The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
LAMARAN UNTUK PERANG ²



"Tidak perlu paman, lagi pula aku baik-baik saja" kata Lily.


"Baiklah jika itu yang ratu inginkan" kata Raiga kemudian dia menyerap kembali auranya.


Setelah itu Raiga dan Zuryu mengajak Lily untuk kembali ke guild namun saat mereka ingin berbalik sebuah pisau melayang dengan sangat cepat dan lansung menancap di dada Lily.


Raiga dan Zuryu kaget dan lansung mencari darimana arah pisau itu.


"Hahahaha wanita yang tidak bisa aku miliki lebih baik mati" kata Alex tertawa senang.


"Kau.... Akan aku hancurkan kalian semua!!!" Raiga mengamuk dan melepaskan semua auranya, Alex terpental dan menabrak dinding sementara yang lainnya seperti di paksa berlutut oleh aura itu.


***


Di tempat lain Shin yang saat ini tengah melatih pasukannya tiba-tiba saja merasakan sakit di dadanya kemudian dia memuntahkan sedikit darah, para prajurit menjadi khawatir melihat keadaan Shin namun tidak ada yang berani bertanya.


"Tidak... Lily..!!!" setelah mengucapkan kata itu Shin tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka semua, Ryuzen yang melihat kepanikan di wajah Shin sebelum menghilang segera memerintahkan prajuritnya untuk pergi ke istana begitu juga dengan Leo dan Lina mereka semua naik tunggangan mereka masing-masing dan lansung melesat ke arah istana.


Raiga yang masih dalam keadaan marah tiba-tiba berlutut dan menghadap kearah pintu, begitu pula dengan Zuryu yang saat ini tengah menggendong Lily.


"BOOMM!!!" tiba-tiba saja pintu masuk istana hancur berkeping-keping semua mata memandang kearah pintu yang telah hancur melihat seorang pria berambut merah serta ada sepasang sayap di punggungnya dari matanya terlihat sedang menahan amarah yang siap meledak kapan saja.


"Y..yang mulia, maaf...maafkan hamba yang gagal melindungi ratu" kata Raiga.


Shin tidak mempedulikan hal itu dia kemudian berjalan perlahan kearah Zuryu air matanya mulai menetes saat melihat wanita yang kini tengah di gendong oleh Zuryu dia kemudian memegang tangan gadis itu dan menyentuh lembut pipinya.


"Hey....ja..jangan me.menangis..aku..tidak apa-apa" kata Lily sambil tersenyum.


"Zuryu sembuhkan dia" kata Shin.


"Baik yang mulia" jawab Zuryu.


"Raiga... siapa...Siapa yang berani menyentuh istri ku!!!!" Shin berteriak dan melepas aura yang sangat kuat dan panas, dinding istana menjadi retak karena tak sanggup menahan tekanan aura yang sangat kuat.


"I...itu dia yang mulia" Jawab Raiga sambil menunjuk kearah Alex.


Shin kemudian menghilang dari pandangan dan tiba-tiba saja dia sudah berada di dekat Alex dan mencekik lehernya, semua yang ada di aula itu hanya diam mereka semua tidak bisa bergerak karena tekanan aura yang sangat kuat itu.


Lyon sendiri hanya bisa pasrah melihat anaknya dia hanya bisa berharap bahwa anaknya tidak dibunuh oleh orang itu.


"Kau berani sekali kau menyentuhnya" kata Shin.


Shin kemudian melemparkan Alex kearah dinding dan seketika dinding yang di tabrak oleh tubuh Alex hancur dan terdapat bolongan besar di sana.


"Dengarkan aku, kalian telah berani menyakiti istriku, hari ini aku menyatakan perang dengan kerajaan kalian" kata Shin sambil berjalan kearah Lily.


"Tu...tunggu tuan..kerajaan kami ti..tidak bersalah" kata Dixgard.


"Bersalah atau tidaknya itu tergantung keputusanku" kata Shin.


Dia kemudian menurunkan auranya dan mendekat kearah Lily yang sedang di obati oleh Zuryu, sementara Lyon dan juga jendral Kent berlari menuju kearah Alex, Lyon menangis sejadi-jadinya melihat tubuh Alex yang kini tak bernyawa lagi.


"Aku bersumpah, akan aku musnahkan kalian semua!!!" kata Lyon kemudian dia menggendong mayat anaknya dan meninggalkan kerajaan Tempest, tidak ada yang menghentikan langkahnya karena mereka semua takut dengan kehadiran Shin.


Setelah beberapa saat Lyon dan rombongannya meninggalkan kerajaan Tempest, tiba-tiba seorang prajurit menerobos masuk keruang singgasana.


"Y..yang mulia gawat, ratusan pasukan yang mengendarai Griffin mengepung istana" kata prajurit itu.


"Apa!!!!" jawab mereka serentak.


"Kalian tenang saja, jika kalian tidak macam-macam pasukan itu tidak akan menyerang" kata Shin dengan tenang, dia saat ini tengah berusaha mengobati Lily menggunakan api abadi.


Mereka semua tersentak mendengar perkataan Shin, mereka semua tau betapa kuatnya Griffin, satu Griffin saja sudah bisa membuat sebuah kerajaan kewalahan apalagi ratusan Griffin.


"Ma..maaf tuan, siapa sebenarnya anda" tanya Dixgard.


"Lancang sekali kau menanyakan hal itu" jawab Raiga.


"Sudahlah Raiga jangan membuat masalah lagi, aku tidak ingin ada masalah lagi" kata Shin


"Baik yang mulia" jawab Raiga.


"A..anu maaf, sebenarnya istrimu jadi begini karena dia melindungiku tadi" ujar Celestina.


"Benarkah itu" balas Shin.


"I..iya itu benar" kata Celestina.


"Kalau begitu sebaiknya kau hargai nyawamu itu, karena istriku ingin melindungi mu maka aku tidak akan mempermasalahkan hal itu" jawab Shin.