The Phoenix's Destiny

The Phoenix's Destiny
Sepasang Phoenix



Keesokan harinya Shin yang baru saja bangun dari tidurnya mencoba untuk meraba-raba sisi kirinya namun ia tidak menemukan siapapun ada di sampingnya.


"Kemana Lily sepagi ini?" gumam Shin.


Dia kemudian berdiri dari tempat tidur dan langsung pergi mandi, beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan pakaian sederhana yang berwarna hitam, karena Lily masih belum kembali ke kamar Shin lansung pergi ke luar untuk mencarinya, saat ia baru melangkahkan kakinya ke luar kamar ia merasakan sebuah aura yang sangat besar berasal dari liar mansion.


Shin langsung berlari keluar mansion karena ia dapat merasakan perasaan akrab dengan aura tersebut, dan benar saja ketika ia tiba di luar mansion ia melihat Lily sedang di selimuti oleh aura biru yang sangat tebal, di sana juga ada Ryuzen, dan yang lainnya serta Alisha mereka semua nampak khawatir dengan keadaan Lily.


"ARRKKHHHH!!"


Lily berteriak keras ketika merasakan sakit dalam dirinya sehingga membuat para prajurit yang sedang berjaga di sekeliling mansion segera menghampiri asal suara tersebut, mereka semua tercengang ketika menyaksikan Lily yang tengah di selimuti oleh aura biru yang sangat tebal, tubuhnya bagaikan di lahap oleh api yang berwarna biru.


"Ayah apa yang terjadi pada ibu?" tanya Alisha khawatir.


"Tenanglah sayang, ibu baik-baik saja sekarang dia sedang mencoba untuk menjadi seekor phoenix seutuhnya" kata Shin menjelaskan.


Dua jam telah berlalu dan di setiap menitnya pula seluruh penghuni mansion penguasa kota dapat mendengar teriakan menyakitkan yang berasal dari Lily, mereka semua dapat merasakan betapa sakitnya yang di rasakan oleh Lily hanya dengan mendengar teriakannya saja, namun apa daya mereka sama sekali tidak dapat membantu.


Semakin lama aura biru tersebut semakin membesar, secara perlahan sepasang sayap tumbuh di punggung Lily kali ini bukan lagi sayap berbentuk aura biru seperti biasanya melainkan benar-benar sayap sungguhan seperti sayap burung yang berwarna biru.


"Terbanglah Lily kembangkan kedua sayapmu" kata Shin sambil melemparkan sebuah sebuah bola kecil api berwarna ungu kedalam tubuh Lily


Setelah bola api kecil berwarna ungu tersebut masuk kedalam tubuhnya aura biru yang semula ganas perlahan-lahan menjadi tenang, Lily kemudian mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit, cahaya biru yang sangat terang menghiasi langit kota kerajaan Angin setelah cahaya tersebut menghilang mereka semua nampak takjub dengan apa yang mereka saksikan.


Seekor burung Phoenix biru yang berukuran sangat besar terbang dengan bebas di langit kerajaan Angin, bahkan seluruh penduduk kota menghentikan aktivitas mereka hanya untuk melihat burung agung nan cantik itu terbang di atas mereka.


Seketika udara yang sejuk berganti menjadi dingin, meskipun begitu udara dingin tersebut sama sekali tidak menyakiti para penduduk melainkan mereka merasakan perasaan nyaman dengan aura dingin yang berasal dari phoenix tersebut.


"Hahahaha sekarang kau benar-benar seekor phoenix Lily" gumam Shin senang.


"Alisha tunggu di sini sebentar, ayah ingin menyusul ibumu" kata Shin.


"Baik ayah" jawab Alisha pelan.


Shin kemudian terbang secara perlahan mendekati Lily yang masih menjadi burung Phoenix, aura keunguan menyelimuti tubuh Shin yang semakin lama menjadi semakin besar hingga beberapa saat kemudian Shin juga ikut berubah menjadi seekor burung Phoenix yang berwarna ungu.


Sekali lagi mata semua orang nampak takjub dan juga kagum memandangi keindahan serta keagungan dua burung Phoenix tersebut, aura dingin yang menyelimuti seluruh kota digantikan dengan aura hangat yang membuat mereka mereka merasakan perasaan nyaman yang luar biasa.


