The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Masa Lalu Shin 2



Shin hanya bisa termenung sambil memikirkan apa yang baru saja di katakan oleh ratu Aurora, dia tidak menyangka perang besar antara dua bangsa pernah terjadi di masa lalu, dan yang lebih membuatnya terkejut adalah pengakuan ratu Aurora yang mengatakan bahwa Shin adalah suaminya di masa lalu.


Beberapa saat kemudian Shin kembali di kejutkan karena dia yang awalnya berada di tengah-tengah medan perang, tiba-tiba saja muncul di sebuah istana yang sangat besar dan juga megah, di depan gerbang istana tersebut nampak beberapa ekor burung Phoenix tengah berjaga-jaga, namun ketika mereka melihat Shin mereka lansung menundukkan kepala memberi hormat.


"Dimana lagi ini" gumam Shin.


"Shin mari kita masuk kedalam" kata ratu Aurora yang tiba-tiba muncul di samping Shin.


"Tunggu dulu tempat apa ini?" tanya Shin.


"Ini adalah istana milikmu Shin, dan ini adalah rumah kita berdua waktu dulu" jawab ratu Aurora.


"Shin, aku tau sekarang aku hanyalah sebuah roh, dan aku juga tau kau sudah mempunyai keluarga kecil yang baru, namun aku tetap menganggapmu sebagai suamiku" kata ratu Aurora tulus.


"Aku juga turut bahagia karena sekarang kau memiliki putri yang cantik, jika diizinkan bisakah aku juga menganggapnya sebagai putriku?" tanya ratu Aurora.


"Tunggu sebelum itu aku ingin tau satu hal, bagaimana aku bisa percaya bahwa aku adalah raja para dewa Phoenix, dan apakah kau benar-benar istriku di masa lalu?" tanya Shin.


"Jawabannya ada di dalam istana ini" kata ratu Aurora kemudian mereka melanjutkan langkah menuju ke sebuah ruangan yang sangat luas.


Didalam ruangan tersebut terdapat tiga kristal yang sangat besar dengan tiga warna yang berbeda, saat Shin dan ratu Aurora masuk kedalam ruangan tersebut tiba-tiba ketiga kristal lansung bergetar dan mengeluarkan cahaya yang sangat terang.


Cahya dari ketiga kristal tersebut kemudian menyinari tubuh Shin, hingga membuat Shin merasakan luapan energi yang sangat besar dalam tubuhnya, bersamaan dengan luapan energi yang semakin besar tersebut perlahan-lahan sebuah ingatan muncul dalam pikiran Shin.


"I-ini..." tubuh Shin sedikit bergetar ketika melihat ingatan tersebut yang merupakan awal kemunculan sang phoenix ungu hingga peperangan besar yang terjadi antara para bangsa Phoenix dan bangsa Naga.


"Bagaimana apa kau sudah mengingat semuanya" kata ratu Aurora.


"Sekarang aku faham ternyata raja bangsa phoenix memiliki nama serta wajah yang sama denganku" kata Shin dalam hati.


"Ya aku ingat semuanya" kata Shin pelan.


"Sebenarnya apa maksud dari semua ini, apa aku memang ditakdirkan untuk menjadi raja para dewa Phoenix?" Shin bertanya dalam hatinya.


Di tengah lamunan Shin dia dikejutkan oleh ratu Aurora yang tiba-tiba saja memeluk erat tubuhnya.


"Syukurlah jika kau mengingat semuanya" ucap ratu Aurora pelan.


"Maafkan aku karena dulu meninggalkanmu sendirian Aurora" kata Shin sambil memeluk ratu Aurora.


"Tidak apa-apa, yang penting kau sudah kembali sekarang" ujar ratu Aurora.


Setelah beberapa saat berpelukan ratu Aurora kemudian melepaskan pelukannya dan menarik tangan Shin menuju ke sebuah singgasana yang sangat besar dan megah, di belakang singgasana tersebut terdapat sebuah patung burung Phoenix yang terbuat dari emas, dan telat di samping singgasana tersebut terdapat sebuah pedang yang mirip seperti bulu burung dengan bilah berwarna ungu seperti kristal.


"Ternyata itu pedang raja Phoenix" gumam Shin pelan ketika ingatan tentang pedang tersebut muncul dalam kepalanya.


Ratu Aurora kemudian menarik tangan Shin dan membawanya ke singgasana, Shin berhenti sesaat untuk menetap singgasana tersebut sebelum akhirnya dia duduk di singgasana tersebut.


