The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Pertemuan Tak Terduga



Setelah selesai makan, Shin kemudian melanjutkan perjalanannya lagi menuju ke utara sesuai petunjuk dari pelayan kedai tersebut, dia kembali terbang dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di kerajaan tersebut.


"Semoga saja kerajaan yang aku tuju merupakan salah satu dari tiga kerajaan itu, jika tidak aku tidak tau lagi harus mencari Lily kemana" gumam Shin.


Shin terbang dengan kecepatan tinggi melewati hutan yang sangat lebat, dan seperti yang dikatakan oleh pelayan kedai itu sama sekali tidak terlihat sebuah kota ataupun kerajaan, sejauh matanya memandang hanya ada hutan yang sangatlah luas, bahkan setelah ia terbang selama berhari-hari ia masih belum juga menemukan kerajaan tersebut.


Selama perjalanan Shin hanya menemukan beberapa desa kecil saja, dan setiap kali menemukan desa Shin pasti akan singgah untuk menanyakan arah kerajaan terdekat, namun setiap orang yang ia tanyakan hanya menunjukkan arah yang sama yaitu utara.


***


Di kota lembah angin, Lily dan yang lainnya tengah bersiap-siap untuk pergi ke ibukota kerajaan karena dua hari lagi Alisha akan mulai belajar di akademi kerajaan.


"Ibu, apa ibu sudah siap?" tanya Alisha.


"Sebentar sayang" jawab Lily.


"Kenapa ibu sangat lama, perjalanan kita masih jauh bu" kata Alisha


"Oke, ibu sudah siap mari kita berangkat" kata Lily kemudian mereka berdua turun ke lantai bawah.


"Ryuzen apa semua sudah siap?" tanya Lily.


"Tentu, semuanya sudah siap" ujar Ryuzen.


"Baiklah mari kita bergegas" kata Lily.


Setelah semuanya selesai mereka kemudian berangkat menuju ke ibukota kerajaan menggunakan kereta kuda, dan selama perjalanan meninggalkan kota banyak sekali warga kota yang mengantarkan kepergian mereka sampai ke depan gerbang kota.


"Alisha ingatlah pesan ibu, di akademi nanti kau jangan pernah membuat masalah dan selalu ikuti apa kata gurumu" kata Lily.


"Tenang saja bu" jawab Alisha singkat.


Setelah dua hari perjalanan akhirnya mereka sampai di ibukota kerajaan dan disambut hangat oleh raja, sikap raja menjadi sangat hormat serta lembut kepada Lily dan teman-temannya selain karena kekuatan mereka yang mustahil untuk di lawan mereka juga berjasa karena telah menjadikan pangeran mahkota sebagai kesatria yang hebat.


"Selamat datang Duchess Lily dan kalian semua" sapa raja.


"Selamat datang bibi, dan guru-guru sekalian" sambut pangeran Diego.


"Salam yang mulia raja dan ratu, salam yang mulia pangeran" ucap mereka serempak


"Tidak perlu sungkan mari kita ke ruangan pertemuan" ajak raja.


"Alisha apa kau mau ikut ibu?" tanya Lily.


"Aku ingin jalan-jalan" jawab Alisha.


"Baiklah, hati-hati" ucap Lily.


Alisha kemudian pergi keluar istana dan menuju ke taman, suasana di istana sangat berbeda dengan di mansion miliknya hingga membuatnya sedikit risih.


"Hay, namaku pangeran George siapa namamu?" kata pangeran George.


"Namaku tidak penting" jawab Alisha acuh.


"Apa kau mau aku temani?" tanya pangeran George lagi.


"Tidak, aku mau sendiri jadi pergilah" ujar Alisha cuek.


"Jika bukan karena kakak, aku tidak ingin menemui perempuan sombong ini, tapi aku akui dia memang cantik" kata pangeran George dalam hatinya, kemudian pergi meninggalkan Alisha sendirian.


Setelah dua jam menunggu di taman akhirnya Lily keluar dari istana, melihat ibunya keluar Alisha lansung berlari menghampirinya.


"Ibu kenapa sangat lama?" tanya Alisha.


"Baiklah sekarang mari kita menuju ke akademi, acara penerimaan siswa baru akan segera dimulai" kata Lily.


"Baik bu" jawab Alisha semangat.


Setelah itu mereka semua menuju ke akademi yang terletak tidak jauh dari istana kerajaan, sesampainya di sana halaman akademi sudah dipenuhi oleh para calon murid baru bersama dengan orang tua mereka.


