The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Latihan



Alisha kemudian mengambilkan dua bilah pedang yang ada di pinggir lapangan latihan, sebenarnya ia sangat ingin menunjukkan teknik pedang barunya yang hanya menggunakan satu pedang namun ia ingat pesan paman tersebut bahwa ia hanya bisa menggunakan teknik tersebut saat sedang terdesak saja.


Sementara untuk teknik pengendalian api, Shin meminta Alisha untuk belajar teknik tersebut secara diam-diam dan bila dia tidak faham atau susah untuk mengerti Shin memintanya untuk lansung datang ke hutan dan mencarinya.


"Padahal aku sangat ingin menggunakan teknik tersebut, tapi paman melarangnya..." ucap Alisha dalam hatinya.


"Alisha, kenapa kau malah melamun?" tanya pangeran Diego.


"Eh.. tidak apa-apa kak, mari kita mulai dan ingat jangan menahan dirimu lagi" kata Alisha.


"Hahahaha baiklah, baiklah kakak tidak akan menahan diri lagi dan akan serius melawanmu" ujar pangeran Diego.


"Alisha, Diego kalian siap?" tanya Ryuzen.


"Siap paman.."


"Siap guru...!"


"Kalau begitu mulai" kata Ryuzen dari pinggir lapangan.


Alisha lansung melesat maju untuk menyerang pangeran Diego dan tidak tanggung-tanggung Alisha lansung menggunakan kekuatan penuhnya untuk menyerang.


Sementara pangeran Diego masih terlihat santai dan tenang ketika menahan setiap serangan yang di lakukan oleh Alisha padanya, pemahamannya dalam ilmu dua pedang telah mencapai tahap yang hampir sama dengan Ryuzen, jadi dia bisa dengan mudah menahan setiap serangan meskipun hanya dengan pedang saja.


Suara dentingan pedang terdengar nyaring di seluruh istana hingga membuat para prajurit yang berada di sekitar arena pelatihan menjadi penasaran dan lansung menuju ke lapangan latihan untuk melihat siapa yang sedang berlatih.


Sesampainya di sana mereka semua terpana melihat seorang anak kecil dengan lihainya menggunakan dua buah pedang untuk menyerang pangeran Diego, ada yang kagum dan ada juga yang merasa iri karena mereka tidak bisa menggunakan teknik dua pedang.


Teknik dua pedang yang di latih atau di ajarkan oleh Ryuzen adalah teknik dua pedang dengan serangan dan pertahanan yang terkombinasi, artinya tidak hanya bisa menyerang saja melainkan juga bisa bertahan meskipun tidak menggunakan perisai, selain itu dalam setiap satu serangan akan lansung ada teknik bertahannya yang mana jika satu pedang menyerang maka pedang yang satunya akan bertahan, begitu seterusnya.


Sementara di luar lapangan raja dan yang lainnya yang menyaksikan pertarungan tersebut sejak awal merasa kagum dengan Alisha mereka tidak menyangka bahwa anak yang masih berusia sepuluh tahun sudah bisa memainkan pedang dengan lihai, bahkan terlihat dia sangat senang dalam bermain pedang.


"Hahahaha aku tidak menyangka putri Duchess Lily akan sangat hebat" kata raja memuji.


"Terimakasih yang mulia" jawab Lily.


"Duchess Lily, aku ingin minta pendapatmu tentang pangeran George, apakah aku harus mengerahkannya pada kalian juga untuk di latih?" tanya raja.


"Masalah itu saya tidak bisa memutuskan yang mulia, karena Ryuzen yang mengajarkannya jadi sebaiknya yang mulia bertanya lansung padanya" jawab Lily.


"Hamba akan dengan senang hati melatih pangeran kedua yang mulia, hanya saja pangeran telah masuk akademi jadi tidak mungkin baginya untuk di ajarkan di kota lembah angin" ujar Ryuzen.


"Ya kau benar, sejak ada akademi anak-anak jadi lebih senang belajar di sana daripada di rumah sendiri" ucap raja mengeluh.


Ryuzen dan Lily tidak menjawab ucapan raja dan lansung menyaksikan kembali pertarungan antara Alisha dan pangeran Diego.


"TRAANGG!!!"


"TRAANGG!!"


