The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Pergi Lagi



Shin terlihat sangat bahagia ketika tau bahwa Lily tengah mengandung anak mereka, dia tak henti-hentinya memeluk dan mencium Lily bahkan dia sampai lupa bahwa saat ini ada banyak mata yang menyaksikan hal itu.


Sementara itu, mereka yang menyaksikan tingkah Shin hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala, mereka tidak menyangka bahwa raja mereka yang tegas juga memiliki sisi yang sangat lembut.


"Sayang sudahlah aku malu, paman dan yang lainnya masih di sini" kata Lily berbisik pada Shin.


"Eh...."


"Ah..ya paman, begini karena aku saat ini tengah bahagia jadi mari kita adakan pesta, dan jangan lupa undang raja Dixgard serta para bangsawan-nya" kata Shin.


"Baik yang mulia" jawab Raiga dan Zuryu bersama.


"Ma-maaf yang mulia, bukan maksud hamba untuk lancang namun ada sesuatu yang harus hamba sampaikan mengenai kehamilan yang mulia ratu" kata salah seorang tabib bangsa Elf.


"Apa maksudmu?, apa calon anakku baik-baik saja?" tanya Shin wajah bahagianya tiba-tiba menjadi cemas.


"Bayi yang mulia ratu baik-baik saja, namun ada aura aneh yang terpancar dari calon bayi yang mulia, aura itu sangat panas seperti api, memang sekarang yang mulia ratu belum merasakan efek sampingnya namun seiring pertumbuhan janin hamba takut aura itu akan semakin kuat" kata tabib itu menjelaskan.


"Aura panas, jangan-jangan ini yang di maksud sang Dewa Phoenix sebelumnya, berarti aku harus segera mendapatkan inti api beku" gumam Shin dalam hatinya.


"Baiklah kalian boleh pergi, sekarang aku sudah faham dimana masalahnya dan untuk itu aku sendiri yang akan turun tangan" kata Shin.


"Baiklah yang mulia, kalau begitu kami pamit" setelah memberi hormat para tabib kemudian pergi meninggalkan kamar Shin.


"Paman, aku punya satu permintaan untuk kalian berdua" kata Shin.


"Apa itu yang mulia?" ujar Raiga.


"Aku akan pergi mencari inti api beku, dan aku akan menitipkan kerajaan ini pada kalian berdua" kata Shin.


"Apa yang mulia akan pergi sendiri?" ujar Zuryu.


"Benar sekali paman aku akan pergi sendiri, karena akan sangat berbahaya jika kerajaan ini tidak dijaga." jawab Shin.


"Kalau begitu baiklah yang mulia, akan segera kami siapkan kebutuhan yang mulia" ucap mereka berdua serempak, kemudian pergi meninggalkan Shin dan Lily.


"Maafkan aku Lily, tapi sepertinya aku harus pergi lagi" ucap Shin.


"Aku tau itu, pastikan kau cepat kembali" jawab Lily kemudian dia memeluk Shin.


Shin memutuskan untuk pergi mencari inti api beku esok harinya, karena hari ini ia ingin menghabiskan waktu bersama Lily, Mereka berdua berjalan-jalan mengelilingi kota dengan menaiki kuda, di sepanjang jalan banyak para penduduk kerajaan yang memberi hormat sekaligus mengucapkan selamat kepada keduanya karena berita tentang ratu mereka yang sedang mengandung sudah tersebar luaskan di kerajaan.


Keesokan harinya, Lily dan yang lainnya tengah berkumpul di depan halaman istana untuk mengantar sekaligus melihat kepergian Shin, meskipun berat untuk melepaskan kepergian suaminya namun ia harus tegar karena ini demi kebaikan mereka juga.


"Sudahlah jangan sedih, mungkin perjalanan ini akan lama tapi akan aku usahakan untuk kembali secepat mungkin" kata Shin sambil memeluk Lily.


"Ingat janjimu padaku" ujar Lily.


"Tenanglah, aku pasti akan menepati janjiku" kata Shin.


"Tunggu ayah kembali" gumam Shin pelan sambil mengelus-elus perut Lily dengan tangannya.


"Paman, aku titip kerajaan ini ya, Ryuzen, Leo, dan kalian semua aku mohon jagalah Lily dan calon anakku" kata Shin.


