The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Negeri Es



Perjalanan Shin masih sangat jauh untuk sampai ke tujuannya yaitu negeri Es dan sekarang malah ada orang yang ingin meminta pengawalan darinya, karena tidak ingin mengecewakan mereka semua dan juga tidak ingin mereka terkena masalah Shin memilih untuk setuju menjadi pengawal mereka sampai ke kerajaan suci.


Perjalanan menuju ke kerajaan suci mereka tempuh dalam waktu dua hari, karena mereka hanya berjalan kaki dan mengawal satu kereta kuda, didalam perjalanan Shin juga sudah mengetahui bahwa yang ada dalam kereta tersebut adalah putri dari kerajaan Es yaitu putri Reyna.


Sesampainya di kerajaan Es mereka semua mengucapkan terimakasih pada Shin dan pengawal pribadi tuan putri yaitu Endruo mengajak Shin untuk singgah dan bertemu dengan ratu kerajaan suci.


Kerajaan Suci sendiri sudah tidak memiliki raja karena raja kerajaan suci kabarnya gugur dalam peperangan, namun meskipun tidak memiliki raja kerajaan tersebut sangatlah makmur karena ratu memimpin kerajaan tersebut dengan sangat baik, meskipun sudah banyak kesatria hebat yang datang melamar ratu namun selalu di tolaknya dengan alasan mereka tidak cocok dan tidak pantas memimpin kerajaan suci.


"Terimakasih tuan karena telah mengawal dan membantu putriku selama perjalanan, dan perkenalkan namaku adalah Rhiana ratu kerajaan Es" kata ratu Rhiana memperkenalkan diri.


"Tidak perlu sungkan yang mulia ratu, kebetulan sekali saat ini saya tengah dalam perjalanan dan tidak sengaja mendengar mereka meminta tolong" kata Shin.


"Dan perkenalkan nama saya adalah Shin saya hanya seorang petualang biasa" ucap Shin memperkenalkan diri.


"Lalu kemana tujuan ada tuan Shin?" tanya Ratu.


"Tujuan saya adalah negeri Es yang mulia ratu, ada misi yang harus saya selesaikan di sana" kata Shin.


"Baiklah kalau begitu, bagaimana jika malam ini tuan Shin menginap di kerajaan kami karena sudah hampir malam" kata ratu.


"Maaf yang mulia ratu, hamba harus segera melanjutkan perjalanan" jawab Shin ramah.


"Sayang sekali kalau begitu, baiklah mari saya antar keluar" kata ratu, kemudian berjalan kearah Shin.


Mereka kemudian berjalan menuju ke halaman istana, dan saat Shin ingin melangkah pergi terdengar seseorang memanggil Shin dari kejauhan.


"Tu-tunggu, tunggu sebentar kakak!!!"


Dia adalah putri Reyna, yang sedang berlari menuju kearah Shin dan yang lainnya.


"Hahh....Hah...., tunggu dulu" kata Reyna dengan nafas terengah-engah.


"Ada apa tuan putri" tanya Shin.


"Aku ingin mengucapkan terimakasih pada kakak, karena telah menyelamatkan aku" kata Reyna.


"Tidak perlu di pikirkan tuan putri, kalau begitu hamba pamit yang mulia ratu" ucap Shin sambil memberi hormat.


"Hati-hati tuan Shin, jika ada waktu mampirlah kemari" ujar ratu Rhiana.


Shin tidak menjawab melainkan hanya tersenyum hangat kemudian dia berteriak dengan keras.


"Garda!!!!"


"KYYAAAKKK!!"


"Ti-tidak mungkin, itu adalah Griffin" kata ratu Rhiana.


"Maaf membuat anda kaget yang mulia ratu, dia adalah tunggangan hamba, namanya adalah Garda" kata Shin menunjuk kearah Garda yang baru saja mendarat di halaman istana.


"Kalau begitu, hamba permisi yang mulia" kata Shin kemudian lansung melompat keatas punggung Garda.


