The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Perjalanan



Shin hanya bisa termenung serta merasa kaget dengan pemandangan yang tengah ia saksikan saat ini, dia sudah sangat kaget ketika rambutnya yang menjadi panjang serta kumis dan jenggotnya juga tumbuh, dan setelah itu desa Aurora yang telah hancur.


"Bagaimana mungkin ini terjadi, dan bagaimana bisa aku tidak menyadari sesuatu telah terjadi di desa ini, padahal aku hanya pergi selama sepuluh hari" gumam Shin.


"Shin kau memang menyerap kekuatan api ungu selama sepuluh hari, namun satu hal yang lupa aku beritahu padamu, yaitu satu hari di duniaku sama saja dengan satu tahun di dunia manusia" kata Dewi Aurora pada Shin.


"Apa!!!, jadi aku sudah pergi selama sepuluh tahun!?" kata Shin kaget.


"Lalu bagaimana dengan penduduk desa ini?" tanya Shin.


"Mereka semua mengungsikan diri ke kota terdekat, jadi kau tidak perlu khawatir" kata Dewi Aurora.


"Baiklah kalau begitu aku bisa tenang, terimakasih Dewi" kata Shin


"Baiklah Shin ini terakhir kalinya kita dapat bicara, dan setelah ini kau harus menyelesaikan misi mu dan ingat kalahkan Azazel" ucap Dewi Aurora.


"Tenang saja Dewi, pasti akan aku selesaikan tugas darimu" kata Shin.


Shin kemudian berjalan ke tepi pantai, ia ingin menikmati pemandangan laut sebelum pergi meninggalkan pulau tersebut, setelah selesai memandangi laut Shin kemudian kembali lagi ke desa dan memotong kumis serta jenggotnya, sementara rambutnya hanya ia potong sedikit dan entah kenapa ia suka penampilannya yang memiliki rambut panjang.


Setelah selesai mencukur kumis dan jenggot serta memotong sedikit rambutnya Shin kemudian pergi ke sungai yang ada di belakang desa untuk mandi, dan itu merupakan satu-satunya sumber mata air tawar di pulau penyu laut ini.


Setelah selesai mandi dan bersih-bersih Shin kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian yang ia ambil di istana Dewi Aurora sebelum ia keluar, sekarang penampilan Shin terlihat lebih segar dan jauh berbeda dari sebelumnya, sorot matanya menjadi lebih tajam, rambut yang semua merah telah berubah warna menjadi hitam dan panjang terurai dan bola matanya juga berubah menjadi biru gelap.


"Apa Lily akan tetap mengenaliku ya?" gumam Shin pelan


"Satu hal lagi, aku sudah sangat lama tidak melihat levelku, kira-kira level berapa aku sekarang" gumam Shin, memang sudah sangat lama ia tidak menghiraukan tentang level lagi jadi dia mencoba untuk melihatnya lagi setelah bertahun-tahun.


"Eh... apa ini, kenapa tidak bisa?" ucap Shin.


"Kenapa tidak ada status dan levelku lagi" Shin menjadi panik.


"Tunggu, tunggu, kekuatanku masih ada dan menjadi berlipat ganda, tapi kenapa status dan levelku tidak bisa di lihat lagi, apa ada yang salah" gumam Shin pelan.


"Ah sudahlah, itu juga tidak penting sebaiknya aku segera pergi dari pulau ini, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Lily dan anakku" kata Shin kemudian terbang meninggalkan pulau tersebut.


Tidak hanya penampilan Shin yang berubah, bahkan dari aura dan kekuatan juga ikut berubah, bahkan kekuatan api abadi juga sudah menghilang dari tubuhnya dan digantikan dengan api ungu yang merupakan gabungan dari api abadi dan api suci.


Shin terbang dengan kecepatan tinggi mencoba untuk mencari sebuah kota atau kerajaan terdekat namun selama berjam-jam ia terbang yang ia temui hanyalah hamparan lautan yang sangat luas.


"Jika begini terus sebaiknya aku terbang menggunakan sayap" gumam Shin.