"Baiklah untuk para calon murid baru sebentar lagi kita akan mengadakan tes pertama yaitu menjelajahi hutan, dalam tes ini kalian di perbolehkan untuk berburu dan hasil buruan kalian nanti akan menjadi nilai tambah untuk kalian semua, namun tenang saja para guru akan mengawasi kalian semua agar kalian tetap aman selama di hutan" kata seorang pria paruh baya.


"Ternyata tesnya menjelajah hutan?, Alisha apa kau yakin?" tanya Lily.


"Aku yakin bu" jawab Alisha serius.


"Baiklah jika ada apa-apa gunakan kalung Phoenix mu untuk memanggil ibu" kata Lily.


"Baik bu" jawab Alisha semangat.


"Baiklah sekarang mari kita mulai tes yang pertama dan waktu kalian hanya dua hari dan jika kalian kembali sebelum dua hari atau melebihi dua hari kalian akan dianggap gagal" kata pria paruh baya tersebut.


"Kalau begitu silahkan berangkat" lanjutnya.


Ratusan murid segera berjalan meninggalkan akademi dan lansung menuju ke hutan, sebelum memasuki hutan para murid mulai berpencar dan membuat kelompok masing-masing, namun Alisha lebih memilih untuk melakukan perjalanannya sendiri menelusuri hutan.


Baginya berjalan sendiri akan lebih mudah daripada berjalan dengan orang lain yang hanya akan menjadi beban dan merepotkan dirinya saja, dan karena Alisha tidak membuat kelompok maka dirinya lepas dari pengawasan para guru, sehingga tidak ada yang mengawasinya.


Alisha terus berjalan di kedalaman hutan, sesekali ia mencoba untuk berburu beberapa binatang yang ia temui untuk ia jadikan makanannya selama di hutan, setelah itu dia kemudian mencari tempat yang cocok untuknya bermalam karena sebentar lagi akan gelap.


Di atas awan seorang pria terbang dengan kecepatan tinggi menuju terus kearah utara, dia adalah Shin yang selama beberapa hari terakhir masih terbang menelusuri hutan yang sangat lebat, setelah merasa lelah dia kemudian mencoba untuk mencari tempat untuk istirahat serta memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya besok.


Saat sedang mencari tempat untuk bermalam Shin melihat cahaya dari kedalam hutan, karena merasa penasaran Shin kemudian turun menghampiri cahaya tersebut dan ketika ia sampai di sana ia sangat terkejut ketika melihat seorang gadis kecil tengah sendirian di hutan yang gelap.


"Permisi gadis muda, apa aku boleh berhenti di sini?" tanya Shin.


Alisha sangat kaget ketika melihat seorang pria dewasa tiba-tiba turun di depannya hingga membuat Alisha tidak sempat menjawab pertanyaan orang tersebut.


"Si-siapa kau?" tanya Alisha takut.


"Tenanglah gadis muda, aku bukan orang jahat aku hanya ingin menumpang beristirahat di dekatmu" jawab Shin ramah.


"Be-benarkah?" tanya Alisha menyelidik.


"Aku bersumpah demi istri dan anakku bahwa aku bukan orang jahat" jawab Shin meyakinkan.


"Baiklah, paman bisa beristirahat di sini" jawab Alisha.


"Syukurlah terimakasih banyak" kata Shin.


"Aneh, kenapa aku merasakan keberadaan api suci dalam diri anak ini?" gumam Shin dalam hati.


"Kalau boleh paman tau, siapa namamu nak?" tanya Shin.


"Namaku Alisha paman" jawab Alisha ramah.


"Nama yang bagus" ujar Shin.


"Lalu apa yang kau lakukan di sini?" tanya Shin.


"Aku sedang mengikuti tes untuk masuk akademi paman, jadi aku harus bertahan di hutan selama dua hari penuh, dan ada seseorang yang mengawasi kami" jawab Alisha.


"Benarkah?, tapi paman tidak merasakan ada orang lain di sini selain kita berdua" kata Shin.


Perkataan Shin barusan membuat wajah Alisha menjadi pucat, dia tidak menyangka bahwa tidak ada orang yang mengawasinya dan terlebih lagi sepertinya dia sudah sangat jauh memasuki hutan, namun kekhawatiran tersebut disembunyikan oleh Alisha agar tetap terlihat tenang dan santai.