The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Tempat Apa Ini?



Di pulau penyu laut, Shin saat ini sedang melatih fisiknya dan mencoba untuk melakukan beberapa gerakan menggunakan pedang, meskipun sebagian ingatannya hilang namun dia masih ingat bahwa dirinya adalah seorang petualang.


Ketika sedang berlatih menggunakan pedang tiba-tiba saja Shin merasakan aura yang sangat kuat serta terasa begitu akrab datang dari arah bukit, Shin menghentikan latihannya dan memandang kearah bukit tersebut, semakin lama dirinya seakan terpanggil untuk datang ke sana.


Karena merasa penasaran Shin kemudian mencoba untuk mencari kakek Herton untuk bertanya mengenai bukit tersebut, setelah beberapa menit mencari akhirnya Shin menemukan kakek Herton sedang berada di tepi pantai.


"Kakek" sapa Shin.


"Ada apa Shin, apa kau mencariku?" tanya kakek Herton.


"Benar kakek, ada yang ingin aku tanyakan padamu" ucap Shin.


"Apa itu Shin, selagi bisa aku jawab pasti akan aku jawab" ujar kakek Herton.


"Kakek, sebenarnya ada apa di bukit itu?" tanya Shin sambil menunjuk kearah bukit tersebut.


"Kakek juga tidak tau apa yang ada di sana, dulu kakek juga pernah naik ke sana, namun sama sekali tidak menemukan apa-apa dan warga desa hanya percaya bahwa bukit itu adalah tempat persinggahan para dewa" kata kakek Herton menjelaskan.


"Apa aku boleh ke sana kakek?" tanya Leon.


"Tentu Leon, tidak ada seorangpun yang melarang hal itu, siapapun bebas ke sana karena memang di sana merupakan tempat kami memberikan persembahan pada dewa" jawab kakek Herton


"Baiklah, kalau begitu besok aku akan ke sana" kata Shin kemudian pergi meninggalkan kakek Herton sendirian.


"Aku tidak menyangka dia akan bisa merasakan aura yang ada di bukit itu" gumam kakek Herton pelan.


Setelah selesai menemui kakek Herton, Shin kemudian kembali ke rumah kakek Herton untuk mempersiapkan keberangkatannya besok, sebelum itu dia juga memberitahukan pada Emilia bahwa besok dia akan pergi ke puncak bukit.


"Shin kau mau kemana?" tanya Emilia.


"Aku mau ke puncak bukit besok, apa kau mau ikut?" tanya Shin.


"Baiklah aku akan ikut besok" jawab Emilia.


Siang berlalu dengan cepat dan matahari telah di gantikan oleh bulan, Shin memutuskan untuk istirahat lebih cepat karena ia tidak ingin berangkat kesiangan, terlebih lagi entah mengapa ketika ia memutuskan untuk pergi ke bukit itu dirinya menjadi sangat bersemangat.


Di dalam mimpi Shin.


"Eh dimana ini?" gumam Shin pelan.


Shin tiba-tiba saja terbangun di sebuah hutan yang sangat lebat, pohon-pohon di hutan tersebut menjulang tinggi ke langit bahkan tidak kelihatan ujungnya, anehnya meskipun hutan tersebut sangat lebat dan cahaya matahari tidak bisa menembus masuk ke sana karena terhalangi oleh pohon-pohon tinggi yang rimbun, namun hutan tersebut tetap terang seperti biasa.


Shin mencoba untuk menelusuri hutan aneh tersebut, namun setelah berjam-jam ia berjalan tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan yang ia temui, yang artinya hanya dirinya sendiri yang ada di sana.


Karena masih penasaran dengan hutan tersebut Shin melanjutkan perjalanannya untuk menelusuri hutan hingga akhirnya tanpa disadari ia sampai di sebuah tempat yang terlihat seperti padang rumput namun tidak terlalu luas.


"Ini sangat aneh, kenapa di tengah hutan ini ada padang rumput" gumam Shin pelan.


"Ehh apa itu" katanya lagi.


Shin melihat sepasang burung di tengah padang rumput tersebut, namun anehnya sepasang burung ini belum pernah di lihat oleh Shin sebelumnya, mereka juga berbeda warna yang satu merah dan yang satu lagi biru.


