
Setelah di rasa cukup istirahat Garda dan juga Shin kembali melanjutkan perjalanan mereka dalam mencari inti api beku, namun lagi-lagi usaha mereka sia-sia bahkan sampai matahari terbenam mereka masih belum menemukan dimana letak inti api beku.
Dan ketika malam hari cuaca dingin bertambah menjadi dua kali lipat sehingga menyebabkan pencarian mereka berdua terhambat, Garda tidak sanggup terbang dengan kecepatan tinggi di cuaca yang sangat dingin jadi terpaksa pencarian mereka lanjutkan esok hari.
Namun ketika hendak menuju sebuah tempat yang terlihat seperti sebuah gua Shin merasakan sedikit aura panas menyentuh kulitnya, " Garda apa kau merasakan aura panas ini?" tanya Shin.
"Benar yang mulia, hamba juga merasakan aura panas tersebut meskipun terasa samar" kata Garda yang juga merasakan apa yang Shin rasakan.
Shin lansung menggunakan kekuatan inti api abadi untuk mencoba mencari tau aura panas apa yang baru saja ia rasakan, dan benar saja ketika dua aura panas tersebut bertemu Shin seolah di tarik menuju suatu tempat oleh energi yang sangat kuat.
"Garda ke arah sana" kata Shin sambil menunjuk kearah sebuah gunung es yang sangat besar.
Garda segera melesat dengan cepat menuju Gunung tersebut, karena aura panas yang terpancar dari tubuh Shin sekarang tidak masalah lagi bagi Garda untuk terbang dengan kecepatan tinggi di cuaca yang sangat dingin itu.
Semakin mereka mendekat kearah gunung es yang sangat besar itu aura panas yang sangat misterius itu juga semakin terasa, ketika mereka sampai tepat di dekat gunung itu ledakan energi yang sangat kuat terjadi, dua kekuatan tiba-tiba saja bergabung menjadi satu.
Dua kekuatan itu adalah kekuatan dari inti api abadi yang ada di dalam diri Shin yang keluar begitu saja bahkan Shin sendiri tidak bisa menahannya, dan yang satunya lagi adalah kekuatan yang berasal dari gunung es tersebut,
Aura merah dan aura biru yang sangat panas dan juga dingin terasa disaat yang bersamaan, bahkan sampai membuat Shin sedikit gemetar melihat dua kekuatan yang kini menjadi satu tersebut dan dari kekuatan tersebut tercipta sebuah aura yang berwarna biru.
"Siapa yang berani mengganggu tidurku!!!"
Tiba-tiba saja dari dalam gunung terdengar suara yang sangat keras dan tiba-tiba saja daratan es tersebut menjadi bergetar, meskipun Shin dan Garda tidak menginjakkan kaki mereka di daratan Es tersebut namun Shin dapat melihat dari atas bahwa daratan Es tersebut sedikit bergetar.
Gunung Es raksasa yang berdiri kokoh itu tiba-tiba saja menjadi retak dan semakin lama retakan tersebut semakin membesar dan menyebabkan gunung es raksasa itu seketika pecah dan hancur, gunung es raksasa yang telah pecah itupun menampakkan sebuah sosok yang sangat besar dengan tubuh yang terbuat dari es, dan tepat di dada sosok tersebut ada sebuah kristal inti api beku.
"Tu-tunggu dulu, Garda kau bilang penjaga inti api beku adalah Golem es, tapi kenapa sekarang malah seekor naga es?" tanya Shin kebingungan ketika melihat sosok naga es raksasa di depannya.
"Yang mulia, sebaiknya anda tunjukkan wujud anda yang sebenarnya atau kita akan dalam masalah" kata Garda dengan nada panik.
Karena melihat Garda yang tiba-tiba saja menjadi panik Shin kemudian mengubah wujud manusianya menjadi wujud sang dewa Phoenix, meskipun yang berubah hanyalah bola mata dan muncul sepasang sayap merah menyala serta aura kekuatannya, namun itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa dia adalah penerus sang dewa Phoenix.
