The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Nostalgia



Setelah dua hari perjalanan Shin dan keluarganya turun di tepi sebuah danau yang tidak jauh dari kerajaan Tempest, di sisi lain danau tersebut terlihat sebuah rumah dengan dua lantai yang masih berdiri kokoh dan sangat terawat, di depan rumah sederhana tersebut masih terdapat tulisan 'Maskas Blue Lightning'.


Shin dan Lily saling berpandangan, sebuah ingatan tergambar jelas di pikirkan mereka berdua yang mana rumah tersebut adalah saksi cinta mereka berdua dan di rumah itu juga mereka memulai kehidupan yang baru, rumah itu juga yang telah membuat mereka menjadi kuat dan menjadi sebuah keluarga sampai sekarang.


Shin menggandeng tangan Aurora dan Lily sementara Alisha berlari dengan semangat menuju ke rumah tersebut.


"Sayang apa ini rumah kalian dulu?" tanya Aurora


"Benar sekali tapi ini aneh, setelah beberapa tahun berlalu kenapa rumah kita masih begitu bagus dan terawat" ucap Shin.


"Mungkin ada seseorang yang merawatnya" ujar Lily.


Saat mereka berempat sampai di depan rumah tersebut, dari dalam rumah tiba-tiba keluar seorang wanita yang terlihat sangat familiar, Dia adalah Reva yang bekerja sebagai resepsionis di Guild Petualang sekaligus orang yang telah menjual rumah tersebut pada Shin.


"Nona Reva apa kabar" sapa Shin.


"Eh... siapa kau?, kenapa kau tau namaku?" tanya Reva bingung.


"Ini aku Shin nona Reva" jawab Shin dengan senyuman khasnya.


"Shin?.. Tunggu, maksudmu Shin yang dulu membeli rumah ini?" tanya Reva kaget.


"Yup.. benar sekali itu aku" ucap Shin.


"Akhirnya kalian akhirnya pulang juga, aku sangat kaget ketika mendengar berita bahwa kau dan teman-temanmu telah meninggal, tapi ternyata berita itu salah" kata Reva sedih.


"Meninggal?, siapa yang memberitahukan berita tersebut?" tanya Shin penasaran.


"Raja Dixgard" jawab Reva.


"Sialan kau Dixgard" batin Shin.


"Reva apa kau masih ingat aku?" tanya Lily.


"Kau.... kau pasti Lily" jawab Reva lansung memeluk Lily.


"Syukurlah ternyata kau masih ingat" ucap Lily.


"Oh ya perkenalkan ini putri kami, namanya Alisha" kata Lily.


"Halo bibi, namaku Alisha" sapa Alisha ramah.


"Hahaha ternyata anak kalian sudah besar ya" ucap Reva sambil mengelus kepala Alisha.


"Lalu dia siapa?" tanya Reva.


"Dia Aurora, dia adalah istriku juga" jawab Shin.


"Halo namaku Aurora" sapa Aurora.


"Baiklah mari kita masuk kedalam aku akan menyiapkan makanan untuk kalian semua" ajak Reva.


Mereka kemudian memasuki rumah tersebut, saat mereka masuk setiap kenangan tentang rumah tersebut mulai muncul kembali di ingatan Shin dan Lily, suasana, tempat, barang-barang dan semuanya yang ada di rumah tersebut sama sekali tidak di rubah.


Reva telah menjaga rumah tersebut selama sepuluh tahun lamanya, sejak ia mendengar berita kematian Shin dan anggotanya Reva lansung memutuskan untuk meninggalkan kerajaan dan merawat rumah mereka, selama sepuluh tahun itu juga Reva mempertahankan kondisi rumah tersebut agar tetap utuh dan tidak ada yang di rubah, alasannya adalah agar dia bisa selalu mengenang Shin dan teman-temannya.


"Nona Reva, kalau boleh aku tau apa alasan raja Dixgard mengumumkan kematian kami?" tanya Shin.


Reva kemudian menceritakan pada Shin bahwa setelah mengetahui bahwa kerajaan yang di pimpin oleh Shin hancur tanpa sisa, raja Dixgard lansung mengumumkan kepada para penduduk bahwa Shin dan yang lainnya telah mati, raja Dixgard juga mengumumkan bahwa setiap benda berharga yang tersisa dari reruntuhan kerajaan yang di pimpin Shin saat itu adalah miliknya.


