The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
HARI LIBUR ²



Lily beranjak meninggalkan kamar Shin dia kemudian menuju ke lantai bawah untuk menyiapkan makanan, saat memasak dia tak henti-hentinya senyum-senyum sendiri karena memikirkan apa yang baru saja ia lewati bersama Shin.


Selesai memasak Lily memanggil Shin untuk makan bersama, Dia naik keatas dan menuju kamar Shin.


"Tok tok tok, apa aku boleh masuk" ucap Lily.


"Kenapa harus bilang dulu, bukannya kau bisa masuk sesukamu" Shin kembali menggoda Lily.


"Baiklah kalau begitu aku masuk" jawab Lily.


Lily kemudian masuk ke kamar Shin dia mendapati Shin sedang memandang bola api yang ia buat sendiri, Lily yang melihat itu lansung bertanya.


"Apa yang kau lakukan, kenapa kau memandang bola api itu" tanya Lily.


"Oh ini.. tidak ada apa-apa aku hanya teringat akan satu hal" jawab Shin.


"Apa itu?" tanya Lily semakin penasaran.


"Lily apa kau percaya padaku" ucap Shin.


"Ya aku sepenuhnya percaya padamu" jawab Lily.


"Kalau begitu, sekarang buka bajumu" ujar Shin.


"Hah...k-kau ingin lagi, bukannya kemarin su-sudah" jawab Lily.


"Bukan itu, aku akan mengobati lukamu" ucap Shin.


Lily tertunduk malu karena apa yang ia pikirkan ternyata tidak sama dengan yang Shin pikirkan, dia menudian membuka bajunya dan hanya menyisakan bra nya saja.


Shin merasa bersalah melihat luka di perut dan di tangan kanan Lily bagaimanapun juga luka itu tidak akan ada kalau dia kuat dan bisa melindungi teman-temannya.


Shin meminta Lily untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur, Shin kemudian mengeluarkan bola apinya, dia memfokuskan dirinya dan membayangkan bahwa bola api ditangannya ini tidak akan membakar Lily melainkan menyembuhkan bekas luka di tubuh Lily.


Kemudian dia meletakkan bola api itu di atas perut Lily dan secara ajaib bola api itu hanya membakar bekas luka yang ada di perutnya, perlahan-lahan bekas luka itu habis terbakar hingga hilang tak berbekas seolah-olah tak pernah ada luka bakar sebelumnya, kulitnya kembali mulus seperti sebelumnya. Shin melakukan hal yang sama dengan tangan Lily dan luka bakar yang ada di tangannya juga hilang sepenuhnya.


Lily melihat perut dan tangannya yang kini telah sembuh sepenuhnya seakan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, dia kemudian bangkit dan memeluk Shin.


"Terimakasih" ucap Lily


"Sudahlah ini bukan apa-apa, lagian sudah kewajiban ku untuk merawat calon istriku" ucap Shin sambil mencubit hidung Lily.


Lily hanya terdiam dan tersipu malu mendengar apa yang baru saja Shin ucapkan.


"Mari kita ke lantai bawah aku sudah sangat lapar" ucap Shin.


Setelah itu merekapun turun ke lantai bawah untuk pergi makan.


***


Sementara itu di kota kerajaan Lina sedang kesusahan mengurus Ryuzen dan Leo karena mereka berdua mabuk berat.


"Sudah kubilang kalian jangan terlalu banyak minum arak" Lina memarahi mereka berdua.


"Hey... ayolah... Li...Lina inikan hari libur kita" Ucap Ryuzen.


"I...Iya Lina,.... Kapt..Kapten saja sedang


senang-senang, Kita juga harus senang-senang" ujar Leo.


"Akan aku laporkan perbuatan kalian pada kapten, agar kalian di marahi" ucap Lina kesal, lalu meninggalkan kedua pria yang sedang mabuk itu di dalam bar.


"Huh... dasar laki-laki, awas saja kalian akan aku laporkan pada kapten" gumam Lina kesal.


"Tapi sebaiknya aku juga menikmati hari libur ini" gumamnya lagi..


"Aku tau hari ini aku akan berbelanja sepuasnya, aku sangat kesal karena mereka melarang untuk pulang, dan malah menginap di penginapan semalam, padahal aku lebih nyaman di rumah" gumamnya sambil berjalan menuju ke sebuah toko baju.


***


Shin dan Lily kini duduk di ruang tamu, Lily menyandarkan kepalanya ke bahu Shin sambil menceritakan apa saja yang sudah mereka lakukan selama Shin tidak sadarkan diri, mulai dari mereka yang bertambah kuat, menyelesaikan misi-misi sulit, hingga menjadi party nomor satu di kerajaan Tempest.


"Kau tau Lily aku kadang berfikir tentang ancaman raja iblis waktu itu" ucap Shin setelah mendengarkan cerita Lily.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan?, aku harap kali ini kau tidak bertarung sendirian lagi" jawab Lily.


"Tentu saja tidak, aku tau kalian berempat sudah bertambah kuat, namun jika hanya kita berlima aku takut kita tidak akan bisa mengalahkan pasukan iblis" ucap Shin.


"Jadi apa rencana mu" ujar Lily.


"Aku memikirkan satu hal, Bagaimana kalau kita membuat sebuah guild, dan tentunya kalian akan memilih dan menyeleksi anggotanya nanti" ucap Shin.


Lily terkejut dan seakan tak percaya dengan apa yang di katakan Shin, namun jika itu adalah keinginan Shin maka dia akan dengan senang hati menurutinya.


"Baiklah sebaiknya kita memanggil mereka bertiga untuk pulang" ucap Shin.


"Jadi apa kita akan ke kota" jawab Lily.


"Itu tidak perlu sayang, aku akan memanggil mereka dari sini" Shin mencium pipi Lily kemudian memejamkan matanya.