
Raja Dixgard dan jendral Baston serta beberapa pasukan kerajaan Tempest tengah berada di sebuah tempat yang mereka yakini adalah kerajaan Phoenix, namun yang saat ini mereka saksikan hanyalah puing-puing bangunan yang telah hancur.
"Jendral apa kau yakin kita tidak salah arah?" tanya raja Dixgard.
"Tentu yang mulia, tidak mungkin saya salah bukankah yang mulia juga tau bahwa kerajaan Phoenix di sini, tapi.." jawab jendral.
"Jika benar ini kerajaan Phoenix, lalu apa yang membuat kerajaan besar serta kuat ini bisa hancur?" gumam raja pelan.
"Baiklah, kalu begitu kita kembali saja" kata raja memberi perintah.
"Apa kita tak perlu menyelidiki dulu yang mulia?" tanya jendral.
"Untuk apa?, kerajaan ini sudah hancur dan aku tidak mau berhubungan dan raja yang kerajaannya sudah hancur, dan aku rasa dia juga sudah mati" jawab raja Dixgard
"Tapi yang mulia bagaimana jika raja Shin masih hidup dan tau bahwa yang mulia tidak ingin membantunya lagi" kata jendral.
"Hahahaha memangnya apa lagi yang ia bisa lakukan" ujar raja Dixgard sombong.
"Sudah sebaiknya kita kembali ke kerajaan Tempest" kata raja.
"Baik yang mulia" jawab mereka serempak kemudian pergi meninggalkan kerajaan Phoenix yang hanya tersisa reruntuhannya saja.
***
Di sebuah desa kecil tepatnya di rumah seorang kepala desa Shin yang baru saja sadarkan diri karena terluka parah mencoba untuk bangun dari tempat tidur.
"Arghh" Shin mengerang kesakitan.
"Hey kau sudah bangun?" tanya Emilia dan lansung membantu Shin untuk duduk.
"Di-dimana aku?" tanya Shin.
"Kau sedang ada di rumahku, saat itu kau di temukan tak sadarkan diri di tepi pantai" kata Emilia menjelaskan.
"Arghh!!" Shin mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya ketika mencoba untuk mengingat apa yang terjadi.
"Tenanglah sekarang kau aman di sini, oh ya namaku Emilia" kata Emilia memperkenalkan diri.
"Terimakasih Emilia" ujar Shin.
"Tidak apa-apa, lalu apa kau ingat siapa namamu?" tanya Emilia.
"Tentu, namaku Shin" jawab Shin.
"Baiklah sekarang kau istirahatlah di sini, aku akan segera mengabari kakek" kata Emilia kemudian pergi mencari kakeknya.
Beberapa menit kemudian Emilia kembali ke kamar Shin bersama dengan tiga orang laki-laki, mereka adalah kepala desa dan dua orang yang telah menyelamatkan Shin.
"Syukurlah nak kau sudah sadar, sudah seminggu lebih kau terbaring tak sadarkan diri" kata kepala desa.
"Sudah seminggu?" kata Shin.
"Benar nak, kau di temukan oleh dua orang ini di tepi pantai, jika aku boleh tau sebenarnya apa yang terjadi padamu, dan kau berasal dari mana?" tanya kepala desa.
"Maaf kakek, aku tidak ingat berasal darimana" jawab Shin.
"Jadi kau tidak ingat ya, kalau begitu untuk sementara kau tinggal saja di desa ini, dan perkenalkan namaku adalah Herton kepala desa disini, kau bisa memanggilku kakek Herton" kata Herton memperkenalkan dirinya.
"Terimakasih kakek, namaku adalah Shin" ucap Shin.
"Oh jadi namamu Shin ya, namaku adalah Arlo"
"Dan namaku adalah Alfred, kami yang menemukanmu"
"Terimakasih paman, terimakasih kakek" kata Shin.
"Hahaha sudahlah jangan kau pikirkan hal itu" ujar Alfred.
"Emilia ambilkan makanan untuk Shin, kakek yakin dia pasti sangat lapar sekarang" kata kakek Herton.
Tak lama kemudian Emilia kembali lagi ke kamar Shin dengan membawakan makanan untuk Shin, karena memang telah lapar Shin memakan semua makanan yang di bawa Emilia dengan sangat lahap.
