The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Menjemput Alisha



Alisha menangis sangat lama di pelukan Shin sehingga membuat ketua akademi dan para guru merasa tersentuh, namun di saat yang bersamaan mereka merasa bingung dengan situasi tersebut.


"Aku dan istriku terpisah saat dia masih mengandung Alisha sepuluh tahun yang lalu" ucap Shin, seakan mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh kepala akademi dan para guru.


Kepala akademi dan para guru tersebut hanya menganggukkan kepalanya pelan, sekarang mereka baru mengerti keadaannya wajar saja jika saat pertama bertemu Alisha seperti tidak mengenali ayahnya sendiri.


"Tuan Charles, jika di izinkan aku ingin membawa anakku pergi sebentar" kata Shin.


"Silahkan tuan aku tidak akan melarangnya, tuan tentu sangat merindukan Alisha" kata Charles.


"Terimakasih tuan Charles" ucap Shin ramah.


"Alisha apa kau mau terbang? tanya Shin.


Alisha hanya menganggukkan kepalanya pelan, dia masih saja memeluk erat tubuh Shin dan tidak mau melepaskannya.


"Baiklah kalau begitu mari kita jalan-jalan sebentar" kata Shin kemudian tubuhnya melayang di udara dengan santai.


Charles dan para guru menjadi sangat takjub, ketika melihat Shin terbang dengan mudahnya bahkan terlihat seperti ia tidak menggunakan energi sama sekali.


"Sungguh kekuatan yang hebat, akan jadi seperti apa anaknya nanti" ucap Charles.


"Kepala akademi, sekarang apa yang akan kita lakukan pada anak itu?" tanya Efan.


"Entahlah Efan, aku akan memberitahukan apa yang harus di lakukan saat mereka kembali" jawab Charles


"Baik kepala" jawab mereka bertiga serempak.


"Kalau begitu mari kita kembali" ajak kepala akademi, kemudian mereka masuk ke dalam gerbang dan kembali ke ruangan masing-masing.


Di atas ibukota kerajaan Shin sedang melayang dengan perlahan di udara sambil menggendong Alisha yang sedari tadi masih memeluk tubuh Shin.


"Alisha apa kau tidak mau melihat ini?" tanya Shin.


Alisha kemudian mengalihkan pandangannya dan melihat ke bawah, ia menjadi sangat takjub ketika melihat keindahan kota kerajaan dari atas.


"Apa ayah sudah bertemu ibu?" tanya Alisha sambil menghapus air matanya.


"Tentu saja putriku, kemarin ayah bertemu dengan ibumu di kota Lembah angin" jawab Shin.


"Ayah kemana saja selama ini?" tanya Alisha.


"Apa ibu tidak menceritakannya padamu?" tanya Shin.


"Ibu sudah menceritakannya ayah, hanya saja aku merasa ibu berbohong padaku" jawab Alisha.


"Benarkah memangnya apa yang ibu ceritakan?" tanya Shin bingung.


"Ibu bilang, ayah mengorbankan diri dan bertarung melawan monster tingkat tinggi sendirian demi menyelamatkan ibu, bibi, dan paman" jawab Alisha.


"Hahahaha, jadi begitu ya" kata Shin.


"Baiklah sayang, kita akan kembali ke rumah dan menemui ibu, tapi sebelum itu ayah akan meminta izin pada gurumu terlebih dulu" kata Shin, kemudian perlahan-lahan mereka mulai turun dan mendarat di depan gerbang akademi.


"Sekarang mari kita menemui kepala akademi" kata Shin.


Shin dan Alisha kemudian berjalan ke ruangan kepala akademi, sesampainya di sana kepala akademi menyambut Shin dengan sangat ramah, namun karena tidak ingin berlama-lama Shin lansung mengatakan maksud kedatangannya.


"Tuan Charles, aku mau minta izin lagi untuk membawa putriku pulang tapi tenang saja ini hanya beberapa hari saja" kata Shin.


"Tentu tuan Shin aku mengizinkannya" jawab Charles ramah.


"Terimakasih banyak tuan Charles, jika kau membutuhkan bantuan jangan segan-segan untuk menemuiku di kota Lembah angin" kata Shin ramah.


"Tentu tuan Shin, aku pasti akan menemuimu jika membutuhkan bantuan" ucap Charles.


