The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Terdampar



Disebuah pulau yang tidak terlalu luas nampak seorang pria berambut merah tengah tergeletak tak sadarkan diri di tepi pantai, seluruh tubuhnya di penuhi oleh luka sayatan pedang hingga luka bakar, dia adalah Shin yang ternyata berhasil selamat dari serangan terakhir Azazel.


"lihat sepertinya ada seseorang di tepi pantai" kata seorang pria paruh baya pada temannya.


"Dimana?" tanya temannya tersebut.


"Hey matamu melihat kemana, itu dia ada di sana" kata pria itu menunjuk ke arah Shin.


"Iya kau benar, mari kita lihat" kata temannya dan kemudian mereka berdua menghampiri Shin.


"Ya ampun apa yang telah di lewati oleh pemuda ini, sebaiknya kita bawa dia ke desa" kata orang tersebut dan kemudian mereka berdua membawa Shin ke desa yang mereka maksudkan.


**


Ketika Shin sedang berusaha sekuat tenaga agar tidak tersedot ke dalam lubang hitam, tiba-tiba saja suara seorang perempuan memasuki kepalanya.


"Tenanglah anak muda, aku akan menyelamatkan dirimu" kata suara aneh tersebut.


"Siapa kau" tanya Shin dalam hati.


"Untuk saat ini kau tidak perlu tau siapa aku, jika sudah saatnya nanti maka kau akan tau dengan sendirinya wahai dewa Phoenix" ucap suara tersebut.


Shin tersentak kaget ketika mendengar bahwa suara wanita itu mengetahui bahwa dia adalah dewa Phoenix, dan tiba-tiba saja sebuah cahaya terang perlahan-lahan mulai menutupi tubuh Shin.


Bersamaan dengan cahaya yang semakin menutupi tubuh Shin, Azazel melemparkan sebuah bola api kearah Shin dan tepat sesaat sebelum bola api itu berhasil menyentuh tubuh Shin bola api itu kemudian meledak akibat berbenturan dengan cahaya yang menyelimuti tubuh Shin.


Setelah bola api itu meledak, tubuh Shin perlahan-lahan mulai menghilang dari tempat tersebut dan untung saja Azazel serta ketiga Jendralnya tidak menyadari ada kekuatan lain yang menyelamatkan Shin, sehingga mereka berfikir bahwa Shin sang dewa Phoenix telah mati.


**


Kedua orang tersebut kemudian membawa Shin yang sedang tidak sadarkan diri ke desa, dan lansung membawanya ke rumah pemimpin desa.


"Arlo, Alfred, siapa yang kalian bawa?" tanya pemimpin desa.


"Kami juga tidak tau tuan, kami menemukannya di tepi pantai" jawab laki-laki yang bernama Arlo.


"Baiklah bawa dia masuk ke rumahku" ucap pemimpin desa tersebut.


"Baik tuan" kata mereka berdua kemudian membawa Shin masuk kedalam rumah pemimpin desa.


"Baiklah, baringkan dia di tempat tidur" kata pemimpin desa.


Mereka berdua kemudian membaringkan Shin di tempat tidur sesuai perintah pemimpin desa tersebut.


"Kakek apa yang terjadi?, siapa ini?" tanya salah seorang perempuan yang baru saja datang.


"Kakek juga tidak tau, Arlo bilang dia menemukan pemuda ini tergeletak di pantai" jawab pemimpin desa.


"Benarkah itu paman?" tanya perempuan tersebut.


"Benar nona Emilia, kami berdua menemukannya tak sadarkan diri di tepi pantai" jawab Arlo.


"Baiklah tuan, nona, kalau begitu kami permisi dulu" ucap Arlo.


"Baiklah Arlo, terimakasih karena telah membawa pemuda ini kemari" kata pemimpin desa.


"Baik kakek" jawab Emilia kemudian pergi mengambil obat yang di maksud kakeknya.


Kepala desa tersebut membuka baju Shin agar bisa lebih mudah untuk mengobati lukanya, dan ketika bajunya sudah di lepas kepala desa tersebut sangat terkejut ketika melihat tubuh Shin yang penuh dengan Luka dan juga lebam.


