The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
HARI LIBUR



"Sekarang hanya tinggal kita berdua apa kau ingin tetap berdiri di sana atau..." belum selesai Shin mengucapkan kalimatnya Lily sudah berlari dan memeluknya, Shin membalas pelukan Lily dengan hangat, air matanya menetes Hingga membasahi pundak Shin.


"Maafkan aku sudah membuat mu khawatir" ucap Shin, dia kemudian melepaskan pelukannya, dia memandang wajah cantik Lily yang kini dibasahi oleh air matanya, Lily menghapus air matanya kemudian memandang Shin wajahnya sedikit memerah jantungnya berdegup kencang saat wajah Shin mulai mendekat.


Lily memejamkan matanya karena tidak tahan melihat wajah Shin yang semakin mendekat, kemudian bibir mereka berdua bertemu, Lily terkejut karena itu adalah yang pertama baginya, matanya sedikit melebar karena kaget, namun setelah itu mereka larut dalam ciuman yang hangat itu.


Lily melingkarkan kedua tangannya di leher Shin, sementara tangan Shin mulai berjalan menelusuri setiap lekukan tubuh Lily....


(Eits sampe sini sensor dulu ya, kalian semua pasti tau lah yang akan terjadi berikutnya, jadi tidak perlu author jelaskan, hehehe)


Mereka berdua kemudian tertidur pulas dengan hanya di tutupi oleh selimut, meskipun tertidur namun nampak kebahagiaan terukir di wajah mereka berdua.


***


"Hey Lina sebaiknya kau panggil mereka berdua untuk makan, aku yakin kapten sangat lapar saat ini" ucap Ryuzen.


"Iya aku akan memanggil mereka" jawab Lina kemudian berjalan menuju lantai atas, karena melihat pintu yang sedikit terbuka tanpa pikir panjang Lina lansung masuk, namun saat melihat apa yang terjadi di depannya dia seperti sudah bertemu dengan monster, tatapannya kosong dan jantungnya berdegup kencang.


Lina kemudian turun perlahan dengan tangan dan kaki yang gemetaran, saat melihat hal itu Leo dan Ryuzen menghampirinya.


"Hey Lina apa yang terjadi kenapa kau seperti habis bertemu monster" ucap Leo.


"Iya Leo benar apa yang terjadi denganmu, dan dimana mereka berdua" ujar Ryuzen.


Lina kemudian tersadar "Sebaiknya kita makan lebih dulu, aku rasa saat ini biarkan saja mereka berdua menikmati waktu libur mereka" ucapnya dan lansung turun.


Ryuzen dan Leo saling berpandangan, mereka seperti memikirkan hal yang sama kemudian tersenyum "Yah aku rasa Lina ada benarnya juga" ucap Ryuzen.


"Yah kau benar sekali" sahut Leo, "maafkan kami Lina seharusnya kau tidak melihat yang sedang terjadi di atas" Lanjutnya.


"Dasar kalian berdua memang bodoh, kenapa aku mau saja menuruti kata-kata kalian" jawab Lina dengan kesal dan mukanya sedikit memerah.


"Maaf Lina kami juga tidak tau, jika kami tau tidak mungkin kami memintamu memanggil kapten" ujar Ryuzen.


Mereka bertiga kemudian makan, tanpa menunggu Shin dan Lily, Setelah makan mereka bertiga sepakat untuk meninggalkan mereka berdua kemudian mereka pergi menuju kota.


"Jadi apa yang akan kita lakukan" tanya Lina


"Hemm sebaiknya kita nikmati juga hari libur kita ini, aku sangat ingin pergi ke bar dan minum arak" ujar Ryuzen.


"Itu rencana yang bagus kawan, aku akan ikut denganmu" sahut Leo.


"Bagaimana denganmu Lina" tanya Leo.


mereka bertiga kemudian berpisah, Ryuzen dan Leo menuju ke sebuah bar dan Lina pergi ke pemandian air panas.


***


"Hoaammm" Shin membuka matanya menoleh ke arah jendela, "Ya ampun apa kami tertidur semalaman, sekarang sudah pagi perutku sedikit lapar" Shin bergumam sambil memegang perutnya, kemudian dia menoleh kearah Lily, dia mengelus rambutnya dan membuat Lily terbangun.


"Selamat pagi sayang" Ucap Shin sambil tersenyum ramah lalu mengecup kening Lily.


"Apa kita tidur semalaman" tanya Lily.


"Sepertinya begitu, dan juga sepertinya hanya tinggal kita berdua di rumah karena aku tidak merasakan adanya keberadaan mereka disekitar sini" ucap Shin.


"Baiklah kalau begitu aku akan turun ke bawah dan memasak makanan untuk kita" ucap Lily dan lansung bangun dari tempat tidur.


"A..anu Lily, sebaiknya kau memakai pakaian dulu, meskipun hanya kita berdua dirumah" ucap Shin.


Lily kemudian tersadar, dia menatap seluruh tubuhnya yang kini tidak di tutupi sehelai benangpun, "KYAAA!!!! jangan menatap ku dasar kau mesum" teriak Lily.


"Hey hey jangan bilang aku mesum, memangnya kau lupa apa yang kita lakukan kemarin" ucap Shin menggoda Lily.


Lily terkejut dan seolah-olah mengingat sesuatu wajahnya kemudian tertunduk dan memerah, dia sangat malu karena saat ini Shin melihatnya dalam keadaan tanpa pakaian.


Melihat sikap Lily, Shin kemudian memutar badannya "B-Baiklah aku tidak akan menatap mu, ya walaupun kemarin aku sudah melihat semuanya" dia kembali menggoda Lily.


"B-bukan begitu, hanya saja ini pertama kalinya bagiku, dan aku sangat malu" jawab Lily, sambil mengenakkan kembali pakaiannya.


"Iya iya aku tau" ucap Shin singkat, "Bagaimana apa aku sudah boleh melihat" lanjutnya.


"I..iya kau sudah boleh melihat, aku sudah selesai" jawab Lily.


Shin kemudian kembali menghadap Lily dan membuka matanya, melihat wajah Lily yang masih memerah Shin hanya tersenyum.


"Boleh aku meminta sesuatu" ucap Shin.


"Apa itu" sahut Lily.


"Jika kau mau, aku mau minta tolong dibuatkan makanan sekarang aku sangat lapar" ucap Shin.


"Kalau itu kau tidak perlu minta" jawab Lily kesal, dia kemudian keluar kamar dan lansung menuju ke bawah untuk memasak.