The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Evolusi Pasukan Blue Lightning



Waktu seminggu yang di janjikan Shin untuk melatih pasukan Blue Lightning telah berlalu, kini semua pasukan tengah berjalan kembali menuju ke kerajaan angin untuk menemui pemimpin sekaligus raja mereka. Sekarang mereka juga sudah mengerti tujuan mereka mendapatkan kekuatan baru ini dan mereka juga sudah mengetahui bahwa sekarang mereka bukan lagi manusia biasa melainkan bangsa Agung Phoenix.


Tidak ada keraguan dalam hati seluruh pasukan Blue Lightning, yang ada hanya tekad dan semangat yang membara dengan kekuatan baru ini mereka akan bisa melindungi orang-orang yang mereka sayangi, dengan kekuatan baru yang mereka dapatkan mereka semua akan menjadi penyelamat umat manusia dari cengkraman bangsa iblis atau bangsa naga.


"Blue lightning...!"


Saat seluruh pasukan sedang dalam perjalanan pulang mereka mendengar sebuah suara yang sangat akrab menggema di telinga mereka, namun sosok yang memanggil mereka sama sekali tidak ada di sana.


"Hormat kami yang mulia" jawab seluruh pasukan Blue Lightning sambil berlutut.


Suara yang menggema di pikiran mereka itu adalah suara dari pemimpin mereka, yaitu Shin. Sekarang mereka juga sudah mengetahui identitas Shin yang sesungguhnya baik itu sebagai raja bangsa phoenix ataupun Dewa Agung bangsa phoenix.


"Bagus jika kalian sudah bisa mendengar suaraku itu artinya kalian telah berhasil menguasai kekuatan energi inti api, Ryuzen, Leo, Lina dan Reyna pimpinan semua pasukan menuju ke markas pertama pasukan Blue Lightning" kata Shin tegas.


"Markas pertama?, yang mulia apa tempat tersebut masih ada?" tanya Ryuzen.


"Masih sama seperti dulu, sudah jangan tanya lagi dan segera bawa pasukan ke sini" perintah Shin.


"Baik yang mulia" jawab mereka serempak.


"Kalian dengar apa yang baru saja dikatakan yang mulia kan?, sekarang kepakan sayap kalian dan kita terbang menuju ke markas pertama Blue Lightning" kata Ryuzen tegas.


Seketika Aura merah dan Aura biru menyelimuti seluruh pasukan Blue Lightning di belakang punggung mereka perlahan-lahan mulai terbentuk sepasang sayap transparan yang senada dengan warna aura mereka masing-masing. Begitu juga dengan Ryuzen, Leo, Lina dan Reyna namun perbedaannya adalah sayap mereka berempat bukan sayap yang terbentuk dari aura melainkan sayap sesungguhnya.


"Mari kita berangkat" Ryuzen memimpin seluruh pasukan Blue Lightning terbang menuju ke arah kerajaan Tempest atau lebih tepatnya ke markas pertama Blue Lightning.


Tiga ribu pasukan yang di pimpin oleh empat orang terbang dengan kecepatan tinggi hingga membuat langit dihiasi oleh warna merah dan biru seperti bintang jatuh, namun siapa saja yang melihat dua Cahaya tersebut dapat merasakan takut dalam diri mereka karena tekanan aura yang sangat kuat yang berasal dari dua cahaya yang berjumlah ribuan tersebut.


**


Di markas Blue Lightning Shin nampak sedang berdiri dengan tenang di pinggir danau menanti kedatangan pasukannya, dari raut wajahnya yang tenang bisa dilihat ada rasa kepuasan terukir jelas di sana karena semua pasukan Blue Lightning yang ia dirikan telah berevolusi menjadi lebih kuat dan pastinya akan lebih mematikan dari sebelumnya.


"Azazel sekarang hanya tinggal menunggu waktu sampai bangsa phoenix benar-benar bangkit, dan saat itu tiba dendam yang selama ini aku pendam akan aku tuntaskan denganmu" gumam Shin.


Beberapa jam berlalu kini di langit nampak ribuan cahaya biru dan merah perlahan-lahan mulai turun di tepi danau, mereka adalah para pasukan Blue Lightning yang telah sampai di markas pertama Blue Lightning.


