
Shin dan yang lainnya masih menyaksikan jalannya pertempuran yang di lakukan oleh Ryuzen dan yang lainnya melawan pasukan para monster.
"Zuryu, hujani mereka semua dengan ribuan halilintar" kata Shin memberikan perintah.
"Laksanakan yang mulia" jawab Zuryu.
Dia dan pasukannya kemudian merapalkan sebuah mantra yang sangat kuat, langit yang awalnya sangat cerah dan gelap tiba-tiba saja berubah menjadi mendung karena di tutupi oleh awan yang sangat gelap.
Ryuzen dan Rayzen melihat keatas dan segera berlari kearah belakang menuju semua pasukannya, mereka berdua tau bahwa sihir itu adalah milik raja Zuryu dan para manusia burung, sihir itu tidak akan melukai mereka namun sudah jelas bahwa mereka juga akan terkena dampak dari sihir itu.
"Pasukan mundur!!" Ryuzen dan Rayzen berteriak serempak, para pasukan segera menghentikan serangan mereka dan segera mundur sejauh mungkin.
Raja Dixgard dan para bangsawan kaget saat para pasukan armor biru itu tiba-tiba saja merubah arah mereka untuk mundur, mereka berfikir bahwa pasukan itu akan melarikan diri dari pertempuran namun tiba-tiba, sebuah kilatan petir menyambar kearah pasukan monster.
"BOOOMM!!!!" ledakan yang sangat besar terjadi setelah petir itu menyentuh tanah dan menghancurkan barisan pasukan monster, tidak hanya sebatas itu saja ratusan ribu petir kemudian menyambar lagi dan seketika itu pula terdengar ledakan-ledakan yang sangat besar akibat dari sambaran petir tersebut.
Seketika setelah sambaran petir tersebut debu-debu menutupi pandangan mereka semua, kedua belah pihak menjadi sangat penasaran dengan apa yang terjadi karena di tengah-tengah medan perang yang awalnya penuh dengan teriakan para monster kini hanya ada keheningan, dan sangat sunyi.
Setelah kabut debu tersebut menghilang di bawa oleh angin alangkah terkejutnya mereka semua ketika mengetahui saat ini di yang ada hanya ada jutaan tubuh monster tergeletak tak bernyawa lagi.
Pasukan kerajaan Tempest bersorak gembira melihat musuh mereka telah di hancurkan oleh sambaran petir tersebut, meskipun mereka tau bahwa mereka belum sepenuhnya menang namun dengan habisnya pasukan monster beban mereka setidaknya berkurang sedikit.
Di sisi kerajaan Light Born, raja dan pangeran menjadi sangat marah karena seluruh pasukan monster mereka telah mati oleh sambaran petir misterius tersebut, pangeran Alex mengepalkan kedua tangannya tubuhnya bergetar hebat akibat menahan amarahnya sendiri.
"Sialan, siapa sebenarnya yang membantu kerajaan Tempest" kata pangeran Alex dengan nada kesal.
"Tenanglah nak setidaknya kita masih punya pasukan" ucap raja Lyon menenangkan anaknya.
"Berikutnya aku sendiri yang akan memimpin pasukan para iblis" kata Alex.
"Baiklah nak, ayah juga tidak akan tinggal diam, ayah akan memimpin pasukan ayah untuk menyerang mereka." jawab raja Lyon.
Sementara itu raja Dixgard masih di hantui oleh rasa penasarannya dengan siapa yang sebenarnya telah membantu kerajaannya, meskipun dia telah memiliki kemungkinan namun dia masih sangat ragu mengenai hal itu.
"Hey bisakah kalian memberi peringatan terlebih dahulu sebelum menyerang" Ryuzen berteriak dengan nada kesal kearah langit.
"Kami hampir mati di sini" lanjutnya.
Para pasukan kerajaan hanya bisa tersenyum melihat tingkah Ryuzen yang seperti marah-marah tidak jelas kearah langit, namun mereka semua terdiam dan bergidik ketakutan setelah mendengar suara dari langit.
"Hahaha maafkan aku Ryuzen, aku hanya bosan menonton pertarungan kalian" jawab Shin.
"Meskipun yang mulia bosan setidaknya yang mulia memberikan peringatan terlebih dahulu" ucap Ryuzen kesal.
