
Shin dan ratu Aurora kemudian membersihkan diri bersama-sama di kolam kecil yang berada tidak jauh dari mereka berdua. Setelah selesai mandi mereka berdua kembali mengenakan pakaian masing-masing dan untung saja Shin masih menyimpan beberapa baju Lily di dalam penyimpanannya sehingga pakaian tersebut bisa di kenakan oleh ratu Aurora.
Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dan pergi menuju ke kerajaan Elessar, kali ini Shin berencana untuk kembali ke kerajaan Angin dan membangkitkan lagi bangsa phoenix.
Meskipun sebelumnya Shin berencana untuk menyatukan bangsa Elf namu niat tersebut untuk sementara ia tunda terlebih dulu karena membangkitkan kembali bangsanya adalah hal yang lebih penting baginya.
Saat mereka sampai di istana kerajaan Elessar raja Aragorn dan raja Celeborn sedikit terkejut ketika melihat dewa Agung mereka tidak datang sendiri melainkan ada seorang wanita bersamanya.
"Itu.... itu Dewi Agung, ya itu Dewi agung" teriak salah satu prajurit yang mengenali wanita yang bersama Dewa Agung mereka.
Kerajaan Elessar kembali gempar karena kemunculan ratu Aurora, pertama mereka kedatangan Dewa Agung mereka dan sekarang mereka kembali kedatangan tamu yang sama spesialnya dengan Dewa Agung sendiri yaitu ratu Aurora sang Dewi Agung Phoenix Biru.
"Salam hormat yang mulia Dewa dan Dewi Agung" kata mereka semua serempak sambil berlutut.
"Berdirilah" perintah ratu Aurora.
"Raja Celeborn dan Raja Aragorn kedatanganku kemari adalah untuk berpamitan kepada kalian semua karena ada hal penting yang harus aku lakukan, tapi ingat selama kepergianku nanti kalian harus tetap akur dan jangan pernah ada pertumpahan darah lagi" kata Shin tegas.
"Baik yang mulia" jawab kedua raja itu serempak.
"Baiklah, kalau begitu kami pergi" kata Shin kemudian mereka berdua menghilang.
**
Beberapa hari kemudian, di langit dua cahaya yang berbeda warna melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah kerajaan angin, kedua cahaya tersebut tidak lain adalah Shin dan Aurora. Keduanya terus terbang dengan kecepatan tinggi selama beberapa hari tanpa berhenti sebab entah kenapa Shin memiliki firasat buruk tentang kerajaannya.
Firasat Shin sama sekali tidak salah karena pada saat ini kerajaan angin tengah menyiapkan pasukan mereka untuk berperang melawan kerajaan Tempest.
Tepat pada saat Shin dan Aurora meninggalkan daratan Elf Kingdom, pada hari itu pula raja Dixgard menyatakan perang dengan kerajaan Angin, pernyataan perang ini ia lakukan setelah mendapatkan informasi dari mata-matanya bahwa raja kerajaan tersebut sedang tidak berada di kerajaan dan juga karena jumlah prajurit yang sedikit serta penjagaan yang tidak terlalu ketat.
Setelah mendapatkan informasi tersebut raja Dixgard menjadi sangat bersemangat untuk meruntuhkan kerajaan kecil yang baru berdiri tersebut, dia sudah tidak sabar ingin membalaskan dendamnya kepada raja kerajaan Angin karena telah mempermalukan dirinya saat pertemuan para raja di kota cahaya.
Semua informasi yang diterima oleh raja Dixgard bisa di katakan benar namun juga salah di saat yang bersamaan, karena dia sama sekali tidak mengetahui bahwa pasukan kerajaan Angin adalah pasukan Blue Lightning yang merupakan pasukan terkuat dan juga yang telah membantu kerajaannya mengalahkan kerajaan Light Born waktu dulu.
Dan satu hal lagi yang tidak ia ketahui adalah raja dari kerajaan kecil yang baru berdiri tersebut adalah pemuda yang dulu sangat ia segani dan juga sangat ia takuti, namun kekuasaan membutakan raja Dixgard sehingga ia sama sekali tidak pernah memandang pada kerajaan lainnya dan menganggap bahwa kerajaannya adalah yang terkuat dan terkaya saat ini.
