The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Kristal Jiwa Roh.



Ingrid masih terus berguling-guling dalam bentuk ularnya untuk memadamkan api yang tengah membakar tubuhnya, namun seberapa keras pun ia mencoba api tersebut sama sekali tidak mau padam, dan malah semakin membesar.


Sensasi panas yang membakar tubuhnya serta dingin yang membuat darahnya membeku bisa dirasakan pada saat yang bersamaan saat api tersebut membakar tubuhnya, dan kini barulah Idril sadari bahwa dia telah salah menyinggung orang.


"AARRKKHHHH!!, dewa Phoenix ampuni aku, aku mohon padamkan api ini" teriak Idril memohon.


Shin kemudian kembali berubah ke wujud manusia dan tetap melayang di udara sambil menyaksikan Idril yang sedang berguling-guling menahan rasa sakit, panas serta dingin di saat yang bersamaan.


"Aku mohon Dewa Phoenix, jika kau memadamkan api ini maka akan aku berikan seluruh kristal api padamu Tanpa imbalan" kata Idril.


"Kau janji?!" ujar Shin memastikan


"Ya aku janji padamu, tolong aku Arrkkhhhh!!" teriak Idril kesakitan.


"Baiklah" jawab Shin singkat.


Shin kemudian menjentikkan jarinya dan hanya dalam sekejap mata api ungu yang membakar tubuh Idril menghilang bagaikan di tiup oleh angin.


"Arkhhh!!"


Setelah api tersebut menghilang Idril kemudian merubah wujudnya kemabli menjadi manusia, namun kali ini di seluruh tubuhnya penuh dengan luka bakar.


"Cepat serahkan kristal api padaku" kata Shin sinis.


Tanpa banyak bicara Idril kemudian terjun kedalam danau dan beberapa detik kemudian dia sudah kembali dengan sebuah kantong kulit di tangannya.


"Semua kristal api ada di dalam kantong ini, jumlahnya hampir mencapai tiga juta kristal api" kata Idril kemudian melemparkan kantong kulit tersebut pada Shin.


Shin cukup kaget ketika mendengar jumlah kristal api yang sangat banyak tersebut, dan terlebih lagi ia tidak menyangka bahwa kantong kulit yang di berikan oleh Idril adalah kantong penyimpanan ruang yang memiliki kapasitas besar, kantong tersebut hampir sama dengan cincin ruang hanya saja kapasitasnya tidak sebanding dengan cincin ruang.


"Terimakasih, dan terimalah ini" kata Shin sambil melemparkan sebuah mutiara dengan warna hijau terang.


"Itu adalah obat untuk menyembuhkan lukamu, walaupun sebenarnya aku sangat ingin menghabisimu tapi karena kita sesama Dewa dan tidak pernah memiliki dendam jadi aku putuskan untuk membiarkanmu kali ini, dan siapa tau kita bisa jadi teman yang baik" kata Shin.


Idril tersentak kaget saat mendengar perkataan Shin, ia sama sekali tidak menyangka bahwa sang dewa Phoenix yang dikenal sangat ganas dan kejam pada masanya juga memiliki hati nurani dan mau membantu musuhnya.


"Terimakasih Dewa Phoenix, mulai sekarang aku berjanji akan menjadi temanmu dan kapan saja kau membutuhkan bantuan bangsa ular katakan saja padaku" kata Idril tulus.


"Tentu saja, kalau begitu aku pamit" jawab Shin ramah kemudian menghilang dari hadapan Idril.


"Ternyata dia memiliki jiwa yang besar, aku berjanji pada diriku sendiri mulai sekarang aku akan menghormatimu layaknya raja para dewa" batin Idril.


Setelah menghilang dari hadapan Idril Shin muncul kembali di sebuah gua yang letaknya lumayan jauh dari tempat pertarungan mereka sebelumnya, meskipun Shin keluar sebagai pemenang namun tetap saja dia juga mengalami luka yang lumayan parah.


Shin kemudian duduk di sebuah batu besar yang terdapat di dalam gua, kemudian dia mengeluarkan sebuah mutiara dengan warna biru langit dan memiliki aroma yang sangat harum, Shin kemudian menelan mutiara tersebut perlahan-lahan luka di tubuhnya mulai menghilang serta dari pori-porinya keluar cairan hitam kental yang sangat bau.


