
Waktu berjalan dengan cepat hari-hari kian berlalu, tak terasa sudah hampir dua bulan sejak terjadinya perang antara dua kerajaan besar yang di menangkan oleh kerajaan Tempest, raja Lyon dari kerajaan Light Born gugur dalam perjalanan pulangnya.
Saat dia memutuskan untuk mundur setelah kehilangan pasukan iblis-nya raja Dixgard terus mengejarnya hingga akhirnya raja Lyon kalah dan berhasil di bunuh oleh raja Dixgard sendiri.
Karena kehilangan sosok pemimpin beberapa bangsawan penguasa kota memutuskan untuk bergabung dengan kerajaan lainya, namun tidak satupun dari mereka yang mau bergabung dengan kerajaan Tempest karena mereka tidak mau bergabung dengan raja yang telah menghancurkan kerajaan mereka.
Raja Dixgard sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, karena dia juga telah berhasil mengalahkan kerajaan tersebut dan juga telah berhasil menjadikan beberapa daerah penting menjadi bagian dari kekuasaan kerajaannya, beberapa tempat penting itu seperti tambang emas, perkebunan yang beratus-ratus hektar luasnya dan beberapa kota yang menurut raja Dixgard dapat menguntungkan kerajaannya.
Sementara itu, hubungan kerajaan Tempest dan kerajaan Phoenix juga semakin membaik, dua kerajaan tersebut telah menjalin kerjasama dalam hal perdagangan, dimana penduduk kerajaan Phoenix dapat dengan bebas menjual hasil kerja mereka di kerajaan Tempest begitu juga sebaliknya.
Bahkan dalam waktu hampir dua bulan ini, kedua kerajaan tersebut mendapatkan untung yang sangat besar, kerajaan Tempest membeli armor serta senjata yang sangat bagus dari kerajaan Phoenix, dan kerajaan Phoenix sendiri diuntungkan dengan sumberdaya yang terus saja di bawa oleh pedagang kerajaan Tempest untuk di jual di kerajaan mereka.
Untuk kerajaan Phoenix sendiri bisa di bilang kerajaan ini adalah kerajaan terkaya bahkan bila di bandingkan dengan harta empat kerajaan besar maka masih belum sebanding dengan harta kerajaan Phoenix, hal ini dikarenakan oleh Sang Dewa Phoenix sebelumnya sangat suka menumpuk emas, namun kerajaan Phoenix sangatlah kurang dalam hal sumberdaya makanan, karena selama ini mereka hanya bisa berburu dan tidak bisa bercocok tanam seperti yang di lakukan bangsa manusia.
Saat ini di kerajaan Phoenix Shin dan yang lainnya tengah makan bersama dengan kedua raja dan para jendralnya, di sela-sela makan Shin dan yang lainnya mengobrol seperti biasa tidak ada rasa canggung dan suasana tegang, karena Shin mengatakan pada mereka saat makan bersama mereka semua adalah keluarga tidak ada status yang membedakan, jadi kedua raja dan seluruh jendral wajib untuk ikut makan bersama raja.
Awalnya pemikiran Shin ini di tolak, namun Shin dengan tegas mengatakan jika salah satu saja diantara mereka tidak ada yang hadir saat makan bersama maka semuanya akan di hukum, hal ini tentu dilakukan Shin bukan tanpa alasan, baginya rasa kekeluargaan sangatlah penting dan itu adalah hal yang harus diutamakan.
"Yang mulia, setelah selesai makan bisakah kita rapat sebentar ada yang ingin aku sampaikan" kata Raiga.
"Baiklah, kalau begitu selesai makan nanti semuanya lansung menuju ke ruang pertemuan" kata Shin.
"Baik yang mulia!" jawab mereka semua serempak.
Beberapa menit kemudian mereka semua telah selesai menyantap makanan yang di siapkan oleh para pelayan, dan seperti yang di sampaikan oleh Shin mereka semua menuju ke ruang pertemuan.
"Paman, apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Shin, Setelah sadarkan diri akibat luka yang ia dapatkan waktu perang tiba-tiba saja Shin mengubah panggilannya pada Raiga Dan Zuryu menjadi paman, awalnya mereka berdua menolak namun Shin tetap memaksa.
"Begini yang mulia, apakah yang mulia yakin ingin membeli sumberdaya makanan dari kerajaan Tempest?" tanya Raiga.
"Memangnya ada apa paman?" Shin berbalik bertanya.
"Bukannya saya tidak percaya dengan mereka yang mulia, namun beberapa bangsawan kerajaan itu nampaknya hanya memanfaatkan kekayaan kerajaan kita" kata Raiga menjelaskan.
"Saya juga setuju dengan Raiga yang mulia" ujar Zuryu.