Di kerajaan Angin sendiri saat ini mereka tengah sibuk mengungsikan para penduduk kota ke sebuah gua yang sangat besar yang ada di salah satu gunung yang mengelilingi kerajaan Angin, gua tersebut memang sengaja di bangun oleh para penduduk kota untuk berjaga-jaga jika terjadi penyerangan seperti saat ini.
Saat mereka semua tengah mengantri dan berbaris rapi untuk memasuki gua satu persatu secara tidak sengaja salah satu di antara para penduduk melihat dua cahaya berbeda warna mendarat di mansion raja.
Para penduduk yang sedang berbaris rapi tiba-tiba berlari berhamburan menuju ke arah mansion karena mereka penasaran apakah benar raja mereka telah kembali ataukah belum.
Shin dan Aurora mendarat tepat di halaman mansion dan kedatangannya di sambut hangat oleh Lily, Alisha, Ryuzen, Leon dan Lina serta semua prajurit Blue Lightning yang sekarang telah bertambah menjadi tiga ribu pasukan, namun di saat yang bersamaan mereka semua terkejut karena kali ini Shin datang dengan seorang perempuan cantik yang terlihat sangat akrab dengan Shin.
"Sayang aku kembali,..." kata Shin ramah.
"Mm" Lily tidak menjawab Shin melainkan malah memalingkan wajahnya ke arah perempuan yang datang bersamanya.
Saat melihat tingkah cuek Lily, Shin sudah menyadari bahwa kali ini dia akan benar-benar berakhir dengan tidur di kamar tamu, atau bahkan lebih buruk dari itu.
"Ayah selamat datang" kata Alisha lansung memeluk Shin.
"Ayah merindukanmu sayang" jawab Shin lembut sambil mengusap kepala Alisha.
"Selamat datang kembali yang mulia" ucap semua pasukan Blue Lightning.
"Kakak, selamat datang" sapa Lily kemudian menghampiri ratu Aurora.
Shin tersentak kaget bukan main saat mendengar Lily memanggil ratu Aurora dengan sebutan kakak, dan yang lebih anehnya lagi mereka berdua berpelukan dan tersenyum ramah satu sama lain seakan-akan mereka telah akrab dan saling mengenal satu sama lain sejak lama.
"Kakak, mari kita masuk kau pasti sangat lelah, Alisha mari ikut ibu" ajak Lily.
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam mansion dan meninggalkan Shin sendirian dengan banyak pertanyaan mulai bermunculan di benaknya, kenapa Lily bisa memanggil ratu Aurora kakak?, dan kenapa mereka terlihat sangat akrab?, semua pertanyaan Shin ini hanya Lily dan ratu Aurora yang punya jawabannya.
"Ckckck sepertinya ada sesuatu yang besar telah terjadi" ujar Ryuzen.
"Shin, siapa perempuan itu?" tanya Lina dengan nada tinggi.
"Di-dia..."
"Apa dia istri keduamu?" tanya Leo.
"Nanti saja aku jelaskan, sekarang mari kita susul mereka" ujar Shin kemudian bergegas masuk ke dalam mansion kemudian diikuti oleh Leon, Lina dan Ryuzen.
Di dalam ruang mansion di ruang tamu Shin hanya bisa diam membisu seperti patung saat melihat keakraban kedua istrinya tersebut, mereka nampak mengobrol dengan santai dan sesekali terdengar tawa kecil dari keduanya, sementara itu Lina menatap Shin dengan tatapan tajam dan sinis sekaligus penuh dengan selidik.
Ryuzen hanya tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolnya pada Shin, sementara Leo tetap tenang seperti biasanya. Kebingungan nampak tergambar jelas di raut wajah Shin, pertama dia merasa heran dengan keakraban kedua istrinya lalu sekarang dia juga di buat penasaran dengan kehadiran seorang wanita di samping Leo namun entah kenapa ia merasa tidak asing dengan wanita tersebut.