"Kalau begitu kami pergi" kata Shin kemudian dia dan Alisha meninggalkan ruangan tersebut.


"Ayah kenapa ayah hanya bilang beberapa hari saja, kan kota kita sangat jauh" ucap Alisha.


"Tidak akan terasa jauh jika kita terbang" kata Shin.


"Tentu saja" kata Shin kemudian menggendong Alisha dan lansung melesat dengan kecepatan tinggi.


Sepanjang perjalanan pulang Alisha sangat takjub dengan pemandangan yang ia saksikan dari atas, ia tidak menyangka bahwa terbang sangat menyenangkan.


"Ayah kenapa ayah bisa terbang, padahal ayah tidak punya sayap?" tanya Alisha.


"Hahaha tentu saja ayah punya sayang" jawab Shin, tubuhnya kemudian di selimuti oleh cahaya keunguan dan dari punggungnya muncul sepasang sayap yang berwarna ungu.


"Wah.... benar ternyata ayah punya sayap" kata Alisha senang.


"Apa kau tau, ibumu juga punya sayap seperti ayah hanya saja warnanya berbeda" kata Shin.


"Benarkah?, kalau begitu aku juga punya sayap kan ayah?" tanya Alisha.


"Hahaha benar nak, kau juga akan mendapatkan sayapmu sendiri suatu hari nanti, hanya saja kau harus menjadi lebih kuat dan hebat" kata Shin menjelaskan.


"Baiklah, aku akan berlatih terus agar menjadi kuat" ujar Alisha dengan semangat.


Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya mereka berdua sampai di kota Lembah angin, Shin kemudian turun secara perlahan karena tidak ingin membangunkan Alisha yang sedang tertidur.


Beberapa prajurit Blue Lightning yang melihat Shin turun di halaman mansion lansung menghampirinya dan memberi hormat padanya.


"Salam yang mulia" ucap mereka.


"Hey pelankan suara kalian, dan ingat jangan panggil aku yang mulia tapi panggil aku pemimpin sekarang" kata Shin pelan.


"Baik pemimpin" jawab prajurit itu serempak.


Shin kemudian membawa Alisha masuk kedalam mansion, sesampainya di dalam mansion Shin tidak menemukan siapa-siapa di sana selain beberapa pelayan yang sedang membersihkan ruangan.


"Dimana Lily?" tanya Shin pelan.


"Nyonya sedang berada di tempat para prajurit tuan" jawab pelayan tersebut.


"Dimana tempatnya?" tanya Shin lagi.


"Itu berada di belakang mansion ini tuan" jawab pelayan itu.


"Baiklah, terimakasih" kata Shin kemudian lansung menuju ke belakang mansion.


Di belakang mansion, Lily, Leo, Lina dan Ryuzen sedang mengumpulkan semua pasukan Blue Lightning, ketika melihat Shin datang mereka semua lansung berlutut dan memberi hormat.


"Salam pada yang mulia" ucap pasukan Blue Lightning.


Karena suara pasukan yang sangat keras ketika memberi hormat pada Shin, Alisha yang saat itu tidur dalam gendongan Shin jadi terbangun, Shin menjadi kesal dan menatap mereka semua dengan tatapan yang tajam hingga membuat mereka semua bergetar ketakutan.


"Ayah, apa kita sudah sampai?" tanya Alisha.


"Benar sayang, kita sudah sampai" jawab Shin lembut.


"Lihat gara-gara kalian anakku jadi bangun!" ucap Shin kesal.


"Ma-maaf yang mulia" jawab mereka serempak.


"Sudahlah jangan marah lagi, Alisha mari sini" ujar Lily.


Alisha kemudian turun dari gendongan Shin dan lansung menghampiri Lily dan memeluknya.


"Ada apa ini?" tanya Shin.


"Begini kapten, raja meminta pasukan kita untuk menjadi pengawalnya dalam perjalanan menuju ke kota cahaya, karena di sana akan di adakan pertemuan tiga raja kerajaan" jawab Ryuzen.


"Hahahaha, jadi apa dia fikir dia bisa memerintahkan pasukanku seenaknya saja" gumam Shin.


"Ryuzen, Leo, Lina tiga hari lagi kita akan ke istana untuk menemui raja" kata Shin tegas.


"Baik pemimpin" jawab mereka bertiga serempak.