The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Istana Phoenix.



Keesokan harinya kabar tentang kemenangan kerajaan Angin telah menyebar ke seluruh penduduk kerajaan hingga membuat mereka semua senang dan juga bangga dengan raja mereka, bahkan kemenangan serta kehancuran kerajaan Tempest juga telah terdengar sampai ke kerajaan Cronos dan kerajaan Es yang membuat dua penguasa kerajaan tersebut ikut senang.


Kerajaan Angin kembali ramai seperti biasanya karena selama beberapa hari ini mereka semua menutup pintu gerbang kerajaan karena adanya peperangan, namun setelah peperangan usai dan kerajaan mereka menang aktifitas para penduduk kembali menjadi seperti biasa.


Di depan gerbang kerajaan juga terlihat antrian panjang para pedagang yang ingin menjual barang dagangan mereka di kerajaan tersebut karena kabarnya kerajaan tersebut sangatlah kaya meskipun mereka hanya kerajaan kecil yang baru saja berdiri.


Pembangunan istana yang sempat tertunda karena perang juga telah di mulai kembali dan kali ini para warga di bantu oleh pasukan Blue Lighting hingga membuat pekerjaan para warga menjadi sangat tertolong.


Di halaman Mansion, Shin dan kedua istrinya nampak tengah menikmati waktu santai mereka dengan duduk di sebuah bangku panjang sambil menikmati pemandangan kota.


"Akhirnya suasana kembali menjadi damai" gumam Shin.


"Benar sekali, semoga saja suasana damai ini akan bertahan selamanya" ucap Ashley.


"Dunia ini hanya akan kembali damai setelah raja iblis di kalahkan" ujar Aurora.


"Itu benar sekaki" jawab Shin.


"Ngomong-ngomong dimana Alisha, aku tidak melihatnya sejak pagi" ucap Shin.


"Dia sedang bermain dengan Reva" jawab Lily.


"Sayang apa aku boleh jalan-jalan ke kota?" tanya Aurora.


"Tentu saja kenapa tidak, apa perlu ku temani" tawar Shin.


"Tidak perlu aku ingin pergi bersama Alisha dan juga Reva" jawab Aurora.


Aurora kemudian berdiri dari tempat duduknya dan langsung masuk ke dalam mansion, beberapa menit kemudian dia keluar lagi bersama Alisha dan juga Reva.


"Ayah ibu mengajakku pergi ke kota bersama dan bibi, apakah boleh?" tanya Alisha


"Tentu saja putriku" jawab Shin dengan tersenyum lembut.


"Terimakasih ayah, kalau begitu kami pamit ayah, ibu" ucap Alisha.


"Hati-hati" ujar Lily.


Suasana tiba-tiba menjadi hening untuk beberapa saat setelah kepergian Aurora, entah kenapa ada sedikit rasa canggung di antara keduanya entah itu karena mereka sudah jarang menikmati waktu berdua atau yang lainnya hanya mereka yang tau.


"Ekhemm, sudah lama ya kita tidak punya waktu berdua begini" ucap Shin memulai pembicaraan.


"Benar sekali, akhir-akhir ini kau sangat sibuk dan terus bepergian" kata Lily sambil merebahkan kepala di bahu Shin.


"Lily.." ucap Shin.


"Ada apa sayang?" tanya Lily mengangkat kepalanya dari bahu Shin.


Shin tidak menjawab melainkan langsung berdiri kemudian secara tiba-tiba ia langsung menggendong Lily dan membawanya masuk ke dalam mansion.


"Sayang kenapa kau menggendongku seperti ini, aku malu" ucap Lily sambil membenamkan kepalanya di dada Shin.


"Kenapa harus malu aku adalah suamimu" kata Shin.


Setelah sampai di dalam mansion, Shin kemudian langsung membawa Lily ke dalam kamarnya setelah itu dia merebahkan tubuh Lily di tempat tidur.


"Kenapa ke sini?" tanya Lily.


"Aku sangat menyayangimu Lily" kata Shin dengan tatapan penuh kasih sayang.


Setelah beberapa detik berciuman Shin menjauhkan sedikit wajahnya, matanya menatap wajah istrinya yang sangat cantik tersebut kemudian mencium keningnya.


