The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Rencana Untuk Pergi



Tak lama kemudian semua prajurit pasukan Blue Lightning datang dan lansung berlutut di hadapan Shin dan juga Lily mereka memberikan rasa hormat mereka untuk pemimpin sekaligus raja mereka yang agung.


"Bangunlah" kata Shin.


"Dengarkan aku, apa yang akan aku bicarakan hari ini adalah tentang masa depan yang akan hancur jika kita tidak bertindak, dan hanya kita saja yang akan mampu menghadapi kekacauan di masa depan nanti, sekarang pejamkan mata kalian semua dan cobalah untuk menenangkan diri jangan buka mata sebelum aku yang meminta" kata Shin tegas.


Tanpa ragu semua prajurit lansung menutup mata mereka dan dalam beberapa menit kemudian mereka telah menjadi sangat tenang dan fokus, Shin kemudian mengirimkan aura kekuatannya kepada setiap prajurit Blue Lightning termasuk kepada Lily, Ryuzen, Lina dan Leo.


"Buka mata kalian" kata Shin.


Mereka semua kemudian membuka mata perlahan dan apa yang pertama kali mereka saksikan adalah peperangan besar yang sangat ganas, seluruh pasukan Blue Lightning menjadi takut dan khawatir karena saat ini mereka sama sekali tidak siap untuk berperang, namun apa yang di katakan Shin berikutnya membuat mereka semua tercengang.


"Ini adalah ingatanku ribuan tahun yang lalu, saat peperangan besar yang terjadi antara bangsa phoenix dan bangsa naga" ucap Shin.


"Lalu apa hubungannya perang besar ini dengan kita kapten?" tanya Ryuzen bingung.


"Pertama perang ini adalah perang yang terbesar sepanjang sejarah manusia dan dewa bahkan perang ini terjadi selama bertahun-tahun lamanya, kedua yang paling banyak menjadi korban dalam perang ini adalah bangsa phoenix dan juga bangsa manusia, ketiga perang besar ini akan terulang kembali di masa depan dan hanya kita yang bisa menghentikan perang ini, dan keempat pemimpin bangsa naga saat itu adalah Azazel, jadi apa kalian sudah menemukan hubungan antara perang ini dengan apa yang aku maksudkan?" kata Shin menjelaskan.


Mereka semua bergidik ketakutan ketika mendengarkan penjelasan Shin, bagaimana tidak bangsa naga yang sangat ganas akan kembali menyerang manusia dan hanya mereka yang dapat menghentikannya, hampir setiap orang yang ada di dalam pasukan tersebut merasa bahwa keselamatan dunia terletak pada tangan mereka sendiri.


"Kalian tenang saja, untuk bisa mengalahkan bangsa naga kalian harus menjadi seekor phoenix yang memiliki kekuatan api abadi atau api suci, karena hanya kedua api ini yang bisa mengalahkan bangsa naga yang memiliki api kegelapan" ucap Shin.


Sekali lagi para prajurit menjadi sangat bingung tentang bagaimana mereka bisa menjadi phoenix sedangkan mereka hanya manusia biasa, namun di saat kebingungan melanda Lily berbicara pada semua orang.


"Kalian jangan bingung, apa kalian lupa aku juga seorang manusia biasa sebelumnya dan sekarang aku menjadi bangsa phoenix berkat bantuan dari Shin" kata Lily lembut.


Penjelasan Lily membuat wajah mereka yang semula masam berubah menjadi berseri-seri, mereka sudah tidak sabar ingin menjadi bagian dari bangsa phoenix yang memiliki kekuatan besar dan hidup yang abadi, mereka sudah tidak sabar ketika membayangkan saat usia mereka mencapai ratusan tahun namun paras mereka masih terlihat seperti seorang pemuda dewasa.


"Yang di katakan Lily benar, aku bisa membuat kalian semua menjadi phoenix hanya saja kekuatanku saat ini masih belum mencukupi, dan sebelum itu kalian harus merekrut para pemuda yang ingin menjadi bagian dari Blue Lightning, tidak perlu banyak cukup rekrut sebanyak 300 pemuda lagi" kata Shin tegas


"Baik yang mulia" jawab mereka serempak.


Shin kemudian menjentikkan jarinya dan mereka semua kembali ke dunia nyata, dan sekali lagi mereka berlutut dan memberi hormat pada Shin.