"Ayo Garda!!!" kata Shin, dan setelah itu Garda lansung melesat terbang meninggalkan istana kerajaan suci, ratu dan yang lainnya hanya bisa memandang kepergian Shin dengan rasa kagum.


"Sungguh pemuda yang sangat misterius" gumam ratu.


"Endruo, apa dia pernah bercerita dari kerajaan mana dia berasal?" tanya ratu.


"Maaf yang mulia, namun tuan Shin tidak pernah bercerita mengenai asal usulnya" jawab Endruo.


"Jika dia tidak berasal dari kerajaan manapun, maka aku harus mendapatkannya" gumam ratu Rhiana pelan.


Shin dan Garda terus saja melaju kearah utara menuju ke negeri Es, bagi Shin yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan nyawa istri dan anaknya, karena akan gawat bila dia tidak segera membawa inti api beku pada Lily.


Perjalanan mereka kali ini sama sekali tidak memiliki hambatan selain Shin harus menjadi pengawal untuk putri kerajaan Suci, berbeda dengan sebelumnya dimana Shin harus memakan waktu yang sangat lama untuk mencari inti api membara karena saat itu Lily ikut bersamanya, namun kali ini dia bisa leluasa pergi menjalankan tugasnya dengan sangat cepat karena tidak ada yang ia khawatirkan selama perjalanan.


Beberapa hari telah berlalu namun mereka masih belum juga sampai di negeri Es, dan di setiap harinya rasa khawatir dan takut akan terjadi sesuatu pada istrinya selalu menghantui Shin.


"Garda apakah negeri Es masih sangat jauh?" Shin bertanya kepada Garda dia mulai tidak sabar dan menjadi kesal karena mereka tak kunjung sampai.


"Sabar yang mulia, sebentar lagi kita akan sampai" jawab Garda.


"Selalu saja itu yang kau katakan, tapi nyatanya kita tak pernah sampai di sana" kata Shin dengan nada yang semakin kesal.


Sebenarnya Garda juga tidak tau berapa jauh lagi negeri Es tersebut yang ia tau hanyalah arahnya ke utara dari kerajaan suci, dan benar saja setelah beberapa jam terbang udara yang awalnya panas tiba-tiba saja menjadi sangat dingin, Shin yang merasakan perubahan suhu tersebut lansung kaget dan segera memandang jauh ke depan.


Dan di dalam pandangan Shin saat ini adalah sebuah daratan yang penuh dengan warna putih, dan juga terdapat bongkahan bongkahan es raksasa yang tercipta seperti sebuah gunung, dan dengan jelas terlihat sangat jelas bahwa di daratan tersebut sama sekali tidak ada tumbuhan apapun melainkan hanyalah daratan kosong yang penuh dengan Es.


"Inikah negeri Es?" gumam Shin pelan.


"Benar sekali yang mulia ini adalah negeri Es, sebaiknya yang mulia menggunakan kekuatan inti api abadi (membara) untuk menjaga suhu tubuh yang mulia" kata Garda.


Tanpa berlama-lama Shin mulai menggunakan kekuatan inti api abadi yang ada di dalam dirinya untuk menjaga suhu tubuhnya dan juga seluruh aliran darahnya agar tidak membeku.


Mereka terus melesat melewati daratan luas yang penuh dengan Es tersebut, Shin mulai mencari dimana letak keberadaan inti api beku menggunakan inti api abadi, karena kedua inti api saling berhubungan jadi ketika keduanya saling berdekatan maka akan ada energi yang sangat kuat yang akan tercipta.


Sudah berjam-jam mereka terbang melewati hamparan es yang sangat luas namun Shin masih belum juga menemukan dimana letak inti api beku, mereka memutuskan untuk istirahat di sebuah gua karena garda sudah tidak sanggup untuk terbang dan harus segera mengistirahatkan sayapnya, hal ini disebabkan oleh udara yang sangat dingin meskipun tubuh garda di penuhi oleh bulu yang lebat namun terbang di cuaca yang dingin dan terbang di cuaca panas adalah dua hal yang berbeda.