The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Kematian Raja Dixgard



Tidak jauh dari pertempuran para pasukan, Leo dan Ryuzen juga tengah bertarung melawan jendral kerajaan Tempest yang masing-masing menghadapi dua jendral, meskipun yang mereka lawan adalah para jendral kerajaan tapi keduanya malah nampak sangat menikmati pertarungan tersebut, bahkan para jendral kerajaan Tempest menjadi bahan uji coba untuk kekuatan mereka yang baru.


"Hey Leo, kenapa kau sangat serius?" tanya Ryuzen di sela-sela pertarungan.


"Siapa yang serius?" ujar Leo.


"Sial bahkan mereka masih sempat mengobrol di sela-sela pertarungan" gumam salah satu jendral yang di hadapi oleh Ryuzen.


"Sudah banyak pertempuran yang aku jalani, tapi baru kali ini aku menemukan musuh yang masih bisa mengobrol santai saat bertarung denganku" gumam salah satu jendral yang di hadapi Leo


Keempat jendral tersebut merasa tak percaya dengan apa yang tengah terjadi saat ini, mereka adalah jendral kerajaan yang sering melakukan pertempuran namun baru kali ini mereka menemukan musuh yang seperti Leo dan Ryuzen kebanyakan musuh mereka akan lebih fokus saat bertarung, tidak bahkan semua orang tentunya harus fokus saat bertarung namun tidak bagi dua orang yang sedang mereka hadapi.


"Aku benar-benar merasa di hina dan di rendahkan oleh mereka" gumam jendral lainnya.


Tentu saja mereka akan merasa terhina, bahkan siapapun akan merasakan hal tersebut saat melawan seseorang yang malah dengan santainya bisa mengobrol saat pertarungan yang artinya lawan yang tengah ia hadapi hanya di anggap sebagai sampah atau semut kecil yang sedang mencoba menggigit kulit badak, walaupun sebenarnya Leo dan Ryuzen sama sekali tidak berfikiran seperti itu.


Karena merasa di hina dan di rendahkan oleh musuh, para jendral menjadi sangat kesal sekaligus marah dan dengan kekuatan penuhnya mereka menyerang Leo dan Ryuzen dengan sekuat tenaga, akan tetapi usaha mereka tetap saja sia-sia karena sebenarnya Leo dan Ryuzen bukan lawan yang seharusnya mereka hadapi.


"Leo, Ryuzen berhenti main-main dan selesaikan ini dengan cepat" ujar Shin melalui telepati.


"Siap yang mulia" jawab keduanya serempak.


Leo dan Ryuzen yang semula nampak hanya sedang bermain-main kini menjadi lebih serius. Ryuzen dan Leo melompat beberapa meter ke belakang untuk mengambil jarak lalu setelah itu secara bersamaan mereka berdua mengeluarkan bola api dari telapak tangan mereka.


Bola api yang mereka keluarkan hanya seukuran kepalan tangan anak kecil namun memiliki kekuatan yang cukup untuk menghancurkan seluruh pasukan kerajaan Tempest, hal ini di karenakan kekuatan keduanya yang telah menjadi semakin kuat di tambah lagi sekarang mereka berdua telah sepenuhnya menjadi Phoenix yang sesungguhnya.


Ryuzen dan Leo melemparkan bola api kecil tersebut secara bersamaan. Melihat dua bola api kecil melesat ke arah mereka, para jendral menunjukkan raut wajah kesombongan karena menurut mereka tidak mungkin bola api kecil tersebut bisa melukai mereka.


"Biar aku saja yang menghancurkan bola api itu" ucap salah satu jendral dengan sombongnya.


Jendral tersebut dengan santainya menebas kedua bola api kecil yang melesat ke arah mereka dengan pedangnya yang telah dialiri dengan energi, namu saat pedangnya menyentuh kedua bola api kecil itu tubuhnya malah terbakar dan langsung menjadi abu, tidak hanya dia saja tiga jendral lainnya yang tengah berada di dekatnya juga ikut terbakar dan seketika tubuh mereka hangus menjadi abu.


Raja Dixgard dan jendral utama melebarkan kedua mata mereka karena terkejut saat melihat empat jendral terbakar dan seketika menjadi abu hanya karena dua bola api kecil yang di lemparkan oleh Ryuzen dan Leo.


