The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Rencana Shin



Keesokan harinya, di padang rumput yang luas terlihat pasukan tentara kerajaan Light Born tengah dalam perjalanan meninggalkan kerajaan mereka menuju ke kerajaan Tempest untuk menyerang kerajaan itu.


"Hahahaha, aku sudah tidak sabar untuk membantai mereka semua" ucap Alex


"Kau tenang saja putraku, dengan jumlah pasukan kita yang sangat besar di tambah dengan pasukan monster dan iblis kita akan dengan mudah menghancurkan mereka" ujar raja Lyon.


"Kau benar ayah, akan kita ratakan kerajaan itu dengan tanah" ucap Alex lagi.


"Jadi bagaimana perasaanmu saat ini nak?" tanya raja Lyon.


"Perasaanku sangat senang ayah, bahkan rasanya didalam diriku ini ada kekuatan yang meluap-luap" jawab pangeran Alex.


"Baguslah nak, saat sampai di sana nanti kita akan menghabisi mereka semua" ucap raja Lyon.


"Apa ayah tau siapa yang membunuhku waktu itu" tanya pangeran Alex.


"Ah... kalau itu ayah kurang tau, hanya saja jika tidak salah ciri-cirinya adalah rambutnya berwarna merah terang, dan ayah rasa di dunia ini hanya ada satu orang yang seperti itu" ucap raja Lyon menjelaskan.


"Hmmm, baiklah ayah aku rasa ini sudah cukup, akan aku cari sendiri orang itu" ujar Alex santai.


Perjalanan menuju kerajaan Tempest masih sangat jauh, apalagi mereka memutuskan untuk menghancurkan desa-desa perbatasan terlebih dahulu, jadi mereka semua membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk sampai di ibukota kerajaan.


***


Sementara itu Shin dan yang lainnya tengah mengadakan pertemuan untuk membahas sesuatu dengan para bawahannya.


"Yang mulia kami senang akhirnya yang mulia memutuskan untuk kembali ke sini" ucap Raiga.


"Benar yang mulia, sekarang kami bisa melayani yang mulia dengan mudah" ujar Zuryu.


"Yah setidaknya aku juga senang karena berada di wilayah ku sendiri" jawab Shin.


Mereka semua berkumpul di ruang tahta, Shin dan Lily duduk di singgasana yang paling besar serta tempatnya paling tinggi, di kirinya ada raja Raiga dan ratu Leshena serta di kanannya ada raja Zuryu dan ratu Shisily.


Ruangan tahta sangatlah besar dan juga luas, ruangan yang besar itu dan hanya diisi oleh 6 kursi singgasana dan juga beberapa kursi untuk para jendral dan para tamu membuat ruangan itu menjadi terlihat semakin luas.


"Yang mulia selanjutnya apa yang ingin anda lakukan" tanya Ryuzen.


Mereka semua memandang kearah Ryuzen wajah mereka terlihat menunjukkan rasa keterkejutan mendengar perkataan Ryuzen.


"Hey kenapa malah memandangku" tanya Ryuzen.


"Tunggu, tadi kau memanggilku apa?" tanya Shin.


"Yang mulia..., memang ada yang salah?" jawab Ryuzen.


"Hahaha tidak ada yang salah hanya saja aku agak sedikit terkejut saat kau memanggilku begitu" ucap Shin.


"Sekarang kita ada di kerajaan kita sendiri jadi wajar aku memanggilmu yang mulia" ujar Ryuzen.


"Hahaha baiklah-baiklah selanjutnya aku harap kau akan terus memanggilku begitu" ucap Shin.


"Tadi kau bertanya mengenai rencana ku selanjutnya kan?"


"Baiklah begini, aku ingin membuat sebuah pasukan khusus yang lansung di pimpin olehku sendiri dan aku ingin mereka semua terdiri dari 100 pasukan manusia, 100 Elf dan 100 manusia Griffin".


"Aku ingin membuat pasukan yang sangat kuat hingga saat musuh mendengar namanya mereka sudah gentar ketakutan" lanjut Shin.


"Tapi untuk apa pasukan itu yang mulia?" tanya Zuryu.


"Untuk persiapan melawan raja iblis" ucap Shin dengan nada serius.


Mereka semua terdiam mendengar ucapan Shin, hanya satu yang ada dalam pikiran mereka yakni peperangan melawan ras Demon tidak akan terhindarkan lagi.