Setelah selesai makan Shin meminta Emilia untuk menemaninya berkeliling desa, awalnya Emilia menolak karena kondisi Shin yang masih belum pulih sepenuhnya namun karena Shin memaksa akhirnya Emilia mau menemani Shin.
"Shin apa lagi yang kau ingat tentang dirimu?" tanya Emilia.
"Yang ku ingat hanya namaku dan aku juga ingat memiliki beberapa teman" kata Shin.
"Benarkah, siapa nama mereka?" tanya Emilia.
"Ryuzen, Lily, Leo, dan Lina" jawab Shin.
"Ternyata dua laki-laki dan dua perempuan ya, apa salah satu dari perempuan itu ada kekasihmu?" tanya Emilia.
"Tentu, namanya Lily dan rencananya kami akan menikah sebentar lagi" kata Shin santai.
"Begitu ya" ujar Emilia lesu
"Apa kau lelah?" tanya Shin.
"Hah,..tidak, tidak, aku tidak lelah mari lanjutkan" jawab Emilia.
Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan, di sepanjang jalan banyak pa warga desa yang menyapa Shin dengan ramah, Shin tidak menyangka bahwa warga desa itu akan sangat ramah padanya, padahal dia hanyalah orang asing di sana.
Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka berdua sampai di tepi pantai, Emilia kemudian mengajak Shin untuk duduk di sana sambil menikmati pemandangan laut.
"Wah, jadi ini pulau di tengah laut ya, aku kira ini di tengah hutan" kata Shin.
"Benar sekali, pulau ini namanya pulau penyu laut karena jika di lihat dari atas maka bentuk pulau ini akan terlihat menyerupai penyu yang sedang berenang, dan desa hanya satu desa di pulau ini yaitu desa kami namanya desa Aurora" kata Emilia menjelaskan.
"Kenapa nama desanya Aurora?" tanya Shin.
"Kau lihat bukit yang di sana itu?" tanya Emilia sambil menunjuk ke arah sebuah bukit yang tinggi.
"Mm"
"Kata kakekku,setiap malam di sana dulunya sering muncul cahaya berwarna ungu yang sangat indah, cahaya tersebut akan menerangi pulau ini sehingga ketika malam hari tidak akan gelap, kakek juga pernah bilang bahwa cahaya itu adalah kekuatan dari seorang Dewi yang di kenal sebagai Dewi Aurora, untuk menghormatinya warga desa kemudian menamakan desa ini sebagai desa Aurora" kata Emilia menjelaskan.
"Dewi Aurora?, aku belum pernah mendengar tentangnya" ujar Shin.
"Itu benar, dulunya disini tidak ada desa seperti ini, dan menurut cerita dari kakek, Dewi Aurora lah yang membawa beberapa orang ke sini dan meminta mereka untuk membangun desa di sini" kata Emilia.
"Begitu ya, aku jadi penasaran" gumam Shin pelan.
"Sudahlah jangan kau pikirkan ayo kembali ke desa" kata Emilia.
Mereka berdua kemudian kembali ke desa.
***
Di kerajaan Cronos.
"Duchess Lily, apakah kau akan berangkat sekarang?" tanya raja Carlos
"Benar yang mulia, kami akan berangkat ke lembah Angin sekarang" jawab Lily.
"Baiklah kalau begitu tapi sebelumnya aku minta maaf padamu karena tidak bisa mengantar kalian ke sana, tapi tenang saja aku sudah menyiapkan kereta kuda untuk kalian" kata raja.
"Tidak apa-apa yang mulia, saya juga sangat berterimakasih karena yang mulia sudah memberikan hadiah besar pada kami" ucap Lily.
"Hahaha sudahlah jangan di pikirkan, ini hadiah yang pantas untukmu" ujar raja.
"Baiklah yang mulia, kalau begitu kami berangkat" kata Lily sambil membungkuk hormat pada raja.
Raja hanya menganggukkan kepalanya pelan tanda bahwa ia menerima hormat Lily dan yang lainnya, setelah berpamitan pada raja Lily, Ryuzen, Leo dan Lina kemudian berangkat menuju ke lembah angin menggunakan kereta kuda yang telah di siapkan oleh raja.