Dua ekor burung Phoenix raksasa terbang mengelilingi kota lembah angin, keagungan kedua burung tersebut berhasil membuat seluruh penduduk kota berlutut dan memberi hormat kepada keduanya.


"Paman, kapan aku bisa seperti ayah dan ibu?" tanya Alisha pada Leo.


"Entahlah Alisha, tapi asalkan kau rajin berlatih dan menjadi semakin kuat paman yakin kau juga akan bisa menjadi seperti ayah dan ibumu" jawab Leo sambil mengusap kepala Alisha pelan.


Setengah jam berlalu kedua burung Phoenix tersebut kembali terbang menuju ke mansion kota, perlahan-lahan tubuh kedua phoenix tersebut mengecil dan kembali berubah menjadi sosok manusia, Shin dan Lily mendarat perlahan di halaman mansion seluruh pasukan blue lightning yang juga ikut menyaksikan keagungan kedua burung Phoenix tersebut lansung berlutut pada Shin dan Lily.


"Berdirilah" kata Shin.


"Selamat Lily kau sekarang benar-benar menjadi seekor phoenix" ujar Lina dan lansung memeluk Lily.


"Selamat Lily" ucap Leo.


"Ya wakil kapten selamat untukmu" kata Ryuzen sambil mengangkat jempolnya.


"Terimakasih semuanya" jawab Lily senang.


"Kalian semua telah menyaksikan bagaimana wujud dari burung Phoenix yang sesungguhnya, dan setelah ini kalian semua yang ada di sini juga akan bisa menjadi seekor phoenix namun aku memerlukan waktu yang cukup panjang, dan aku harap kalian semua bersabar" kata Shin dengan suara keras.


"Terimakasih yang mulia" jawab mereka semua.


Kebahagiaan nampak terukir di wajah semua prajurit Blue Lightning, mereka semua tak sabar menunggu saat dimana mereka juga akan menjadi bagian dari makhluk agung yang bahkan selama ini mereka anggap sebagai dewa.


Setelah Shin dan Lily kembali menjadi manusia aktivitas di kota kembali berjalan seperti biasanya namun di ingatan mereka akan terus tersimpan bagaimana keagungan dari dua ekor burung Phoenix yang terbang dan mengelilingi seluruh kota, begitu juga dengan pasukan Blue Lightning mereka juga kembali ke tempat masing-masing, ada yang berpatroli ada juga yang membantu para warga membangun istana.


Shin, Lily, Alisha, Leo, Lina dan juga Ryuzen kembali masuk kedalam mansion dan duduk bersama di ruangan tamu, dan para pelayan lansung menyediakan teh untuk mereka semua.


"Aku senang kau bisa menjadi seekor phoenix seutuhnya, sekarang kau hanya perlu mengontrol kekuatanmu agar kau bisa berubah menjadi phoenix dengan mudah" kata Shin.


"Pantas saja pada saat kapten berubah menjadi phoenix terlihat sangat mudah" ujar Ryuzen.


"Itu wajar Ryuzen, kapten adalah dewa itu sendiri sedangkan Lily awalnya hanya manusia biasa seperti kita" ucap Lina.


"Tapi aku masih bingung dengan satu hal" kata Shin.


"Apa itu?" tanya Lily.


"Apakah kekuatanmu meningkat setelah tadi malam kit..."


Lily dengan cepat menutup mulut Shin dengan telapak tangannya, hingga membuat mereka semua penasaran dengan hal itu.


"Yang itu jangan di bicarakan" kata Lily dengan wajah memerah.


"Hehehe maaf-maaf aku lupa" kata Shin sambil menggaruk kepalanya.


Ryuzen, Leo dan Lina yang sedari tadi mencoba untuk mencerna situasi akhirnya mereka faham apa yang akan di katakan oleh Shin, mereka bertiga menjadi salah tingkah ketika memikirkan yang di lakukan oleh Shin dan Lily tadi malam.


"Memangnya apa yang ayah dan ibu lakukan tadi malam?" tanya Alisha penasaran.


"Ahahaha, tadi malam ayah membantu ibumu untuk menaikkan tingkat kekuatannya dan karena itulah ibumu bisa berubah menjadi seekor burung phoenix pagi ini" jawab Shin menjelaskan.