The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Melampiaskan Kekesalan



Setelah kepergian Shin dan kedua istrinya suasana di istana kerajaan Tempest menjadi gempar, pasalnya mereka yang sebelumnya sangat bersemangat untuk berperang melawan kerajaan kecil yang baru saja berdiri tiba-tiba menjadi ciut dan ketakutan setelah mengetahui siapa pemimpin kerajaan kecil tersebut.


Ketakutan yang sangat besar nampak terukir jelas di wajah setiap prajurit kerajaan Tempest, begitu juga dengan para bangsawan serta para jendral wajah mereka nampak pucat serta berkeringat dingin.


"Yang mulia bagaimana ini?" tanya salah satu jendral.


"Entahlah jendral" jawab raja lemas.


"Yang mulai apa sebaiknya kita minta bantuan saja?" tanya jendral lainnya.


"Minta bantuan kemana?, dua kerajaan lainnya telah bersekutu dengan kerajaan kecil tersebut" jawab raja Dixgard.


"Hanya ada satu jalan terakhir" kata jendral utama.


"Apa itu?" tanya raja bingung.


"Kita minta bantuan pada raja iblis" jawab jendral utama.


Semua orang tersentak kaget mendengar usul dari jendral utama, bagaimana mungkin mereka mau bersekutu dengan bangsa iblis dan jelas-jelas mereka semua hanya akan menjadi budak bangsa iblis. Tapi di sisi lain memang hanya itulah jalan satu-satunya yang mereka miliki atau mereka hanya harus pasrah dan menyerahkan diri pada kerajaan kecil tersebut.


Kesombongan, Keserakahan, dan Keangkuhan raja Dixgard menguasai dirinya hingga membuatnya buta dan haus akan kekuasaan, senyum jahat nampak terukir jelas di wajah tuanya yang menandakan bahwa dia memiliki pemikiran yang buruk dan juga jahat.


"Baiklah, aku setuju dengan jendral utama. Dan kita akan meminta bantuan dari raja iblis" kata raja Dixgard dengan senyum jahat di wajahnya.


**


Setelah pergi dari istana kerajaan Tempest, Shin, Lily dan Aurora lansung kembali ke rumah mereka yang ada di pinggiran danau, perasaan Shin yang semula marah dan emosi kembali menjadi tenang saat melihat senyuman indah yang terukir di wajah putrinya.


"Ayah, ibu selamat datang" sambut Alisha.


"Alisha dimana bibi Reva?" tanya Lily.


"Bibi sedang memasak makanan untukku" jawab Alisha semangat.


"Kalian bertiga tinggallah disini sebentar, aku ingin pergi ke suatu tempat" kata Shin.


"Hati-hati" ucap Lily dan Aurora serempak.


"Hati-hati ayah" ujar Alisha.


Setelah berpamitan Shin lansung melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah hutan, tujuan Shin kali ini adalah reruntuhan kerajaan Phoenix yang dulu merupakan kerajaannya.


Setelah dua jam terbang dengan kecepatan tinggi Akhinya dari ketinggian Shin bisa melihat sebuah lahan kosong yang sangat luas serta terdapat banyak sekali reruntuhan bangunan yang telah hancur.


"Jika saja waktu itu aku kuat, maka tidak mungkin kerajaanku akan hancur begini" gumam Shin.


"Azazel, ini semua karena kau dan juga bangsa iblis, aku berjanji kalian semua akan aku musnahkan!!!" teriak Shin.


Tubuh Shin di selimuti oleh api yang berwarna ungu yang semakin lama semakin membesar, udara sejuk di dalam hutan seketika menjadi sangat panas bahkan beberapa pohon yang dekat dengan Shin menjadi terbakar akibat efek dari panas api yang berasal dari tubuh Shin.


"HHAAAAA!!!" Shin berteriak dengan sangat keras hingga menyebabkan api yang berasal dari tubuhnya menjadi semakin membesar.


"BBOOMMMM!!!!" ledakan yang sangat keras terdengar di seluruh hutan hingga menyebabkan lahan luas yang semula terdapat reruntuhan kini rata dengan tanah akibat ledakan api ungu yang berasal dari tubuh Shin.


Di tempat Lain, ledakan keras yang di sebabkan oleh Shin terdengar jelas sampai ke kerajaan, hingga membuat semua orang kaget sekaligus merasa takut.


"Ledakan apa itu?" tanya raja.