"Hormat pada yang mulia" ucap mereka serempak sambil berlutut.


Shin melambaikan satu tangannya sebagai tanda dia menerima hormat dari pasukannya dan meminta mereka semua untuk kembali berdiri.


"Selamat karena kalian telah berhasil menguasai kekuatan baru kalian, aku sengaja mengumpulkan kalian semua di sini karena ingin mengatakan beberapa hal..


"Pertama Pasukan Blue Lightning hanya akan di komandoi oleh Ryuzen dan Leo karena aku tidak mengizinkan perempuan untuk ikut berperang, apa kau menerima ini Lina?" tanya Shin.


"Hamba terima yang mulia" jawab Lina.


"Dan yang terakhir, Dalam perang kali ini aku ingin kalian semua menunjukkan kekuatan kita yang sesungguhnya agar dunia tau bahwa bangsa phoenix yang agung telah kembali dan agar para bangsa iblis tau bahwa kemusnahan mereka hanya menunggu waktu" kata Shin tegas.


"Baik yang mulia" jawab seluruh pasukan serempak.


"Dengan ini aku umumkan bahwa pasukan Blue Lightning telah Berevolusi menjadi pasukan bangsa phoenix yang agung" ucap Shin.


Semua pasukan bersorak gembira, semangat mereka kembali membara meskipun telah melakukan pelatihan panjang dan menguras tenaga namun setelah mendengar kata-kata raja mereka rasa lelah mereka telah berubah menjadi semangat yang membara.


"Sekarang istirahatlah dan pulihkan tenaga kalian, Ryuzen, Leo seperti sebelumnya malam ini kita akan mengadakan pesta dan aku ingin kalian berdua yang berburu di hutan" ucap Leon.


"Baik yang mulia" jawab mereka serempak lalu membubarkan diri dan mendirikan tenda untuk mereka beristirahat.


Ryuzen dan Leo lansung pergi ke hutan untuk berburu beberapa binatang untuk di jadikan makanan mereka nanti malam.


"Lina, Reyna apa kalian benar-benar tidak keberatan dengan keputusanku ini?" tanya Shin.


"Tentu saja kami tidak keberatan, kau adalah kepala keluarga jadi keputusanmu pastilah yang terbaik untuk kami semua" jawab Lina.


"Benar sekali, sebenarnya aku juga ingin mengatakan hal ini sebelumnya, tapi tidak di sangka kau malah mengatakannya lebih dulu" ujar Lina.


"Syukurlah kalau kalian menerima" ucap Shin lega.


"Kalau begitu kami pergi menemui Lily dan yang lain dulu" ucap Lina kemudian dia mengajak Reyna masuk ke dalam rumah.


**


Malam harinya seluruh pasukan kembali berkumpul di dekat danau namun kali ini mereka tidak memaki armor melainkan hanya memakai baju biasa, suasana di tepi danau tersebut menjadi sangat ramai dan penuh dengan gelak tawa.


Mereka semua mengobrol dengan santai satu sama lain layaknya sebuah keluarga besar, pada malam itu tidak ada pembatas diantara mereka karena mulai malam itu mereka semua adalah keluarga dan tentunya Shin sebagai kepala keluarga mereka.


"Kalian berempat yang ada di sana ajak beberapa teman dan urus makanan kita" perintah Ryuzen.


"Baik jendral" ucap mereka kemudian pergi meninggalkan kerumunan untuk mengurus makan malam mereka.


"Ryuzen apa kayu bakarnya sudah kau siapkan?" tanya Shin.


"Sudah yang mulia" jawab Ryuzen.


"Bagus, nyalakan apinya dan mulailah membakar daging buruan yang kalian dapatkan" perintah Shin.


"Baik yang mulia" ucap Ryuzen, kemudian menyalakan api untuk membakar daging buruan yang telah dia dan Leo dapatkan.


Suasana ramai tersebut berlangsung hingga larut malam yang di akhiri dengan makan bersama, malam yang sunyi tersebut berubah menjadi ramai karena gelak tawa para pasukan yang sedang bercanda, Shin sama sekali tidak melarang mereka karena ia telah memberikan kebebasan pada pasukannya untuk malam ini agar mereka tidak terlalu memikirkan peperangan yang tidak lama lagi akan terjadi.