Tidak hanya sang kakek, Emilia yang baru saja datang dan menyerahkan obat pada kakeknya juga tidak kalah terkejutnya ketika menyaksikan tubuh pemuda tampan yang sedang terbaring tak sadarkan diri itu penuh dengan luka yang sangat parah.


"Apa yang telah menimpa pria ini" gumam Emilia dalam hatinya.


Sang kepala desa mengobati setiap luka di tubuh Shin dengan di bantu oleh cucunya yaitu Emilia yang juga bisa menggunakan sihir pengobatan sehingga proses pengobatan setiap luka di tubuh Shin tidak terlalu lama.


Dan hanya butuh waktu kurang dari satu jam seluruh luka sayatan di tubuh Shin telah menutup kembali, dan juga luka lebam serta luka bakarnya juga sudah di oleskan dengan obat oleh Emilia, sebenarnya dia sudah mencoba mengobati luka bakar tersebut dengan sihir penyembuhnya namun tetap tidak berhasil jadi pada akhirnya dia memutuskan untuk mengoleskan obat saja pada setiap luka bakar di tubuh Shin.


***


Sementara itu di tengah kedalam hutan terlihat beberapa tenda sederhana telah berdiri, beberapa prajurit juga nampak sedang berkeliling untuk berjaga-jaga jika ada serangan dari hewan buas atau monster, sementara yang lainnya nampak sedang memasak hasil buruan yang telah mereka dapatkan.


"Lily, apa kau masih memikirkan Shin?" tanya Lina.


"Saat ini hanya dia yang ada dalam pikiranku Lina, aku tidak bisa untuk tidak memikirkannya, aku sangat khawatir dengan keselamatannya meskipun aku bisa merasakan bahwa kekuatan api abadi masih ada namun tetap saja aku khawatir" jawab Lily.


"Tenanglah Lily, kita semua tau Shin adalah orang yang hebat dan juga kuat, dia pasti akan baik-baik saja" ucap Lina menenangkan Lily.


"Baiklah, sebaiknya sekarang kita makan terlebih dahulu" ajak Lina.


"Tidak Lina, aku tidak ingin makan" ucap Lily.


"Lily dengarkan aku, meskipun saat ini kau sedang khawatir tapi kau jangan sampai menyiksa dirimu sendiri, apa lagi saat ini kau sedang mengandung anakmu dan Shin, apa jadinya jika sesuatu yang buruk terjadi pada calon bayi kalian, Shin pasti akan marah padamu" ujar Lina.


"Jadi aku mohon, pikirkan calon bayimu Lily aku tidak mau terjadi sesuatu pada keponakanku" ucap Lina dengan tegas.


"Kau benar Lina, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada calon bayiku" ucap Lily.


Lina kemudian mengajak Lily pergi makan makanan yang sudah di siapkan oleh para prajurit, meskipun yang mereka sediakan hanyalah daging bakar hasil buruan mereka namun untuk saat ini yang terpenting bagi mereka adalah bertahan hidup di hutan tersebut.


"Ryuzen, aku ingin kau membawa beberapa pasukan besok pagi dan cari tahu saat ini kota ada dimana" kata Lily.


"Baiklah, besok aku akan pergi mencari tau kita ada dimana" ujar Ryuzen.


"Kita harus secepatnya pergi dari hutan ini, karena aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika kita terus berlama-lama di hutan ini" ucap Lily.


"Maksudmu apa Lily?" tanya Leo.


"Entahlah Leo aku juga tidak tau, yang pastinya aku bisa merasakan bahwa ada aura jahat di hutan ini" jawab Lily.


"Baiklah, kalau begitu besok aku akan berkeliling dengan beberapa prajurit untuk mengecek keadaan di sekitar kita" ucap Leo.


"Kalau begitu aku istirahat lebih dulu, entah mengapa aku merasa sangat lelah dan tenagaku terkuras habis" kata Lily.


"Aku juga akan istirahat bersama Lily" ucap Lina.


"Istirahatlah dengan tenang, karena kami akan berjaga malam ini" ujar Ryuzen kemudian berdiri dan mulai berkeliling di sekitar tenda mereka.