The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Keinginan Celestina



Setelah mengetahui bahwa diantara mereka sudah aada pasukan iblis yang masuk raja Dixgard meningkatkan keamanan kerajaannya, dia juga memerintahkan jika ada yang mencurigakan segera tangkap dan bawa ke penjara bawah tanah.


Seminggu berlalu sejak kejadian itu, Lily sudah sadar dan lukanya sudah sembuh total, namun raja tetap meminta mereka untuk tinggal di istana, hal ini ia lakukan agar bisa menjalin hubungan baik dengan Shin.


sementara itu di taman kerajaan Shin dan Lily tengah duduk bersantai sambil mengobrol.


"Shin berapa lama kita akan tinggal di kerajaan ini" tanya Lily.


"Entahlah aku tidak tau, sebenarnya aku juga ingin segera pergi dan mengajakmu ke kerajaan kita hanya saja aku masih belum tenang, aku masih memiliki firasat yang buruk" jawab Shin.


"Seperti apa kerajaan itu?" tanya Lily lagi.


"Kerajaan itu sangat besar dan sangat indah meskipun ada di tengah hutan namun aku rasa kerajaan itu tiga kali lipat lebih besar dari kerajaan ini" jawab Shin.


"Wahhh.... aku sudah tidak sabar ingin ke sana" kata Lily.


"Kau harus sabar" kata Shin sambil memeluk Lily "Setelah ini kau harus berada di sisiku terus, aku tidak ingin kehilanganmu" lanjutnya.


"Iya aku janji, aku juga tidak ingin kehilanganmu" jawab Lily.


Sementara itu tidak jauh dari mereka sepasang mata terus saja mengawasi mereka dari tadi, terlihat ada kesedihan dan rasa cemburu dari tatapan mata itu, dia adalah Celestina putri kerajaan Tempest.


Sejak Shin tinggal di istana dia terus saja mengawasi Shin dari jauh, perlahan-lahan muncul perasaan suka pada Shin namun dia tau hal itu tidak mungkin karena Shin sudah memiliki istri, hingga suatu hari ia bertanya pada Lina tentang Shin, dari situlah dia mengetahui bahwa Shin dan Lily belum resmi menikah.


Dan sejak saat itu pula dia berniat ingin mendekati Shin, dia terus saja mencoba untuk mendapatkan perhatian Shin namun tetap saja Shin hanya mengabaikannya dan selalu saja Lily yang dia utamakan.


Melihat kemesraan mereka berdua Celestina menjadi sangat iri, dia mengepalkan tangannya dengan erat menahan emosi yang ada dalam hatinya hingga ia memikirkan sebuah rencana.


"Sebaiknya aku meminta bantuan pada ayah" gumam Celestina.


Setelah itu dia pergi meninggalkan mereka berdua dan menuju keruangan singgasana.


"Ayah...ayah.. ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu" kata Celestina.


"Ada apa putriku katakanlah" jawab Dixgard.


"Begini ayah aku ingin kau melamar yang mulia Shin untukku" kata Celestina.


Dixgard sedikit terkejut mendengar permintaan putrinya itu lalu berkata "Nak bukankah dia sudah memiliki istri".


"Hmmmm Baiklah kalau begitu, penjaga tolong panggilkan yang mulia Shin agar menemuiku di sini" kata Dixgard pada salah satu penjaga.


"Baik yang mulia" jawab penjaga itu lalu pergi dari sana.


***


Sementara itu, di taman....


"Lily aku sudah lama memikirkan ini, apa kau mau menikah denganku???" tanya Shin.


Seperti habis di sambar petir pertanyaan Shin membuat Lily tak bisa berkata-kata, jantungnya berdetak kencang, mukanya memerah dan seluruh tubuhnya terasa panas.


"Jika kau setuju aku bermaksud ingin mengadakan pesta kecil di guild kita, mungkin akan aku adakan tiga hari lagi" lanjut Shin.


Lily tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu memeluk Shin, air mata kebahagiaannya tumpah dan membasahi pundak Shin, saat mereka larut dalam kebahagiaan datang seorang penjaga menghampiri mereka.


"maaf yang mulia, hamba di perintahkan yang mulia Dixgard untuk memanggil yang mulia dia ingin bertemu dengan yang mulia" kata penjaga itu.


"Baiklah mari kita ke sana" kata Shin.


Mereka bertiga berangkat ke ruang singgasana, beberapa saat kemudian mereka telah sampai di ruang singgasana, Shin sedikit heran mengapa raja memanggilnya dan mengapa ada putri di sana, namun Shin tetap tenang dengan terus menggenggam tangan Lily.


"Ada apa yang mulia raja" kata Shin.


"Ah... maaf sudah mengganggu waktumu yang mulia namun ada yang ingin aku bicarakan dengan mu" kata Dixgard


"Apa itu yang mulia" jawab Shin.


"Begini yang mulia, maaf jika aku kurang sopan tapi menurut informasi yang mulia Shin dan nona Lily sebenarnya belum resmi menikah, jadi untuk itu aku berniat untuk melamar yang mulia menjadi pendamping untuk putriku" kata Dixgard.


Mendengar apa yang baru saja Dixgard katakan membuat Lily mematung tangannya menjadi dingin dan gemetaran, baru saja dia merasa bahagia namun sudah ada kabar yang membuatnya ingin menangis.


Shin yang mengetahui perubahan sikap Lily hanya senyum tipis dia tau bahwa Lily khawatir dia akan menerima lamaran raja itu.


"Begini yang mulia, sudah kubilang Lily adalah istriku dan berarti dia adalah istriku, meskipun belum resmi namun kami berencana dalam waktu tiga hari untuk meresmikannya" jawab Shin.