The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Hadiah Untuk Para Pasukan.



Setelah peperangan bukan, setelah pembantaian pasukan kerajaan Tempest Leon meminta seluruh pasukan untuk kembali ke kerajaan angin, dan langsung meminta mereka untuk melakukan penjagaan yang ketat.


Sementara Shin, Leo dan juga Ryuzen kembali ke markas pertama pasukan Blue Lighting karena Lily dan yang lainnya masih ada di sana.


"Sayang aku pulang" ucap mereka bertiga secara bersamaan.


"Ekhemm, bukankah sebaiknya kita bicara satu-satu" kata Leon.


"Hahaha aku rasa tidak masalah karena istri kita semuanya ada di sini" ujar Ryuzen.


Lily, Aurora, Lina dan Reyna yang sedang asik mengobrol kemudian pergi ke depan untuk menyambut kedatangan suami mereka, wajah senang dan bahagia nampak terukir jelas di wajah mereka karena suaminya pulang dengan selamat tanpa luka sedikitpun.


"Selamat datang..!!" jawab mereka berempat bersamaan.


"Kalian mau makan dulu atau langsung istirahat?" tanya Lily.


"Langsung istirahat saja" jawab Shin, Leo dan Ryuzen bersama.


Lily dan yang lainnya hanya tertawa kecil melihat kekompakan suami mereka. Mereka semua kemudian langsung menuju ke kamar untuk beristirahat.


Di kamar Leo, sesampainya di dalam kamar Reyna langsung memeluk Leo dengan sangat erat, diantara mereka semua hanya Reyna yang nampak sangat khawatir, meskipun ia tau kemampuan suaminya tetap saja ini adalah pengalaman pertama baginya menunggu kedatangan suami dari peperangan.


"Syukurlah kau baik-baik saja" ucap Reyna lega.


"Hahaha, aku senang kau khawatir" ucap Leo.


"Tentu saja aku khawatir karena kau suamiku" kata Reyna kesal.


"Iya maaf, sekarang temani aku istirahat" kata Leo kemudian menggendong Reyna menuju ke tempat tidur.


**


Di kamar Ryuzen, Lina juga langsung memeluk erat Ryuzen saat mereka sampai di kamar, meskipun dia tidak terlalu khawatir karena Shin pasti menjaga suaminya namun ia tau bagaimana gilanya Ryuzen saat peperangan dan itulah yang membuatnya khawatir.


"Apa kau khawatir?" tanya Ryuzen.


"Tentu saja aku khawatir" jawab Lina kesal.


"Padahal kau sendiri sangat mengetahui kemampuanku, lalu kenapa masih khawatir sayang?" tanya Ryuzen.


"Justru itulah yang membuatku khawatir, aku sangat mengetahui bagaimana kau di medan perang" jawab Lina.


"Kalau itu aku tidak bisa mengubahnya" ucap Ryuzen.


"Aku tau itu, tapi ingat kau harus tetap berhati-hati" kata Lina mengingatkan.


"Tentu saja sayang, aku selalu berhati-hati" ujar Ryuzen.


Meskipun di sikap Lina terbilang agak kaku dan cuek kepada Ryuzen namun sebenarnya ia sangat menyayangi Ryuzen, sikap tersebut hanya ia tunjukkan saat mereka berada di depan umum, namun saat mereka berdua saja sifat Lina malah cenderung lebih manja bahkan Ryuzen sampai tak percaya bahwa Lina adalah tipe orang yang mau bermanja-manja.


**


Di kamar Shin, Lily dan Aurora nampak bahagia dan juga senang atas kemenangan Shin dalam peperangan ini, meskipun bisa di katakan bahwa lawan mereka sebenarnya tidak ad apa-apanya namun mereka berdua tetap mengucapkan selamat atas kemenangan pertama kerajaan Angin.


"Sayang apa kau mau mandi dulu?" tanya Lily.


Lily dan Aurora saling berpandangan kemudian menjawab pertanyaan Leon dengan serempak. "Tentu saja tidak!" jawab keduanya kesal.


"Hahaha jangan kesal begitu, lagipula aku hanya bercanda" ucap Leon kemudian berjalan menuju ke kamar mandi.


