
Raja Lyon mengetahui bahwa para pasukan iblis telah menghilang segera menarik mundur pasukannya, tanpa bantuan dari pasukan iblis dia tidak yakin akan dapat memenangkan peperangan ini.
Sementara itu raja Dixgard dan para pasukannya memutuskan untuk mengejar pasukan kerajaan Light Born, mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengalahkan kerajaan tersebut dan merebut wilayahnya untuk di jadikan sebagai wilayah kekuasaan kerajaan Tempest.
Sementara itu, di kedalaman hutan yang sangat jauh dari pertempuran Shin terlihat mencoba untuk berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang masih ia miliki, serangan dahsyat itu berhasil membuatnya babak belur, dan untung saja Shin sempat mengaktifkan kekuatan api abadi untuk di jadikan sebagai pelindung, jika tidak mungkin Shin saat ini akan tergeletak tak sadarkan diri.
"Garda!!!" Shin berteriak memanggil Garda dan beberapa menit kemudian Garda telah sampai di dekatnya.
"Yang mulia, apa yang terjadi kenapa keadaan anda sampai separah ini" tanya Garda terdengar ada kekhawatiran dari suaranya.
"Entahlah Garda aku juga tidak tau pasti, yang jelas sebauh kekuatan hebat baru saja menyerang ku, dan untung saja aku sempat menahannya dengan kekuatan api abadi, jika tidak aku tidak tau apa yang akan terjadi" ucap Shin.
"Bagaimana dengan yang lainnya Garda?" tanya Shin.
"Setelah hilangnya pasukan iblis, kerajaan Light Born memilih untuk mundur dan raja Dixgard masih mengejar mereka" jelas Garda.
"Lalu bagaimana dengan pasukan kita?" tanya Shin lagi.
"Pasukan kota semuanya selamat yang mulia, namun jendral Ryuzen dan pasukannya mereka semua dalam terluka saat ini yang mulia, dan raja Zuryu serta bawahannya sedang mencoba untuk menyembuhkan mereka" jawab Garda menjelaskan.
"Baiklah, bawa aku ke sana" kata Shin.
Shin naik keatas tubuh Garda namun dia tidak melompat melainkan naik dengan perlahan, tubuhnya saat ini terasa remuk seluruh luka akibat kekuatan gelap masih membekas di sekujur tubuhnya, setelah Shin naik ke atas punggungnya Garda kemudian melesat dengan cepat membawa Shin kepada Zuryu.
Hanya dalam hitungan detik Garda sudah sampai di dekat pasukannya, mereka semua senang saat melihat Garda perlahan-lahan turun di depan mereka semua, namun kesenangan itu berakhir saat mereka mengetahui bahwa saat ini Shin tengah tergeletak di atas tubuh Garda, sekujur tubuhnya penuh dengan luka sayatan pedang.
"Garda apa yang terjadi pada yang mulia, kenapa ia bisa sampai separah ini?" tanya Raiga.
"Aku juga tidak tau Raiga, namun yang mulia sempat mengatakan padaku bahwa tadi ada kekuatan yang sangat besar menyerangnya dan entah darimana datangnya" kata Garda.
"Sial...., jika saja aku tidak di sibukkan oleh raja sia**n itu, pasti aku sudah bisa melindungi yang mulia" ujar Raiga, dia sangat kesal dengan perlakuan raja Dixgard serta para bangsawan yang seolah-olah memanfaatkan kekuatan pasukannya.
"Segera, bantu prajurit yang terluka kita tinggalkan tempat ini sekarang juga!!" lanjutnya memberi perintah.
"Apa yang harus aku katakan pada yang mulia ratu nantinya" gumam Raiga pelan.
Setelah selesai membantu rekan-rekan mereka yang terluka, Raiga dan Zuryu memimpin seluruh pasukan untuk segera kembali ke kerajaan Phoenix, Raiga sangat kesal dan marah dia tidak ingin terlibat dengan urusan kerajaan lain lagi, jadi dia memutuskan untuk kembali ke kerajaan Phoenix.
"Kakak, apa yang akan kita katakan pada Lily" ucap Lina.
"Entahlah Adikku, aku juga bingung apa yang harus kita jelaskan pada Lily nantinya" jawab Leo.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka sampai di kerajaan Phoenix, satu persatu Griffin mendarat di halaman kerajaan berbaris dengan rapi membentuk barisan.