"Sayang, anak kita sudah besar" ucap Lily tiba-tiba seakan ia mengerti keinginan suaminya itu.


"Lalu apa masalahnya?, lagi pula aku rasa sudah waktunya Alisha punya seorang adik" jawab Shin.


"Tapi sayang..."


"Sstt!!!, yang aku butuhkan adalah kehangatan darimu sayang apa itu tidak boleh?" tanya Shin sambil menempelkan telunjuknya di bibir Lily.


Lily tidak menjawab melainkan hanya tersenyum lembut kemudian dia memeluk erat tubuh Shin dan kemudian mencium bibirnya.


Sekali lagi mereka kembali berciuman, Shin yang semula duduk di samping tubuh Ashley perlahan-lahan mulai naik ke atas tubuh Ashley tangannya mulai membuka setiap kancing yang terdapat di baju Lily, begitupun sebaliknya.


Dan beberapa saat kemudian mereka berdua telah bersatu dalam kehangatan tubuh masing-masing, pelukan dan ciuman mesra menghanyutkan mereka berdua hingga mencapai titik kenikmatan yang hanya di ketahui oleh keduanya.


(Skip aja ya, takutnya Author di tegur lagi oleh kalian hehehehe.)


Shin dan Lily nampak kelelahan dengan nafas terengah-engah setelah pertempuran hebat yang mereka lakukan, seluruh tubuh mereka di penuhi oleh keringat hingga membuat tempat tidur sedikit lembab karenanya.


Pada Akhirnya mereka berdua tertidur lelap dengan tubuh keduanya hanya di tutupi oleh selimut, meskipun kelelahan namun raut wajah mereka jelas menunjukkan kebahagian karena keduanya tertidur dengan sedikit tersenyum.


**


Setelah puas berjalan-jalan di kota dan memebeli bahan makanan serta ayur-sayuran akhirnya Aurora, Alisha dan Reva memutuskan untuk kembali ke mansion, saat mereka sampai di mansion suasana menjadi sangat sepi hingga menimbulkan rasa penasaran dan juga kecurigaan di hati Aurora.


"Alisha, kau ikut bibi ke dapur saja ya, sekalian membantunya" kata Aurora.


"Baik bu" ucap Alisha kemudian mengikuti Reva menuju ke dapur.


Setelah kepergian Reva dan Alisha, Aurora kemudian naik ke lantai dua dan langsung menuju kamar mereka, saat dia membuka pintu ia sedikit kaget karena melihat pakaian yang berserakan di lantai, namun kemudian dia tersenyum lembut saat melihat Shin dan Lily yang tengah tertidur lelap.


"Sepertinya lain kali aku harus sering-sering memberikan mereka berdua waktu luang" gumam Aurora dengan tersenyum lembut.


Aurora kemudian menutup pintu kamar secara perlahan-lahan agar tidak membangunkan Lily dan Shin yang tengah beristirahat.


**


Beberapa Minggu kemudian pembangunan istana yang semula tertunda dan akhirnya di mulai lagi kini telah hampir selesai tinggal menyelesaikan sedikit bagian lagi.


"Yang mulia pembangunan istana sebentar lagi akan selesai" lapor salah satu prajurit pada Shin.


"Bagus ternyata kerja kalian semua memang sangat cepat" ucap Shin.


"Kalau begitu mari kita ke sana" ajak Shin.


Prajurit tersebut kemudian membawa Shin menuju ke istana yang sedang di bangun, sesampainya di sana Shin sangat takjub ketika melihat istana yang sangat megah dan juga sangat indah tersebut. dan seperti yang di laporkan padanya pembangunan istana memang hampir selesai dan hanya tinggal menunggu waktu saja sampai pembangunannya benar-benar selesai.


"Istana yang sangat luar biasa" gumam Shin.


"Yang mulia apakah anda sudah memikirkan nama untuk istana ini?" tanya Leo yang baru sampai di sana.


"Memangnya itu perlu?" tanya Shin.


"Sebenarnya tidak juga yang mulia, hanya saja akan lebih baik jika ada namanya" jawab Leo


"Kalau begitu baiklah, istana ini akan aku berinama Istana Phoenix.