The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Kembali Ke Kota



Pangeran Diego sangat senang ketika dirinya di terima oleh Ryuzen sebagai muridnya, pasalnya sejak mengetahui tentang kehebatan Ryuzen serta menyaksikan lansung secara diam-diam saat Ryuzen bertarung melawan Duke Daniel, pangeran Diego lansung mengidolakan Ryuzen dan bercita-cita ingin menjadi muridnya.


Raja Sebelumnya sudah melarang pangeran Diego, karena menurut raja Ryuzen merupakan orang yang berbahaya, namun tidak dengan ratu menurutnya Ryuzen merupakan guru yang tepat untuk pangeran karena sifat Ryuzen yang tidak pernah membandingkan tahta serta martabat seseorang.


Ratu percaya bahwa Ryuzen akan bisa mendidik anaknya menjadi kesatria yang hebat serta baik hati dan tidak sombong, karena dukungan dari sang ibu pangeran Diego menjadi sangat senang dan semakin bersikeras untuk menjadi murid Ryuzen dan akhirnya raja juga memberikan izin.


Selama perayaan ulang tahun, pangeran lebih memilih untuk mengobrol dengan Lily dan yang lainnya, pangeran bahkan tidak menghiraukan para bangsawan yang lainnya, sehingga beberapa bangsawan merasa sangat iri kepada Lily.


"Paman sekarang aku sudah menjadi muridmu, jadi apa kau akan tinggal di istana?" tanya pangeran Diego.


"Tidak!" jawab Ryuzen santai.


"Eh... lalu bagaimana caraku belajar paman?" tanya Diego heran.


"Kau akan tetap bisa belajar karena kau akan ikut kami kembali ke lembah angin dan belajar di sana" jawab Ryuzen.


"Apa!!, Ryuzen kau sudah keterlaluan" ujar salah satu bangsawan.


"Jangan banyak bicara, biarkan dia sendiri yang menentukan" kata Ryuzen.


"Kau bahkan tidak memiliki sopan santun pada pangeran" ucap bangsawan itu.


"Baiklah aku bersedia" ujar pangeran.


"Bagus, besok kita akan lansung kembali ke kota Lembah angin, dan saat di sana kau dilarang membawa pelayan, satu lagi jangan pernah sebut dirimu sebagai pangeran saat di sana, jika tidak setuju maka kau tidak akan jadi muridku" ucap Ryuzen.


"Jangan karena kau sudah jadi guru pangeran kau bisa seenaknya Ryuzen" kata para bangsawan.


"Baik aku setuju" ujar pangeran dengan tegas.


"Bagus pangeran karena kau telah setuju dengan syarat yang aku berikan jadi kau secara resmi menjadi muridku" ucap Ryuzen.


"Terimakasih Guru" kata Diego sambil membungkuk hormat.


"Baginda raja, tidakkah tindakan Ryuzen ini terlalu kelewatan" kata salah satu bangsawan.


"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, Ryuzen sekarang adalah guru dari pangeran Diego jadi dia bisa melakukan apapun selagi hal itu masih wajar" ucap raja.


"Cihhh, bahkan raja juga membelanya" gumam bangsawan tersebut kesal.


Pesta berlanjut hingga sore hari, mereka semua merasa bahagia untuk pangeran, namun tidak ada yang istimewa dari pesta tersebut padahal para gadis sangat berharap akan bisa menari atau berbicara dengan pangeran, namun pangeran malah asyik mengobrol bersama Ryuzen.


Waktu berlalu dengan cepat pesta akhirnya selesai karena sudah hampir malam, semua bangsawan serta para tamu yang di undang oleh raja mulai pergi meninggalkan istana dan kembali ke tempat mereka masing-masing.


"Guru, apa besok kita akan lansung berangkat ke kota Lembah angin?" tanya Diego.


"Jika Lily tidak ada urusan lain, maka kita akan berangkat besok pagi" jawab Ryuzen.


"Sebaiknya kau segera istirahat, karena ada kemungkinan besok kita akan berangkat sebelum matahari terbit" ucap Ryuzen lagi.


"Baik guru" ucap Diego kemudian membungkuk memberi hormat setelah itu pergi menuju kamarnya.