"Entahlah yang mulia, apapun itu yang jelas itu sesuatu yang sangat berbahaya" ucap jendral utama.


"Jendral bawa pasukan dan selidiki ledakan apa itu, dan siapa yang menyebabkan ledakan sebesar itu" perintah jendral.


"Baik yang mulia" jawab para jendral serempak.


Di tepi danau, Lily dan Aurora mengetahui bahwa ledakan besar tersebut berasal dari Shin, karena mereka bisa merasakan aura dari api ungu yang sangat besar.


"Tenanglah, dia hanya sedang melampiaskan kekesalannya saja" ucap Aurora.


"Semoga saja kali ini kita bisa membantu meringankan beban yang Shin tanggung" ucap Lily pelan.


"Cara kita membantunya hanyalah dengan tetap memberikan dia semangat dan perhatian padanya, jika kita bermaksud untuk membantunya dalam pertempuran aku yakin Shin tidak akan membiarkan kita turun tangan langsung, kau tau kenapa?" tanya Aurora.


"Tentu saja aku tau kak, di dunia ini hanya kita yang di miliki oleh Shin, aku tau betul bahwa dia juga selalu sendirian sejak kecil, dan tentu saja dia tidak akan membiarkan orang yang di sayanginya berada dalam bahaya apa lagi sampai ikut berperang" ucap Lily.


"Benar sekali, dan karena itulah kita harus selalu berada di sampingnya" ujar Aurora.


Kembali ke hutan, Shin nampak kembali menjadi tenang setelah melepaskan kekesalan serta amarahnya.


"Sebaiknya aku kembali, sebelum yang lainnya merasa khawatir" gumam Shin kemudian melesat kembali menuju ke rumahnya.


"Ayah, ayah tadi aku mendengar ledakan yang sangat keras" lapor Alisha saat melihat ayahnya kembali.


"Hahahaha benarkah?, tapi ayah tidak mendengar apa-apa" jawab Shin.


"Benarkah, padahal ledakannya sangat besar ayah" ucap Alisha.


"Hahahaha mungkin ledakannya terjadi saat ayah sedang terbang tinggi, jadi ayah tak bisa mendengarnya" jawab Shin asal.


"Kalau begitu ayah masuk kerumah dulu ya, ayah ingin istirahat" kata Shin, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


"Ibu ayah kenapa?" tanya Alisha.


"Mungkin ayahmu kelelahan, kau pergi main dulu ya ibu akan melihat ayahmu" jawab Lily.


Lily dan Aurora kemudian masuk ke dalam rumah untuk menyusul Shin, saat mereka berdua masuk ke dalam kamar ternyata Shin sedang merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Lily dan Aurora lansung naik ke tempat tidur dan memeluk Shin.


"Aku sangat yakin, bahwa raja Dixgard akan meminta bantuan dari bangsa iblis" ucap Shin dengan mata tertutup.


"Eh... kami kira kau tidur" ucap Lily.


"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya Aurora.


"Sejak tadi aku tidak tidur dan memikirkan hal ini, jika Dixgard benar-benar meminta bantuan dari bangsa iblis maka aku tidak akan mengampuninya lagi" kata Shin kesal.


"Muachhh" Lily dan Aurora mencium pipi Shin bersamaan.


"Kenapa kalian mencium ku?" tanya Shin.


"Tenanglah sayang, kami yakin masalah ini akan bisa kau selesaikan" kata Lily.


"Lily benar, kami yakin masalah ini akan kau selesaikan dengan mudah, karena kau itu dewa agung serta raja dari bangsa phoenix" ucap Aurora.


"Terimakasih" kata Shin memeluk kedua istrinya.


**


Di istana kerajaan Tempest, raja Dixgard terlihat tengah bersiap-siap untuk pergi meninggalkan kerajaan bersama dengan beberapa jendralnya.


"Apa semua sudah siap?" tanya raja Dixgard.


"Sudah yang mulia" jawab salah satu jendral.


"Bagus kalau begitu mari kita segera berangkat ke kerajaan bangsa iblis" kata raja Dixgard dengan senyuman jahatnya.


(Halo semua, maaf ya crazy up nya cuma dikit, masalahnya tadi malam Author ketiduran jadi baru mulai ngetik tadi pagi makanya cuma bisa empat chapter.


Maaf ya semuanya, jangan pernah bosan untuk baca novel Author serta jangan lupa untuk memberikan dukungannya dengan cara memberikan Like, Vote serta Rate bagi pembaca baru)