Serangan demi serangan terus di lakukan Alisha namun selalu saja berhasil di tahan oleh pangeran Diego sehingga membuat Alisha sedikit kesal karena sedari tadi pangeran Diego sama sekali tidak menyerangnya melainkan hanya bertahan saja.


"Kakak, sudah kubilang gunakan kekuatanmu dan berhenti meremehkan aku" kata Alisha kesal.


Pangeran Diego mengalihkan pandangannya kearah Ryuzen dan Lily, seakan mengerti maksud dari tatapan pangeran Diego Ryuzen dan Lily menganggukkan kepala mereka pelan, setelah menerima anggukan mereka berdua pangeran Diego tersenyum dan lansung menyerang Alisha.


Tidak tanggung-tanggung pangeran Diego menggunakan kekuatan penuhnya untuk menyerang Alisha, disini terlihat sangat jelas bahwa meskipun teknik yang digunakan sangat hebat namun jika kurang dalam kekuatan dan pemahaman sudah tentu teknik hebat tersebut juga akan jadi sia-sia.


Perbedaan tingkat kekuatan antara mereka berdua membuat Alisha kesusahan dalam menahan setiap serangan dari pangeran Diego, belum lagi ia juga harus bertahan dari aura kuat yang menekan tubuhnya hingga membuat pergerakannya menjadi lambat.


"TRAANGG!!"


"TRAANGG!!"


Suara pedang yang beradu terus saja menggema di seluruh istana bagaikan alunan musik yang mengisi kesunyian hingga menarik lebih banyak prajurit untuk datang dan menyaksikan pertarungan tersebut.


"Bagaimana Alisha apa kau sudah menyerah?" tanya pangeran Diego.


"Sudah aku katakan berhenti meremehkan aku!!!" Alisha semakin kesal ketika ia terus di remehkan.


Pangeran Diego tersenyum lagi mendengar jawaban Alisha dia kemudian meningkatkan tekanan auranya hingga membuat Alisha semakin susah untuk bergerak, namun Alisha masih belum mau menyerah bahkan tidak ada tanda-tanda ia ingin menyerah, di bawah tekanan yang kuat tersebut ia masih bisa menahan setiap serangan yang terarah padanya meskipun dengan bersusah payah.


Pertarungan tersebut terus berlanjut hingga memakan waktu hampir satu jam, Alisha sudah nampak mulai kewalahan menghadapi pangeran Diego dan ini merupakan pertarungan pertamanya dalam menghadapi seseorang dengan tekanan aura.


"Berhenti" kata Ryuzen.


Mereka berdua menghentikan pertarungannya dan lansung memandang kearah Ryuzen, begitu juga dengan para prajurit yang menyaksikan pertarungan tersebut mereka heran kenapa Ryuzen menghentikan pertarungan yang sangat seru itu.


"Untuk hari ini sudah cukup, dan bisa di lanjutkan lain kali" kata Ryuzen.


"Baik paman" ucap Alisha sedikit kecewa.


"Alisha apa yang kau pelajari dari pertarungan tadi?" tanya Ryuzen.


"Tidak ada, jika saja kakak tidak menggunakan aura maka aku pasti akan menang" kata Alisha kesal.


"Alisha dalam pertarungan sesungguhnya apa musuhmu akan memikirkan dirimu?, yang di lakukan pangeran Diego sudah benar dan jika saja itu pertarungan nyata maka pasti kau sudah terluka" ucap Ryuzen.


"Tapi paman..."


"Tapi apa?, sudah paman bilang dalam bertarung jangan hanya mengandalkan kekuatan untuk menang tapi kau juga harus menggunakan akalmu, jika lawanmu memiliki kekuatan yang seimbang kau bisa saja menang tapi jika dia di atasmu sudah tentu kau akan kalah namun akan berbeda cerita jika kau menggunakan akal" kata Ryuzen tegas.


"Hey Ryuzen kenapa kau selalu saja memarahi keponakanku" ujar Lina yang baru saja datang bersama Leo.


"Paman, bibi akhirnya kalian datang juga" kata Alisha senang.


"Alisha apa dia memarahimu lagi?" tanya Lina.


"Aku tidak marah, hanya saja aku sedang mendidiknya" ujar Ryuzen.


"Mana ada mendidik dengan nada marah seperti itu" jawab Lina marah.


"Huhhhh, baiklah-baiklah kau memang selalu benar" ucap Ryuzen kesal.