Sebuah ingatan kembali muncul dalam pikiran Shin yang mana saat itu sangat banyak bangsa Phoenix yang telah berubah menjadi manusia berlutut dan memberi hormat padanya.


"Aurora, apa kekuatan api suci adalah pemberianku?" tanya Shin.


"Benar Shin, kau adalah yang memberikan bangsa phoenix dua api dengan kekuatan yang maha dahsyat tersebut, dan karena berkat itu pula bangsa Phoenix memiliki dua jenis yaitu biru dan merah" kata Aurora menjelaskan.


"Apa sekarang aku masih bisa memberikan kekuatan itu pada manusia biasa?" tanya Shin.


"Satu lagi, apa alasan kau membawaku ke sini?" tanya Shin.


"Itu karena kekuatan Azazel hampir sepenuhnya pulih, jika kekuatannya pulih sepenuhnya maka sudah pasti dia akan menguasai dunia, bahkan alam semesta dan sekali lagi para manusia akan jadi korban, jadi untuk itu aku membawamu ke sini agar kau mengetahui semuanya dan hanya kau yang bisa menghentikan Azazel" jawan Aurora menjelaskan.


"Baiklah sekarang aku faham, terimakasih istriku" kata Shin dengan senyum hangat kemudian mencium kening ratu Aurora.


"Kalau begitu aku pergi" kata Shin dan sesaat kemudian di sudah menghilang.


"Meskipun kisah kita sudah lama berakhir tapi aku tetap menyayangimu sama seperti dulu, suamiku" ucap ratu Aurora pelan.


**


Shin tersentak bangun dari tidurnya tubuhnya bergetar hebat dan seluruh tubuhnya basah oleh keringat, jantungnya berdetak cepat ketika mengingat mimpi yang ia alami, meskipun hanya mimpi namun terasa sangat nyata bagi Shin.


"Sayang ada apa?" tanya Lily yang juga ikut terbangun.


Lily kaget ketika melihat wajah Shin yang sangat pucat serta tubuhnya yang di basahi oleh keringat dingin, Lily lansung memeluk tubuh Shin untuk menenangkannya.


"Sayang kau kenapa?" tanya Lily khawatir.


"Lily, perang besar, perang besar akan terjadi sekali lagi" jawab Shin.


"Apa maksudmu?" tanya Lily bingung.


"Entahlah Lily yang jelas hanya kita bangsa Phoenix yang bisa menyelamatkan manusia dari kepunahan" ucap Shin.


"Sudahlah tenangkan dirimu dulu, besok baru kita bicarakan hal ini bersama Ryuzen dan yang lainnya" kata Lily.


Setelah menenangkan Shin, Lily kemudian merebahkan tubuh Shin di tempat tidur dan lansung memeluknya, hingga beberapa menit kemudian mereka berdua kembali tertidur sampai pagi.


Setelah bangun tidur Shin lansung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai mandi dia kemudian mengganti pakaiannya dan lansung menuju ke bawah yang mana Lily dan yang lainnya telah menunggu kedatangannya.


"Pagi kapten, kenapa kau terlihat cemas?" tanya Ryuzen.


"Nanti akan aku jelaskan sebaiknya sekarang kalian kumpulan seluruh pasukan Blue Lightning di halaman mansion" kata Shin.


"Baik pemimpin" jawab mereka serempak.


Mereka bertiga kemudian bergegas menuju keluar untuk mengumpulkan para prajurit, setelah mereka bertiga pergi Shin dan Lily kemudian berjalan keluar dan menunggu kedatangan para prajurit di halaman mansion.


"Sayang sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Lily.


"Yang ingin aku sampaikan adalah tentang mimpiku tadi malam, itu bukanlah mimpi biasa melainkan sebuah ingatan yang pernah terjadi ribuan tahun yang lalu" jawab Shin.


"Apa maksudnya?" tanya Lily.


"Lily karena kau sekarang adalah bangsa Phoenix jadi aku rasa kau juga harus tau, sebenarnya aku adalah raja dari para dewa phoenix yang pernah ada di dunia ini" kata Shin.


"A-apa kau serius?" tanya Lily seakan tak percaya dengan yang baru saja ia dengarkan.


Shin kemudian menekan kening lily dengan jari telunjuknya, dan seketika Shin dan Lily sampai di sebuah medan perang yang pernah di datangi oleh Shin dan ratu Aurora sebelumnya, tubuh Lily seketika bergetar dan lansung memeluk Shin dengan erat karena ketakutan melihat pemandangan yang sangat mengerikan di depannya, dimana ada milyaran mayat manusia terbengkalai di tanah akibat kekejaman dari bangsa naga.