"Akhirnya aku bisa menjadi murid master Ryuzen, aku pasti akan belajar dengan giat" gumam Diego senang.


***


"Yang mulia kami pamit" kata Lily.


"Ayah, ibu aku berangkat" ucap Diego.


"Hati-hati semuanya, dan aku mohon jagalah putraku" kata raja.


"Tenang saja yang mulia, aku janji saat pangeran kembali nanti dia pasti sudah jadi kesatria yang hebat" ujar Ryuzen.


"Diego belajarlah dengan giat, dan turuti semua perkataan gurumu" kata Raja sambil mengusap kepala anaknya.


"Baik ayah" jawab Diego.


"Hati-hati anakku" ucap ratu kemudian memeluk pangeran Diego.


"Iya ibu" kata Diego sambil membalas pelukan ibunya.


Setelah agak lama berpelukan akhirnya ratu melepaskan pelukannya, dan setelah selesai berpamitan mereka semua lansung berangkat menggunakan kereta kuda.


Saat dalam perjalanan pangeran Diego tidak henti-hentinya untuk mengagumi alam sekitarnya, karena ini pengalaman pertama baginya untuk meninggalkan kerajaan Diego terus saja menolehkan kepalanya keluar jendela kereta kuda untuk menikmati pemandangan hutan selama perjalanan.


"Diego ingat yang aku katakan sebelumnya mulai saat ini kau bukan lagi pangeran kerajaan Cronos, jangan sampai orang lain tau kalau kamu itu pangeran dan identitasmu saat ini hanyalah sebagai murid sang 'Great Assassin" kata Ryuzen menyebutkan gelarnya dulu sebelum bertemu Shin.


"Wah, berarti guru adalah Assassin terkuat?" tanya Diego.


"Itu benar Diego, gurumu adalah Assassin terkuat dan hanya satu orang yang ia takuti di dunia ini" ujar Leo.


"Benarkah?, lalu siapa yang di takuti guru?" Diego semakin penasaran.


"Shin, kesatria terkuat yang memimpin kelompok kami, yang merupakan suamiku" ucap Lily.


"Lalu dimana paman sekarang bibi?" tanya Diego lagi.


"......."


Suasana tiba-tiba menjadi hening tidak ada satupun yang berani untuk bicara, bukan karena takut atau apapun melainkan mereka sama sekali tidak mengetahui dimana keberadaan Shin saat ini.


Diego sangat heran karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya namun ketika ia melihat kesedihan di wajah mereka semua barulah ia sadari bahwa hal tersebut tidak seharusnya ia tanyakan.


"Ma-maaf semuanya, aku tidak tau.."


"Tidak Diego ini bukan kesalahanmu, karena memang dari awal kau tidak mengetahui hal ini, dan setelah ini jangan pernah kau tanyakan hal itu lagi" kata Ryuzen memotong ucapan Leo.


"Baik guru aku janji tidak akan membahas hal ini lagi" ujar Diego.


"Bagus" kata Ryuzen singkat.


Perjalanan mereka kembali ke kota Lembah angin terasa sepi dan hening sama sekali tidak ada yang berbicara atau membahas apapun hingga suasana menjadi sangat canggung.


Diego sesekali mencoba untuk memecah keheningan dengan mengajak mereka berbincang atau hanya sekedar bertanya tentang hal-hal yang tidak penting, namun Ryuzen hanya menjawabnya dengan singkat dan seperlunya.


Setelah perjalanan selama dua hari dengan kereta kuda akhirnya mereka sampai di kota Lembah angin, dan lagi-lagi Diego sangat kagum ketika pertamakali melihat kota itu, ia tidak menyangka kota yang letaknya paling jauh dari ibukota kerajaan serta merupakan kota yang paling kecil di bandingkan dengan yang lain akan bisa sangat indah.


Udara sejuk terus saja berhembus di kota itu, sehingga membuat perasaan nyaman di setiap orang yang ada di kota tersebut, setelah mereka sampai di mansion Ryuzen lansung membawa Diego ke lantai atas agar dia bisa memilih kamarnya sendiri dan bisa segera beristirahat.