"Tiga ratus pasukan ini akan aku buat menjadi pasukan khusus kerajaan kita, dan akan menjadi pasukan yang terkuat dari semua kerajaan yang ada, aku tidak perlu pasukan yang banyak karena akan merepotkan meskipun sedikit tapi aku akan menjamin mereka semua mampu menghadapi pasukan raja iblis" jelas Shin.


"100 pasukan manusia akan menggunakan teknik dua pedang, 100 pasukan Elf akan menggunakan panah, 100 pasukan manusia Griffin akan menggunakan sihir, di masing-masing pasukan akan di pimpin oleh satu jendral, yaitu Ryuzen pasukan pedang, Leo pasukan pemanah, Lina pasukan sihir" lanjut Shin lagi.


"Baik yang mulia" jawab mereka bertiga serentak.


"Raiga, pilih 100 pemanah terbaik dari bangsa Elf, Zuryu pilih 100 penyihir terbaik dari manusia Griffin" ucap Shin.


"Baik yang mulia" jawab mereka serentak.


"Rayzen, saat ini ada berapa jumlah pasukan Elf" tanya Shin.


"Saat ini ada 500.000 pasukan Elf yang mulia dan mereka semua pengguna panah" jawab Rayzen.


"Baiklah kau rekrut pasukan baru dari bangsa Elf, manusia Griffin, dan manusia latih mereka menggunakan pedang dan kau akan lansung menjadi jendral pemimpin mereka" ucap Shin memberi perintah.


"Tapi yang mulia penduduk kita hanya kurang dari 500 orang" ujar Leo.


"Hah... ini yang menjadi masalah kita saat ini, jadi menurut kalian semua bagaimana kita bisa memecahkan masalah ini?" tanya Shin.


Mereka semua diam memikirkan cara untuk menambah penduduk kerajaan dari bangsa manusia.


"Bagaimana jika kita merekrut dari kerajaan lain yang mulia" ucap Ryuzen.


"Itu tidak mungkin, sudah pasti akan menimbulkan konflik dengan kerajaan lain" ujar Leo.


"Begini saja yang mulia, beberapa waktu lalu hamba melewati hutan dan menemukan ada bangsa manusia yang menetap di sana dan kemungkinan mereka adalah bandit" ucap Raiga.


"Pasukan bandit ya,.... Baiklah untuk saat ini kita pimpin pasukan yang aku sebutkan tadi dan kumpulkan mereka besok pagi"


"Baik yang mulia" jawab mereka serentak.


"Ma-maaf yang mulia jika boleh bertanya apa tugas hamba" tanya salah seorang manusia Griffin.


"Ah... ya aku lupa, siapa namamu?" tanya Shin.


"Nama hamba adalah Zarga yang mulia, jendral manusia Griffin" jawab Zarga.


"Baiklah Zarga selain sihir apa keahlian khusus yang kau miliki?" tanya Shin


"Keahlian khusus hamba adalah bisa menempa senjata dan armor yang mulia" jawab Zarga.


"Bagus itu yang aku butuhkan, tugasmu adalah kumpulkan para manusia Griffin yang bisa membuat armor dan buatkan 303 armor dengan bahan yang sangat kuat dan ingat armor itu harus berwarna biru" ucap Shin memberi perintah.


"Baik yang mulia akan saya laksana dengan baik" jawab Zarga.


"Baiklah jika begitu pertemuan hari ini kita sudahi dulu, dan laksanakan tugas kalian masing-masing" ucap Shin.


"Laksanakan yang mulia" jawab mereka serentak dan kemudian meninggalkan ruang tahta.


Sekarang di ruang tahta hanya ada Shin dan Lily serta kedua raja dan ratu lainnya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Shin.


"Kau sebaiknya tidak melakukan apa-apa, dan jadilah ratu yang baik untukku" jawab Shin dengan tersenyum ramah.


"Benar apa yang di ucapkan oleh raja yang mulia ratu, anda tidak perlu melakukan apa-apa, dan sebaiknya anda belajar menjadi ratu yang baik bersama kami" ucap Leshena.


"Benar yang mulia ratu" ujar Shisily.


Shin hanya bisa tersenyum mendengar ucapan kedua ratu itu dan kemudian mengelus kepala Lily, setelah itu mereka semua pergi meninggalkan ruang tahta.