
Setibanya Shin di dalam istana yang sangat besar tersebut, Shin di buat terkagum-kagum oleh arsitektur istana yang begitu megah dan juga sangat indah, namun kekagumannya hanya sementara setelah dia melihat ada lima ekor burung raksasa berada di depannya.
Kelima burung raksasa tersebut memiliki warna yang berbeda, yaitu dua biru, dua merah dan satu ungu, perlahan-lahan kelima burung tersebut menjadi kecil hingga akhirnya berubah menjadi sosok manusia, empat laki-laki dan satu perempuan.
Paras mereka sangat tampan dan juga cantik dan di dahi mereka terdapat simbol api yang berwarna sesuai dengan wujud mereka ketika menjadi burung yaitu dua biru, dua merah dan satu ungu.
"Selamat datang Shin, aku sudah lama menunggumu" kata seorang wanita.
"Tunggu, kenapa kau bisa tau bahwa namaku adalah Shin.
"Hahaha tentu saja aku tau, karena kau memiliki keturunan darah Phoenix" kata wanita itu.
"Keturunan Phoenix apa maksudmu?" tanya Shin bingung.
"Saat ini kau memang melupakan siapa dirimu yang sebenarnya karena sebagian ingatanmu telah hilang, serta kekuatan api abadi dalam dirimu juga semakin melemah" jawab wanita itu.
"Tu-tunggu dulu, apa itu api abadi, dan siapa kalian?" tanya Shin.
"Aku adalah dewi Aurora pemimpin dari bangsa Phoenix yang telah musnah" kata wanita itu memperkenalkan diri.
"Dewi Aurora?, maksudmu kau Dewi yang ada di didalam legenda penduduk desa Aurora?" tanya Shin.
"Benar sekali itu adalah aku" jawab Dewi Aurora.
"Shin kau adalah keturunan bangsa Phoenix yang terakhir, dan misimu adalah menyelamatkan dunia ini dari tangan raja iblis Azazel, saat ini aku tidak bisa menceritakan semuanya padamu, namun suatu saat kau akan mengetahui semuanya" ucap Dewi Aurora.
"Apa ini, yang aku tau aku hanyalah seorang petualang biasa" ujar Shin.
Dewi Aurora kemudian mengarahkan telapak tangannya kepada Shin dan dari telapak tangannya muncul cahaya yang sangat terang menyinari seluruh tubuh Shin, dan perlahan-lahan semua ingatannya kembali pulih.
"Arkhhh!!!" Shin berteriak kesakitan.
"Hah, hah, hah, ja-jadi sebenarnya aku adalah bangsa Phoenix?" kata Shin terengah-engah.
"Benar sekali, kau kehilangan ingatanmu akibat terluka parah setelah melawan Azazel" kata Aurora.
"Lily" kata Shin pelan.
Ketika dia mengingat hari dimana ia berpisah dengan Lily yang sedang mengandung anaknya tanpa ia sadari air matanya menetes, dan dadanya tiba-tiba menjadi sesak, dia bahkan tidak tau bagaimana kabar istri dan calon anaknya
"Kau tenang saja istri dan calon anakmu berada di tempat yang aman" ucap Dewi Aurora seakan mengerti apa yang di pikirkan oleh Shin.
"Kekuatanku saat ini telah hilang, bagaimana aku bisa menyelamatkan dunia ini, dan bahkan aku tidak bisa menyelamatkan istriku sendiri" kata Shin.
"Tenanglah Shin, berkat dirimu Lily sekarang adalah bagian dari bangsa Phoenix yang memiliki api suci, begitu juga dengan anakmu yang masih di kandung Lily, dengan adanya api suci bangsa iblis tidak akan berani mengganggu mereka" kata Dewi Aurora.
"Dan masalah kekuatanmu yang hilang kau tidak perlu khawatir, kami akan memberikan kekuatan kami yang tersisa untukmu, dan setelah itu kami hanya akan mengawasimu dari dunia dewa, seperti dewa Phoenix sebelumnya" lanjutnya.
"Jadi kau kenal dengan dewa Phoenix Sebelumnya?" tanya Shin.
"Tentu saja, dia adalah Phoenix yang hebat karena berhasil mengontrol dua api bersamaan, namun dia masih belum bisa menyatukan kedua api tersebut" jawab Dewi Aurora.