"Kekuatan macam apa itu?" tanya jendral utama pada dirinya sendiri.


"Ini buruk, keempat jendral telah di bunuh dan pasukan kita juga hampir habis di bantai, jendral perintahkan seluruh pasukan untuk mundur" perintah raja Dixgard.


"Baik yang mulia" jawab jendral utama.


Saat jendral utama ingin melangkah tiba-tiba Ryuzen dan Leo sudah berada di depan mereka berdua dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.


"Raja Dixgard, kau tau betul bahwa raja kami tidak akan kenal ampun pada penghianat tapi kau malah berani menghianatinya dan bahkan mengumumkan peperangan dengan kerajaan kami" ujar Leo.


"A-apa yang kalian inginkan?" tanya raja Dixgard gugup.


"Yang aku inginkan adalah kepalamu" ujar Ryuzen yang langsung menebas kepala raja Dixgard dan Jendral utama dengan pedang jenderalnya sendiri.


Ryuzen lalu mengangkat kepala raja Dixgard dan ia pertontonkan kepada seluruh pasukannya.


"Hentikan perang ini, raja kalian sudah mati" kata Ryuzen dengan tegas.


Seketika peperangan atau yang lebih tepatnya pembantaian tersebut berhenti setelah mendengar ucapan lantang Ryuzen, pasukan kerajaan gemetar ketakutan saat melihat kepala raja mereka yang sedang di pegang oleh Ryuzen dan seketika pasukan kerajaan yang tersisa menjatuhkan senjata mereka dan kemudian berlutut.


Namun tidak dengan sisa pasukan bangsa iblis mereka masih berdiri dan bahkan mencoba untuk melarikan diri dari tempat tersebut.


"Blue Lighting musnahkan pasukan iblis yang tersisa, dan jangan biarkan mereka kabur" perintah Leon.


Tiga ribu pasukan Blue Lighting langsung mengejar para pasukan iblis yang mencoba untuk kabur, dengan tanpa ampun mereka semua membunuh para pasukan iblis yang tersisa.


Tidak butuh waktu lama karena hanya kurang dari dua puluh menit seluruh pasukan bangsa iblis yang tersisa telah berhasil di kalahkan dam di bunuh oleh pasukan Blue Lighting.


Shin yang sedari tadi hanya menyaksikan pertempuran pasukannya merasa senang karena ia bisa melihat bahwa kekuatan pasukannya sudah lumayan kuat, meskipun mereka belum seutuhnya menjadi Phoenix tapi kekuatan mereka sudah bisa di katakan sangat luar biasa.


Shin kemudian terbang dengan perlahan mendekati pasukan kerajaan Tempest yang tersisa, seluruh pasukan kerajaan Tempest bisa merasakan tekanan yang aman dahsyat saat Shin mendekati mereka.


"Raja kalian telah kalah dan juga dia sudah mengorbankan kalian semua serta para penduduk kepada raja iblis, sekarang aku beri kalian dua pilihan pertama bergabunglah dengan kerajaan ku dan akan aku jamin kalian semua terlindungi dari bangsa iblis, kedua kalian akan tetap menjadi bawahan dan hamba raja iblis. sekarang pulanglah dan katakan hal ini kepada penduduk kerajaan kalian dan jika kalian menerima kalian bisa datang ke kerajaan Angin" kata Shin tegas.


"Terimakasih atas kebaikan anda yang mulia" jawab pasukan kerajaan Tempest kemudian meninggalkan medan perang tersebut.


"Tunggu, bawalah ini sebagai bukti" ucap Ryuzen sambil melemparkan kepala raja Dixgard.


"Blue Lighting" ucap Shin.


"Siap yang mulia" jawab mereka semua sambil berlutut.


"Aku merasa senang dengan perjuangan kalian hari ini, setelah kembali ke kerajaan aku akan memberikan kalian semua hadiah atas keberhasilan kalian,namun ingat kalian tidak boleh lengah karena peperangan yang sesungguhnya masih menanti kita" kata Shin tegas.


"Siap yang mulia" jawab mereka semua serempak.