"Hahahaha kau ini bicara apa Ryuzen, kau tau bahwa petir-petir itu tidak akan menyakiti kalian" ujar Shin.
"A-anu apakah anda adalah yang mulia Shin?" tanya Dixgard.
Tiba-tiba saja terjadi keheningan lalu setelah itu awan-awan yang menutupi birunya langit perlahan-lahan menghilang, bersamaan dengan hilangnya awan yang menutupi langit mulai nampak ratusan ribu Griffin dan juga manusia burung tengah melayang di atas mereka semua.
Shin dan pasukannya perlahan turun dan mendarat di belakang tenda-tenda pasukan kerajaan Tempest, saat mereka semua turun para pasukan kerajaan Tempest semakin terkejut bahwa yang menunggangi Griffin itu tidak hanya manusia saja melainkan bangsa Elf juga bahkan lebih banyak, namun hanya pasukan kerajaan Tempest saja yang bisa melihat kedatangan mereka karena penghalang yang di buat oleh Zuryu masih terpasang dan belum ia hilangkan.
Para bangsawan yang baru mengenal Shin sangat terkejut mereka tidak menyangka bahwa di dunia ini ada raja dengan pasukan sekuat ini, bahkan jika hanya dengan pasukan Griffin saja dia dan pasukannya sudah bisa memporak-porandakan sebuah kerajaan.
Namun kenyataannya adalah bahkan jika Shin ingin menguasai kerajaan-kerajaan besar bukan tidak mungkin ia akan berhasil melakukannya karena mengingat betapa kuatnya setiap pasukan kerajaannya tersebut.
Raja Dixgard dan para bangsawan kemudian berjalan menghampiri Shin dan pasukannya yang ada di belakang tenda-tenda mereka.
"Salam yang mulia Shin" ucap Dixgard memberikan hormat.
"Tidak perlu sungkan yang mulia, terimakasih telah menyambut kedatanganku" jawab Shin.
"Mohon maaf yang mulia, jika hamba boleh tau yang mulia dari kerajaan mana?" tanya salah seorang bangsawan kepada Shin.
"Aku adalah raja dari kerajaan Phoenix yang ada di dalam hutan, dan sangat dekat dengan kerajaan Tempest" jawab Shin santai.
Mereka semua heran mendengar jawaban Shin, masalahnya mereka sama sekali belum pernah mendengar tentang adanya kerajaan besar dan juga kuat di dalam hutan, apalagi kerajaan itu dekat dengan kerajaan mereka.
Beberapa bangsawan lainnya mulai memiliki pemikiran yang licik agar bisa menjadi rekan ataupun bisa bekerjasama dengan kerajaan yang Shin pimpin, bahkan salah satu dari mereka juga ada yang berpikir untuk masuk dan memanfaatkan kekuatan Shin.
"Dasar manusia-manusia picik, kalian pikir aku tidak tau apa yang kalian pikirkan" gumam Zuryu dalam hatinya.
"Ada apa Zuryu?, kenapa wajahmu terlihat kesal?" tanya Shin.
"Tidak ada apa-apa yang mulia, hanya saja hamba sedikit khawatir dengan daerah ini, takut ada tikusnya" jawab Zuryu.
"Hahahaha, kau tenang saja disini tidak ada tikus, benarkan yang mulia" kata Shin melihat kearah raja Dixgard.
"Hahahaha kau benar sekali yang mulia Shin, disini tidak ada hama tikus yang menjijikan itu" jawab Dixgard, namun dia tidak tau maksud dari perkataan Shin dan juga Zuryu.
"Jangan khawatir Zuryu mereka pikir mereka bisa memanfaatkan kerajaan kita, namun itu hanyalah sebatas angan-angan kosong mereka saja, jadi kau tidak perlu khawatir" kata Shin kepada Zuryu lewat telepati.
"Baik yang mulia hamba mengerti" jawab Zuryu.
(**Halo para pembaca, maaf ya kalau telat update soalnya kemarin ada hal mendesak yang harus author kerjakan, jadi tidak ingat untuk update episode novel ini.
Dan juga terimakasih untuk semuanya yang masih setia membaca cerita author sampai saat ini, jangan bosan-bosan ya semuanya.
jangan lupa dukung juga author dengan cara like, komen, vote, rate 5 bintang, dan jika berkenan silahkan Share makasih ya**