Lily dan kedua ratu segera berlari keluar saat mendengar kabar dari salah seorang penjaga bahwa raja mereka telah kembali dari peperangan, mereka semua tersenyum bahagia menyambut kedatangan suaminya masing-masing, Leshena dan Shisily segera berlari kearah suami mereka begitu juga dengan Lily, namun tiba-tiba saja raut wajahnya berubah saat melihat seorang pemuda tengah tergeletak tak sadarkan diri dengan tubuh bersimbah darah di atas tunggangannya.
"Ke-kenapa kalian diam saja!!?" tanya Lily saat melihat tidak satupun dari mereka yang menjelaskan apa yang sudah terjadi.
"Maafkan kami yang mulia ratu, kami gagal melindungi yang mulia" Raiga memberanikan diri untuk bicara.
"Maaf yang mulia ratu, sebaiknya kita segera merawat yang mulia jika tidak akan fatal akibatnya" ujar Zuryu.
Lily segera menghapus air matanya dan berlari kearah Shin, dia segera memerintahkan para prajurit Elf untuk membawa Shin ke kamar mereka, Lily juga meminta Zuryu dan beberapa penyihir yang memiliki sihir penyembuhan terhebat untuk menyembuhkan Shin.
Zuryu memanggil beberapa petinggi bangsa manusia burung yang memiliki sihir penyembuhan tingkat tinggi untuk menyembuhkan Shin, meskipun terkesan lambat namun perlahan-lahan luka di tubuh Shin mulai tertutup.
Satu minggu telah berlalu namun Shin masih saja belum menunjukkan tanda-tanda untuk sadarkan diri padahal Ryuzen dan Rayzen serta semua pasukan mereka telah sadar beberapa hari yang lalu, dan selama seminggu itu pula kerajaan Phoenix dilanda kesunyian, seluruh rakyat kerajaan tidak melakukan aktivitas apapun mereka semua sangat sedih ketika mengetahui raja mereka tengah terluka parah.
"Kapan kau akan bangun?" kata Lily berbisik di telinga Shin.
"Apa kau tidak merindukan aku?" lanjutnya, dia memandangi wajah Shin yang kini terbaring di depannya dan sekali lagi air matanya mulai menetes dan membasahi pipinya.
Lily menggenggam tangan Shin seakan tak mau melepaskannya lagi, beberapa saat kemudian dia merasakan salah satu kari tangan Shin bergerak, Lily tersentak dan kemudian memandang wajah Shin lagi, perlahan-lahan mulai nampak Shin membuka matanya, Lily menjadi sangat senang dan lansung memeluknya.
"Akhirnya kau bangun juga, hiks.." Lily menangis sejadi-jadinya di pelukan Shin.
"Hey tenanglah aku tidak apa-apa" kata Shin dia mencoba untuk menenangkan istrinya tersebut.
"Maafkan aku sudah membuatmu khawatir" lanjutnya, kemudian dia mengusap rambut Lily yang masih menangis dalam pelukannya.
Setelah merasa puas menangis di pelukan suaminya Lily melepaskan pelukannya dari Shin dan kemudian memandang wajahnya.
"Berjanjilah kau tidak akan membuatku khawatir lagi" kata Lily.
"Aku janji!" kata Shin sambil menghapus air mata Lily, dia memegang pipi istrinya kemudian mencium keningnya.
"Kau tau, saat kau sedang khawatir kau sangatlah cantik" kata Shin.
"Jangan menggoda ku" ujar Lily.
"Hahahaha aku tidak sedang menggoda mu memang itulah kenyataannya" ucap Shin
Lily tertunduk malu dan pipinya sedikit memerah, Shin tersenyum hangat melihat tingkah istrinya itu, kemudian dia memegang dagu Lily dan sedikit mengangkat kepalanya yang tertunduk, kedua mata mereka bertemu dalam satu pandangan, terlihat jelas ada rasa yang sama sekali tidak bisa di jelaskan dari pandangan keduanya.
Lily kembali memejamkan matanya karena tidak tahan melihat pandangan mata Shin yang sangat tajam dan seakan menusuk sampai ke hatinya, Shin hanya tersenyum hangat dan memajukan kepalanya perlahan-lahan Shin mulai mencium bibir Lily, dan mereka berdua akhirnya hanyut dalam ciuman yang semakin lama semakin panas.
(Skip lagi ya,.... kalian udah pada tau lah apa yang bakal terjadi hehehehe, nantikan kelanjutan ceritanya ya, dan jangan bosan-bosan untuk memberikan Like, komen, Vote, rate 🌟5 dan juga Jangan lupa untuk Share ke teman-teman kalian, makasih)