"Maksudnya?" tanya Shin heran.
"Kekuatan api abadi dan api suci akan menjadi sangat kuat jika berdampingan namun jika berhasil menyatukannya kekuatannya akan jauh lebih hebat lagi" kata Dewi Aurora.
"Shin waktu kami sudah tidak banyak, kami akan menyerahkan kekuatan kami yang tersisa padamu, namun untuk menyerap kekuatan itu mungkin membutuhkan waktu yang lama" kata Dewi Aurora.
"Berapa lama waktu yang aku butuhkan Dewi?" tanya Shin.
"Sepuluh hari" jawab Dewi Aurora
"Aku kira akan sangat lama" gumam Shin pelan
"Baiklah kalau begitu aku siap Dewi" kata Shin.
Mereka berlima kemudian berubah lagi menjadi burung Phoenix yang sangat besar, setelah itu mereka menyemburkan api dan mengarahkannya kepada Phoenix ungu, setelah itu keempat Phoenix berubah menjadi batu kristal dan kemudian hancur menjadi debu.
Phoenix ungu yang telah menyerap dua inti api yang berasal dari keempat Phoenix tersebut juga berubah menjadi sebuah kristal berwarna ungu yang sangat besar, aura yang terpancar dari kristal tersebut selalu berubah-ubah terkadang panas dan setelah itu dingin begitu seterusnya.
"Baiklah aku harus segera menyerap inti api dalam kristal ini, setelah itu aku bisa kembali pada Lily" kata Shin.
Shin kemudian berjalan mendekati kristal ungu tersebut kemudian menyentuhnya, aura yang sangat kuat bisa di rasakan oleh Shin dari kristal ungu itu, dua kekuatan serta aura yang berlawanan digabungkan menjadi satu, Shin bahkan tidak bisa membayangkan betapa kuatnya kekuatan itu.
"Sabarlah Lily, sepuluh hari lagi aku akan segera pergi mencarimu" kata Shin pelan kemudian lansung duduk di depan kristal tersebut.
Shin menarik nafas panjang setelah itu memejamkan matanya dan memfokuskan pikirannya, perlahan-lahan aura ungu keluar dari kristal tersebut dan masuk ke dalam tubuh Shin.
***
Pagi hari di pulau penyu laut, Emilia baru saja bangun dari tidurnya dan lansung bersiap-siap karena hari ini dia akan mengikuti Shin untuk mendaki bukit di belakang desa mereka, setelah selesai membersihkan diri dan juga bersiap-siap Emilia kemudian pergi ke kamar Shin untuk membangunkannya.
"Hey pemalas ayo bangun" teriak Emilia di depan pintu kamar Shin.
"....."
"Jika kau tidak bangun juga aku akan lansung masuk" kata Emilia
"Hey Shin apa kau mendengarku?"
Karena tidak mendapat jawaban Emilia kemudian lansung masuk ke kamar Shin, ketika ia telah masuk kedalam kamar dia di kagetkan oleh keadaan kamar yang kosong.
"Ternyata sudah bangun, sia-sia saja aku berteriak" kata Emilia, kemudian berjalan keluar kamar.
"Kakek, apa kau melihat Shin?" tanya Emilia pada kakeknya.
"Aku tidak melihatnya, bukankah dia masih tidur?" ucap kakek Herton
"Tidak kek, aku tadi ke kamarnya tapi dia tidak ada" kata Emilia.
"Jika tidak ada di kamarnya lalu dia kemana?, sejak tadi kakek berada di depan rumah namun tidak melihatnya keluar rumah" kata kakek Herton.
"Aku juga tidak tau kek, apa mungkin dia ke bukit tadi malam?"
"Baiklah, kalau begitu mari kita pergi ke sana, siapa tau Shin ada di sana" kata kakek Herton.
Setelah itu mereka berdua berangkat menuju bukit dengan di temani oleh Alfred dan juga Arlo, namun ketika mereka sampai di puncak bukit mereka bahkan tidak menemukan Shin di sana, bahkan tidak nampak ada jejak orang yang baru datang ke sana, setelah itu mereka kemudian mencari Shin di seluruh pulau dan kali ini mereka meminta bantuan seluruh warga, akan tetapi Shin masih tidak bisa ditemukan di manapun.
"Shin sebenarnya kau ada dimana?" ucap Emilia sedih.