
Setelah mereka selesai mandi dan mengganti pakaian mereka bertiga kemudian turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama, sesampainya di bawah ternyata Alisha dan Reva sudah terlebih dulu berada di meja makan dan terlihat wajah Alisha yang cemberut karena menunggu kedatangan mereka bertiga yang sangat lama.
"Ayah, ibu kenapa kalian sangat lama aku sudah lapar" ucap Alisha cemberut.
"Hahaha, maaf sayang" ucap Shin.
"Sudah-sudah jangan bicara lagi, mari kita makan" ujar Reva.
Untuk pertama kalinya Shin dan Lily makan bersama lagi di rumah tersebut setelah bertahun-tahun berlalu, suasana nyaman dan tenang di tempat tersebut sama sekali tidak berubah, bahkan Aurora yang baru saja tinggal di sana lansung bisa merasakan perasaan nyaman dengan suasana tempat tersebut.
Setelah selesai makan mereka kemudian duduk di tepi danau untuk menikmati indahnya langit malam, mereka juga berbincang-bincang mengenai masa lalu dimana saat itu Shin berhasil mengejutkan seluruh petualang dengan kemampuannya yang luar biasa dan berhasil mengalahkan pemimpin Guild.
Lily juga menceritakan kepada Aurora saat pertama kali dia bertemu dengan Shin, yang mana pada saat itu Shin adalah orang yang telah menyelamatkannya dari monster Orc. Ia juga menceritakan pada Aurora bahwa ia lansung jatuh cinta pada Shin saat pandangan pertama, meskipun awalnya dia mengira perasaan tersebut hanyalah karena kagum namun akhirnya dia sadar bahwa perasaannya pada Shin benar-benar tulus.
Mereka bercerita di tepi danau hingga larut malam bahkan Alisha sampai ketiduran dalam pelukan Reva, karena sudah sangat larut mereka memutuskan untuk kembali ke dalam rumah untuk istirahat. Reva meminta izin pada Lily agar dia bisa tidur bersama Alisha dan tanpa keberatan Lily menyetujui hal tersebut.
"Aku rasa Reva sangat menyukai Alisha" ucap Lily dalam dekapan Shin.
"Aku juga merasa begitu, mungkin dia teringat dengan anaknya" ucap Shin.
"Meskipun begitu setidaknya dia pernah hampir memiliki seorang anak sementara aku sama sekali tidak bisa" ucap Aurora sedih.
"Kau ini bicara apa kak, bukankah Alisha juga anakmu" kata Lily.
"Ya aku tau itu, hanya saja..."
"Sudah, sudah, mungkin akan ada masanya nanti kau akan merasakan menjadi seorang ibu" ujar Shin sambil mempererat pelukannya pada kedua istrinya.
"Sekarang saatnya istirahat karena besok kita akan mengunjungi si penghianat Dixgard" kata Shin sambil mencium kening kedua istrinya.
**
Keesokan harinya Shin, Lily dan Aurora nampak sedang bersiap-siap untuk mengunjungi raja Dixgard di istana, kali ini hanya mereka bertiga saja yang pergi karena Alisha tidak diizinkan oleh Shin untuk ikut, dan juga Alisha lebih memilih untuk bermain dengan Reva.
"Kalian sudah siap?" tanya Shin.
"Mm" jawab Lily dan Aurora dengan menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu mari kita berangkat" kata Shin.
Mereka bertiga kemudian melesat terbang menuju ke kerajaan, dan hanya dalam beberapa detik saja mereka bertiga telah sampai di atas istana. Shin lansung turun di halaman istana tanpa peringatan begitu juga dengan Lily dan Aurora.
Kedatangan mereka bertiga berhasil membuat heboh seluruh pasukan pasalnya mereka bertiga datang dari langit serta terdapat sepasang sayap di punggung mereka hingga membuat para prajurit berfikir bahwa mereka bertiga adalah malaikat.
"Ya-yang mulia raja, ada di ruangan tahta tuan" jawab salah satu prajurit.
"Bawa kami ke sana" kata Shin singkat.
"Ba-baik tuan mari ikuti saya" kata prajurit tersebut.