"Benar apa yang di katakan tuan Raiga yang mulia, mata-mata yang saya utus ke kerajaan Tempest mengatakan bahwa beberapa bangsawan hanya ingin memanfaatkan kekayaan kita dengan memberikan harga mahal untuk sumberdaya yang mereka kirimkan, lalu mereka juga mengatakan bahwa mereka hanya akan mengirimkan sumberdaya yang biasa saja untuk kita sedangkan yang terbaik akan mereka simpan sendiri" ujar Ryuzen.
"Aku tidak menyangka para bangsawan itu akan secepat ini menampakkan sifat aslinya" gumam Shin.
"Lalu menurut paman bagaimana sebaiknya" tanya Shin.
"Begini yang mulia, sebaiknya kita terus menyelidiki masalah ini, ketika kita mendapatkan bukti kecurangan mereka barulah kita harus bertindak" ucap Raiga menjelaskan
"Baiklah kalau begitu, Ryuzen teruskan penyelidikan mu dan laporkan apapun yang menurutmu mencurigakan, dan masalah ini akan aku pikirkan lebih dulu" kata Shin.
"Laksanakan yang mulia" ujar Ryuzen.
"Hoeeek!!!"
"Hoeeek!!!"
Mereka semua terkejut mendengar suara seseorang yang muntah, kemudian mereka memandang kearah datangnya suara tersebut dan ternyata itu adalah Lily
"Ma-maaf semaunya aku tidak dapat menahannya" kata Lily sambil menutup mulut dengan tangannya
"Hoeeek!!!"
"Iya aku tidak apa-apa, hanya saja perutku terasa sangat mual" kata Lily.
"Sebaiknya kau istirahat saja di kamar setelah selesai nanti aku akan menyusul ke sana" ucap Shin.
"Bibi bisakah kalian berdua menemani istriku sebentar?" kata Shin pada Shisily dan Leshena.
"Baik yang mulia" jawab mereka membawa Lily menuju ke kamarnya.
"Maaf jika hamba lancang yang mulia, apakah yang mulia ratu sedang sakit?" tanya Zuryu.
"Entahlah paman, aku juga tidak tau padahal sebelumnya dia baik-baik saja" jawab Shin.
"Baiklah yang mulia, jika di izinkan setelah ini saya akan minta beberapa tabib untuk memeriksa keadaan yang mulia ratu" kata Zuryu.
"Tentu saja paman, aku juga khawatir takut terjadi sesuatu padanya" ucap Shin.
"Baiklah aku rasa cukup sampai di sini dulu pertemuan kita, ingat jika ada hal yang mencurigakan segera laporkan padaku" kata Shin.
"Siap yang mulia" jawab mereka serempak, kemudian pergi meninggalkan ruangan pertemuan.
Shin segera meninggalkan ruangan pertemuan dan lansung menuju ke kamarnya untuk melihat keadaan Lily, Raiga dan Zuryu juga ikut bersama Shin karena mereka juga khawatir dengan keadaan ratu mereka.
"Bagaimana keadaannya bibi?" tanya Shin kemudian duduk di samping Lily yang sedang baring di tempat tidur.
"Keadaannya baik-baik saja yang mulia, hanya saja yang mulia ratu terus saja muntah" jawab Leshena.
"Tenanglah aku baik-baik saja" ujar Lily.
"Paman perintahkan beberapa tabib untuk datang ke sini" kata Shin memberi perintah.
"Baik yang mulia, kebetulan ada beberapa tabib hebat di bangsa Elf dan juga manusia burung" ujar Zuryu.
"Perintahkan mereka semua untuk datang ke sini" kata Shin.
"Laksanakan yang mulia" kata Zuryu kemudian pergi meninggalkan kamar Shin untuk memanggil tabib.
Beberapa menit kemudian Zuryu kembali lagi dan membawa beberapa tabib dari bangsa Elf dan juga manusia burung, mereka segera memeriksa keadaan Lily atas perintah dari Shin, sementara itu Shin nampak menunjukkan wajah yang cemas padahal Lily sudah berkali-kali mengatakan bahwa dia tidak apa-apa.
"Bagaimana, apa yang terjadi pada istriku?" tanya Shin.
"Selamat yang mulia, anda akan segera menjadi seorang ayah" kata salah satu tabib.
"Ya, ya aku tau itu tapi apa yang terjadi pada istriku?" tanya Shin yang mulai kesal.
"Begini yang mulia anda akan segera menjadi seorang ayah, karena saat ini yang mulia ratu sedang hamil" kata salah satu tabib menjelaskan karena melihat Shin sepertinya tidak mengerti.
"Aku tau itu,... eh,.. tunggu tadi kau bilang apa?" tanya Shin.
"Yang mulia ratu sedang hamil, yang mulia" jawab tabib serempak.
"Hahahaha, aku akan segera menjadi seorang ayah, hahahaha" Shin tertawa bahagia setelah mendengar apa yang di katakan oleh para tabib, dia bahkan sampai melompat-lompat karena kegirangan.