"Sekarang pergilah dan rekrut 300 pemuda untuk di jadikan bagian dari kita, setelah itu kalian latih mereka dengan keras sehingga bisa menjadi kuat dan tangguh, ingat jangan ada pemaksaan saat perekrutan" ucap Shin dengan tegas.


"Baik yang mulia" kata mereka serempak kemudian pergi dari halaman mansion.


"Kalian bertiga mari ikut aku" kata Shin.


Ryuzen, Leo dan Lina kemudian pergi mengikuti Shin begitu juga dengan Lily, Shin membawa mereka kembali ke dalam mansion dan lansung menuju ke ruang pertemuan.


"Aku akan pergi untuk beberapa waktu, jadi aku minta kalian awasi semua pergerakan yang mencurigakan di kota ini, karena aku memiliki firasat bahwa raja Dixgard tidak akan tinggal diam saja ka...."


"Alisha dengarkan ayah, ayah harus pergi karena ini menyangkut masa depan umat manusia, apa Alisha mau melihat semua manusia yang ada di dunia ini mati?" tanya Shin.


"Tidak" jawab Alisha pelan.


"Kalau begitu biarkan ayah pergi, ayah janji tidak akan lama" kata Shin sambil mengangkat jari kelingking kanannya.


"Baiklah, tapi janji ya" ucap Alisha sambil mengaitkan jari kelingking kecilnya pada kelingking Shin.


"Ayah janji" ucap Shin sambil mengusap kepala Alisha.


Setelah menenangkan anaknya Shin kembali duduk di kursinya dan Alisha duduk di pangkuannya, saat Shin memikirkan untuk meninggalkan keluarga kecilnya sekali lagi tiba-tiba dadanya terasa sangat sesak, hatinya menjadi sangat sedih namun perjalanan ini harus ia lakukan demi keselamatan umat manusia.


"Kembali ke masalah tadi, saat kepergianku Ryuzen tugasmu adalah memperketat penjagaan tangkap siapa saja yang mencurigakan dan bunuh siapa saja yang mengancam, Leo jika ada kerajaan atau kota yang berani mengusik kerajaan kecil kita jangan segan-segan untuk menyerang mereka, dan Lina aku mohon padamu untuk membuatkan pelindung tingkat tinggi yang bisa menutupi kerajaan kita" kata Shin memberi perintah.


"Baik yang mulia" jawab mereka bertiga serempak.


"Lalu apa tugasku ayah?" tanya Alisha yang terlihat antusias.


"Tugasmu adalah berlatih mengendalikan kekuatan api bersama ibu, agar ketika ayah pulang nanti ayah bisa mengajarkanmu menumbuhkan sayap" jawab Shin.


"Baik ayah, aku janji akan berlatih keras" jawab Alisha.


Setelah selesai membahas semuanya Shin dan Lily kembali ke kamar mereka, Lily nampak murung meskipun dia selalu tersenyum hangat tapi dibalik senyuman itu terdapat kesedihan yang mendalam.


Sesampainya di kamar Shin lansung memeluk tubuh Lily dengan erat, dia tau bahwa Lily sangat membutuhkannya saat ini terutama Alisha yang sejak lahir belum bertemu Shin, ketika sudah bertemu mereka harus berpisah lagi karena tugas.


"Lily maafkan aku, aku tau kau sedih namun hanya ini satu-satunya cara agar kita semua bisa selamat" kata Shin.


"Aku tau itu, tapi kapan kau akan pergi?" ucap Lily pelan.


"Entahlah mungkin secepatnya" ujar Shin.


"Bagaimana jika kau pergi setelah mengajarkan putri kita teknik pedangmu, dan aku yakin dengan bimbingan darimu Alisha akan lebih cepat belajar mengenai cara mengendalikan kekuatan api suci dalam dirinya" ucap Lily.


"Hahahaha itu ide yang bagus sayang, lagi pula aku memang berencana demikian" kata Shin senang kemudian mencium bibir Lily.


"Hey ini masih siang, dan bagaimana jika anak kita tiba-tiba datang" kata Lily kaget ketika bibirnya di kecup oleh Shin.


"Tenanglah pintunya sudah aku kunci, jadi tidak masalah kan? " ucap Shin sambil menunjuk ke arah pintu.


Lily tersenyum lembut ketika melihat ekspresi wajah Shin yang terlihat seperti anak kecil ketika menginginkan sesuatu, Lily kemudian menarik tubuh Shin ke atas tempat tidur lalu menciumnya dengan hangat, hingga pada akhirnya mereka berdua larut dalam kebahagiaan.