Dia menggunakan kekuatannya dan mencoba untuk membentuk sepasang sayap seperti dulu, tidak butuh waktu lama Shin akhirnya bisa membentuk sepasang sayap dari energinya sama seperti dulu hanya saja kali ini sayap tersebut berwarna ungu dan memancarkan aura yang sangat kuat.


"Warna ungu ya, sepertinya setiap jenis phoenix akan mengikuti warna apinya, wajar saja sebelumnya sayapnya warna merah" kata Shin pelan


Dia kembali melesat dengan kecepatan tinggi dan setelah terbang dengan waktu yang lama Shin akhirnya menemukan daratan luas yang ia yakini sebagai daratan tempat empat kerajaan yang dulu pernah ia tinggali.


"Akhirnya sampai juga di daratan, sebaiknya aku istirahat dulu dan melanjutkan perjalanan besok" kata Shin kemudian turun ke sebuah hutan yang sangat lebat


"Mmmm, sepertinya rasa daging kelinci ini sangat enak, apa karena aku sudah lama tidak merasakannya ya?" gumam Shin sambil memakan daging kelinci bakar yang tadi ditangkapnya.


"Semoga saja aku bisa segera bertemu denganmu Lily, aku sudah sangat merindukanmu" ucap Shin.


Setelah selesai makan Shin kemudian merebahkan tubuhnya di dekat pohon besar dan beberapa saat kemudian dia lansung tertidur karena sudah lelah akibat terbang seharian.


Keesokan harinya Shin kembali melanjutkan perjalanannya untuk mencari keberadaan Lily dan yang lainnya, ia terbang dengan kecepatan penuh menyusuri hutan tersebut tanpa istirahat sedikitpun namun setelah terbang setengah hari ia masih juga belum menemukan jalan keluar dari hutan itu.


"Ya ampun kapan aku akan keluar dari hutan ini!!" teriak Shin kesal.


Dia mulai kesal dan jengkel karena tidak kunjung keluar dari hutan tersebut hingga akhirnya dari kejauhan ia melihat sebuah desa dan memutuskan untuk berhenti di sana.


Shin turun agak jauh dari desa tersebut dan memutuskan untuk berjalan karena akan merepotkan jika ia turun lansung di desa dan sudah pasti orang-orang akan curiga padanya.


"Berhenti, siapa kau dan mau apa di desa kami!" kata penjaga gerbang desa menghentikan Shin.


"Maaf tuan, aku hanyalah seorang petualang yang kehabisan bekal makanan jadi aku memutuskan untuk mampir di desa ini" jawab Shin ramah.


"Baiklah aku akan membiarkanmu masuk tapi kau harus bayar sebanyak dua koin emas" kata penjaga desa tersebut.


Untung saja Shin masih memiliki beberapa koin emas di dalam penyimpanannya dan lansung menyerahkan dua koin emas kepada penjaga tersebut.


"Ini tuan, dua koin emas" kata Shin


"Baiklah silahkan masuk" kata penjaga tersebut.


Shin kemudian berjalan memasuki desa, suasana desa terasa sangat tenang dan tidak terlalu ramai karena memang desa tersebut tidak terlalu besar, setelah berjalan cukup lama akhirnya Shin berhenti di sebuah kedai makanan dan lansung masuk ke sana.


"Permisi tuan, bisakah aku memesan makanan?" tanya Shin pada seorang pelayan.


"Baik tuan, tunggu sebentar akan saya siapkan" kata pelayan tersebut, setelah beberapa menit menunggu akhirnya pelayan tersebut menghampiri Shin dengan membawa sepiring makanan.


"Silahkan tuan" kata pelayan tersebut.


"Terimakasih tuan, apakah di dekat sini ada kerajaan atau kota yang terdekat?" tanya Shin.


"Tidak ada tuan, dan jika tuan ingin pergi ke kerajaan terdekat tuan harus pergi menuju utara di sana ada sebuah kerajaan namun sangat jauh dari sini" jawab pelayan tersebut.


"Baiklah terimakasih tuan, ini untukmu" kata Shin sambil menyerahkan satu koin emas.


"Tuan ini terlalu banyak" kata pelayan tersebut.


"Sudahlah ambil saja" kata Shin kemudian lansung menyantap makanannya.


(Ilustrasi Shin,... ingat ya cuma ilustrasi 😅)