"Siap laksanakan yang mulia" jawab mereka serempak.


"Baiklah semuanya aku pergi dulu" kata Shin sambil melompat ke punggung Garda dan kemudian mereka melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan kerajaan Phoenix.


Lily tidak menjawab melainkan hanya menundukkan kepalanya dengan air mata yang masih menetes, Lina segera membawa Lily menuju kamarnya sementara yang lainnya kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing.


***


"Garda apakah penjaga inti api beku juga sama seperti kalian?" tanya Shin.


"Benar yang mulia, dan hamba rasa dia akan dengan senang hati menyerahkan inti api beku pada yang mulia" jawab Garda.


"Kenapa begitu?" tanya Shin lagi


"Meskipun Golem es sangat tidak bersahabat namun dia sangatlah setia dengan yang mulia raja Phoenix, dan bisa di bilang jika di bandingkan dengan Cronos maka Golem Es lebih patuh dan tidak pernah membangkang" kata Garda menjelaskan.


"Baiklah, kalau begitu aku hanya bisa berharap dia tidak akan mempersulit diriku" ujar Shin.


Shin dan Garda terus melaju ketempat dimana inti api berada yaitu di negeri Es, Negri Es sendiri hanya di tempati oleh bangsa Elf dan sama sekali tidak ada manusia di sana karena tidak ada yang tahan dengan cuaca yang selalu dingin.


Mereka terus terbang siang dan malam tidak pernah Shin mengeluh jika itu sudah menyangkut kepentingan istrinya, mereka berdua hanya akan istirahat pada malam hari jika tidak memungkinkan untuk mereka terbang dan akan kembali melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbit.


Pagi itu Shin dan Garda tengah terbang melewati sebuah hutan yang sangat rimbun, namun karena merasakan sesuatu yang aneh Shin meminta Garda untuk terbang secara perlahan, dan benar saja selang beberapa menit Shin mendengarkan seseorang berteriak minta tolong.


"TOLONG!!!"


"SELAMATKAN KAMI!!!!"


Shin dan Garda lansung melesat kearah suara tersebut, ketika mereka sampai Shin melihat sekelompok orang yang sedang mencoba melindungi sebuah kereta kuda dari para Orc dan juga goblin.


"Garda kau jangan turun, biarkan aku saja yang menghabisi mereka semua" kata Shin.


"Baik yang mulia" jawab Garda.


Shin kemudian melompat dari punggung Garda dan lansung menyerang salah satu Orc, karena serangan kuat yang Shin berikan Orc tersebut terpental beberapa meter ke belakang dan menabrak sebuah pohon sampai roboh, Shin tidak menunggu lama dia kemudian mengeluarkan pedang Phoenix miliknya dan lansung menyerang para Orc dan goblin lainnya.


Tidak butuh waktu lama bagi Shin untuk menghabisi monster seperti goblin dan juga Orc karena saat ini kekuatannya bukanlah tandingan bagi monster kelas bawah seperti mereka, mereka yang awalnya di serang oleh para Orc hanya bisa tercengang melihat bagaimana Shin dengan mudahnya menghabisi semua monster itu dengan sangat mudah.


"Terimakasih banyak tuan karena telah membantu kami" salah seorang dari mereka memberanikan diri untuk bicara.


"Sudahlah tuan tidak perlu sungkan" kata Shin.


"Kalau boleh tau tuan ingin pergi kemana?" tanya orang itu.


"Aku hanya ingin pergi ke negri Es karena ada sesuatu yang ingin aku urus di sana" kata Shin.


"Sepertinya dia bukan orang sembarangan" gumam orang tersebut dalam hatinya.


"Begini tuan, jika tuan tidak keberatan bagaimana saya meminta bantuan tuan untuk mengawal kami, saya janji jika telah sampai di tujuan nanti tuan akan saya bayar dengan harga yang sesuai" kata orang tersebut.


"Memangnya tujuan kalian kemana?" tanya Shin.


"Tujuan kami adalah ke kerajaan suci tuan, dan kebetulan sekali jika ingin pergi ke negri Es tuan juga akan melewati kerajaan suci" jawab orang itu.


"Baiklah jika memang kita satu arah, aku rasa tidak ada salahnya" ujar Shin.


Kemudian Shin memutuskan untuk pergi bersama dengan rombongan itu menuju ke kerajaan Suci.