Reva juga menceritakan pada Shin bahwa sebelumnya dia sempat menikah, namun suaminya di tangkap dan di hukum mati karena di tuduh telah mencuri harta dari reruntuhan kerajaan yang di pimpin oleh Shin, Reva yang saat itu sedang mengandung anak mereka menjadi syok karena mendengar kematian suaminya hingga menyebabkan keguguran.


"Sialan kau Dixgard, bagaimanapun caranya kau tetap akan aku hancurkan!!!" kata Shin tegas.


"Reva jangan khawatir, kami akan membalaskan dendam suamimu" kata Lily.


Setelah selesai mengobrol Reva pergi ke dapur untuk membuatkan makanan untuk mereka semua, sementara Shin, Lily, Aurora dan Alisha pergi ke lantai atas untuk beristirahat.


Shin dan Lily kembali merasakan perasaan yang tidak bisa mereka gambarkan saat melihat kamar mereka masih sangat utuh sama seperti dulu, hanya tempat tidurnya saja yang sudah di tukar sementara yang lainnya masih terlihat sama.


"Aku tebak ini pasti kamar kalian" ucap Aurora.


"Hahaha, kau benar sekali kak" jawab Lily.


"Kalau begitu kamar yang itu untukku" ucap Alisha kemudian lansung masuk ke kamar Lina.


"Bukannya itu dulu kamar Lina?" tanya Shin.


"Benar, itu dulu adalah kamar Lina" jawab Lily.


"Kalau begitu sekarang waktunya istirahat karena aku sudah sangat lelah" ucap Shin sambil menarik tangan kedua istrinya masuk ke dalam kamar.


Shin lansung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sementara Lily dan Aurora masih berdiri di samping tempat tidur tersebut dengan saling berpandangan satu sama lain.


"Kenapa kalian diam saja?" tanya Shin.


"A-apa kita bertiga akan sekamar?" tanya Lily.


"Tentu saja, Alisha juga sudah memilih kamarnya sendiri jadi sekarang adalah giliran ku untuk tidur bersama istriku" ucap Shin.


"Sepertinya tidak ada pilihan lain" ucap Lily dan Aurora serempak.


Keduanya kemudian naik ke atas tempat tidur dan lansung merebahkan tubuh mereka di samping kiri dan kanan Shin, awalnya suasana terasa sangat canggung karena ini pengalaman pertama bagi mereka, namun beberapa menit kemudian mereka bertiga akhirnya tertidur pulas karena lelah.


**


Malam harinya, Reva membangunkan mereka untuk makan malam bersama, sebenarnya Reva juga sempat ingin membangunkan mereka saat ia telah selesai memasak namun ia mengurungkan niatnya karena ia tau mereka pasti lelah dan memutuskan untuk membangunkan mereka saat makan malam.


"Tok,.. tok,.. tok,.. Shin, Lily, Aurora bangun waktunya makan malam" kata Reva dari balik pintu kamar.


"Hoaammm!!, ada apa nona Reva?" tanya Shin


"Waktunya makan malam" jawab Reva.


"Baiklah, sebentar lagi kami akan ke bawah, bisakah kau membangunkan Aisha?" pinta Shin.


"Tentu saja" jawab Reva kemudian pergi menuju kamar Alisha.


Setelah kepergian Reva, Shin lansung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah sepuluh menit Shin keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Shin.


"Ti-tidak apa-apa" jawab Lily dan Aurora serempak.


"Kalau begitu kalian pergilah mandi, setelah itu kita turun ke bawah untuk makan malam" ucap Shin.


"Tunggu kau mau kemana?" tanya Aurora.


"Aku mau ganti baju di kamar sebelah, lagi pula kalian juga ingin mandi dan tak mungkin aku ganti baju di sini" jawab Shin.


"Apa salahnya ganti di sini saja" ujar Lily.


"Oke, kalau begitu aku ganti di sini saja" ucap Shin.


"Tu-tunggu" ucap Lily dan Aurora menghentikan Shin saat ia ingin membuka handuknya.


"Se-sebaiknya, kau ganti baju di sebelah saja" ucap mereka bersamaan.


"Hahaha makanya lain kali jangan keceplosan" kata Shin menggoda mereka berdua.