The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Hari Eksekusi



Keesokan harinya para warga kota berkumpul di sebuah lapangan yang sangat luas di depan tengah-tengah kota, para penduduk kota tidak mengetahui kenapa mereka dikumpulkan mereka hanya di beritahu untuk berkumpul saja.


"Hey apa kau tau kenapa kita di kumpulkan?"


"Entahlah aku juga tidak tau"


"Aku rasa ada sesuatu yang penting yang ingin di katakan oleh pemimpin kota"


"Tapi tadi malam aku mendengar banyak teriakan dari arah selatan kota"


"Apakah benar?, bukankah di sana itu markas para bandit?"


"Hey, hey lihat itu, siapa orang yang di bawa prajurit itu?"


Saat mereka semua sedang bertanya-tanya tentang apa alasan mereka di kumpulkan tiba-tiba saja beberapa prajurit membawa sepuluh orang dengan tangan yang sudah terikat, awalnya mereka tidak mengetahui siapa yang di bawa hingga salah satu warga berteriak dan mengejutkan mereka semua.


"I-itu para pemimpin Aliansi bandit bersaudara!"


"Apa!?!"


"Hey apa kau yakin?"


"Aku sangat yakin karena aku pernah bertemu dengan mereka semua"


"Ya benar, mereka memang ketua aliansi para bandit di kota kita".


"Bagus, akhirnya mereka tertangkap juga"


"Bunuh mereka!!"


"Gantung saja!!"


Para penduduk kota berteriak keras melihat semua pemimpin bandit telah berhasil di tangkap, keinginan mereka akhirnya tercapai yaitu menyaksikan para bandit di kota Lembah Angin di tangkap dan di hukum di depan mata mereka semua.


"Harap tenang semuanya!" kata Lily lantang.


Mereka semua kemudian terdiam dan suasana menjadi hening seketika, lalu Lily melanjutkan ucapannya.


"Mereka adalah ketua aliansi para bandit yang tadi malam berhasil di tumpas, seluruh anggota mereka juga sudah di habisi, dan aku sengaja menangkap mereka agar kalian bisa menyaksikan sendiri hukuman yang akan mereka terima, dan satu hal lagi aku akan mempersilahkan kalian yang memiliki dendam untuk menghabisi mereka" kata Lily.


"Jadi siapa diantara kalian yang memiliki dendam silahkan maju ke depan" lanjutnya.


"Pemimpin kota aku mohon izinkan aku membunuh salah satu dari mereka, untuk membalaskan dendam anakku yang sudah mereka bunuh" kata seorang kakek tua.


"Silahkan kakek, aku izinkan kau menghabisi salah satu dari mereka" jawab Lily.


Pria tua itu kemudian melangkah maju, kakinya terlihat gemetar bukan karena lemah ataupun takut, namun dirinya menahan amarah dan dendam yang selama ini ia pendam akhirnya bisa terbalaskan.


"Kakek, gunakan saja pedangku ini" kata Ryuzen memberikan pedangnya.


"Terimakasih nak" kata kakek itu kemudian mengambil pedang Ryuzen.


"Sudah lama aku ingin menghabisimu karena dirimu anak perempuanku mati mengenaskan, hari ini arwah anakku akan tenang di surga karena dendamnya sudah aku balas" kata kakek tersebut


Kakek itu kemudian mengangkat tinggi pedang Ryuzen dengan kedua tangannya, Lalu dengan semua kekuatannya ia mengayunkan pedang tersebut dan dalam sekejap kepala bandit itu sudah terpisah dari tubuhnya dan menggelinding di tanah.


Senyum kebahagiaan terukir indah di wajah keriput kakek tersebut, dia merasa sangat senang karena dendam anaknya sudah terbalas, kakek tersebut kemudian berlutut dan memberi hormat pada Lily, namun dengan cepat Lily menahan bahu kakek itu agar tidak berlutut.


"Kakek, jangan lakukan itu dan jangan ucapkan terimakasih, ini sudah menjadi tanggung jawabku" kata Lily.