Mereka bertiga kemudian mengikuti salah satu prajurit menuju ke dalam istana, sesampainya di dalam istana mereka bertiga di sambut hangat oleh raja Dixgard dan juga para bangsawan yang ada di dalam istana tersebut, namun Shin menolak dan lansung menanyakan sesuatu yang membuat mereka semua tercengang.
"Cukup basa-basinya dan katakan padaku kenapa kau mau menyerang kerajaanku?" tanya Shin.
Mereka semua kaget mendengar ucapan Shin, sekaligus merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar, bagaimana mungkin raja mereka berani menantang orang yang sangat kuat.
"Tu-tuan, kenapa tuan berkata begitu, aku bahkan tidak mengenal tuan apalagi untuk menyerang kerajaan tuan" kata Dixgard membela diri.
"Hahahaha kau bilang tidak mengenal diriku?, tapi kau secara terang-terangan mengumumkan akan berperang melawan kerajaanku" kata Shin.
Dixgard terdiam sejenak dan kembali memutar otaknya, dia memang sempat menyatakan perang baru-baru ini namun bukan dengan kerajaan manusia bersayap, melainkan dengan sebuah kerajaan kecil yang baru saja berdiri.
Saat ini raja Dixgard masih belum menyadari bahwa yang di depannya saat ini adalah raja dari kerajaan yang ingin diserangnya, dan juga orang yang sama dengan yang telah dikhianatinya sepuluh tahun yang lalu, hal tersebut di sebabkan penampilan Shin yang sangat berbeda serta ia sama sekali tidak menghilangkan sepasang sayap di punggungnya, sehingga raja Dixgard mengira bahwa Shin adalah manusia setengah burung.
"Maaf tuan, tapi aku benar-benar tidak mengenali tuan dan tidak pernah mengatakan bahwa aku ingin menyerang kerajaan tuan" kata Dixgard.
"Apa sekarang kau sudah ingat?" tanya Shin yang telah merubah penampilannya serta menghilangkan sepasang sayap di punggungnya.
"K-kau, ba-bagaimana bisa kau masih hidup?" kata raja Dixgard gugup.
"Bagaimana aku bisa hidup?, hahaha itu adalah pertanyaan yang konyol karena aku memang belum mati" kata Shin merubah kembali penampilannya dengan rambut panjang.
"Ja-jadi ka..."
"Ya, aku adalah Shin, raja dari kerajaan phoenix yang telah kau sangka mati dan aku juga Shin yang sama yang menjadi raja dari kerajaan Angin yang ingin kau serang itu" kata Shin tegas memotong ucapan raja Dixgard.
Tubuh raja Dixgard dan orang-orang yang ada di dalam istana bergetar hebat karena ketakutan, mereka semua tentu ingat dengan keganasan Shin pada saat membunuh pangeran Alex serta keganasan dan kehebatan pasukannya saat membantu kerajaan Tempest dalam memenangkan perang melawan kerajaan Light Born.
"S-shin ampuni aku, aku berjanji akan menarik kembali pernyataan perang itu" kata raja Dixgard memohon.
"Mengampuni mu?!, kau sudah sangat lancang menyebarkan kepada seluruh rakyatmu bahwa aku telah mati, kau juga melarang para penduduk untuk mengambilkan barang berharga di reruntuhan kerajaanku bahkan kau menghukum mati dan menuduh orang sembarangan, lalu kau dengan lancangnya mengancam keluargaku dan menyatakan perang dengan kerajaanku secara terang-terangan, katakan padaku bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan mu!!!" kata Shin marah.
"Kau beruntung karena kedatangan ku kali ini bukan untuk membunuhmu, aku hanya memperingati mu karena pada saat perang aku tidak pernah main-main dan tidak pernah mengampuni musuh-musuhku" lanjut Shin.
Raja Dixgard hanya bisa terdiam seribu bahasa, dia tidak tau lagi harus melakukan apa dan tidak gau harus meminta bantuan dengan siapa, sekarang dia benar-benar hancur karena kesalahannya sendiri yang telah bersikap sembarangan, sombong, serakah, dan berkhianat dan mau tidak mau sekarang dia harus memanen hasil yang telah ia tanam selama ini.