Setelah sepuluh menit berlalu Leon akhirnya selesai membersihkan diri dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, begitu juga dengan Lily dan Aurora yang ikut merebahkan tubuh mereka di samping kiri dan kanan Shin lalu memeluknya.


"Mungkin besok kita akan kembali ke kerajaan Angin, bagaimana menurut kalian?" tanya Shin.


"Kami akan selalu mengikuti keputusan yang kau buat" jawab Aurora.


"Benar yang di katakan kakak, karena kami yakin semua keputusan yang kau ambil adalah yang terbaik untuk kita semua" ujar Lily.


"Terimakasih kalian berdua memang istri yang baik" ucap Leon lalu mencium kening mereka berdua.


**


Keesokan harinya, seperti yang telah di rencanakan oleh Shin kemarin hari ini mereka semua akan kembali ke kerajaan angin dan sekarang mereka sedang bersiap-siap, begitu juga dengan Reva karena Shin juga mengajaknya untuk ikut bersama mereka ke kerajaan angin.


Mereka kembali dengan terbang karena cara itu adalah cara yang tercepat untuk sampai di kerajaan angin yang letaknya lumayan jauh dari kerajaan Tempest, awalnya Reva merasa tidak yakin karena ini adalah pengalaman pertamanya namun karena mereka sama sekali tidak memiliki kuda maka sudah tentu tidak ada pilihan lain selain terbang.


Reva di bawa terbang oleh Lily dan Aurora, sementara Alisha bersama Shin, mereka semua terbang secara perlahan karena saat ini mereka membawa Reva hingga menyebabkan mereka membutuhkan waktu seharian untuk bisa sampai di kerajaan Angin.


Reva menatap sebuah kerajaan kecil di bawahnya dengan takjub dan kagum, pasalnya kerajaan kecil tersebut sangatlah indah dengan di kelilingi oleh bukit-bukit yang tinggi dan seolah-olah melindungi kerajaan kecil tersebut dari segala arah.


Mereka semua kemudian mendarat di halaman mansion dan kedatangan mereka di sambut hangat oleh para pasukan Blue Lighting yang sebelumnya telah berkumpul karena mereka bisa merasakan kedatangan raja mereka.


"Selamat datang yang mulia raja, ratu, tuan putri dan para jendral" ucap pasukan Blue Lighting sambil berlutut.


"Berdirilah" ucap Shin, sesuai perintah mereka semua kemudian berdiri.


"Kalian semua sebaiknya masuk terlebih dulu" kata Shin.


Mereka semua kemudian masuk ke dalam mansion, meninggalkan Shin, Leo dan Ryuzen bersama pasukan Blue Lighting.


"Seperti yang sudah aku janjikan sebelumnya kalian semua berhak mendapatkan hadiah karena keberhasilan kalian, maka terimalah ini" kata Shin sambil mengeluarkan tiga ribu kristal api.


"Terimakasih yang mulia" ucap mereka serempak kemudian maju satu persatu untuk mengambil kristal api tersebut.


"Dengan ini aku ingin kalian semua menjadi lebih kuat lagi, dan ingat lakukan semua metode yang telah di ajarkan oleh para jendral pada kalian semua" ucap Shin tegas.


"Baik yang mulia" seru mereka semua.


"Tiga ratus pasukan akan berjaga seperti biasa dan selebihnya harus membantu membangun istana agar lebih cepat selesai karena kerajaan kita akan semakin besar" Leon memberi perintah.


"Siap laksanakan yang mulia" jawab mereka serempak.


Setelah itu mereka semua kembali ke barak pasukan untuk beristirahat karena sebentar lagi akan gelap, sementara tiga ratus pasukan memisahkan diri dan kembali ke pos jaga mereka masing-masing.


"Yang mulia apa anda yakin penduduk kerajaan Tempest mau bergabung dengan kita?" tanya Leo.


"Mau atau tidaknya itu tergantung mereka keputusan sendiri, lagipula kerajaan kita ini tentu akan semakin besar" ucap Shin.


"Baiklah sekarang mari masuk ke dalam, aku sudah sangat kelaparan" ujar Ryuzen.