Cairan hitam kental tersebut adalah racun mematikan yang dimiliki oleh Dewa Ular, jika saja Shin tidak memiliki api ungu yang bisa membakar racun tersebut maka sudah di pastikan dia akan kehilangan nyawanya saat itu juga.


"Racun ini sangat mematikan, bahkan tumbuhan saja lansung mati padahal hanya terkena aura dari racun ini" gumam Shin saat melihat tumbuhan di sampingnya tiba-tiba menghitam dan mati.


Setelah semua lukanya pulih Shin kemudian berdiri dari duduknya dan terus berjalan memasuki gua tersebut dengan harapan ada sumber mata air di dalamnya untuk membersihkan dirinya dari sisa-sisa racun Idril.


Setelah berjalan beberapa menit menelusuri gua tersebut Shin akhirnya menemukan yang ia cari, di kedalaman gua tersebut Shin menemukan sebuah kolam kecil berdiameter dua meter dengan air yang sangat jernih. Shin kemudian lansung melepas seluruh pakaiannya dan lansung masuk kedalam kolam tersebut untuk membersihkan dirinya.


"Sayang apa mau aku bantu menggosok punggungmu" kata ratu Aurora yang tiba-tiba muncul di pinggir kolam.


"Eh... Aurora apa yang kau lakukan di sini?" tanya Shin kaget sambil kedua tangannya menutupi sesuatu yang ada di bawah pusarnya.


"Hahaha sayang kenapa kau begitu kaget, aku masih istrimu jadi apa salahnya aku menemanimu mandi" goda ratu Aurora.


"Bu-bukan begitu, hanya saja saat ini aku sedang tidak berpakaian" kata Shin.


"Lalu masalahnya apa?" tanya ratu Aurora.


"Sebaiknya kau tunggu aku di luar gua saja" ujar Shin.


"Tidak mau, aku ingin menemanimu mandi" jawab ratu Aurora dengan nada manja.


"Ya ampun kenapa dia sangat keras kepala" batin Shin


Kolam kecil tersebut tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang sangat terang sehingga seluruh tubuh Shin bisa di lihat dengan jelas oleh ratu Aurora kecuali bagian bawah yang masih di tutupi oleh Shin dengan kedua tangannya.


"Cahaya apa ini?" gumam Shin heran.


"Cahaya ini..."


"Cahaya ini kenapa?" tanya Shin bingung.


Ratu Aurora kemudian memejamkan kedua matanya dan tiba-tiba saja cahaya yang berasal dari kolam tersebut semakin terang, Shin bisa merasakan dengan tubuhnya dari dasar kolam terdapat energi yang sangat besar yang perlahan-lahan keluar dari kolam dan masuk kedalam tubuh Aurora.


"Jangan-jangan di kolam ini terdapat kristal yang sama seperti yang ada di patung Aurora di kerajaan Elessar" gumam Shin pelan.


Setelah beberapa menit cahaya di dalam kolam tersebut perlahan-lahan mulai meredup kemudian menghilang sepenuhnya, dan sekarang malah tubuh roh ratu Aurora yang mengeluarkan sinar yang sangat terang hingga membuat Shin harus menutup kedua matanya.


Beberapa detik kemudian Shin merasakan bahwa ada energi kuat yang berasal dari roh ratu Aurora, meskipun kedua matanya tertutup namun ia bisa merasakan dengan sangat jelas energi tersebut memang berasal dari roh ratu Aurora.


"Sayang kenapa kau menutup matamu, apa kau tidak mau melihatku lagi?" tanya ratu Aurora.


Shin kemudian membuka matanya secara perlahan-lahan, dan saat kedua matanya benar-benar terbuka Shin sangat kaget dan juga terkejut ketika melihat seorang wanita cantik tanpa busana sedang duduk di pinggir kolam dengan kedua kakinya yang ia celupkan kedalam kolam tersebut.


Keterkejutan Shin semakin menjadi-jadi saat ia melihat wajah dari wanita yang ********* tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah ratu Aurora, hanya saja kali ini ratu Aurora tidak berbentuk roh melainkan memiliki tubuh fisik layaknya manusia.


"A-aurora...."


"Ya ini aku, dan ini semua berkat kristal jiwa roh yang ada di dasar kolam ini" kata ratu Aurora menjelaskan.