Shin memutuskan untuk mengamati dua burung tersebut dari jauh, setelah beberapa menit mengamati burung yang berwarna merah menunjukkan keanehan, bulu-bulunya yang berwarna merah terang terlihat mulai redup.


"Kwaakkk!!"


"Kwaakkk!!"


Burung merah tersebut seperti menjerit kesakitan, dan bersamaan dengan itu dada Shin tiba-tiba menjadi sangat panas dan sakit, dia mencoba untuk menahan rasa sakitnya agar tidak menjerit atau bersuara karena takut kehadirannya akan di ketahui oleh kedua burung itu.


"Kwaakkk!!"


"Kwaakkk!!"


Api yang sangat besar dan panas tiba-tiba saja membakar burung tersebut hingga menjadi tidak tersisa, dari tempat burung merah itu habis terbakar tersisa satu buah kristal kecil yang juga berwarna merah, burung yang berwarna biru kemudian menyemburkan api dari mulutnya untuk membakar kristal tersebut, namun api yang ia keluarkan berwarna biru.


Lagi-lagi dada Shin tiba-tiba saja menjadi sangat sakit namun jantungnya terasa membeku, berbeda dari sebelumnya yang terasa sangat panas, sambil menahan rasa sakit Shin mencoba untuk mengalihkan pandangannya ke arah kristal merah yang telah terbakar oleh api biru tersebut.


Perlahan-lahan api biru itu menjadi semakin besar dan hawa di sekitarnya menjadi sangat dingin, namun setelah beberapa detik tiba-tiba saja udara kembali menjadi panas, dan kristal merah yang terbakar oleh api biru itu semakin lama menjadi semakin besar hingga akhirnya pecah dan dari sana muncul seekor burung dengan warna ungu.


"Datanglah padaku malam ini Shin" kata burung ungu tersebut.


"Eh apa dia bicara padaku?" kata Shin pelan.


"Aku akan menunggumu di puncak bukit" kata burung itu lagi, kemudian cahaya yang sangat menyilaukan menghalangi pandangan Shin dan akhirnya diapun terbangun.


"Hah, hah, hah, mimpi apa itu?" kata Shin ngos-ngosan, seluruh tubuhnya basah oleh keringat.


"Bukit,.... ya aku harus ke bukit sekarang" ucap Shin pelan kemudian bangun dari tempat tidur.


Shin lansung berjalan keluar rumah dengan pelan karena ia tidak ingin membangunkan kakek Herton ataupun Emilia, setelah tiba di luar rumah Shin lansung berlari dengan sekuat tenaga menuju ke arah bukit.


Satu jam berlalu dan akhirnya Shin sampai di bawah bukit, setelah selesai mengumpulkan tenaga Shin kembali berlari menuju ke atas bukit, setelah setengah jam berlari Shin akhirnya sampai di puncak bukit.


"Hahhhhhh, akhirnya aku sampai juga" kata Shin pelan.


Setelah sampai di puncak bukit Shin tidak menemukan apa-apa kecuali sebuah gua yang tertutup oleh kabut yang tidak terlalu tebal, Shin mencoba untuk mendekati pintu gua dengan sangat berhati-hati setelah merasa aman Shin kemudian mencoba untuk masuk ke dalam gua tersebut.


Setelah sampai di dalam Shin merasa sangat terkejut karena yang ia lihat adalah sebuah istana yang sangat besar dan megah serta terbuat dari emas.


"Ba-bagaimana bisa di dalam gua ada istana sebesar ini?" gumam Shin pelan.


"Sebentar, ini bahkan bukan terlihat seperti gua namun seperti di dunia yang berbeda" kata Shin lagi.


Saat Shin sedang berpikir tentang ada dimana dia saat ini tiba-tiba saja pintu istana tersebut terbuka, dan dari dalamnya terpancar aura yang sangat besar serta ada suara seseorang yang memanggilnya.


"Selamat datang Shin, silahkan masuk" kata suara tersebut.


Awalnya Shin mencoba untuk pergi dari sana karena merasakan sesuatu yang aneh, namun entah kenapa tubuhnya seperti tidak bisa ia kendalikan dan berjalan dengan sendirinya masuk ke dalam istana emas itu.