"Terimakasih pemimpin kota" kata kakek tersebut, air matanya tidak bisa ia tahan lagi dan akhirnya tumpah karena kebahagiaan yang ia rasakan.


"Baik" jawab Leo, dia kemudian membantu kakek tersebut untuk kembali ke tempatnya.


"Baiklah siapa lagi selanjutnya?" tanya Lily.


Satu persatu warga yang memiliki dendam maju untuk membalaskan dendam mereka semua, namun ada juga yang merasa kecewa karena tidak bisa menghabisi para bandit dengan tangan mereka sendiri, akan tetapi mereka tetap bahagia karena para bandit telah musnah dari Kota Lembah Angin.


"Terimakasih pemimpin" kata mereka semua.


"Sudahlah jangan di pikirkan lagi setelah ini kalian bakar saja mayat mereka semua, dan bagi mereka tidak ada yang namanya penguburan yang layak, biarkan jasad mereka hangus menjadi debu" kata Lily tegas.


"Dan satu lagi, masalah ekonomi dan yang lainnya akan aku selesaikan secepat mungkin, aku harap kalian semua bisa bersabar" kata Lily.


"Tidak perlu terburu-buru pemimpin, dengan menghabisi para bandit saja kami sudah sangat senang, kami tidak ingin kesehatan pemimpin terganggu, dan kami juga tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada calon tuan muda kami" kata salah seorang warga.


"Benar pemimpin" jawab mereka serempak.


Lily sangat kaget ketika mengetahui bahwa para warga sudah tau tentang kehamilannya, bersamaan dengan itu dia juga sangat senang karena semua penduduk merasa khawatir dengan kesehatannya dan juga calon bayinya.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu" kata Lily.


"Sekali lagi terimakasih pemimpin" jawab mereka semua serempak.


Lily dan yang lainnya kemudian pergi meninggalkan kerumunan penduduk dan kembali ke mansion, sementara para penduduk membawa mayat para bandit ke pinggiran kota lalu membakar tubuh mereka di sana.


"Lily, sebaiknya kau istirahat saja biar kami yang mengurus semuanya" kata Leo.


"Benar Lily, aku tidak ingin kapten marah ketika tau kau sakit" kata Ryuzen


"Hahahaha ternyata si ganas Ryuzen bisa takut juga ya" ujar Lina.


"Hey memangnya kau tidak takut, aku akui kapten sangat tampan dan murah senyum namun ketika dia marah, satu kerajaan bisa dia hancurkan sendirian" kata Ryuzen kesal.


"Hahaha sudahlah, aku pergi istirahat dulu" kata Lily kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Setelah urusan kota ini selesai, aku akan mencari orang yang bisa di percaya untuk mencari keberadaan kapten" ujar Leo.


"Aku setuju denganmu Leo" ucap Ryuzen.


Mereka bertiga kemudian pergi menuju ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.


Lily duduk termenung memandang keluar jendela kamarnya menatap langit yang biru, pikirannya melayang entah kemana dan hanya ada satu orang yang ia pikirkan saat ini yaitu Shin, setiap kali ia memikirkan tentang Shin air matanya menetes tanpa ia sadari, meskipun ia mencoba untuk tegar di depan semua orang namun nyatanya dia sangat rapuh dan kesepian.


***


Di pulau penyu laut, Shin saat ini tengah duduk di tepi pantai menikmati pemandangan birunya laut, saat dia sedang termenung tiba-tiba saja dia merasakan sesak di dadanya, hatinya terasa sakit dan entah kenapa dia tiba-tiba saja merasa sedih dan kesepian.


"Perasaan apa ini?, kenapa dadaku sangat sakit" gumam Shin pelan.


"Hey Shin, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Emilia yang baru saja datang.


"Kau mengagetkan saja Emilia" ujar Shin.


"Kau kenapa?" tanya Lily.


"Entahlah dadaku terasa sesak, dan entah mengapa aku merasa sangat kesepian" jawab Shin.


"Hey, kan ada aku di sini jadi kenapa kau merasa kesepian?" tanya Emilia.


"Entahlah Emilia, aku sepertinya sangat merindukan seseorang" ujar Shin sambil memegang dadanya yang terasa sesak.