakan sebuah lembaga khusus yang akan mengurus masalah ini. Tentu saja diriku lah yang akan menjadi
pemimpin dari lembaga tersebut. Untuk masyarakat umum, berdoa saja agar tidak ada yang bertindak anarkis dan berdoa juga lah kepada anak-anak itu agar tidak ada dari mereka yang membiarkan diri mereka tertangkap begitu saja"
"Tapi tindakan anarkis itu tidak mungkin tidak akan terjadi!"
Di tengah kedua orangtuaku yang sedang beragumen, aku yang sudah duduk di meja makan karena tidak lagi sanggup berdiri hanya bisa memperhatikan mereka dalam diam.
Melihat ada apel yang nganggur di atas meja, aku pun mengambilnya dan segera menggigitnya.
Yup, tidak ada rasanya.
"Nona Muda, ayo habiskan buburnya... Aaaa"
...? Pelayan sialan, darimana kau mengambil bubur terkutuk itu!