"Aura ini, tidak salah lagi apakah itu anda yang mulia?" tanya naga Es tersebut.
"Bukan, aku bukanlah sang dewa Phoenix yang sesungguhnya namun aku hanyalah keturunan dari sang dewa Phoenix" jawab Shin.
"Golem es, apa yang terjadi pada tubuhmu?" kata Shin bertanya.
"Tubuh hamba telah berevolusi yang mulia, hak ini di sebabkan oleh kekuatan dari inti api beku yang menyebabkan tubuh hamba perlahan-lahan menjadi seekor naga" kata naga Es tersebut.
"Lalu apakah kau mempunyai nama saat ini?" tanya Shin.
"Baiklah kalau begitu mulai saat ini kau akan ku panggil sebagai Rayzer".
"Apa kau setuju dengan nama itu?" tanya Shin.
"Terimakasih yang mulia, mulai sekarang hamba akan menggunakan nama pemberian yang mulia" kata Rayzer
"Lalu apakah kedatangan yang mulia kemari adalah untuk mengambil inti api beku?" tanya Rayzer
"Benar sekali Rayzer sudah saatnya aku mengambil kembali inti api beku yang telah kau jaga selama ini" ujar Shin.
"Baiklah yang mulia" kata Rayzer kemudian dia mengeluarkan kristal inti api yang ada di dalam dadanya dan memberikannya kepada Shin.
"Baiklah Rayzer sebagai hadiah karena kau telah menjaga inti api beku maka akan aku berikan sedikit kekuatan inti api beku pada dirimu" kata Shin kemudian dia mengarahkan kristal tersebut kepada Rayzer
Tubuh Rayzer kemudian di selimuti oleh aura biru, perlahan tubuhnya yang hanya terbuat dari es itu membentuk daging kemudian dari daging tersebut membentuk kulit, dan dari kulit itu muncul sisik yang terlihat sangat tebal dan juga keras, kedua sayap yang awalnya hanya seperti pajangan karena tidak bisa ia gerakkan karena terbuat dari es kini keduanya benar-benar menjadi sepasang sayap.
Cahaya biru tersebut perlahan menghilang dan bersamaan dengan itu muncul sesosok naga raksasa yang juga berwarna biru, dia adalah Rayzer yang awalnya hanyalah naga raksasa yang terbentuk dari bongkahan es namun sekarang dia benar-benar menjadi seekor naga.
"Hahahaha, Garda lihat ini sekarang aku memiliki tubuh seperti kalian, aku juga memiliki sepasang sayap seperti kalian kau dan Cronos tidak bisa mengejekku lagi" kata Rayzer tertawa senang.
"Bagus saudaraku, aku juga turut senang untukmu" kata Garda.
"Terimakasih yang mulia, karena anda telah menjadikan hamba seperti ini" kata Rayzer.
"Tidak perlu berterimakasih Rayzer bagaimanapun kau adalah salah satu pengikut setia dewa Phoenix, sudah sewajarnya aku memberimu hadiah" kata Shin.
"Yang mulia, izinkan hamba untuk mengikuti yang mulia dan meninggalkan negeri Es ini" kata Rayzer.
"Apakah tidak akan terjadi masalah jika kau pergi dari sini?" tanya Shin.
"Tidak yang mulia, sebelumnya hamba selalu iri dengan Garda yang setiap saat bisa bersama yang mulia dan melayani yang mulia sedangkan hamba hanya bisa berjauhan dengan yang mulia dan menetap di negeri Es ini, jadi hamba mohon yang mulia kabulkan keinginan egois hamba ini" kata Rayzer
"Baiklah Rayzer jika memang demikian keinginanmu maka aku izinkan kau mengikutiku kembali ke kerajaan Phoenix" kata Shin.
"Baiklah mari kita segera berangkat" lanjutnya.
"Baik yang mulia" kata mereka berdua serempak.
Shin kembali ke wujud manusianya kemudian naik ke punggung Garda, setelah itu mereka kembali terbang menuju ke kerajaan Phoenix.